tirto.id - Bagi banyak orang, Jakarta adalah kota sejuta kemungkinan. Akan tetapi, kemungkinan seseorang untuk melihat gemerlap benda-benda langit bisa dibilang sangat kecil.
Di ibu kota, bintang-bintang muskil dilihat dengan mata telanjang. Biang keladinya, tentu saja, polusi cahaya. Lampu-lampu kota, cahaya dari papan iklan, videotron, dan segala rupa sinar artifisial yang memancar nonstop, membuat pandangan mata tak bisa sampai ke cahaya bintang.
Tak pelak, muncullah sebuah rasa rindu yang mendalam di banyak benak orang. Dan mereka tak segan menempuh jarak begitu jauh untuk sekadar bisa kembali "menyatu" dengan semesta. Istilah populernya disebut starbathing.
Starbathing adalah bagian dari noctourism, wisata malam hari. Secara harfiah, mereka yang melakukan starbathing berarti sedang "memandikan diri mereka dengan cahaya bintang". Namun, dalam praktiknya, aktivitas yang dilakukan adalah berbaring, diam, menatap langit gemerlap, lalu membiarkan semua bekerja memengaruhi tubuh serta pikiran.
Lalu, seberapa besar minat terhadap aktivitas starbathing?
Menurut survei dari Booking.com, angkanya tidak main-main. Pelantar penjualan tiket daring tersebut, pada 2025, menyurvei 27 ribu wisatawan di 33 negara. Hasilnya, 72 persen dari mereka berminat mengunjungi destinasi wisata berlangit gelap supaya bisa melakukan starbathing.
Tren itu sudah menjadi bagian dari arus utama wisata global. Bahkan di Wales, Dani Robertson, seorang petugas langit gelap (dark skies officer) di Taman Nasional Snowdonia, kelabakan memenuhi lonjakan permintaan.
Menurut Robertson, penyebab utama di balik membeludaknya minat terhadap starbathing, tak lain, adalah polusi cahaya ekstrem. Katanya, 98 persen populasi di Inggris hidup di bawah langit dengan polusi cahaya dan sudah ada tiga atau empat generasi yang tumbuh tanpa pernah benar-benar melihat bintang, atau hanya melihat sedikit sekali.
Ya, polusi cahaya memang bukan perkara remeh. Delapan puluh persen manusia di dunia kini sudah terdampak polusi cahaya dan, antara 2011 sampai 2022, langit malam menjadi lebih terang 9,6 persen setiap tahunnya.
Dampaknya tidak cuma soal estetika. Paparan cahaya buatan yang berlebihan di malam hari terbukti mengganggu ritme sirkadian manusia. Gangguan pada siklus tersebut bisa berujung pada depresi, kelelahan kronis, dan berbagai masalah kesehatan mental lainnya.
Studi yang terbit di jurnal Nature Mental Health pada Oktober 2023 menemukan, paparan cahaya buatan pada malam hari dapat meningkatkan risiko gangguan psikiatri dan depresi. Penelitian itu secara eksplisit menyimpulkan bahwa menghindari cahaya di malam hari dan mencari cahaya lebih terang di siang hari bisa menjadi cara efektif non-farmakologis untuk mengurangi masalah kesehatan mental serius.
Dampak polusi cahaya juga dirasakan organisme lain. Ahli ekologi Franz Hölker dari Leibniz-Institute for Freshwater Ecology and Inland Fisheries di Jerman mengingatkan, polusi cahaya mengancam 30 persen vertebrata nokturnal dan lebih dari 60 persen invertebrata nokturnal, sekaligus memengaruhi tanaman dan mikroorganisme. Pola reproduksi, migrasi, dan kebiasaan malam berbagai spesies, dari serangga hingga burung dan kelelawar, semuanya terganggu oleh lautan cahaya buatan yang tak pernah padam.
Di sinilah starbathing menemukan relevansinya, sukan sekadar sebagai tren wisata, melainkan pengingat bahwa kegelapan alami adalah sumber daya yang kini harus diperjuangkan untuk ditemukan kembali. Benefit dari paparan kegelapan alami pun tidak bisa disepelekan.
Pada Februari 2024, riset terbitan Journal of Environmental Psychologymenemukan, koneksi lebih kuat dengan langit malam berkaitan secara signifikan dan positif dengan kesehatan mental serta kebahagiaan seseorang.
Salah satu mekanisme yang membuat starbathing bermanfaat adalah kemunculan sesuatu yang oleh para psikolog disebut awe atau rasa kagum. Rasa kagum terbukti mampu menurunkan peradangan, memperlambat detak jantung, dan meningkatkan kehadiran hormon oksitosin yang mendorong emosi positif.
Penelitian lebih mendalam dilakukan oleh Maria Monroy dan Dacher Keltner dari University of California Berkeley. Menurut mereka, rasa kagum bekerja melalui lima jalur: perubahan neurofisiologis, berkurangnya fokus berlebihan pada diri sendiri, meningkatnya hubungan prososial, integrasi sosial lebih kuat, dan peningkatan makna hidup.
Sederhananya, ketika kita kagum pada sesuatu yang jauh lebih besar dari diri kita, otak berhenti merenung tentang masalah-masalah kecil yang terasa besar. Ketika kita berhadapan dengan langit malam, masalah-masalah kecil seakan menguap begitu saja, setidaknya untuk sementara waktu.
"Ini membuat kita bisa berkata: 'Saya hanya bisa mengendalikan hal-hal kecil yang benar-benar berada dalam pengaruh saya,'" ujar Mampho Ledimo, mahasiswa psikologi dan sosiologi yang terlibat dalam proyek Astronomy for Mental Health.
Bukti ilmiah tidak berhenti di soal itu. Studi dari Jepang, yang diterbitkan dalam International Journal of Environmental Research and Public Health pada April 2025, menguji efek fisiologis pemandangan langit malam di lingkungan planetarium. Hasilnya menunjukkan, stimulasi visual berupa langit malam gelap secara signifikan menurunkan konsentrasi oksihemoglobin di korteks prefrontal kanan, yang cenderung lebih aktif saat seseorang berada dalam kondisi stres, dan secara psikologis dinilai jauh lebih menenangkan dibandingkan langit terang akibat polusi cahaya.
Di tingkat lebih praktis, Office of Astronomy for Development (OAD), bagian dari International Astronomical Union (IAU), tengah merancang program yang menjadikan langit malam sebagai alat kesehatan mental berbiaya rendah dan bisa diakses siapa saja. Dalam uji coba awal di Sutherland, Afrika Selatan, tim OAD menemukan tren yang konsisten. Dalam 24 jam setelah berinteraksi dengan langit malam, para peserta melaporkan kecemasan berkurang dan kondisi emosional membaik. Program ini dijadwalkan berjalan hingga 2029.
Kegelapan juga mendorong kreativitas. Studi dari Jerman menemukan, kondisi gelap dan pencahayaan redup dapat meningkatkan performa kreatif. Sebab, kegelapan membangkitkan perasaan bebas dari batasan sosial dan memicu gaya berpikir lebih eksploratif.
Di seluruh dunia, tren starbathing sudah menjelma menjadi industri. Di Yorkshire Moors, Inggris, retret starbathing digelar di atas padang semak belukar dengan bathtub antik sebagai tempat berbaring di bawah langit malam. Di Afrika Selatan, Bliss & Stars menawarkan retret tiga malam di Cederberg Wilderness Area, lengkap dengan sesi stargazing terpandu, latihan pernapasan, dan pendakian malam.
Indonesia sebenarnya menyimpan potensi besar untuk starbathing, dari Dieng di Wonosobo, Danau Ranu Kumbolo di kaki Gunung Semeru, Gunung Rinjani di Jawa Timur, hingga Pulau Waigeo di Raja Ampat, Papua.
Tentu, tidak semua orang bisa langsung terbang ke Namibia atau mendaki Rinjani. Namun, inti dari starbathing bukan soal jarak, melainkan kegelapan dan kehadiran.
Di dunia yang makin terang dan bising, ada sesuatu yang sangat manusiawi dari besarnya hasrat untuk sekadar berbaring, menatap ke atas, dan menyadari bahwa di luar sana ada langit yang sudah ada jauh sebelum kita dan akan tetap ada jauh setelah kita pergi. Di bawah guyuran cahaya bintang, kita berpadu dengan kisah miliaran tahun yang tak pernah beranjak, tetapi peradaban membuatnya terasa begitu berjarak.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































