Menuju konten utama
Gearbox

Rantis Militer yang Menjelma Simbol Gengsi si Kaya

Kegagahan rantis Humvee membuat kalangan elite terpana, yang akhirnya melahirkan Hummer. Namun, keberadaannya justru menimbulkan gesekan sosial.

Rantis Militer yang Menjelma Simbol Gengsi si Kaya
Mobil Humvee dan Hummer. wikimedia/Cjp24
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Puncak Perang Teluk pada 1991 di padang pasir, Asia Barat menyita perhatian jutaan pasang mata di depan layar kaca. Jaringan berita global seperti CNN dan berbagai stasiun televisi internasional menyiarkan konvoi militer. Deretan Humvee—kendaraan taktis bongsor, lebar, dan garang—sukses mencuri panggung sekaligus menjelma ikon kekuatan militer Amerika Serikat.

Kala itu, militer merancang kendaraan lapis baja untuk keperluan di medan pertempuran, entah pengangkutan logistik, personel, kebutuhan patroli, ataupun perang itu sendiri.

Namun, pemandangan kontras tersaji pada 2002 ketika siluet garang itu bergeser drastis dari medan perang ke aspal mulus area parkir pusat perbelanjaan mewah di California. Ruang kemudi, yang sebelumnya diisi tentara bersenjata, kini dikendalikan warga sipil yang sekadar membawa kantong belanja harian.

Pergeseran fungsional tersebut menandai salah satu fenomena paling unik dalam sejarah otomotif dan kebudayaan konsumen modern. Kendaraan militer yang mulanya dirancang untuk menerobos medan pertempuran berhasil dikemas ulang menjadi komoditas gaya hidup berharga fantastis.

Rantis Medan Tempur Merambah Aspal Sipil

Akar sejarah sang mesin tempur berhulu pada High Mobility Multipurpose Wheeled Vehicle (HMMWV)—lebih akrab disapa Humvee—hasil manufaktur AM General untuk Angkatan Darat Amerika Serikat.

Sebagaimana dilansir oleh army.mil, pada 1985, AM General memproduksi sekitar 55 ribu unit Humvee untuk kebutuhan operasional taktis militer.

Kendaraan taktis tersebut mulanya dirancang murni sebagai sarana pengangkut di medan perang. Namun, tayangan televisi Perang Teluk 1991 mendadak menyihir khalayak luas, sekaligus melambungkan citra Humvee sebagai simbol ketangguhan militer.

Terpesona oleh visual ketangguhan kendaraan di layar kaca, aktor Hollywood, Arnold Scwarzenegger, secara pribadi mendatangi markas AM General di Indiana. Ia mendesak jajaran manajemen agar merancang varian khusus untuk pasar sipil. Demikian sebagaimana digambarkan oleh Shane Gutser lewat esainya yang dihimpun ulang dalam buku The Hummer: Myths and Consumer Culture (2007: 98-101).

Selepas itu, komersialisasi kendaraan tempur pun terealisasi. Varian sipil dari Humvee mulai dipasarkan pada 1992 lewat penyempurnaan kenyamanan kabin, tanpa mengorbankan karakter ketangguhan aslinya, sebagaimana dikutip dari AM General. Tapi namanya bukan lagi Humvee, melainkan Hummer.

Pengembangan produk memasuki babak baru pada 1999, saat General Motors (GM)—pabrik mobil komersial asal Amerika Serikat yang membawahi jenama populer seperti Chevrolet—membeli hak atas jenama tersebut, lalu mulai merancang varian turunan yang lebih ramah pasar sipil, yakni Hummer H2 pada 2002 dan Hummer H3 pada 2005.

Mobil Humvee dan Hummer

Mobil Humvee dan Hummer. wikimedia/Vold wanderer

Mengubah kendaraan perang jadi mobil harian tentu bukan perkara mudah. Di generasi awal, Hummer H1 bahkan masih memakai spesifikasi asli Humvee militer yang super lebar dan berat.

General Motors baru mengambil langkah realistis saat merilis model H2. Bukannya pakai sasis militer yang mahal, mereka justru meminjam rangka truk komersial dari Chevrolet Tahoe dan Silverado. Namun, sasis massal tersebut tetap dibalut bodi kekar bergaya taktis supaya aura militernya tetap terasa.

Keunggulan mekanis Hummer sebenarnya tidak perlu diragukan. Ia berkemampuan menanjak, melibas turunan curam, serta berbagai rintangan medan berat lainnya.

Namun, kebuasan teknis membawa konsekuensi hukum unik. Dengan bobot kendaraan H2 yang menembus 8.500 pon—setara dengan 2 SUV ukuran normal—pemerintah Amerika Serikat terpaksa mengategorikannya sebagai truk komersial.

Kategori hukum tersebut membebaskan pabrik dari denda regulasi efisiensi bahan bakar, yang biasanya membuat mereka wajib membayar jika memproduksi kendaraan penumpang biasa. Hal itu juga membuka jalan bagi pembeli untuk mengklaimnya sebagai pengeluaran kantor guna mendapat potongan pajak bisnis.

Kendati demikian, konsekuensinya harus dibayar mahal di pom bensin. Konsumsi bahan bakar Hummer luar biasa boros. Satu liter bensin hanya mampu membuat pengendara melaju sejauh 3 sampai 5 kilometer.

Karakter teknis yang jomplang membuktikan satu hal: penjualan Hummer tidak pernah bertumpu pada efisiensi, apalagi kepraktisan berkendara urban, melainkan jualan ilusi. Pabrikan sukses mengomodifikasi citra maskulin dan aura militeristik yang terlanjur melekat erat pada akarnya: Humvee.

Kehadiran kendaraan besar yang menonjolkan kesan maskulin dan militeristik di ruang publik justru memicu kontroversi dan ketegangan sosial.

Simbol Status yang Menjelma Medan Pertempuran

Ketegangan sosial langsung menajam begitu model H2 laku keras di perkotaan yang padat. Sebagaimana diuraikan oleh Jeremy Schulz dalam penelitian bertajuk "Vehicle of the Self: The Social and Cultural Work of the H2 Hummer" (2006: 60), Hummer H2 tak hanya berfungsi sebagai kendaraan mewah, melainkan sarana adu gengsi bagi kelas borjuis.

Ukuran fisik besar, tampilan agresif, serta harga jual tinggi, dimanfaatkan oleh pemiliknya untuk membentuk identitas sosial, memproyeksikan kekuasaan, dan memuaskan diri sendiri di tengah kecemasan sosial pasca-tragedi 11 September. Sebaliknya, bagi masyarakat urban di sekitarnya, “monster besi” raksasa menjadi representasi aksi pamer yang norak sekaligus simbol ketidakpedulian terhadap krisis lingkungan.

Perbedaan persepsi itu melahirkan benturan sosial, yang kemudian memantik ketertarikan Marius K. Luedicke, seorang pakar pemasaran, untuk melakukan penelitian etnografis.

Melalui penelitian bertajuk "Consumers’ Controversies About Consumption: A Preliminary Model" (2011: 48), ia menemukan permasalahan seputar Hummer bukan sekadar antara konsumen dan produsen, atau rivalitas klasik antar-jenama. Konflik di ruang publik telah bergeser menjadi benturan ideologis langsung antar-warga yang membelah masyarakat ke dalam dua poros: nilai keautentikan melawan solidaritas sosial.

Para pemilik memandang Hummer sebagai simbol suci, kebebasan finansial, patriotisme, sekaligus ekspresi mentalitas koboi jalanan. Namun, bagi kelompok penentang, pengemudi Hummer tak lebih dari peniru ketangguhan yang egois—memboroskan pasokan energi nasional saat tentara bertaruh nyawa di medan perang, sembari mengancam keselamatan pengguna jalan lain.

Benturan ideologis tidak berhenti sebagai sudut pandang, melainkan termanifestasi dalam bentuk aksi nyata yang meluas dari ranah digital hingga jalanan.

Di ruang digital, praktik tersebut dilakukan melalui pendiskreditan di ruang publik, tempat penentang menyematkan julukan merendahkan seperti “Orang Kaya Baru (OKB) pamer ego”, yang kemudian dibalas pemilik dengan sebutan “Social Justice Warrior (SJW) lingkungan”. Sentimen negatif makin diamplifikasi melalui cemoohan satire lewat humor, karikatur, serta situs parodi internet seperti FUH2.com.

Dari balik layar gawai, kemarahan publik akhirnya tumpah ke jalanan. Di jalan raya, aksi nyata mewujud intimidasi jalanan secara spontan saat pengguna berpapasan.

Ketika kendaraan terparkir di ruang publik, sebagian warga yang kesal memilih main hakim sendiri, mulai dari menggores bodi mobil diam-diam hingga meludahi kaca kendaraan saat terparkir di ruang publik. Pada tingkatan lebih terstruktur, kelompok aktivis di lapangan melakukan edukasi dengan menyelipkan catatan kritis atau menempelkan stiker kampanye lingkungan pada kaca kendaraan.

Rentetan intimidasi fisik dan teror psikologis di ruang publik rupanya melahirkan anomali. Melalui penelitian Luedicke lainnya, yang bertajuk "Brand Community Under Fire: The Role of Social Environments for the HUMMER Brand Community" (2006: 493), terungkap bahwa derasnya kecaman dan tekanan dari lingkungan luar tidak membuat getir komunitas pemilik Hummer. Serangan bertubi-tubi kelompok penentang menjadi bahan bakar yang mempererat solidaritas internal mereka.

Mobil Humvee dan Hummer

Mobil Humvee dan Hummer. wikimedia/HP Photosmart

Kapitalisme Industri di Balik Estetika Militer

Segala friksi sosial dan caci maki di aspal jalanan kota tidak muncul dari ruang hampa. Ketegangan warga merupakan dampak langsung dari strategi kapitalisme industri yang sangat jeli memeras keuntungan dari simbol militerisme.

Sebagaimana dijelaskan oleh Joanne Clarke Dillman dalam esainya bertajuk "Armored Bodies: The Hummer, The Schwarzenegger Persona, and Consumer Appeal", ada keterkaitan erat antara persona tangguh aktor Arnold Schwarzenegger dan bodi kendaraan Humvee, yang sengaja dibentuk menyerupai bunker berjalan guna menjanjikan proteksi mutlak.

Dari situlah, menurut Shane Gunster dalam esai "All About the Vehicle", peran media massa cukup krusial. Warta media sengaja membentuk ruang promosi agresif yang mencitrakan Hummer sebagai simbol kebebasan mutlak manusia dari belenggu rutinitas modern.

Namun, narasi yang dibuat media berbanding terbalik dengan perilaku riil konsumen, sebagaimana dibongkar oleh Ellen Gorman dalam esai "The ‘Stop and Stare’ Aesthetics of the Hummer". Ia menjelaskan, daya tarik mobil bongsor tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan fungsi teknisnya. Mayoritas pemiliknya bahkan tak pernah membawa mobil tersebut ke jalur tanah berlumpur. Mereka rela bayar mahal murni untuk ilusi visual berupa tampang galak saat mejeng di jalanan kota.

Citra gahar hasil polesan media langsung rontok begitu dihantam krisis ekonomi dan isu lingkungan. Lonjakan harga bensin dunia, hantaman krisis finansial 2008, serta gelombang kritik dari aktivis lingkungan, membuat penjualan Hummer turun drastis.

Karena kelimpungan, General Motors sempat berupaya melempar Hummer ke perusahaan Cina, Sichuan Tengzhong Heavy Industrial Machinery, pada 2009. Sialnya, proses negosiasi buntu. Setahun kemudian, produksi Hummer dihentikan secara resmi.

Perjalanan Hummer, dari kendaraan tempur angkatan darat, menjadi mainan mewah borjuis, hingga berakhir mengenaskan di meja perundingan bisnis, menandai batas akhir dari komersialisasi teknologi perang.

Riwayat mobil Hummer menjadi bukti nyata bahwa industri otomotif tidak sekadar menjual alat transportasi. General Motors sempat sukses menyulap ketakutan sosial dan trauma konflik menjadi mesin uang yang menggiurkan, sebelum akhirnya strategi jualan tersebut hancur lebur saat berhadapan dengan krisis ekonomi yang nyata.

Baca juga artikel terkait OTOMOTIF MOBIL atau tulisan lainnya dari Rizqy M. Farhan

tirto.id - Gearbox
Kontributor: Rizqy M. Farhan
Penulis: Rizqy M. Farhan
Editor: Fadli Nasrudin