tirto.id - “Satu-satu awas ada gempa, dua-dua lindungi kepala, tiga-tiga menuju titik kumpul, satu, dua, tiga selamat semuanya."
Seru murid-murid SMPN 1 Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, melantunkan lagu simulasi gempa, Rabu (21/1/2026). Mata pelajaran sementara digantikan dengan materi mitigasi menghadapi bencana gempa.
Guru di kelas membimbing anak murid untuk tidak panik, bersembunyi di bawah meja, dan perlahan-lahan turun ke titik kumpul.
Pengumuman di pengeras suara para guru diminta untuk mengulangi kembali persiapan dengan menyanyikan lagu simulasi gempa. Kemudian mengarahkan anak muridnya ke titik kumpul, satu murid di setiap kelas diminta untuk mengambil video menggunakan gawai milik guru.
Setelah menyanyi bersama-sama di setiap kelas. Guru mencontohkan melindungi kepala menggunakan ransel sebagai pelindung kepala. Sembari menjelaskan secara pelan-pelan terkait gempa bumi para guru meminta murid-muridnya untuk berlindung di bawah meja.
Tetiba, suara sirine menyala. Disusul suara kentongan yang diketuk guru lain. Dari bawah meja murid-murid setiap siswa kelas 7 hingga 9 keluar dari kelas pelan-pelan dibimbing oleh guru menuruni tangga sambil melantunkan takbir, menuju lapangan tempat biasa upacara sebagai titik kumpul dan evakuasi.
Tiba di lapangan, beberapa siswa berperan sebagai tim penyelamat mengevakuasi teman-teman mereka yang terjebak di kelas.
Tim relawan gabungan dari Relawan Peduli Bencana Lembang (RPBL), Pecinta Alam, dan Puskesmas Jayagiri turut membantu para siswa dalam proses belajar antisipasi pencegahan bencana ini.
“Ada kawan yang terluka tertinggal di kelas. Tim medis akan mengevakuasi temen kita ini, semoga teman kita baik-baik saja dan sehat selalu, kita doakan anak-anak," kata Ketua RPBL, Anna Joestiana, dengan sabar menjelaskan setiap adegan simulasi gempa kepada siswa.

Meskipun Rabu pagi itu hujan gemericik, para murid tetap antusias melihat adegan penyelamatan yang dilakukan teman-teman mereka dari Palang Merah Remaja (PMR). Salah satu siswa perlu diselamatkan menggunakan tali karena mereka tak bisa melewati tangga yang sudah roboh. Dari lantai dua, dibimbing oleh tim relawan, dan dibawa langsung oleh tim medis ke tenda evakuasi.
Adegan simulasi ditutup dengan teknik vertical rescue. Sebuah maneken di atas tandu digambarkan sebagai seorang siswa yang mengalami cedera. Mereka turun dari lantai atas gedung sekolah dengan cara diikat pada tali. Para guru dan murid menyimak adegan dan bersorak setelah berhasil diselamatkan.
Masya, siswa kelas 8, menuturkan pengalaman selama mengikuti pembelajaran simulasi bencana ini. Ia menyebut, semua harus hati-hati dan jangan panik, berharap sekolah-sekolah lain di Lembang mendapatkan simulasi bencana ini.
Mitigasi Bencana Bukan untuk Menakut-nakuti
Kepala SMPN 1 Lembang , Ai Nurhayati, menuturkan kegiatan simulasi ini membuat para guru dan siswa tahu bagaimana menghadapi bencana gempa, mulai dari melindungi diri sendiri. Ai menyebut, sekolahnya sendiri berada di titik zona merah Sesar Lembang, yang rawan terjadinya gempa akibat pergeseran sesar.
Sosialisasi seperti ini, menurut Ai penting dilakukan karena sebagai manusia tak tahu kapan bencana akan datang. Apalagi fasilitas publik seperti sekolah. Dengan jumlah murid sekitar 1.200 siswa, Ai perlu memastikan murid-murid, termasuk para guru tidak panik ketika terjadi bencana.
“Minimal anak-anak tidak panik ketika terjadi bencana. Jadi ini penting, bukan hanya untuk siswa, tapi juga untuk guru,” ungkap Ai pada wartawan, Rabu (21/1/2026).
Sepekan sebelum kegiatan simulasi diadakan, tim RPBL melakukan asesmen. Asesmen dilakukan untuk memetakan titik-titik resiko yang berpotensi membahayakan siswa saat gempa, seperti panggung tanpa anak tangga yang bisa memicu kecelakaan saat evaluasi panik. Hasil asesmen itu menjadi dasar penyusunan materi edukasi kebencanaan.
Anna, dari RPBL, mengatakan edukasi ini berkaitan dengan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) yang menekankan pada lingkungan sekolah aman, membentuk tim kebencanaan guru dan murid, serta melakukan risiko bencana.
“Kemudian, siswa dan guru mengikuti simulasi gempa yang diawali dengan briefing untuk memastikan skenario evakuasi dijalankan secara tertib,” jelas Anna.
Anna menambahkan prinsip utama saat gempa yakni tidak panik, melindungi kepala, serta cepat menjauh dari bangunan menuju titik aman. Ia menegaskan, mitigasi bukan untuk menakut-nakuti, melainkan membiasakan orang bersikap benar saat bencana datang.
“Membiasakan orang bersikap benar saat bencana datang. Yang paling berbahaya justru bukan gempanya, tapi kepanikan,” kata Anna.
Anna menjelaskan berdasarkan kajian dari Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN), wilayah Lembang termasuk zona merah karena kondisi tanah bekas danau purba bisa memperkuat guncangan.
Mengutip kajian BRIN, patahan yang bergerak bisa mengakibatkan gempa 6-7 Skala Richter. Ia juga menemukan maraknya bangunan baru di sekitar jalur sesar dan minimnya rambu kebencanaan.
“Lembang juga memiliki bekas wilayah danau purba, sehingga kondisi tanahnya tidak padat dan guncangan gempa akan terasa lebih kuat, jadi masyarakat diminta tetap tenang, tapi waspada,” tambahnya.
RPBL sendiri telah berdiri sejak 2019. Tim relawan ini memiliki kegiatan rutin mengedukasi simulasi bencana di setiap sekolah. Tak cuma itu saja, mereka juga melakukan kegiatan susur sesar dan mengkaji toponimi, seperti kawasan bernama Legok yang berarti ruang resapan air tetapi kini dipadati bangunan.
Ia mendorong pemerintah memperkuat edukasi kebencanaan, mengevaluasi pembangunan di zona sesar, dan Desa Tangguh Bencana berjalan nyata di desa-desa yang ada di Kecamatan Lembang.
Apa Itu Sesar Lembang dan Seberapa Besar Bahayanya?
Sesar Lembang merupakan patahan aktif yang pernah memicu gempa dan berpotensi menimbulkan dampak luas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat mengatakan, patahan ini membentang sepanjang 29 kilometer, yang terbagi ke dalam enam segmen melintasi lima kecamatan paling rawan, yaitu Padalarang, Cisarua, Ngamprah, Parongpong, dan Lembang.
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bandung Barat, Dedi Supriadi, menjelaskan aktivitas Sesar Lembang ada catatan peningkatan terpantau pada Agustus 2025 lalu. Selain itu, gempa juga pernah terjadi di Kampung Muril Rahayu pada 2011 silam, mengakibatkan kerusakan bangunan warga.
Ia menjelaskan berdasarkan temuan di lapangan, masih banyak rumah warga terdampak dibangun tanpa struktur penguat seperti sloof beton.
“Dalam catatan kami, gempa pernah terjadi dan menimbulkan kerusakan, terutama pada bangunan rumah yang tidak memenuhi standar konstruksi aman gempa,” kata Dedi dihubungi, Kamis (22/1/2025).

Menurutnya, berdasarkan Kajian Risiko Bencana, jika gempa besar terjadi, dampaknya tidak hanya dirasakan dari Bandung Barat saja, namun berpotensi ke beberapa wilayah seperti Kota Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung, hingga Subang.
Sementara itu, di sektor pendidikan, BPBD mencatat sedikitnya sekitar 93 sekolah berada di jalur patahan Leembang. Dedi menyebut terdapat rincian dari 55 sekolah dasar, 13 sekolah menengah pertama, 23 sekolah menengah atas, dan dua sekolah luar biasa.
Data ini merupakan hasil pemetaan hingga 2021 dan saat ini masih dalam proses pembaruan.
Ia mengatakan masih banyak sekolah swasta dan permukiman warga yang masih ditemukan konstruksi yang relatif rentan. Namun, sekolah negeri sudah memiliki struktur bangunan yang lebih aman, walaupun belum seluruhnya memenuhi standar bangunan tahan gempa.
Di setiap sekolah dan masyarakat harus dilakukan sosialisasi mitigasi dengan pendekatan mudah serta bisa dipahami. Sebagai langkah mitigasi, BPBD Bandung Barat membentuk Desa Tangguh Bencana serta merencanakan simulasi gempa Sesar Lembang pada peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana 2026.
“Sosialisasi mitigasi gempa harus dilakukan hingga ke sekolah-sekolah dan masyarakat, dengan pendekatan yang sederhana dan mudah dipahami. Edukasi perlindungan diri saat gempa harus disampaikan dengan bahasa yang membumi agar tidak menimbulkan kepanikan,” ungkapnya.
Membiasakan Simulasi Bencana
Sesar Lembang yang membentang sekitar 29 kilometer dari Bandung Barat hingga Kabupaten Bandung, dijelaskan oleh Penyelidik Bumi Utama di Badan Geologi Kementerian ESDM, Supartoyo, sebagai sesar yang pernah bergerak dalam kurun waktu sekitar 11.000 tahun terakhir. Selain itu, secara geologis berpotensi memicu gempa sampai sekitar 6,8 magnitudo apabila bergerak semua sepanjang 29 km.
Pada jurnal ilmiah berjudul “Mengenal Sesar Lembang” yang dimuat dalam Berita IAGI Vol. XXIV No. 1, Desember 2025, Supartoyo menjelaskan risiko itu disebabkan oleh kondisi secara geologis Lembang yang berada di Cekungan Bandung, tersusun atas endapan danau purba dan material rombakan gunung api muda.
Ia menjelaskan, struktur tanah yang relatif tidak padat ini berpotensi memperkuat guncangan gempa, terutama di kawasan permukiman padat dan fasilitas publik seperti sekolah.
Oleh karena itu, bangunan pendidikan yang tidak dirancang tahan gempa dan tidak memiliki jalur evakuasi, jelas berisiko mengalami kerusakan serius saat gempa terjadi.
“Sumber gempa bumi yang terasa di Cekungan Bandung bukan hanya berasal dari sesar aktif seperti Sesar Lembang, tetapi juga dari zona penunjaman di selatan Pulau Jawa,” tulis Supartoyo dalam jurnalnya seperti dikutip Tirto, Jumat (23/1/2026).
Alih-alih memikirkan kapan terjadi gempa. Ia mengajak untuk melakukan upaya mitigasi ke masyarakat. Upaya mitigasi, kata Supartoyo, mencakup dua hal utama yaitu pengurangan risiko fisik serta pembiasaan perilaku aman.
Secara fisik, idealnya bangunan-bangunan baik sekolah atau rumah dibangun dengan konstruksi tahan gempa, dan menghindari zona sesar permukaan.
Akan tetapi, apabila sekolah sudah terlanjur di kawasan rawan, mitigasi menjadi sangat penting. Ini meliputi penentuan jalur dan titik evakuasi, rambu kebencanaan, serta latihan rutin.

Penulis: Akmal Firmansyah
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id


































