Inilah yang Terjadi saat Gempa Lembang Menghantam Bandung

Oleh: Aqwam Fiazmi Hanifan - 20 Oktober 2017
Dibaca Normal 5 menit
Kehancuran seperti apa yang akan menerpa Bandung?
tirto.id - Apa yang bisa kita pelajari dari gempa besar di Kota Meksiko pada 1985? Dan kemungkinan seperti apa dari hal sama bila sesar Lembang di Bandung bergerak dahsyat sewaktu-waktu?

Di Kota Meksiko, ratusan ribu bangunan rusak berat. Jembatan terputus. Jalanan aspal terbelah. Ratusan gedung tinggi roboh. Sepuluh ribu orang tewas. Tiga puluh ribu orang luka.

Dari sana, para ahli mencatat: Pertama, gempa terletak di episentrum dangkal. Kedua, kontur tanah didominasi endapan aluvial lembek lantaran Kota Meksiko terbentuk dari bekas danau purba yang telah surut. Ketiga, gempa menerjang kota berpenduduk padat. Terakhir, standar bangunan tidak mampu menahan gempa bumi hebat.

Semua kondisi di Kota Meksiko ini mirip halnya dengan Kota Bandung sekarang: Pertama, di sisi utara kota terdapat sesar atau patahan Lembang yang pusat gempanya relatif dangkal, hanya 10 kilometer. Kedua, hamparan Kota Bandung semula juga dari sebuah danau purba yang mengering sekitar 16.000 tahun lalu. Ketiga, kawasan Bandung Raya adalah salah satu permukiman padat di Pulau Jawa. Keempat, standar bangunan tahan gempa di Bandung amatlah payah.

Ahli rekayasa gempa dari Institut Teknologi Bandung, Prof. Adang Surahman, mengatakan hanya 15 persen gedung rancangan insinyur di Bandung yang tahan gempa.

"Banyak masyarakat masih tidak tahu, dan memang biaya membangun rumah atau bangunan tahan gempa itu bisa tujuh persen lebih tinggi dari yang biasa," kata Adang.

Para ahli sepakat bahwa gempa dari sesar Lembang berpotensi melepaskan kekuatan maksimum antara 6,8 - 7 skala Richter.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Agustus lalu menyebut saat gempa maksimum ini terjadi dan dikonversi ke dalam skala Mercalli—satuan untuk menakar dampak kerusakan secara kasat mata—kesimpulannya cukup mengejutkan.

"Secara umum, skala intensitas VII-VIII dapat mengakibatkan goncangan sangat kuat, dengan kerusakan sedang hingga berat," ucap wakil Bidang Geofisika BMKG, Muhammad Sadly.

Dalam skenario skala Mercalli ini, gempa dari patahan Lembang pada masa depan bakal menyebabkan kerusakan ringan pada bangunan dengan konstruksi kuat sekalipun. Pada beberapa bangunan, dinding tembok bisa rontok dari tulang.

Monumen dan menara akan roboh, yang artinya jaringan listrik dan komunikasi bisa terganggu. Pada bangunan sederhana non-struktural, seperti pemukiman penduduk, dampaknya adalah rusak berat atau ambruk.

Anjing Menyalak

Tanda pertama dari gempa Lembang meriap adalah saat gelombang primer (P) memancar dari garis patahan, yang akan disusul gelombang dahsyat (S). Gelombang-P biasanya menjalar 5 kilometer per detik atau hampir dua kali lipat lebih cepat dari gelombang-S yang 3 kilometer per detik.

Ia datang 30 hingga 90 detik sebelum gelombang-S yang lebih menciptakan kerusakan hebat. Di negara canggih seperti Jepang, gelombang-P ini dijadikan saklar pengaktif sistem peringatan dini gempa, yang secara otomatis mematikan perkeretaapian, pembangkit listik, lift, dan memicu alarm agar masyarakat umum bisa berlindung.

Berfrekuensi tinggi, kedatangan gelombang-P tidak bisa dirasakan oleh manusia. Namun, anjing dan beberapa hewan lain secara sensitif bisa. Saat monster dari dalam bumi Tatar Priangan ini mulai terbangun, anjing bakal menyalak, disambut gonggongan anjing lain, dan udara di perkampungan akan gaduh oleh suara-suara hewan.

Gempa dari sesar Lembang berkekuatan 3,3 skala Richter pada 8 Agustus 2011, yang berpusat di Kampung Muril Rahayu, Bandung Barat, dapat melukiskan hal itu.

Dadang Ratna, seorang warga kampung, mengisahkan bahwa menjelang gempa, anjing yang ia ikat di dekat kandang sapi perah, persis di samping rumahnya, menyalak keras tanpa sebab.

"Saya pikir dia gonggong karena lihat maling. Setelah saya cek, tiba-tiba saja gempa," katanya kepada saya, baru-baru ini.

Bila gempa Lembang kembali terjadi, anjing Dadang bakal kembali berisik. Dan saat itu, beberapa detik kemudian, gelombang-S telah menjalar di permukaan. Semula getarannya rendah, lalu tanah bergerak naik-turun, makin lama makin cepat dan lantas melambat, persis seperti getaran tali yang terbentang kuat-kuat.

Pada puncak getaran, anjing Dadang mungkin telah mati ketiban kasau kandang sapi yang rapuh dan lapuk.

Potensi Kerusakan di Bandung Utara

Sesar Lembang memanjang horizontal 29 kilometer dari Bandung Barat hingga Kabupaten Bandung. Daerah yang dilintasinya termasuk Kecamatan Ngamprah, Cisarua, Parongpong, hingga Lembang. Total ada sekitar 500-an ribu penduduk.

Bayangkan jika episentrum gempa ini berpusat di titik paling barat, persis di Ngamprah. Saat gempa besar berombak, kerusakan hebat semula menjalar di Cikoneng, lalu merembet ke Kampung Muril Rahayu (Cisarua), dan kita akan menemui kisah Dadang Ratna di atas.

Retakan melaju ke arah Pasar Cibarukai dan Sekolah Polisi Negara Cisarua. Ia membelah urat jalan utama dari Cimahi ke Lembang, yakni Jalan Kolonel Masturi. Dari sini, retakan menembus Kampung Gandrung. Maka, hasilnya pasti belaka: akses informasi di sebagian Jawa Barat terganggu lantaran layanan saluran televisi mati total; ia merobohkan belasan menara transmisi televisi nasional di kawasan Kampung Gandrung.

Dari Kampung Gandrung, gelombang gempa melewati lembah Kertawangi, menembus Desa Panyairan (Parongpong). Di sini, saat gempa terjadi, Anda dapat melihat sebuah restoran favorit pasangan muda-mudi Bandung, bernama The Peak Resort Dinning, luluh lantak. Bangunan tiga lantai beraksen modern ini diprediksi tak akan mampu menahan guncangan sebab berdiri tepat di atas nadi getaran gempa.

Bergeser ke barat, patahan akan mengguncang kompleks perumahan elite bernama Graha Puspa. Meski tidak persis melewati kompleks perumahan itu, efek getarannya bisa kencang sebab gawir jalur utama sesar hanya beberapa meter di sebelah barat perumahan.

Di tengah ancaman besar ini, sekitar 80 meter dari patahan Lembang, ada sebuah kondotel mewah bernama Boutique Village Bandung Resort, bangunan pesiar 6 lantai dengan 149 kamar.

"Saya heran, kenapa diizinkan membangun kondotel di situ?" ucap Dr. Mudrik Rahmawan Daryono, peneliti Geoteknologi LIPI yang lima tahun terakhir meneliti seismologi sesar Lembang.

"Saya tidak tahu seberapa besar kapasitas bangunan kondotel itu menahan gempa. Yang jelas, karena dibangun dekat sesar, perencanaan anti-gempanya tidak boleh main-main," tambah Mudrik.

Dari Graha Puspa, mengikuti arah patahan ke barat, akan ditemui lokasi vital seperti Observatorium Bosscha, Sekolah Staff dan Komando TNI Angkatan Udara, dan Sekolah Kepemimpinan Polri. Pemukiman di sini relatif padat dan ada banyak lokasi wisata. Ancaman risikonya tinggi.

Meski Pemerintah Provinsi Jawa Barat sudah mengatur bahwa jalur patahan harus steril dari bangunan atau pemukiman penduduk, tetapi faktanya berbeda di lapangan.

Berdasarkan penelitian Geoteknologi LIPI, bila patahan Lembang retak secara mekanis, maka ada pergeseran vertikal sekitar 50 sentimeter. Ibaratnya, jika rumah Anda persis berada di tengah jalur retakan patahan Lembang, separuh rumah Anda naik sekitar 50 cm ketika gempa terjadi. Ia bikin konstruksi bangunan tidak stabil, terbelah, dan ambruk.

Selain retakan utama, dalam gempa, ada yang disebut conjugate fault alias retakan kecil bercabang. Retakan ini menyebabkan belasan rumah rusak akibat dinding terbelah dan beberapa kolam surut akibat airnya meresap ke dalam retakan. Inilah yang terjadi di Kampung Muril Rahayu, enam tahun silam, tempat Dadang Ratna bermukim.

Gempa dari sesar Lembang juga bakal memicu tanah longsor di seantero Bandung.

"Longsor biasanya tidak langsung terjadi, tapi dalam hitungan menit. Sehingga warga disarankan segera menjauhi sesar dan menjauhi lereng atau daerah yang berpotensi longsor jika merasakan gempa yang kuat," kata Rahma Hanifa, peneliti dari Pusat Penelitian Mitigasi Bencana ITB, yang mendapat gelar PhD dari Universitas Nagoya.

Infografik HL Indepth Gempa

Kehancuran Total di Kota Bandung

Kawasan Kota Bandung yang dulu bekas danau purba berada pada titik paling rendah, yang kini lokasinya di Gedebage. Saat terjadi gempa, entah itu bersumber dari patahan Lembang, Cimandiri, Baribis, atau zona subduksi di Samudera Hindia, Gedebage bakal menerima goncangan lebih hebat ketimbang lokasi lain.

"Orang selalu beranggapan sesar Lembang hanya berimbas saja di Lembang. Dan menjadikan ancaman ini sebagai olokan. Ini tentu salah betul," ucap Ariska Rudyanto, Kepala Sub Bidang Analisis Seismologi Teknik BMKG kepada saya, September lalu.

Perambatan gelombang gempa sangat bergantung pada berat jenis dan struktur benda yang dilaluinya. Ibaratnya, kita menyimpan satu buku di atas balok kayu dan satu lagi di atas puding. Amplifikasi buku di atas puding tentu lebih besar ketimbang balok kayu yang materialnya lebih solid. Sebagai bekas danau purba, Kota Bandung memenuhi prasyarat ini.

Gempa seperti riak air, semakin jauh perambatan gelombang, kekuatan gempa semakin lemah. Jarak Kota Bandung hanya 3 kilometer dari jalur utama sesar. Ini cukup membuat aktivitas ibu kota Jawa Barat lumpuh bila terjadi gempa.

Dari hasil peta guncangan skenario BMKG mengenai daya rusak gempa Lembang, skalanya bisa mencapai VI dan VII. Namun, kata Ariska, peta BMKG ini tak bisa menggambarkan kondisi riil.

"Peta guncangan skenario yang dirilis BMKG memukul rata semua wilayah di Bandung, dengan ketinggian batuan yang sama. Itu masih analisis kasar," ucap Ariska.

Kondisi geologi permukaan wilayah di Kota Bandung bervariasi, dari endapan sangat lunak hingga batuan vulkanik keras. Menurutnya, penting untuk melihat karakterisasi geologi permukaan guna mengidentifikasi tingkat kerentanan penguatan gelombang gempa.

Riset dari peneliti Pusat Survei Geologi ESDM, Marjiyono—yang melakukan mikrotremor di 97 titik di Kota Bandung pada 2011—menunjukkan bahwa faktor penguatan di Kota Bandung berkisar antara 2,1 hingga 17. Di Kawasan Asia-Afrika, penguatan berkisar 4,1. Sementara di Gedebage menjadi paling tinggi: 16,5. Artinya, meski sama-sama terhantam guncangan gempa 6,8 skala Richter, efek goyangan gempa di Gedebage sebesar 16,5 kali lipat lebih besar ketimbang penduduk Lembang.

Seperti apa efek goyangan gempa 17 kali lipat itu? Jika diubah ke dalam skala Mercalli, kesimpulannya adalah getaran gempa termasuk kategori ekstrem; potensi kerusakan sangatlah berat.

Ahli bumi yang meneliti Danau Bandung Purba, T. Bachtiar, membenarkan ancaman di Kawasan Gedebage.

"Titik terdalamnya dari gerbang Tol Buah Batu, memanjang terus ke timur sepanjang Jalan Soekarno-Hatta dan Tol Purbaleunyi. Di sana, ketebalan endapannya tinggi sekali," kata Bachtiar.

Namun, ancaman gempa Lembang tidak semata di Gedebage. Dengan skala Mercalli X - XI, beberapa wilayah lain terkena guncangan hebat. Daerah-daerah ini adalah Turangga, Lengkong, Babakan Surabaya, Cijagra, Pasir Luyu, Margacinta, Cisaranten Kulon, hingga sebelah selatan Ujung Berung, Cipadung, dan Cibiru. Menurut prediksi Bachtiar, korban akan lebih banyak di Cibiru.

"Cibiru itu selain dangkal juga padat," katanya.

Seperti apa skala Mercalli X-XI?

Gambaran mudahnya: rangka rumah Anda lepas dari pondasi, tanah terbelah, rel melengkung, tanah longsor pada tiap-tiap sungai, dan tanah longsor pada tanah-tanah yang curam.

Segelintir bangunan berdiri. Jembatan rusak. Pipa nyaris tak bisa berfungsi.

Gempa Lembang juga berpotensi longsor di kawasan Dago atas, Pasir Wangi, dan Sisurupan. Kebakaran besar bakal merembet di kawasan padat penduduk seperti Cicadas, Coblong, atau Taman Sari. Jembatan Pasupati bakal kerusakan parah—atau mungkin terbelah.

Kajian terbaru dari ITB memprediksi, jika patahan Lembang bergerak aktif, potensi kerugian ekonomi dari kerusakan bangunan bisa mencapai Rp51 triliun. Angka ini lebih besar ketimbang kerugian gempa Aceh 2004 yang ditaksir Rp48,6 triliun.

Hasil hitung-hitungan kasar: ada sekitar 2,5 juta rumah warga terkena dampak gempa, dengan rincian 1 juta unit rusak kecil, 1 juta rusak sedang, dan 500 ribu rusak total alias ambruk.

Pendeknya: sebuah kengerian.

"Imbas dari gempa Lembang mungkin terasa sampai Jakarta dan sekitarnya, tapi efeknya tidak separah seperti di Bandung," ujar Irwan Meilano, pakar gempa ITB.

Baca juga artikel terkait GEMPA BUMI atau tulisan menarik lainnya Aqwam Fiazmi Hanifan
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Aqwam Fiazmi Hanifan
Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight