Menuju konten utama

Benarkah Bandung Terancam Gempa Besar Akibat Sesar Lembang?

Sesar Lembang merupakan patahan aktif yang kerap memicu gempa Bandung. Benarkan Bandung terancam gempa besar akibat Sesar Lembang? Simak ulasannya.

Benarkah Bandung Terancam Gempa Besar Akibat Sesar Lembang?
Peta Sesar Lembang. (FOTO/BMKG)

tirto.id - Sesar Lembang merupakan patahan aktif sepanjang 29 km yang berada sekitar 10 km di utara Kota Bandung, Jawa Barat. Lantas, benarkah Bandung terancam gempa besar akibat Sesar Lembang?

Sesar Lembang merupakan hasil dari proses alam yang berkesinambungan selama ratusan ribu tahun. Keberadaan Sesar Lembang menjadi perhatian utama dalam kajian mitigasi bencana di wilayah Bandung Raya.

Patahan tersebut membentang dari Padalarang hingga Jatinangor dan melewati sejumlah wilayah di utara Bandung Raya. Di antaranya seperti Lembang, Padalarang, Ngamprah, Cisarua, hingga Parongpong.

Fakta-fakta Sesar Lembang Picu Bencana Geologi di Bandung

Sesar Lembang terbentuk dari rekahan pada kerak bumi akibat pergerakan lempeng tektonik. Adapun bagian timur Sesar Lembang terbentuk lebih dulu dibanding bagian lainnya.

Peneliti bidang Geologi Gempa Bumi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Mudrik R. Daryono menjelaskan bahwa Sesar Lembang mengalami pergeseran batuan dengan kecepatan sekitar 1,9 hingga 3,4 milimeter setiap tahun.

Tak ayal, pergeseran tersebut katanya dapat memicu terjadinya gempa bumi dengan kekuatan yang beragam.

Berikut beberapa fakta tentang Sesar Lembang hingga disebut bisa memicu gempa besar menurut peniliti BRIN, Mudrik R. Daryono, mengutip laman resmi BRIN yang disiarkan pada 29 Agustus 2025:

1. Arah Pergeseran Sesar Lembang Mendatar dan Naik Turun

Menurut Mudrik R. Daryono, pergeseran Sesar Lembang mendatar ke arah kiri. Hal ini menyebabkan bagian utara dan selatan sesar bergerak saling berlawanan.

“Bukti nyata bisa dilihat dari pergeseran Sungai Cimeta yang telah bergeser sejauh 120 meter, bahkan di beberapa lokasi mencapai 460 meter,” kata Mudrik, saat diwawancara tim Humas BRIN, dikutip Senin (29/9).

Di bagian barat, pergeseran terjadi naik-turun dari kilometer 0 sampai kilometer 6, permukaannya masih datar. Lalu, muncul perbedaan tinggi hingga sekitar 90 meter sebelum kembali mengecil ke arah timur.

“Secara keseluruhan, pergeseran di Sesar Lembang hampir seluruhnya didominasi oleh pergeseran mendatar, yaitu sekitar 80 sampai 100 persen. Sedangkan pergeseran naik-turun hanya sekitar 0 sampai 20 persen,” ungkap Mudrik.

Proses pergeseran tersebut memakan waktu ribuan tahun. Proses inilah yang memicu terjadinya gempa.

2. Sesar Lembang Bergerak 3,4 Milimeter per Tahun

Secara umum, pergeseran Sesar Lembang bergerak dengan kecepatan sekitar 1,9 hingga 3,4 milimeter setiap tahun.

Pergeseran tersebut dapat diamati dari oleh temuan penelitian paleoseismologi atau kajian jejak gempa melalui penggalian parit di kilometer 11,5, yang menemukan adanya pergeseran setinggi 40 sentimeter.

Bagian selatan sesar terangkat dibanding sisi utara. Pergeseran ini menjadi bukti bahwa pernah terjadi gempa bumi bermagnitudo 6,5–7 di Sesar Lembang.

3. Sesar Lembang dapat Memicu Gempa M7

Apabila diakumulasikan selama ratusan tahun, maka pergerakan tersebut dapat memicu gempa hingga magnitudo 7.

“Pergeseran sebesar itu menjadi bukti nyata bahwa di masa lalu pernah terjadi gempa dengan kekuatan sekitar magnitudo 6,5 hingga 7,” jelas Mudrik.

Mudrik juga menjelaskan kajian jejak gempa termuda di Sesar Lembang diperkirakan terjadi pada abad ke-15. Sementara, sebelumnya terdapat bukti gempa sekitar 60 tahun sebelum Masehi yang meninggalkan jejak pergeseran setinggi 40 sentimeter.

Selain itu, gempa juga pernah terjadi sekitar 19 ribu tahun lalu. Dari catatan tersebut, para ahli memperkirakan bahwa gempa besar di Sesar Lembang berulang dalam rentang waktu antara 170 hingga 670 tahun.

“Jika mengacu pada siklus ulang gempa besar yang telah diperkirakan, maka secara teoritis gempa besar berikutnya dapat terjadi paling lambat sekitar tahun 2170. Artinya, secara waktu, perkiraan, siklus ini sudah relatif dekat dengan masa sekarang,” sebut Mudrik.

Kendati begitu, Mudrik menjelaskan bahwa hitungan tahun tersebut merupakan gambaran rentang waktu, bukan kepastian tentang kapan gempa akan benar-benar terjadi.

4. Pergerakan Sesar Lembang Memicu Naiknya Gunung Batu hingga 40 cm

Menurut Mudrik, gempa bumi dapat menyebabkan permukaan tanah di jalur Sesar Lembang mengalami pergeseran atau kenaikan.

“Gunung Batu bisa naik hingga 40 sentimeter dalam sekali kejadian gempa. Dan naik atau gesernya ini akan menghasilkan gempa bumi,” ujar Mudrik.

Gunung Batu berada di Lembang berada di kilometer 17 jalur sesar. Lokasi ini menjadi bukti morfologi jalur Sesar Lembang.

5. Memicu Gempa Kecil di Kabupaten Bandung

Terdapat dua kemungkinan adanya gempa dengan magnitudo kecil yang terjadi di sekitar wilayah Banding. Kemungkinan pertama, menurut Mudrik, terjadi karena pelepasan energi sesar dalam skala kecil yang kemudian berhenti begitu saja.

Kemungkinan kedua, gempa kecil ini bisa saja menjadi bagian dari rangkaian proses yang suatu saat diikuti oleh gempa lebih besar.

“Hingga saat ini, ilmu kebumian belum mampu memprediksi dengan pasti skenario mana yang akan terjadi. Karena itulah, sikap paling bijak yang bisa dilakukan adalah tetap waspada dan menyiapkan langkah mitigasi sejak dini,” ujar Mudrik.

Info lebih lanjut tentang Sesar Lembang dapat diakses pembaca melalui tautan di bawah ini:

Artikel tentang Sesar Lembang

Baca juga artikel terkait SESAR LEMBANG atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo