Menuju konten utama

Sejarah Tsunami Jepang, Kapan Terbesar, & Kenapa Sering Gempa?

22% dari 800 tsunami di Pasifik pada abad terakhir terjadi di lepas pantai Jepang. Simak sejarah tsunami Jepang dan penyebab sering terjadi gempa.

Sejarah Tsunami Jepang, Kapan Terbesar, & Kenapa Sering Gempa?
Ilustrasi Tsunami. Getty Images/iStockphoto

tirto.id - Sejarah tsunami di Jepang menjadi perhatian banyak pihak, termasuk catatan tsunami terbesar. Tak hanya itu, Jepang juga sering dilanda gempa. Simak ulasan lengkap dan alasan kenapa sering terjadi gempa di Jepang.

Gempa terbaru di Jepang terjadi pada Senin malam (8/12) dengan magnitudo 7,6. Getaran gempa dirasakan di kota Hachinohe di Prefektur Aomori dengan skala intensitas 6 dari skala 7.

Getaran gempa terjadi cukup kuat hingga menyebabkan sejumlah kaca bangunan rusak dan sebagian besar furnitur berat runtuh. Gempa Jepang juga memicu otoritas setempat untuk mengeluarkan peringatan tsunami. Meski peringatan diturunkan menjadi status waspada dalam beberapa jam kemudian.

Setelah gempa utama, Badan Meteorologi Jepang mengamati lebih dari 10 kali gempa susulan dengan skala yang lebih kecil. Gempa dan tsunami tersebut menambah daftar panjang bencana yang terjadi di Jepang.

Sejarah Tsunami Jepang

Jepang termasuk salah satu negara di dunia yang kerap dilanda tsunami. Seturut laman Fact and Details, 22 persen dari 800 tsunami yang terjadi di Pasifik pada abad terakhir terjadi di lepas pantai Jepang. Salah satu pemicu terjadinya tsunami Jepang ialah gempa bumi besar yang berpusat di bawah permukaan laut.

Tsunami kerap kali membawa pasir, kerang, dan bahkan batu-batu besar ke daratan dari laut, mengendap di tanah saat surut. Lapisan-lapisan ini menjadi bukti tsunami di masa lalu yang dikaji oleh para ahli geologi. Dalam kajian tersebut, ketinggian sedimen tsunami merupakan indikator ketinggian tsunami.

Tsunami terbesar yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir terjadi pada tahun 2011. Tsunami 2011 di Jepang tercatat setinggi 55,88 meter. Tsunami ini dipicu oleh gempa berkekuatan Magnitudo 9,1.

Episentrum gempa terletak di 130 kilometer di sebelah timur Sendai, Honshu. Gempa dan tsunami itu terjadi pada hari yang sama, yakni tanggal 11 Maret 2011. Akibatnya, 18.431 orang dilaporkan meninggal akibat gempa dan tsunami.

Berdasarkan catatan World Data yang dinukil dari data Global Historical Tsunami Database, Pusat Data Geofisika Nasional, tsunami Jepang dengan tinggi gelombang 20 meter lebih telah terjadi beberapa kali dengan jumlah korban jiwa yang beragam.

Berikut daftar sejarah tsunami yang terjadi di Jepang selama periode 1498-2022 dengan tinggi gelombang 20 meter lebih beserta jumlah korbannya:

  • 20 Oktober 1707: Tinggi tsunami 25,70 meter dengan korban meninggal 2.787 jiwa.
  • 29 Agustus 1741: Tinggi tsunami 90 meter dengan korban meninggal 1.607 jiwa.
  • 24 April 1771: Tinggi tsunami 85.40 meter dengan korban meninggal 25.427 jiwa.
  • 21 Mei 1792: Tinggi tsunami 55 meter dengan korban meninggal 5.343 jiwa.
  • 23 Desember 1854: Tinggi tsunami 21 meter dengan korban meninggal 268 jiwa.
  • 24 Desember 1854: Tinggi tsunami 28 meter dengan korban meninggal 1.724 jiwa.
  • 15 Juni 1896: Tinggi tsunami 38,20 meter dengan korban meninggal 18.802 jiwa.
  • 2 Maret 1933: Tinggi tsunami 29 meter dengan korban meninggal 3.022 jiwa.
  • 12 Juli 1993: Tinggi tsunami 32 meter dengan korban meninggal 181 jiwa.
  • 11 Maret 2011: Tinggi tsunami 55,88 meter dengan korban meninggal 15.950 jiwa.

Kenapa Jepang Sering Gempa?

Jepang terletak di kawasan Lingkaran Api Pasifik yang menjadi pertemuan lempeng tektonik yang terus bergerak dan berinteraksi satu sama lain. Negara tersebut menjadi titik pertemuan Lempeng Laut Filipina dan Lempeng Samudera Pasifik yang masih aktif.

Setidaknya ada empat lempeng utama aktif yang terletak di Jepang, yaitu Lempeng Pasifik, Lempeng Filipina, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Amerika Utara. Gerakan lempeng ini menyebabkan ketegangan dan tekanan yang, ketika dilepaskan, akan menghasilkan gempa bumi.

Letak geografis tersebut menyebabkan seringnya gempa bumi di Jepang. Tak hanya itu, banyaknya lempang utama di Jepang juga menciptakan keberadaan banyak gunung berapi serta sumber air panas. Gempa bumi yang terjadi di bawah atau dekat laut dapat memicu tsunami di Jepang.

Peta Jepang

Peta Jepang. foto/istockphoto

Seturut laman Japan Guide, Badan Meteorologi Jepang (JMA) menggunakan skala intensitas seismik bernama Skala Shindo untuk menggambarkan gempa bumi. Shindo mengacu pada intensitas gempa bumi di lokasi tertentu yang mengukur getaran sebenarnya dirasakan orang di lokasi tertentu.

Sementara itu, skala magnitudo mengukur energi yang dilepaskan gempa bumi di episentrum. Skala Shindo berkisar dari Shindo 1-7. Shindo 1 menunjukkan gempa bumi ringan yang hanya dirasakan oleh orang-orang yang tidak bergerak. Sementara, Shindo 7 menunjukkan gempa bumi yang parah.

Shindo 2-4 masih merupakan gempa bumi kecil yang tidak menyebabkan kerusakan, sementara benda-benda mulai berjatuhan. Pada Shindo 5-7, kerusakan yang lebih parah terjadi.

Kemudian, Badan Meteorologi Jepang juga menggunakan kategori tambahan Lower 5, Upper 5, Lower 6, dan Upper 6 untuk memberikan detail lebih lanjut mengenai dampak yang dirasakan masyarakat.

Baca juga artikel terkait TSUNAMI JEPANG atau tulisan lainnya dari Sarah Rahma Agustin

tirto.id - Edusains
Kontributor: Sarah Rahma Agustin
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo