30 April 1945

Adolf Hitler Bunuh Diri Karena Tak Ingin Mayatnya seperti Mussolini

Ilustrasi Mozaik Adolf Hitler. tirto.id/Nauval
Oleh: Petrik Matanasi - 30 April 2020
Dibaca Normal 2 menit
Hitler memilih bunuh diri ketika Nazi terjepit di Berlin. Dia tak ingin bernasib seperti Mussolini.
Sahabat dan panutannya sudah mendahuluinya pada 28 April 1945 dalam kondisi mengenaskan. Benito Mussolini, si sahabat dan panutan itu, tewas bersama pengikut dan kekasihnya setelah ditembak di Giulino di Mezzegra. Mayat mereka digantung dan dipertontonkan kepada publik di Piazza Loreto, Milan. Kondisi memalukan itu tak ingin dialami Hitler. Jika pun harus mati, Hitler tak mau seperti Mussolini.

Nazi Jerman sedang dalam bahaya di bulan April 1945 itu. Tentara Sekutu semakin menjepit Jerman, baik dari arah timur oleh Soviet maupun dari barat oleh Amerika, Inggris, dan lainnya. Militer Jerman seperti terjebak dalam lubang-lubang pembantaiannya sendiri. Dalam keadaan macam itu, Hitler harus memikirkan Nazi Jerman dan tentu saja dirinya.

Sejak 16 Januari 1945 Hitler sudah pindah ke suatu tempat bernama Fuhrerbunker, Bunker yang dipersiapkan untuknya, di Gedung Kanselir. Tempat ini setidaknya bisa mengamankan Hitler dari serangan udara Sekutu yang kapan saja bisa menjatuhkan bom-bomnya ke kota Berlin. Bunker itu juga menjadi markas Nazi.

Pada pertengahan April, di tengah sepinya kabar gembira, Joseph Paul Goebbels menelepon Hitler. “Pemimpinku, aku ucapkan selamat. Roosevelt (Presiden Amerika) meninggal dunia,” kata Goebbels kepada Hitler, seperti dikutip Charles B. MacDonald dalam United States Army in WWII - Europe - the Last Offensive (2014) dan Antony Beevor dalam Berlin: The Downfall: 1945 (2003).

Presiden Franklin Delano Roosevelt tutup usia di Gedung Putih pada 12 April 1945. Goebbels dan Hitler mungkin berharap hal itu akan menurunkan moral tentara Amerika di front Eropa. Kematian Roosevelt nyatanya tidak berpengaruh besar bagi tentara Amerika di peperangan. Bagi Amerika, ganti presiden bukan hal yang perlu ditangisi.

Jerman Lunglai di Segala Penjuru

Pada 14 April 1945 Hitler memberikan perintah kepada tentaranya. Dalam perintahnya dia menyebut, titik balik dari perang ini akan ditentukan. Jarak Berlin dengan posisi tentara Amerika sudah 100 kilometer lagi, setelah pada 11 April mereka menyeberangi Sungati Elbe. Lima hari kemudian, pada 16 April 1945, Tentara Merah Soviet telah menyikat pertahanan timur yang melindungi kota Berlin.

Artileri Tentara Merah pun menembaki kota Berlin. Berdasarkan data yang dihimpun CIA (PDF), pada 20 April, ketika Tentara Merah menyerbu gerbang Berlin, Hitler merayakan ulang tahunnya yang ke-56. Dia masih berharap ada mukjizat yang bisa membebaskannya dari kepungan tentara Sekutu atas kota Berlin.

Jenderal SS Felix Steiner, pada 21 April 1945, pun diberi perintah oleh Hitler untuk memberikan serangan balasan. Esoknya Hitler dibuat marah dalam sebuah rapat karena perintahnya tak dipenuhi. Harapan Hitler atas kelanjutan kepemimpinannya benar-benar terganggu karena jalur komunikasinya terputus pada 27 April 1945. Tanpa bisa berhubungan dengan tentara-tentara Jerman yang tercerai-berai di luar Berlin, tentu saja sulit bagi Hitler untuk mengembalikan keadaan seperti yang diinginkannya.

Adolf Hitler sudah berhitung bahwa dirinya sedang dalam buruan dan kematiannya hanya menghitung hari. Mati barangkali bukan masalah bagi Hitler. Pada malam menjelang 28 April 1945, seminggu setelah ulang tahun ke-56, Hitler mengambil keputusan penting atas hidupnya: bunuh diri. Untuk itu Hitler berkonsultasi dengan Dokter Warner Haase soal metode bunuh diri yang baik dan benar untuknya. Haase memberi solusi: pistol dan racun sianida untuk Hitler.

Pada 29 April 1945, sebelum bunuh diri, Hitler memberikan wasiat kepada anggota Nazi yang tersisa. Hitler menyebut Laksamana Karl Donitz—pimpinan Angkatan Laut Nazi—sebagai penggantinya. Tak lupa Hitler menyebut Heinrich Himmler dan Hermann Goring sebagai pengkhianat. Kepada seluruh rakyat Jerman yang setia kepada Nazi, diimbau untuk terus berjuang melawan musuh mereka, tentara Sekutu. Hitler juga menghendaki jenazahnya dan jenazah kekasihnya dikremasi dengan martin Bormann sebagai pelaksana.

Pembuatan wasiat tersebut disaksikan Kolonel Nicolaus von Below (ajudan Hitler dari Angkatan Udara), Martin Bormann (sekretaris Hitler), dan Goebbels yang merupakan menteri propaganda Nazi. "Pukul empat pagi dua dokumen siap ditandatangani,” tulis Hugh R. Trevor-Roper dalam The Last Days of Hitler (1991: 161). Dokumen itu lalu disebar bawahan-bawahan Hitler, sementara sang diktator beristirahat.


Tak Ingin seperti Mussolini

Jika Mussolini ditemani Claretta Pettaci, maka Hitler ditemani Eva Braun di akhir hidupnya. Eva Braun yang bekas asisten tukang foto itu dikenal sebagai kekasih Hitler dan baru dinikahi ketika bersembunyi di Fuhrerbunker, sehari sebelum hari nahas yang direncanakannya.

Tanggal 30 April 1945 itu, Hitler menyempatkan diri makan siang. Setelah selesai makan siangnya, seperti ditulis Alan Bulock dalam Hitler, a Study in Tyranny (1960: 730), Hitler pergi untuk menjemput istrinya dari kamar. Pasangan ini lalu mengucapkan selamat tinggal pada Goebbels. Bormann dan yang lainnya tetap di ruang tengah bunker.

Hitler kemudian kembali ke Fuhrer suite dengan Eva dan menutup pintu. Hitler berbaring di sofa lalu menembak dirinya sendiri melalui mulut. Di sisi kanannya, berbaring Eva Braun dan menelan racun. Kejadian itu sekitar pukul tiga sore hari pada 30 April 1945, tepat hari ini 75 tahun lalu. Eva Braun berusia baru 32 tahun saat itu.

Jenazah Hitler dan Braun kemudian dibakar, sesuai wasiatnya. Dengan begitu, jenazahnya tak akan diperlakukan seperti Mussolini. Kematian Hitler lalu dilanjutkan dengan kekalahan Jerman. Karl Donitz sebagai penggantinya tak bisa berbuat banyak untuk bertahan apalagi untuk membalikkan keadaan yang sudah sedemikian hancur.

Mitos-mitos tentang Adolf Hitler kemudian berkembang. Ada yang menyebut Hitler masih hidup bahkan melarikan diri ke Indonesia. Sementara itu, nyatanya, banyak pengikut Hitler melarikan diri ke Argentina, seperti Adolf Eichmann.

Baca juga artikel terkait ADOLF HITLER atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight