Menuju konten utama

Surplus Neraca Dagang RI Menciut ke US$950 Juta di Januari 2026

RI catat surplus neraca dagang 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, tapi nilainya kian menurun pada Februari 2026.

Surplus Neraca Dagang RI Menciut ke US$950 Juta di Januari 2026
Pekerja melakukan bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Jumat (15/5/2020). ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan neraca perdagangan Indonesia surplus sebesar 950 juta dolar AS pada Januari 2026. Hal ini menandai surplus yang telah berlanjut selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Meski demikian, posisi surplus tersebut menyusut dibandingkan Desember 2025 yang sebesar 2,51 miliar dolar AS dan Januari 2025 yang mencapai 3,49 miliar dolar AS.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa surplus ini utamanya ditopang oleh kinerja sektor nonmigas yang masih kuat, meskipun sektor migas mengalami defisit.

"Neraca perdagangan Indonesia telah mencatat surplus selama 69 bulan berturut-turut, terutama sejak Mei 2020," ujar Ateng dalam pemaparannya, Senin (2/3/2026).

BPS mencatat nilai ekspor Indonesia pada Januari 2026 mencapai 22,16 miliar dolar AS atau naik 3,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

Kenaikan ini didorong oleh ekspor nonmigas yang tumbuh 4,38 persen menjadi 21,26 miliar dolar AS. Sebaliknya, ekspor migas justru terkoreksi tajam sebesar 15,62 persen menjadi 0,89 miliar dolar AS.

Dari sisi sektoral, industri pengolahan menjadi tulang punggung ekspor dengan nilai 18,51 miliar dolar AS atau tumbuh 8,19 persen (yoy).

"Peningkatan secara tahunan ini utamanya didukung oleh peningkatan ekspor minyak kelapa sawit (CPO), nikel, besi dan baja, semikonduktor, serta kendaraan bermotor roda empat atau lebih," jelas Ateng.

Sementara itu, sektor pertanian serta pertambangan mengalami kontraksi. Sektor pertanian turun 20,36 persen, sedangkan pertambangan dan lainnya menyusut 14,59 persen. Secara spesifik, ekspor batubara tercatat turun 16,04 persen (yoy).

BPS mencatat tiga negara utama tujuan ekspor nonmigas Indonesia adalah Cina, Amerika Serikat, dan India. Kontribusi ketiga negara ini mencapai 43,77 persen pada Januari 2026. Cina masih menjadi pasar utama dengan nilai mencapai 5,27 miliar dolar AS (24,80 persen), diikuti oleh Amerika Serikat sebesar 2,51 miliar dolar AS (11,82 persen) dan India sebesar 1,52 miliar dolar AS (7,15 persen).

Ekspor nonmigas ke Tiongkok pada Januari 2026 didominasi oleh besi dan baja, nikel dan barang daripadanya, serta bahan bakar mineral. Sementara ekspor ke Amerika Serikat sebagian besar merupakan mesin dan perlengkapan elektrik serta bagiannya, alas kaki, serta pakaian dan aksesorisnya (rajutan).

Di sisi lain, nilai impor pada Januari 2026 tercatat sebesar 21,20 miliar dolar AS, melonjak sebesar 18,21 persen (yoy).

Penyumbang utama masih berasal dari sektor nonmigas, dengan nilai impor sebesar 18,04 miliar dolar AS, naik 16,71 persen dibandingkan Januari 2025. Sementara impor sektor migas juga meningkat hingga 27,52 persen (yoy), menjadikan nilai impor sektor migas pada Januari 2026 tercatat sebesar 3,17 miliar dolar AS.

Dilihat dari sisi penggunaan, peningkatan impor pada Januari 2026 terjadi baik pada bahan baku/penolong, barang modal, serta barang konsumsi. Nilai impor bahan baku/penolong sebagai pendorong utama kenaikan impor pada Januari 2026 tercatat 14,88 miliar dolar AS, naik 14,67 persen dibandingkan Januari 2025.

Sementara impor barang modal tercatat sebesar 4,49 miliar dolar AS, atau naik 35,23 persen dibandingkan bulan yang sama tahun lalu.

BPS melaporkan tiga negara utama asal impor nonmigas Indonesia pada Januari 2026 adalah Tiongkok, Australia, dan Jepang. Kontribusi ketiga negara tersebut mencapai 54,92 persen.

Cina masih menjadi negara utama dengan nilai impor 7,89 miliar dolar AS (43,75 persen), diikuti oleh Australia sebesar 1,07 miliar dolar AS (5,92 persen) dan Jepang sebesar 0,95 miliar dolar AS (5,25 persen). Impor dari Cina terutama berupa mesin/perlengkapan elektrik dan bagiannya, mesin/peralatan mekanis dan bagiannya, serta plastik dan barang dari plastik.

Baca juga artikel terkait BADAN PUSAT STATISTIK atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana