Menuju konten utama

BPS Catat Deflasi 0,15 Persen pada Januari 2026

Deflasi pada awal tahun dipengaruhi oleh melimpahnya pasokan komoditas pangan hortikultura serta penurunan sejumlah harga yang diatur pemerintah.

BPS Catat Deflasi 0,15 Persen pada Januari 2026
Pedagang menata ikan di Pasar Gede Solo, Jawa Tengah, Selasa (13/1/2026). ANTARAFOTO/Maulana Surya/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,15 persen pada Januari 2026 secara bulanan (month to month/mtm). Deflasi tersebut terjadi seiring penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,92 pada Desember 2025 menjadi 109,75 pada Januari 2026.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, deflasi pada awal tahun ini terutama dipengaruhi oleh melimpahnya pasokan komoditas pangan hortikultura serta penurunan sejumlah harga yang diatur pemerintah.

“Pada Januari 2026 terjadi deflasi sebesar 0,15 persen secara month to month, atau terjadi penurunan indeks harga,” ujar Ateng dalam konferensi pers di kantor BPS, Jakarta Pusat, Senin (2/2/2026).

Ateng menjelaskan, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang deflasi bulanan terbesar. Kelompok ini mengalami deflasi sebesar 1,03 persen dan memberikan andil deflasi sebesar 0,30 persen terhadap inflasi Januari.

Sejumlah komoditas pangan tercatat dominan mendorong deflasi, antara lain cabai merah dengan andil deflasi 0,16 persen, cabai rawit 0,08 persen, serta bawang merah sebesar 0,07 persen. Selain itu, daging ayam ras dan telur ayam ras masing-masing menyumbang deflasi sebesar 0,05 persen dan 0,03 persen.

Deflasi juga dipengaruhi oleh penurunan harga bensin serta tarif angkutan udara, yang masing-masing memberikan andil deflasi sebesar 0,03 persen. Penurunan harga tersebut sejalan dengan penyesuaian harga BBM non-subsidi oleh Pertamina pada Januari 2026 serta stabilnya tarif listrik pada periode Januari hingga Maret 2026.

Meski demikian, Ateng menambahkan, masih terdapat sejumlah komoditas yang memberikan tekanan inflasi pada Januari. Emas perhiasan tercatat memberikan andil inflasi sebesar 0,16 persen, disusul ikan segar 0,06 persen dan tomat sebesar 0,02 persen.

Berdasarkan komponennya, deflasi Januari 2026 terutama didorong oleh komponen harga bergejolak yang mengalami deflasi sebesar 1,96 persen dengan andil deflasi 0,33 persen. Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah mengalami deflasi sebesar 0,32 persen dengan andil 0,06 persen.

Sebaliknya, komponen inti justru mengalami inflasi sebesar 0,37 persen dan memberikan andil inflasi 0,24 persen. Komoditas utama penyumbang inflasi inti antara lain emas perhiasan, sewa rumah, sepeda motor, serta nasi dengan lauk.

Secara spasial, Ateng menyebut terdapat 20 provinsi yang mengalami inflasi bulanan pada Januari 2026, sementara 18 provinsi lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi tercatat di Maluku Utara sebesar 1,48 persen, sedangkan deflasi terdalam terjadi di Sumatera Barat sebesar 1,15 persen. Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tercatat mengalami deflasi setelah pada Desember 2025 sebelumnya mencatatkan inflasi.

Sementara itu, secara tahunan (year on year/yoy), inflasi Januari 2026 tercatat sebesar 3,55 persen dibandingkan Januari 2025. Inflasi tersebut mendorong kenaikan IHK dari 105,99 pada Januari 2025 menjadi 109,75 pada Januari 2026.

“Inflasi tahun ke tahun atau yoy pada Januari 2026 dibandingkan Januari 2025 sebesar 3,55 persen,” kata Ateng.

Menurut Ateng, inflasi tahunan terutama didorong oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang mencatat inflasi tinggi hingga 11,93 persen dan memberikan andil inflasi sebesar 1,73 persen. Selain itu, tarif listrik dan emas perhiasan juga memberikan kontribusi signifikan terhadap inflasi tahunan.

Ia menjelaskan, tingginya inflasi YOY tersebut dipengaruhi oleh fenomena low base effect. Pada Januari dan Februari 2025, pemerintah menerapkan kebijakan diskon tarif listrik yang menekan IHK pada periode tersebut, sehingga basis perbandingan inflasi tahun berikutnya menjadi lebih rendah.

“Pembanding di tahun 2025 relatif rendah karena adanya diskon tarif listrik. Ini yang mendorong inflasi YOY Januari 2026 terlihat lebih tinggi, terutama pada kelompok listrik,” ujar Ateng.

Baca juga artikel terkait DEFLASI atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Insider
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana