Menuju konten utama

Penduduk Miskin RI Capai 23,36 Juta Orang per September 2025

Pada September 2025, persentase penduduk miskin di perdesaan tercatat 10,72 persen, sedangkan di perkotaan sebesar 6,60 persen.

Penduduk Miskin RI Capai 23,36 Juta Orang per September 2025
Warga berjalan di gang sempit Kampung Tongkol, Jakarta, Selasa (4/11/2025). ANTARA FOTO/Ika Maryani/bar
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia pada September 2025 mencapai 23,36 juta orang, atau setara 8,25 persen dari total penduduk. Angka tersebut menurun dibandingkan Maret 2025 yang tercatat sebesar 23,85 juta orang atau 8,47 persen.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, sepanjang Maret hingga September 2025, sekitar 490 ribu orang berhasil keluar dari kemiskinan. Amalia menuturkan, tren ini melanjutkan penurunan kemiskinan nasional yang telah berlangsung sejak 2021.

"Atau secara persentase, maka tingkat kemiskinan Indonesia pada September 2025 mencapai 8,25 persen atau turun sebesar 0,22 persen basis point dibandingkan dengan Maret 2025," papar Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti dalam Rilis BPS, di Kantor BPS, Jakarta Pusat, Kamis (5/2/2026).

Berdasarkan wilayah, tingkat kemiskinan di perdesaan masih lebih tinggi dibandingkan perkotaan. Pada September 2025, persentase penduduk miskin di perdesaan tercatat 10,72 persen, sedangkan di perkotaan sebesar 6,60 persen. Meski demikian, BPS mencatat penurunan kemiskinan terjadi di kedua wilayah tersebut.

“Artinya adalah bahwa tingkat kemiskinan mengalami penurunan baik di perkotaan maupun di pedesaan,” lanjut Amalia.

Dari sisi kedalaman kemiskinan, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) pada September 2025 tercatat menurun dibandingkan Maret 2025, baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Kondisi ini menunjukkan rata-rata jarak pengeluaran penduduk miskin terhadap garis kemiskinan semakin menyempit.

Sementara itu, Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) di wilayah perkotaan relatif stagnan, sedangkan di perdesaan mengalami penurunan.

“Indeks Keparahan Kemiskinan atau P2 merupakan sebaran pengeluaran di antara penduduk miskin. Secara umum, Indeks Kedalaman Kemiskinan P1 dan Indeks Keparahan Kemiskinan P2 pada bulan September 2025 mengalami penurunan dibandingkan dengan Maret 2025,” jelas Amalia.

BPS juga menegaskan bahwa garis kemiskinan perlu dipahami dalam konteks rumah tangga. Pada September 2025, rata-rata satu rumah tangga miskin di Indonesia memiliki 4,76 anggota rumah tangga. Dengan garis kemiskinan nasional sebesar Rp641.443 per kapita per bulan, maka setara dengan sekitar Rp3,05 juta per rumah tangga miskin per bulan.

Adapun garis kemiskinan disusun berdasarkan kebutuhan minimum makanan dan nonmakanan dalam konteks bulanan, sehingga lebih tepat digunakan sebagai ukuran kesejahteraan rumah tangga.

Secara regional, penurunan kemiskinan terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Penurunan paling besar tercatat di wilayah Maluku dan Papua, meski kawasan tersebut masih menjadi wilayah dengan tingkat kemiskinan tertinggi secara nasional.

“Jika dibandingkan Maret 2025, penurunan tingkat kemiskinan terjadi di semua wilayah di Indonesia. Penurunan paling dalam terjadi di wilayah Maluku dan Papua, di mana di wilayah ini turun 0,68 persen basis poin,” pungkas Amalia.

Baca juga artikel terkait KEMISKINAN atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana