tirto.id - Keiko Fujimori resmi dilantik sebagai Presiden Peru. Setelah dilantik, ia mengumumkan status darurat kejahatan kriminal untuk negara tersebut dan berjanji menggunakan kekuatan militer untuk melawannya. Berikut sosok Fujimori, anak presiden terdahulu yang kini meneruskan jejak langkah ayahnya.
Menukil Al Jazeera, Keiko Fujimori resmi dilantik sebagai Presiden Peru pada Selasa (28/7/2026). Ini merupakan kali pertama Keiko menjadi presiden negara tersebut setelah kalah dalam tiga pemilu sebelumnya.
“Saya bersumpah… bahwa saya akan dengan setia menjalankan tugas sebagai presiden republik,” tutur Fujimori kepada Kongres Peru, Selasa.
Pelantikan ini dilakukan setelah Fujimori memenangkan pemilu putaran kedua pada Juni lalu. Dalam pemungutan suara itu, Fujimori berhasil mendapatkan kurang dari 50.000 suara lebih banyak dari politikus sayap kiri, Roberto Sanchez.
Seturut Agencia Andina, Keiko Fujimori langsung menetapkan status darurat usai dilantik sebagai presiden. Dalam pidatonya pada Selasa, ia menyebut angkatan bersenjata Peru akan diterjunkan untuk memimpin operasi keamanan dan ketertiban nasional negara tersebut.
“Selama keadaan darurat, angkatan bersenjata akan sementara memimpin operasi keamanan dan ketertiban internal, dalam koordinasi erat dengan kepolisian nasional, sampai otoritas negara sepenuhnya dipulihkan dan wilayah-wilayah tersebut dikembalikan kepada warga negara,” tutur Fujimori.
Peru kini tengah menghadapi ketidakstabilan politik dan krisis keamanan yang telah menjadi problem menahun. Kasus pemerasan dan pembunuhan berencana telah tumbuh subur sepanjang dua dekade terakhir yang dipicu oleh kemunculan geng kriminal lokal maupun asing.
Fujimori, di sisi lain, telah berjanji untuk mengatasi hal tersebut dengan “tangan besi” selama masa kampanye. Ia juga telah mengusulkan beberapa kebijakan termasuk pembuatan penjara terpusat, deportasi migran ilegal, hakim anonim hingga kewajiban kerja bagi narapidana untuk mendapatkan makanan.
Akan tetapi, keputusan Fujimori untuk mengerahkan kekuatan militer untuk menumpas kelompok kriminal telah meningkatkan kekhawatiran atas potensi penerapan yang eksesif. Publik Peru juga dibayangi oleh otoritarianisme yang pernah melanda negara tersebut ketika ayah Keiko Fujimori, Alberto Fujimori, berkuasa pada dekade 1990-an.
Profil Keiko Fujimori dan Rekam Jejaknya
Di Peru, Keiko Fujimori merupakan nama yang populer bahkan sebelum ia dilantik sebagai presiden pada Juli 2026. Ia merupakan anak presiden dan kini menapaki jejak orang tuanya sebagai pemimpin negara Peru.
Keiko lahir di Lima, Peru pada 1975 dari pasangan warga Peru keturunan Jepang, Alberto Fujimori dan Susana Higuchi. Ketika Keiko lahir, Alberto Fujimori merupakan staf pengajar Universitas Nasional Agraria La Molina.
Seiring Keiko beranjak dewasa, kehidupan keluarganya berangsur berubah. Hal ini lantaran Alberto mulai masuk politik dan pada akhirnya mendirikan partai Cambio 90 pada 1989.
Keputusan ayah Keiko untuk terjun ke politik itu kemudian mengubah kehidupan Keiko sepenuhnya. Pada 1990, Alberto Fujimori berhasil memenangkan pemilu dan dilantik sebagai Presiden Peru.
Sejak itu, Keiko tidak pernah lepas dari politik. Menjadi anak presiden kesehariannya lekat dengan politik nasional.
Hingga 1994, Alberto mengangkat Keiko sebagai ibu negara secara resmi. Hal ini dilakukan seiring proses perceraian Alberto dengan ibu Keiko, Susana Higuchi.
Ketika didapuk jadi ibu negara, Keiko praktis terjun secara langsung dalam politik. Kala itu ia masih berusia 19 tahun, namun telah bertindak sebagai ibu negara dengan melakukan berbagai perjalanan politik ke berbagai wilayah di Peru.
Akan tetapi, menjelang pergantian milenium, karier politik ayah Keiko runtuh. Pada 2000, di penghujung periode kedua kepresidenannya, Alberto Fujimori digulingkan karena skandal korupsi dan otoritarianisme.
Alberto kemudian melarikan diri ke Jepang pada tahun ia digulingkan. Ia kembali pada 2007 setelah diekstradisi dari Chile pada 2005 dan kemudian diadili. Kasus korupsi dan skandal pelanggaran HAM kemudian membuatnya divonis penjara lebih dari 25 tahun.
Karier politik ayah Keiko itu kemudian hancur lebur. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi Keiko.
Selama Alberto jadi pelarian, putrinya menggalang kekuatan politik. Seiring waktu, dukungan politik terhadap Keiko membesar hingga mengantarkannya menjadi anggota Kongres Peru pada 2006.
Keiko kemudian berkembang jadi politikus sayap kanan yang sohor dan menjadi pemimpin partai Fuerza Popular (Kekuatan Populer). Ia juga menjadi representasi utama Fujimorismo, gerakan sayap kanan-populis yang terbentuk selama masa kepresidenan ayahnya.
Pada 2026, Keiko berhasil memenangkan pemilihan presiden usai mengalahkan calon dari kubu sayap kiri. Ia menjadi presiden sebagaimana ayahnya melakukannya pada 1990 lalu.
Akan tetapi, Keiko naik ke tampuk kekuasaan pada masa penuh ketidakstabilan di Peru. Pejabat presiden di negara itu telah berganti 10 kali dalam 10 tahun terakhir. Krisis keamanan juga tengah mendera negara itu dengan pembunuhan yang merajalela.
Selain itu, kepresidenan Keiko juga dibayangi rekam jejak kelam ayahnya di masa lalu. Selama masa kepemimpinannya, Alberto telah bertanggung jawab atas pembunuhan massal di Barrios Altos pada 1991, pembentukan regu pembunuh rahasia bernama Grupo Colina, penculikan dan pembunuhan mahasiswa, hingga pemaksaan sterilisasi bagi ratusan ribu perempuan miskin dan pribumi.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id































