Menuju konten utama

Mengapa Orang yang Paling Produktif Justru Rentan Burnout?

Produktivitas berlebihan bisa memicu burnout dan berdampak pada kesehatan mental. Kenali tanda-tandanya dan cara mengelola kerja agar hidup tetap seimbang.

Mengapa Orang yang Paling Produktif Justru Rentan Burnout?
Header Diajeng Bertahan di Pekerjaan. tirto.id/Quita
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti sering bertemu orang-orang yang tampak selalu sibuk dan produktif. Jadwal mereka penuh, target kerja tercapai, dan seolah selalu punya energi untuk menyelesaikan berbagai tanggung jawab.

Orang seperti ini kerap dianggap sebagai sosok ideal dan sukses sehingga banyak orang berusaha meniru ritme kerja yang padat demi terlihat berprestasi. Namun, tak banyak orang yang tahu bahwa orang dengan produktivitas tinggi justru sangat rentan mengalami burnout.

Burnout adalah kondisi kelelahan ekstrem, baik secara fisik, mental, dan emosional, yang terjadi akibat tekanan berlebih dan rasa kewalahan yang berkepanjangan dalam berbagai aspek kehidupan, terutama pekerjaan.

Menurut laman WebMD, burnoutberbeda dengan stres. Stres berkaitan dengan tekanan yang terlalu banyak, mulai dari tekanan mental dan fisik, serta terlalu banyak tuntutan terhadap waktu dan energi.

Di pihak lain, burnout justru ditandai dengan perasaan "serba kekurangan", seperti hilangnya motivasi, kepedulian, dan harapan hingga seseorang merasa benar-benar kewalahan hingga energinya terkuras.

Burnout tidak boleh diabaikan karena dapat menurunkan produktivitas, memicu rasa putus asa, serta berdampak buruk pada kesehatan fisik.

Apa Kata Psikologi dan Penelitian tentang Burnout?

Dalam kajian psikologi, burnout bukan sekadar rasa lelah biasa karena bekerja keras, melainkan sebuah sindrom psikologis yang telah dipelajari secara ekstensif oleh para ahli sejak puluhan tahun silam.

Istilah burnout dicetuskan oleh psikolog Herbert Freudenberger di era 1970-an. Dikutip dari laman American Psychological Association, Profesor Psikologi Christina Maslach, PhD menjelaskan bahwa burnout bukanlah diagnosis medis.

Profesor Maslach juga menjelaskan bahwa burnout adalah respons terhadap stres kerja kronis yang tidak terkelola dengan baik, dan kelelahan menjadi salah satu gejala utamanya.

Kondisi ini juga mencakup sikap negatif dan sinis terhadap pekerjaan yang membuat seseorang kehilangan motivasi dan cenderung bekerja seadanya sekadar memenuhi kewajiban.

Selain itu, burnout ditandai dengan penurunan kepercayaan diri dan perasaan tidak kompeten secara profesional sehingga individu mulai meragukan kemampuan dan pilihan kariernya.

“Jadi, (burnout) mencakup tiga komponen: respons stres kelelahan, respons negatif terhadap pekerjaan berupa sinisme, dan respons negatif terhadap diri sendiri berupa ketidakmampuan,” ujarnya.

Terlalu Produktif Jadi Sinyal Bahaya?

Fenomena terlalu produktif sering disamakan dengan nilai positif dalam budaya kerja modern, terutama di era media sosial dan maraknya hustle culture, yaitu ketika sibuk atau lembur sering dipertontonkan sebagai tanda kesuksesan.

Banyak ahli menilai bahwa budaya hustle justru mengganggu keseimbangan hidup dan kesehatan mental. Hal ini dapat memicu stres berkepanjangan yang pada akhirnya mengarah ke burnout.

Sementara itu, banyak jurnal ilmiah yang meneliti tentang penyebab burnout, terutama kaitannya dengan produktivitas, salah satunya jurnal bertajuk Hubungan Antara Kepribadian Hardiness dengan Burnout pada Perawat.

Dalam studi ini disebutkan bahwa burnout pada perawat dapat terjadi ketika beban kerja terlalu berat dan berlangsung terus-menerus. Kondisi ini sering dipicu oleh masalah sistem kerja, seperti jam kerja yang tidak teratur, sering lembur, sistem shift bergilir, serta kekurangan jumlah tenaga kerja.

Selain itu, perbedaan antara harapan perawat terhadap pekerjaannya dengan kenyataan di lapangan juga dapat meningkatkan risiko terjadinya burnout.

Jadi, terlalu sibuk dan produktif (hustle culture) memang bisa berujung pada burnout. Alih-alih meningkatkan kinerja, penelitian menunjukkan bahwa bekerja terlalu lama tanpa jeda justru bisa menurunkan produktivitas.

“Orang yang bekerja sepanjang waktu justru menjadi kurang produktif dan lebih sering sakit karena pekerjaan yang terus-menerus,” kata psikolog Dr. Jeanne Hoffman seperti dikutip dari laman UW Medicine.

Infografik SC Burnout

Infografik SC Burnout. tirto.id/Fuad

Ciri-Ciri Produktivitas yang Tidak Sehat

Ilustrasi lelah bekerja

Ilustrasi Lelah Bekerja. FOTO/iStockphoto

Produktivitas sering dipandang sebagai hal positif, tapi tidak semua bentuk produktivitas berdampak baik bagi kesehatan mental. Berikut adalah ciri-ciri produktivitas yang tidak sehat yang wajib diwaspadai demi menjaga kesehatan mental:

1. Ada Dorongan “Harus Terus Bekerja”

Produktivitas tidak sehat ditandai dengan keinginan untuk terus melakukan sesuatu sepanjang waktu, bahkan ketika ia seharusnya sedang beristirahat.

Orang yang terjebak dalam pola ini sering merasa cemas atau “berdosa” jika sedang tidak melakukan sesuatu, seolah-olah waktu luang adalah hal yang harus diisi dengan pekerjaan. Tekanan mental untuk “terus sibuk” seperti ini dapat memicu stres dan kecemasan.

2. Mengaitkan Harga Diri dengan Produktivitas

Salah satu ciri utama dari produktivitas yang tidak sehat adalah ketika seseorang menganggap nilai dirinya berdasarkan seberapa banyak yang mereka kerjakan.

Ketika hasil kerja atau seberapa sibuk hari itu menjadi ukuran utama harga diri, ketidakseimbangan ini dapat menyebabkan stres dan perasaan gagal ketika tidak mencapai target yang ia tetapkan.

3. Mengabaikan Kebutuhan Dasar Diri Sendiri

Produktivitas yang berlebihan juga membuat seseorang cenderung mengabaikan kebutuhan dasar seperti tidur cukup, makan teratur, olahraga, atau waktu bersama keluarga dan teman.

Ketidakseimbangan antara kerja dan kebutuhan pribadi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tapi juga berdampak pada hubungan sosial dan menurunkan kualitas kerjanya sendiri.

4. Kehilangan Minat pada Hal-Hal yang Dinikmati Sebelumnya

Ketika produktivitas menjadi fokus utama hidup, aktivitas yang dulu terasa menyenangkan, seperti hobi atau waktu bersantai, bisa menjadi tidak menarik lagi.

Hal ini karena kegiatan tersebut sudah dianggap “tidak produktif” dan merasa harus meninggalkannya. Ini menunjukkan bahwa seseorang telah kehilangan keseimbangan kehidupan dan kerja yang akhirnya membuka jalan bagi burnout dan kelelahan emosional.

Tanda Burnout yang Sering Tidak Disadari

Tidur

Ilustrasi Burnout. Foto/Istock

Dalam banyak kasus, kondisi burnout berkembang secara perlahan dan ditandai dengan perubahan sikap, emosi, maupun kebiasaan sehari-hari yang sering dianggap sepele. Berikut beberapa tanda burnout yang harus segera disadari:

1. Kelelahan Kronis walau Sudah Istirahat

Burnout sering dimulai dengan rasa lelah yang terus menerus, bahkan setelah tidur yang cukup atau libur panjang. Kadang merasa “kosong” secara emosional. Energi seolah terkuras dan tidak punya tenaga untuk melakukan aktivitas sehari-hari, bahkan tugas sederhana pun terasa berat.

2. Hilangnya Motivasi dan Semangat

Salah satu tanda burnout yang sering tidak disadari adalah penurunan motivasi. Tidak antusias lagi melakukan hal-hal yang dulunya menyenangkan, sedangkan tugas harian terasa berat dan membosankan. Bahkan, setelah istirahat pun merasa tidak punya semangat untuk melakukannya.

3. Gangguan Tidur dan Pola Istirahat

Burnout dapat menyebabkan sulit tidur atau kualitas tidur yang buruk meski tubuh sangat lelah. Kondisi tubuh yang “terus siaga” akibat stres kronis membuat otak kesulitan untuk benar-benar beristirahat sehingga siklus tidur terganggu dan menyebabkan rasa lelah bertambah.

4. Perubahan Nafsu Makan atau Pola Makan

Stres akibat burnout tidak hanya memengaruhi pikiran, tapi juga kebiasaan makan. Beberapa orang jadi kehilangan nafsu makan, sementara yang lain justru makan berlebihan atau mencari makanan sebagai bentuk pelarian.

Perubahan pola makan yang drastis seperti ini bisa menjadi sinyal bahwa burnout sudah mulai memengaruhi kehidupan.

5. Muncul Sikap Sinis dan Menjauhi Pekerjaan

Salah satu tanda burnout yang mungkin tidak disadari adalah munculnya sikap sinis, negatif, atau apatis terhadap pekerjaannya. Orang yang biasanya antusias bisa menjadi mudah frustrasi, cepat bosan, atau merasa bahwa usahanya tidak berarti.

Sikap seperti ini biasanya ditandai dengan sering berpikir negatif, tidak semangat dengan pekerjaannya, atau menyelesaikan tugas hanya demi memenuhi tanggung jawab.

6. Penurunan Performa dan Produktivitas

Gejala burnout sering kali terlihat dari penurunan kemampuan menyelesaikan tugas, baik di tempat kerja maupun di rumah. Seseorang yang burnout mungkin merasa sulit fokus, menangani tanggung jawab harian, atau berpikir jernih karena energi mental yang sudah terkuras.

Produktif Sehat vs Produktif Berlebihan

Header HMS Unbranded 3

Ilustrasi Produktif. FOTO/Istock

Produktivitas yang sehat dan produktivitas berlebihan (toxic productivity) sering kali tampak mirip di permukaan karena keduanya melibatkan kerja keras. Namun, keduanya sangat berbeda, baik dalam hal tujuan, efek pada kehidupan, dan dampaknya terhadap kesehatan mental.

Produktivitas yang sehat berarti tetap giat bekerja tanpa mengabaikan kebutuhan diri, misalnya istirahat, relaksasi, atau kegiatan yang menyenangkan seperti menekuni hobi.

Di sisi lain, produktivitas berlebihan dan tidak sehat biasanya melampaui batas kemampuan fisik dan emosional seseorang. Toxic productivity sering ditandai oleh rasa bersalah ketika tidak bekerja dan tekanan internal untuk selalu “on”, bahkan ketika tubuh sebenarnya sudah lelah.

Produktivitas yang sehat memungkinkan seseorang untuk bekerja dengan tujuan dan batasan yang jelas. Hal ini mencakup pengaturan waktu kerja yang realistis, menetapkan prioritas tugas, serta memberi ruang untuk istirahat tanpa merasa bersalah.

Hal seperti inilah yang justru membantu menjaga semangat dan efisiensi kerja dalam jangka panjang. Pekerja yang merasa memiliki keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi juga cenderung lebih bahagia, memiliki energi yang lebih baik, dan lebih produktif tanpa mengalami kelelahan kronis.

Sebaliknya, produktivitas berlebihan atau toxic productivity mendorong seseorang untuk terus menerus bekerja tanpa memperhatikan kebutuhan dasar, seperti tidur yang cukup, waktu bersama keluarga, atau sekadar relaksasi.

Pola ini sering muncul dari tekanan sosial untuk selalu sibuk, dari budaya kerja yang memuja jumlah jam kerja dibanding kualitas, atau dari perasaan bahwa produktivitas adalah ukuran harga diri. Pola inilah yang dapat menyebabkan stres kronis, kecemasan, dan pada akhirnya menyebabkan burnout.

Cara Mengelola Produktivitas agar Tidak Berujung Burnout

Ilustrasi Pekerja Kreatif

Ilustrasi Pekerja. foto/IStockphoto

Produktivitas adalah hal yang positif selama tidak mengabaikan kebutuhan diri. Berikut adalah beberapa tips untuk menjaga produktivitas tetap sehat tanpa membiarkan diri terjebak pada kelelahan kronis atau burnout:

1. Tetapkan Batasan yang Jelas

Menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi berarti menetapkan batasan yang sehat, seperti tidak memeriksa email di luar jam kerja atau mengatakan tidak pada tugas tambahan yang berlebihan.

Menetapkan batasan dapat membantu kita mendapatkan kembali kontrol atas waktu dan energi. Hal ini juga sangat membantu mencegah stres berlebihan yang memicu burnout.

2. Menetapkan Prioritas yang Jelas

Menentukan prioritas membantu kita memfokuskan energi pada tugas yang benar-benar penting. Dengan memilah pekerjaan berdasarkan urgensi dan dampaknya, kita dapat menghindari kebiasaan mengerjakan terlalu banyak hal sekaligus.

Selain itu, fokus pada prioritas utama juga membuat hasil kerja lebih optimal tanpa menguras tenaga secara berlebihan.

3. Mengatur Waktu Istirahat Secara Berkala

Istirahat bukanlah tanda kemalasan, melainkan bagian dari produktivitas yang sehat. Memberi jeda singkat di sela-sela pekerjaan dapat membantu memulihkan fokus dan mengurangi kelelahan mental. Dengan istirahat teratur, kita justru dapat menyelesaikan tugas lebih efisien dan minim kesalahan.

4. Mengurangi Kebiasaan Multitasking

Multitasking sering dianggap meningkatkan produktivitas, padahal dapat membuat pikiran cepat lelah. Fokus pada satu tugas dalam satu waktu membantu otak bekerja lebih efektif dan mengurangi stres. Hasil pekerjaan pun cenderung lebih rapi dan memuaskan.

5. Mengelola Ekspektasi terhadap Diri Sendiri

Terlalu menuntut diri untuk selalu sempurna dapat meningkatkan risiko burnout. Penting untuk menyadari bahwa tidak semua hal harus selesai dalam waktu singkat atau dengan hasil maksimal. Mengelola ekspektasi membantu kita bekerja secara realistis dan lebih menghargai proses.

6. Menjaga Keseimbangan antara Pekerjaan dan Kehidupan Pribadi

Keseimbangan hidup berperan besar dalam mencegah burnout. Seperti beristirahat, meluangkan waktu untuk keluarga, hobi, atau aktivitas lainnya adalah bagian dari produktivitas yang sehat karena dapat membantu memulihkan energi emosional. Kehidupan pribadi yang sehat juga dapat mendukung performa kerja dalam jangka panjang.

Kapan Perlu Mencari Bantuan Profesional?

Peter Pan Syndrome

Ilustrasi Konsultasi. Foto/iStock

Mencari bantuan profesional perlu dipertimbangkan ketika tanda-tanda burnout tidak kunjung membaik meskipun sudah mencoba beristirahat, mengurangi beban kerja, atau melakukan self-care.

Jika kelelahan fisik dan emosional berlangsung lama, misalnya selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, disertai dengan hilangnya motivasi, rasa hampa, mudah marah, atau sikap sinis terhadap pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, kondisi ini bisa menjadi sinyal bahwa stres sudah berada di luar kendali.

Terlebih lagi, bila burnout mulai mengganggu kinerja, hubungan sosial, atau kemampuan menjalani aktivitas harian, mencari bantuan dari tenaga profesional sangatlah dianjurkan.

Selain itu, segera cari bantuan psikolog, psikiater, atau konselor apabila burnout disertai gejala yang lebih serius, seperti gangguan tidur berat, kecemasan berlebihan, perasaan putus asa, atau muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri.

Profesional kesehatan mental dapat membantu mengidentifikasi akar masalah, memberikan strategi coping yang tepat, serta menentukan apakah diperlukan terapi lanjutan atau penanganan medis.

Perlu diingat bahwa mencari dan mendapatkan bantuan profesional bukanlah tanda kelemahan dan bukan sesuatu yang memalukan. Ini justru merupakan langkah yang berani untuk memulihkan kesehatan mental serta mencegah dampak jangka panjang yang lebih serius.

Rekomendasi Produk & Praktik Pendukung Kesehatan Mental

ilustrasi menulis

Ilustrasi Menulis Jurnal. FOTO/iStockphoto

Menjaga kesehatan mental tidak hanya bergantung pada pengelolaan stres dan pola kerja yang seimbang, tapi juga dapat didukung oleh berbagai produk dan praktik sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Berikut beberapa contoh produk yang bisa mendukung kesehatan mental:

1. Jurnal Refleksi: Fill The Blankspace - Me My Self and I - A Psychological Journal

Jurnal ini merupakan hasil kolaborasi antara FTBS dan Poppi Rianty Kemala, M.Psi., Psikolog, yang dirancang untuk menemani proses refleksi diri layaknya sesi konsultasi dengan psikolog.

Melalui jurnal ini, kita diajak untuk menuliskan keluh kesah, mengekspresikan perasaan, serta mengenali diri sendiri dengan lebih jujur dan terarah.

Meski bukan pengganti penanganan profesional, jurnal ini diharapkan dapat menjadi bentuk pertolongan pertama bagi para pejuang kesehatan mental dalam memahami kondisi emosionalnya. Jurnal ini bisa didapatkan dengan harga Rp200.000 - Rp210.000.

2. Aimilo Notebook

Produk ini merupakan notebook atau buku catatan yang praktis dan mudah dibawa. Dengan desain simpel, tapi tetap estetik, buku ini bisa digunakan sebagai diary atau menulis jurnal harian sebagai bagian dari refleksi diri.

Aimilo Notebook dibuat dengan kertas berkualitas (100 lembar) dan tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari kertas A5 hingga A7. Produk ini juga dibanderol dengan harga yang cukup terjangkau, yakni Rp11.000 - Rp25.000 tergantung ukuran.

3. MAYSCENT Reed Diffuser

Reed diffuser dari MAYSCENT ini hadir dalam sembilan pilihan aroma yang dirancang untuk menciptakan suasana nyaman sekaligus meningkatkan mood. Varian aromanya beragam dan cocok digunakan di berbagai ruangan seperti kamar tidur hingga ruang kerja.

Selain membantu menghilangkan dan menetralkan bau tidak sedap, reed diffuser ini juga bisa digunakan sebagai aromaterapi yang menenangkan dan dapat mempercantik tampilan ruangan. MAYSCENT Reed Diffuser bisa dibeli di harga Rp100.000 - Rp110.000.

4. ONEMED Stress Balls

ONEMED Stress Balls merupakan alat sederhana yang dirancang untuk membantu melatih kekuatan jari dan genggaman. Di sisi lain, produk ini juga dapat membantu mengatasi stres dan kecemasan melalui aktivitas meremas yang menenangkan.

Stress ball ini sangat praktis serta nyaman digunakan kapan saja dan di mana saja. Terbuat dari bahan TPR, produk ini hadir dalam tiga tingkat resistensi berbeda sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan pengguna. Produk ini bisa dibeli di harga Rp30.000 - Rp35.000.

5. SPEEDS Matras Yoga

Tertarik untuk meditasi atau melakukan yoga? Coba gunakan SPEED Matras yang ringan, tapi tetap berkualitas. Dengan ketebalan 10 mm, matras ini nyaman digunakan dan dirancang dari bahan anti slip, tidak licin, tidak mudah kempis, dan praktis untuk dibawa ke mana saja.

Matras ini juga terbuat dari 100% NBR (bukan PVC) dengan tingkat kepadatan tinggi, elastis, dan tidak berbau. Tersedia dalam berbagai warna dan ukuran, SPEEDS Matras Yoga dibanderol dengan harga Rp40.000 - Rp80.000.

Demikian penjelasan tentang produktivitas berlebihan yang bisa memicu burnout. Dengan memahami perbedaan antara produktif yang sehat dan produktif yang berlebihan, kita dapat lebih bijak dalam mengelola waktu dan energi.

Produktivitas seharusnya membantu meningkatkan kualitas hidup, bukan justru mengorbankan kesehatan mental dan fisik. Oleh karena itu, penting untuk memberi ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat, mengenali batas kemampuan diri, serta tidak ragu mencari bantuan professional ketika tanda-tanda burnout mulai muncul.

Tertarik dengan info menarik lain seputar dunia kesehatan? Temukan berbagai tips, rekomendasi produk pilihan, hingga berita terkini melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:

Kumpulan Artikel Kesehatan

Baca juga artikel terkait BURNOUT atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Edusains
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani