Ketahui 7 Tanda Emosional yang Muncul Akibat Stres

Oleh: Abdul Hadi - 22 Juni 2020
Dibaca Normal 2 menit
Stres adalah respons emosional yang disebabkan oleh masalah eksternal, seperti bertengkar dengan pasangan, tekanan kerja, hingga penyakit kronis.
tirto.id - Stres sebetulnya merupakan respons normal tubuh ketika terjadi tekanan mental pada setiap individu.

Jika seseorang gugup, putus asa, atau berada dalam kondisi tertekan, tubuh akan bereaksi sedemikian rupa untuk meresponsnya. Reaksi mental menghadapi masalah tersebut dikenal dengan stres.

American Psychological Association menulis bahwa stres adalah respons emosional yang disebabkan oleh masalah eksternal, seperti bertengkar dengan pasangan, tekanan kerja, hingga penyakit kronis.

Stres menjadikan tubuh waspada terhadap hal-hal tersebut. Gejalanya, degup jantung kian cepat, tangan berkeringat, dan terkadang seseorang menjadi ceroboh karena tidak bisa mengontrol emosinya.

Selain respons fisik di atas, stres juga memiliki indikasi emosional yang punya pengaruh buruk bagi individu.

Berikut ini tanda-tanda emosional yang berkaitan dengan stres sebagaimana dilansir dari Healthline:

1. Depresi

Asosiasi Kecemasan dan Depresi Amerika (Anxiety and Depression Association of America/ADAA) mendefinisikan depresi sebagai gangguan emosional ketika seorang individu mengalami suasana hati buruk atau mood yang rendah secara persisten dan konsisten dalam jangka waktu lama.

Banyak penelitian sudah menunjukkan adanya hubungan antara tingkat stres berlebihan dan munculnya depresi.

Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Depress Anxiety pada Agustus 2009 pada 800 responden perempuan menunjukkan adanya hubungan antara berbagai jenis stres dan depresi berat pada individu.

Selama studi, para peneliti mengukur bahwa peristiwa yang menyebabkan stres berkontribusi pada gangguan depresi yang lebih besar pada perempuan.

Demikian juga, mengenai tingkat stres pada populasi usia kerja, yang mana depresi lebih sering terjadi pada orang yang melaporkan tingkat stres yang lebih tinggi pada pekerjaannya daripada orang normal.

2. Kecemasan

Rasa cemas berbeda dari kondisi depresi. Kecemasan ditandai dengan perasaan khawatir berlebihan dan sedih yang persisten.

Namun, seperti halnya depresi, perasaan cemas bisa jadi indikasi bahwa seseorang mengalami stres, yang dalam jangka panjang, dapat berujung ke gangguan kecemasan.

3. Gampang Marah

Iritabilitas emosional atau lekas marah merupakan ciri umum orang yang mengalami stres.

Sebuah studi yang dimuat di American Heart Journal pada Januari 2015 menunjukkan bahwa sensibilitas tinggi terhadap kemarahan berkaitan erat dengan stres mental. Hal ini punya bahaya bagi fisik yang menjadi cikal bakal serangan jantung akibat stres.

4. Gairah Seks Rendah

Bagi beberapa orang, stres berlebihan berdampak negatif pada dorongan seks dan keintiman romantis.

Tingkat stres kronis berpengaruh negatif pada gairah seksual. Penelitian bertajuk "Chronic Social Stress in Puberty Alters Appetitive Male Sexual Behavior and Neural Metabolic Activity" yang ditayangkan di jurnal Hormones and Behavior menunjukkan bahwa tingkat kortisol yang tinggi, yang merupakan akibat stres, memiliki efek pada gairah seksual yang lebih rendah pada laki-laki dan perempuan.

5. Gangguan Ingatan dan Kesulitan Berkonsentrasi

Jika Anda merasa mengalami masalah konsentrasi dan gangguan ingatan, bisa jadi Anda sedang mengalami stres.

Dua peneliti dari New York University: Charles Finsterwald dan Cristina M. Alberini menyatakan bahwa jalur respons stres di otak memiliki pengaruh terhadap kinerja ingatan jangka panjang.

Melalui riset yang bertajuk "Stress and glucocorticoid receptor-dependent mechanisms in long-term memory: from adaptive responses to psychopathologies", keduanya menemukan bahwa hormon-hormon tertentu setelah peristiwa yang menyebabkan stres atau kejadian traumatis dapat merusak daya ingat pada individu.

6. Perilaku Kompulsif

Perilaku kompulsif adalah tindakan yang dilakukan secara spontan dan sering tanpa dipikirkan terlebih dahulu.

Misalnya, perilaku penderita kecanduan zat adiktif, tindakannya seringkali tanpa bisa ditahan dan mesti dipenuhi. Dan sejauh ini, ada hubungan antara stres dan perilaku adiktif.

Dalam kajian psikologi, hormon stres di otak berperan besar dalam berkembangnya perilaku kecanduan. Menurut para peneliti, stres kronis dapat mengubah sifat fisik otak untuk meningkatkan perilaku yang membentuk kebiasaan dan gangguan kecanduan.

7. Fluktualitas Suasana Hati (Mood Swing)

Sebagaimana definisi stres yang merupakan respons emosional, maka salah satu tandanya adalah perubahan suasana hati yang tidak stabil atau mood swing.

Studi yang diterbitkan di junal PLos One pada Desember 2014 meneliti peran berbagai jenis tes stres pada fisiologi, suasana hati, dan kognisi.

Penelitian itu menunjukkan bahwa stresor sosial atau keadaan yang menyebabkan stres, berdampak besar pada kesehatan emosional dan suasana hati pada individu.


Baca juga artikel terkait STRES atau tulisan menarik lainnya Abdul Hadi
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Abdul Hadi
Penulis: Abdul Hadi
Editor: Nur Hidayah Perwitasari
DarkLight