tirto.id - Air alkali untuk konsumsi sudah lama beredar di tengah masyarakat. Air ini pun disebut-sebut memiliki banyak manfaat bagi tubuh, bahkan diklaim lebih sehat dari air putih atau air mineral biasa, benarkah demikian?
Minum air putih setiap hari sangat penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Air dapat mendukung fungsi organ, memperlancar pencernaan, hingga menjaga kulit tetap sehat. Kekurangan asupan air bisa menyebabkan dehidrasi dan berbagai masalah kesehatan lainnya.
Seolah air putih saja belum cukup, kini ada air alkali yang populer sebagai air kesehatan. Secara kasat mata, air alkali tak jauh beda dengan air mineral atau air putih biasa. Namun, sesuai namanya, air alkali memiliki pH lebih tinggi dan cenderung basa.
Air alkali pun dipasarkan dengan klaim lebih menyehatkan dari air putih biasa sehingga menarik perhatian banyak orang. Namun, benarkah air alkali memiliki banyak manfaat bagi tubuh dan lebih sehat?
Apa Itu Air Alkali? Ini Perbedaannya dengan Air Mineral Biasa

Air alkali adalah air yang memiliki tingkat pH lebih tinggi daripada air putih biasa. Air putih atau air mineral yang biasa kita minum umumnya memiliki pH netral atau 7, sementara air alkali umumnya memiliki pH berkisar antara 8 hingga 9.
Namun, alkalinitas air tidak hanya ditentukan oleh tingkat keasaman atau pH saja. Dikutip dari Healthline, air alkali juga harus mengandung mineral seperti kalsium, kalium, magnesium, dan besi.
Air alkali juga harus memiliki nilai ORP (oxidation-reduction potential) negatif. ORP sendiri adalah kemampuan air untuk bertindak sebagai pro atau antioksidan. Semakin negatif nilai ORP, semakin kuat sifat antioksidannya.
Air alkali bisa bersifat alami maupun hasil proses buatan. Air dapat bersifat basa ketika air tersebut melewati batuan, seperti pada mata air, sehingga menyerap banyak mineral.
Namun, air alkali yang biasa dibeli orang di pasaran biasanya adalah air putih biasa yang telah melalui proses kimia untuk menaikkan kadar pH-nya. Proses yang disebut elektrolisis ini menggunakan ionizer untuk memisahkan molekul asam dan alkali dalam air.
Setelah proses ini, air yang bersifat asam akan dialirkan keluar, sementara air yang bersifat alkali disimpan untuk dikonsumsi.
Klaim Kesehatan Air Alkali yang Banyak Dipercaya

Air alkali semakin populer di kalangan masyarakat karena berbagai klaim kesehatan yang dikaitkan dengannya. Bagi mereka yang ingin menerapkan gaya hidup sehat, keberadaan air alkali ini tentu sangat menarik perhatian. Berikut beberapa klaim kesehatan yang dipercaya banyak orang:
1. Menetralkan Asam dalam Tubuh
Salah satu klaim paling umum dari air alkali adalah bahwa minuman ini dapat membantu menetralkan asam dalam tubuh dan menjaga keseimbangan pH darah.Dalam konsep diet alkali, mengonsumsi air pH tinggi dipercaya membantu menurunkan tingkat keasaman tubuh yang dianggap berkontribusi pada berbagai penyakit kronis. Anggapan ini diperkuat dengan “pembuktian” bahwa urine orang yang mengonsumsi air alkali akan bersifat lebih basa.
Padahal, pH urine dan pH darah dalam tubuh adalah dua hal yang berbeda. Pola makan memang memengaruhi tingkat asiditas urine, tapi tidak dengan pH darah.
Tubuh manusia memiliki mekanisme alami yang bisa mengatur pH darah, contohnya melalui ginjal yang bisa mengekskresikan asam. Jadi, efek air alkali pada pH sistemik terbilang tidak signifikan.
2. Hidrasi yang Lebih Baik
Beberapa klaim menyatakan bahwa air alkali mampu menghidrasi tubuh lebih efektif daripada air biasa, terutama setelah aktivitas fisik atau dehidrasi.Namun, hidrasi yang baik lebih ditentukan oleh jumlah air yang dikonsumsi, bukan jenis airnya, dan belum ada cukup bukti kuat bahwa air alkali benar‑benar mengungguli air putih biasa dalam hal hidrasi.
3. Mencegah Berbagai Penyakit
Dengan nilai ORP negatif dan klaimnya yang mampu menetralkan asam tubuh, air alkali disebut-sebut bisa mengatasi dan mencegah berbagai penyakit, termasuk stroke, kanker, gangguan pencernaan, hingga pengeroposan tulang.Penelitian terkait hal ini masih terbatas dan belum ada bukti ilmiah yang benar-benar kuat untuk mendukung klaim tersebut. Namun, seperti yang diketahui, mencukupi asupan air putih setiap hari memang mendukung kesehatan tubuh secara keseluruhan dan secara tidak langsung bisa mencegah berbagai penyakit.
4. Memperlambat Tanda Penuaan
Air alkali juga dipercaya bisa memperlambat proses penuaan, sesuatu yang menggiurkan bagi banyak orang. Sayangnya klaim ini pun belum memiliki dasar ilmiah yang kuat.Memastikan tubuh terhidrasi dengan baik adalah salah satu cara untuk menjaga kulit tetap sehat, termasuk mencegah penuaan dini. Namun, hal itu bukan berarti bahwa air alkali lebih baik daripada air yang biasa.
Apa Kata Penelitian tentang Air Alkali?

Sampai saat ini, para ahli masih terus menguji berbagai klaim kesehatan yang berkaitan dengan air alkali. Sebagian besar penelitian dilakukan dalam skala kecil atau pada hewan laboratorium sehingga para ahli menyarankan untuk menyikapi klaim "ajaib" air alkali dengan hati-hati.
Meskipun air alkali umumnya aman untuk dikonsumsi, efektivitasnya dalam mengobati penyakit kronis masih memerlukan bukti klinis yang lebih kuat pada manusia.
Salah satu penelitian yang membuktikan adanya dampak positif air alkali pada kesehatan tertuang dalam jurnal yang bertajuk Potential Benefits of pH 8.8 Alkaline Drinking Water as an Adjunct in the Treatment of Reflux Disease.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa air alkali (pH 8,8) dapat langsung mendenaturasi pepsin dan membuatnya tidak aktif secara permanen, hal ini berbeda dengan air putih biasa.
Air alkali juga disebut memiliki kapasitas penyangga asam yang baik. Dengan demikian, air alkali kemungkinan memiliki manfaat terapeutik bagi pasien dengan penyakit refluks (asam lambung).
Hal serupa juga diangkat oleh jurnal Effects of Alkaline-Reduced Water on Gastrointestinal Diseases. Studi ini menyebutkan bahwa air alkali (alkaline-reduced water/ARW) berpotensi menjadi minuman dengan nilai terapeutik karena mampu menangkal radikal bebas dan mengurangi peradangan.
Air alkali ini pun dikatakan bisa membantu penyakit pencernaan yang dipicu oleh stres oksidatif. Namun, studi ini juga menegaskan bahwa bukti klinisnya masih terbatas sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan efektivitasnya.
Sementara itu, jurnal berjudul Systematic Review of the Association Between Dietary Acid Load, Alkaline Water and Cancer memberikan hasil yang berbeda. Studi ini meneliti kaitan antara air alkali dengan penyakit kanker.
Studi tersebut menegaskan bahwa hampir tidak ada bukti yang valid untuk mendukung penggunaan air alkali sebagai pencegahan atau pengobatan penyakit kanker, dan promosi kesehatan yang disebarkan dengan klaim tersebut tidak dapat dibenarkan.
Sementara itu, dikutip dari Cleveland Clinic, seorang dietitian bernama Beth Czerwony, RD juga mengingatkan agar masyarakat berhati-hati dan tidak mudah tergiur dengan klaim air alkali.
“Ilmu pengetahuan tidak mendukung klaim-klaim ini,” ujarnya. “Ini adalah kasus di mana sebuah perusahaan ingin menjual produk, mengambil air biasa, dan mengolahnya melalui proses ionisasi, mungkin menempelkan label ‘alami’ padanya, mematok harga tinggi, dan pada akhirnya, memanfaatkan fakta bahwa orang-orang ingin percaya bahwa produk tersebut bernilai lebih dari yang sebenarnya.”
“Air itu bagus,” tambahnya. “Tapi jangan terlalu membesar-besarkannya. Tubuh sepenuhnya mampu melakukan apa yang dibutuhkan untuk menyesuaikan kadar pH Anda, jadi Anda tidak perlu mempercayai klaim-klaim yang belum terbukti ini.”
Risiko atau Efek Samping Minum Air Alkali

Air alkali umumnya dianggap aman untuk dikonsumsi dalam kadar pH yang wajar. Namun, ada beberapa efek samping yang mungkin terjadi jika air alkali yang dikonsi memiliki pH yang sangat tinggi dan dikonsumsi dalam jangka panjang.
Dikutip dari Healthline, mengonsumsi air alkali dengan pH tinggi (misalnya > 9,8) bisa meningkatkan risiko hiperkalemia, yakni kondisi ketika kadar kalium dalam darah menjadi terlalu tinggi.
Hal ini menjadi perhatian bagi mereka yang memiliki penyakit ginjal atau fungsi ginjal yang tidak optimal karena ginjal berperan penting dalam pengaturan kadar mineral di tubuh. Hiperkalemia bisa berujung pada masalah kesehatan lainnya, termasuk mengganggu fungsi jantung.
Selain hiperkalemia, Healthline juga menyebutkan bahwa mengonsumsi air alkali yang terlalu basa juga bisa berpotensi menghambat pertumbuhan, mengurangi mineral dan vitamin dari tubuh, hingga mengganggu penyerapan nutrisi.
Dalam jurnal Systemic and Local Effects of Long-term Exposure to Alkaline Drinking Water in Rats disebutkan bahwa tikus yang minum air alkali memiliki berat badan lebih rendah dibanding kelompok kontrol meskipun asupan makanan dan minum sama.
Selain itu, tikus percobaan (khususnya betina) memiliki bulu yang tampak kusam dan tipis di beberapa bagian pada akhir percobaan. Hal ini menunjukkan kemungkinan adanya efek sistemik dari paparan air alkali tinggi, tapi penelitian lebih lanjut masih diperlukan, terutama efeknya pada manusia.
Air Alkali vs Air Mineral Biasa, Mana yang Lebih Sehat?

Air alkali sering dipromosikan sebagai air yag lebih sehat daripada air mineral biasa karena pH-nya yang lebih tinggi. Namun, klaim‑klaim ini masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan dan tenaga medis karena bukti ilmiah yang kuat belum tersedia secara konsisten.
Jadi, apakah air alkali memang lebih sehat dari air biasa? Berikut perbandingannya:
1. pH dan Kandungan Mineral
- Air alkali: memiliki pH lebih tinggi (biasanya sekitar 8-9) dan sering mengandung mineral alkali seperti kalsium, kalium, magnesium, hingga besi. Hal ini membuatnya bersifat lebih basa dibandingkan air biasa.
- Air mineral biasa: umumnya memiliki pH netral sekitar 7 dan juga mengandung berbagai mineral penting, misalnya kalsium, kalium, zat besi, magnesium, fosfor, hingga klorida.
2. Manfaat Kesehatan
- Air alkali: beberapa studi kecil menunjukkan potensi manfaat tertentu, seperti kemungkinan membantu pencernaan atau relaksasi gejala refluks asam, tapi temuan ini belum cukup kuat untuk direkomendasikan sebagai manfaat kesehatan umum.
- Air mineral biasa: membantu memenuhi kebutuhan cairan harian dan mendukung fungsi tubuh tanpa klaim ekstra yang belum dibuktikan. Pijakan utama dalam kesehatan tetap pemenuhan kebutuhan air minum yang cukup.
3. Keamanan dan Efek Samping
- Air alkali: bagi kebanyakan orang, air alkali dianggap aman dalam konsumsi moderat. Namun, jika pH sangat tinggi, beberapa ahli memperingatkan kemungkinan risiko kesehatan seperti hiperkalemia.
- Air mineral biasa: cenderung lebih netral dan memiliki sedikit risiko. Air mineral yang beredar di pasaran biasanya juga telah dikontrol secara lebih ketat dalam kualitasnya melalui regulasi air minum yang berlaku.
4. Fungsi Utama
Secara umum, baik air alkali maupun air mineral biasa, keduanya memiliki fungsi utama yang serupa, yaitu untuk menghidrasi sekaligus membantu menjaga keseimbangan cairan dalam tubuh.Jadi, bagi kebanyakan orang, air mineral biasa yang aman diminum dan memenuhi standar layak konsumsi sebenarnya sudah cukup untuk menjaga hidrasi dan kesehatan tubuh.
Siapa yang Perlu Berhati-hati Mengonsumsi Air Alkali?

Walaupun air alkali umumnya dianggap aman bagi banyak orang sehat, ada kelompok orang tertentu yang sebaiknya lebih berhati‑hati atau berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum rutin mengonsumsi air ini, berikut di antaranya:
1. Orang dengan Gangguan Ginjal
Ginjal memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan pH dan kadar mineral dalam tubuh. Menurut Healthline, orang dengan penyakit ginjal atau fungsi ginjal yang menurun sebaiknya menghindari konsumsi air alkali tanpa pengawasan medis, terutama air alkali yang diionisasi.Hal ini karena ginjal yang lemah mungkin tidak mampu mengatur kelebihan mineral atau perubahan pH yang diakibatkan oleh air bersifat sangat basa.
2. Orang dengan Hiperkalemia
Beberapa kandungan air alkali dengan pH yang sangat tinggi dapat meningkatkan risiko kondisi seperti hiperkalemia (kadar kalium darah tinggi), khususnya jika konsumsinya intens dan tanpa pengaturan. Jadi, mereka yang memiliki kondisi hiperkalemia dianjurkan tidak mengonsumsi air alkali.3. Penderita Masalah Pencernaan Kompleks dan Rutin Konsumsi Obat
Dilansir dari laman Harvard Health, mereka yang sedang mengonsumsi obat‑obatan tertentu, terutama proton pump inhibitors (PPIs) yang menurunkan produksi asam lambung, tidak disarankan mengonsumsi air alkali.Air alkali dengan pH tinggi dapat memengaruhi pH lambung secara sementara. Hal ini berpotensi menimbulkan masalah kesehatan bagi mereka yang punya gangguan pencernaan dan rutin mengonsumsi obat PPIs.
Tips Memilih Air Minum yang Aman dan Sehat

Memilih air minum yang tepat sangat penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Di sisi lain, air putih yang kita temui sehari-hari, baik itu air kemasan maupun tidak, memiliki kualitas yang berbeda. Berikut beberapa tips sederhana dalam memilih air minum yang sehat:
1. Periksa Sumber Air dan Proses Filtrasi
Pastikan air minum berasal dari sumber yang aman dan telah melalui proses penyaringan yang tepat. Air kemasan biasanya diambil dari mata air atau sumber terkontrol, sementara air keran (PAM) harus memenuhi standar kualitas air minum yang ditetapkan pemerintah.2. Periksa Kejernihan dan Aroma Air
Lakukan pengamatan fisik secara sederhana, terutama jika memilih mengonsumsi air bukan dalam kemasan (seperti air PAM/keran). Air yang layak konsumsi haruslah bening, tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak memiliki rasa (tawar).3. Perhatikan Kandungan Mineral
Air minum yang sehat sebaiknya tetap mengandung mineral penting seperti kalsium dan magnesium. Air dengan kandungan mineral terlalu rendah atau hasil distilasi murni kadang kurang ideal untuk konsumsi jangka panjang karena tidak menyediakan mineral yang dibutuhkan tubuh.4. Periksa Label dan Sertifikasi
Selalu baca label pada air kemasan untuk memastikan tidak ada tambahan bahan kimia atau zat yang tidak diinginkan. Cari label SNI atau tanda sertifikasi dari lembaga resmi seperti BPOM yang menjamin air memenuhi standar keamanan dan kualitas.5. Hindari Air dengan pH Ekstrem
Air alkali memang aman bagi kebanyakan orang, tapi hindari jika memiliki pH ekstrem (terlalu basa), terutama untuk penggunaan jangka panjang. Tubuh manusia memiliki sistem yang bisa menjaga keseimbangan pH sehingga air dengan pH normal/netral sudah cukup aman dan sehat untuk hidrasi sehari-hari.Demikian penjelasan terkait mitos dan fakta tentang air alkali. Secara umum, air alkali dapat dikonsumsi dengan aman oleh kebanyakan orang dalam jumlah moderat, tapi klaim kesehatan yang beredar masih terbatas bukti ilmiahnya.
Bagi mereka yang memiliki kondisi medis tertentu atau ingin mengonsumsi air dengan pH sangat tinggi, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan.
Yang terpenting, menjaga asupan air harian dengan air minum yang bersih dan layak konsumsi tetap menjadi cara paling efektif untuk mendukung hidrasi dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Tertarik dengan info menarik lain seputar dunia kesehatan? Temukan berbagai tips, rekomendasi produk pilihan, hingga berita terkini melalui kumpulan artikel Tirto Shop di tautan ini:
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id

































