Menuju konten utama

Mau Trail Run Anti-Tumbang? Jangan Remehin Fungsi Trekking Pole!

Ketahui fungsi trekking pole saat trail run, lengkap dengan cara pakai dan tips memilih yang benar agar performa lari tetap maksimal & tidak mudah tumbang.

Mau Trail Run Anti-Tumbang? Jangan Remehin Fungsi Trekking Pole!
ilustrasi trekking pole. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Trekking pole tak hanya membantu para pendaki saat naik gunung, tapi juga bisa sangat berguna bagi para pelari trail run. Sayangnya, masih banyak orang yang belum memahami fungsi trekking pole sehingga alat ini sering dianggap sepele dan ditinggalkan.

Trail run merupakan olahraga lari yang dilakukan di jalur alam terbuka seperti pegunungan, perbukitan, hutan, atau kawasan berbatu. Berbeda dengan lari di jalan raya, pelari trail run harus berhadapan dengan medan yang menantang, mulai dari tanjakan curam hingga turunan terjal.

Karena karakter lintasannya yang cukup ekstrem, pelari trail tidak hanya membutuhkan kondisi fisik yang prima, tapi juga perlengkapan yang tepat agar dapat bergerak dengan lebih leluasa dan aman.

Salah satu peralatan yang dianjurkan digunakan adalah trekking pole (kadang disebut tracking pole oleh sebagain orang). Fungsi trekking pole adalah membantu menjaga keseimbangan dan stabilitas tubuh saat harus melintasi medan alam seperti jalur gunung atau perbukitan.

Trekking pole umumnya digunakan oleh pendaki gunung atau mereka yang hobi hiking. Alat ini kerap digunakan karena mampu memberikan titik tumpu tambahan ketika melewati tanjakan, turunan, maupun jalur yang tidak rata.

Kenapa Trekking Pole Dianggap Remeh oleh Pelari Trail Run?

Header Pemkab Banyuwangi 23 48

Peserta Banyuwangi Ijen Green Trail Run 2025 saat melewati rute. foto/Dok. Pemkab banyuwangi

Tak sedikit pelari trail run yang menganggap sepele trekking pole. Bagi sebagian orang, trekking pole dinilai hanya sebagai aksesori atau sekadar pelengkap gaya saat berlari di alam.

Ada pula anggapan bahwa trekking pole lebih cocok digunakan oleh pendaki maupun pelari pemula, orang lanjut usia, atau mereka yang memiliki kondisi fisik kurang kuat.

Inilah alasan-alasan umum kenapa trekking pole sering diabaikan, terutama mereka yang merasa memiliki kondisi fisik yang kuat. Mereka pun akhirnya memilih mengandalkan kekuatan kaki dan keseimbangan tubuh tanpa bantuan trekking pole saat melakukan trail run.

Tak hanya itu, sebagian pelari juga menganggap penggunaan trekking pole justru merepotkan. Mereka khawatir tongkat akan menambah beban bawaan, mengganggu ayunan tangan, atau memperlambat ritme lari.

Anggapan ini pun semakin kuat jika pelari belum terbiasa menggunakan trekking pole atau belum memahami teknik yang benar. Padahal, penggunaan yang tepat justru akan membantu para pelari agar tidak cepat tumbang.

Fungsi Trekking Pole Saat Trail Run

ilustrasi trekking pole

ilustrasi trekking pole. FOTO/iStockphoto

Dalam trail run, fungsi trekking pole bukanlah aksesori gaya-gayaan atau sekadar alat bantu berjalan. Tongkat mendaki ini sangat memengaruhi performa pelari saat melintasi medan ekstrem, bahkan mencegah cedera fisik.

Manfaat bagi Performa Lari

Dari sisi performa, trekking pole dapat membantu meningkatkan efisiensi saat trail run, terutama di medan dengan tanjakan dan turunan yang menantang.

Penggunaan trekking pole memungkinkan otot tubuh bagian atas ikut bekerja sehingga beban tidak hanya bertumpu pada kaki, yang pada akhirnya membantu menghemat energi dan mengurangi kelelahan selama lari jarak jauh.

Selain itu, adanya dua titik tumpu tambahan membuat keseimbangan lebih terjaga saat melintasi jalur berat, sekaligus memberikan kontrol yang lebih baik ketika menuruni lereng curam sehingga pelari dapat bergerak dengan lebih stabil dan percaya diri.

Manfaat bagi Fisik/Tubuh

Selain meningkatkan performa, trekking pole juga memberikan manfaat bagi kondisi fisik pelari. Saat digunakan dengan teknik yang benar, trekking pole dapat membantu menyerap sebagian benturan sehingga tekanan pada lutut dan pergelangan kaki, terutama di turunan, menjadi lebih ringan.

Tak hanya itu, penggunaan trekking pole melibatkan otot inti, bahu, dan lengan selama berlari sehingga turut melatih tubuh secara menyeluruh. Penggunaan tongkat gunung ini juga mendorong postur tubuh tetap tegak sehingga mengurangi sakit pada bagian punggung.

Mengingat trekking pole dapat menambah keseimbangan atau stabilitas saat trail run, alat ini juga membantu mengurangi risiko terjatuh maupun cedera, misalnya pergelangan kaki terkilir, terutama saat melewati jalur yang cukup berat.

Fungsi Trekking Pole Terbukti secara Ilmiah

Terdapat beberapa studi ilmiah yang meneliti peran trekking pole dalam hal trail run. Salah satunya dalam jurnal bertajuk Do Poles Really "Save the Legs" During Uphill Pole Walking at Different Intensities?

Studi ini meneliti pengaruh penggunaan trekking pole terhadap tekanan pada kaki, kardiorespirasi (pernapasan dan jantung), serta performa maksimal atlet lari saat berjalan menanjak.

Melalui serangkaian uji coba yang melibatkan 15 pelari trail pria, baik menggunakan treadmill di dalam ruangan maupun jalur lintasan outdoor, peneliti mengukur berbagai parameter fisik saat mereka berjalan dengan dan tanpa bantuan trekking pole.

Hasil studi menunjukkan bahwa penggunaan trekking pole secara signifikan mengurangi tekanan rata-rata pada kaki, baik saat diuji di atas treadmill maupun di jalur luar ruangan.

Menariknya, penggunaan trekking pole tidak meningkatkan beban kerja sistem kardiovaskular maupun pernapasan. Artinya, tubuh tidak membutuhkan energi metabolik yang lebih besar meskipun otot tubuh bagian atas ikut bekerja.

Dengan kata lain, alat ini terbukti mampu "menyelamatkan kaki" dari kelelahan tanpa membuat tubuh bekerja lebih keras secara kardiorespirasi. Alat ini pun terbukti meningkatkan kecepatan performa maksimal atlet hingga sebesar 2,5%.

Cara Memaksimalkan Fungsi Trekking Pole di Medan Terjal Menurut Ahli

ilustrasi trekking pole

ilustrasi trekking pole. FOTO/iStockphoto

Menggunakan trekking pole pastinya tidak bisa sembarangan dan harus dengan teknik yang tepat. Ahli trail running dengan julukan “Pak Rektor” Manglayang Academia, Arief Wismoyono, membagikan cara menggunakan trekking pole yang benar untuk trail run melalui kanal YouTube resminya.

1. Gunakan Wrist Strap (Tali Pergelangan) dengan Benar

Meski terlihat sepele, penggunaan wrist strap pada trekking pole sangatlah penting dan wajib diperhatikan. Caranya sederhana, cukup masukkan tangan dari bawah menuju lubang wrist strap, bukan dari atas. Lalu, genggam grip trekking pole sehingga pangkal tali berada di antara telapak tangan dan grip.

Cara ini membuat genggaman lebih kuat dan nyaman. Selain itu, misalnya ketika jatuh ke depan, tangan akan refleks berusaha menumpu badan dan telapak tangan mungkin juga akan refleks melepas trekking pole.

Saat telapak tangan terbuka, trekking pole tidak akan menghalangi telapak tangan untuk menyentuh sesuatu di depannya, tapi akan otomatis tergantung di pergelangan tangan atau lengan.

2. Teknik Menggunakan Trekking Pole

Ada beberapa teknik dalam penggunaan trekking pole ketika trail run. Trekking pole harus digunakan secara aktif dengan gerakan dinamis yang selaras dengan gerak kaki. Berikut beberapa teknik yang bisa dicoba agar fungsi trekking pole lebih terasa:

  • Teknik Ski atau Tap-Tap: Penggunaannya mirip orang bermain ski. Trekking pole menumpu pada tanah secara bergantian dan disesuaikan langkah kaki, baik saat jogging maupun berlari cepat. Teknik dasar ini wajib dilatih rutin agar terbiasa dan dapat “feel” ritme antara kaki dan trekking pole.
  • Teknik Jalan Biasa/Hiking: Gerakan tongkat dilakukan secara bergantian dan selaras dengan langkah kaki. Saat tangan kanan maju, kaki kiri melangkah ke depan secara bersamaan, begitu juga sebaliknya. Teknik ini cocok untuk tanjakan yang agak rata atau jalur aspal.
  • Teknik Double Poles: Menancapkan kedua trekking pole secara bersamaan di depan, lalu tubuh melangkah maju. Teknik ini sangat efektif untuk membagi beban dari kaki ke tangan dan sering digunakan pada gradien tanjakan yang cukup curam.

3. Tips Tambahan

  • Posisi Trekking Pole: Jangan menancapkan tongkat terlalu jauh di depan tubuh. Cukup tancapkan dalam jarak yang ideal (tangan masih menekuk membentuk siku, tidak sampai lurus).
  • Gunakan Tangan untuk Mendorong: Tangan tidak hanya berpegangan atau menempel di trekking pole, tapi gunakan tenaga tangan untuk mendorong tubuh ke depan sehingga terjadi distribusi tenaga dan beban yang merata.

Cara Memilih dan Range Harga Trekking Pole

Ilustrasi Pendaki Gunung

Ilustrasi Memakai Trekking Pole. foto/istockphoto

Memilih trekking pole yang tepat juga bisa menjadi game changer saat trail run. Pemilihan yang tepat juga akan memaksimalkan fungsi trekking pole sebagai penunjang performa lari. Agar tidak salah pilih, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan berdasarkan panduan dari situs FitIfT:

1. Tentukan Jenis Trekking Pole Sesuai Kebutuhan

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah jenis trekking pole. Setidaknya ada tiga jenis trail running pole, yaitu fixed-length, adjustable-length, dan folding poles.

Fixed-length cocok bagi pelari yang mengutamakan bobot ringan dan sering mengikuti perlombaan di medan yang relatif seragam. Adjustable-length lebih fleksibel karena panjangnya bisa diubah mengikuti kondisi tanjakan maupun turunan.

Sementara itu, foldingpoles menjadi pilihan paling populer untuk trail run karena mudah dilipat, cepat dibuka saat dibutuhkan, dan praktis disimpan di running vest ketika melewati jalur datar.

2. Pilih Material yang Sesuai

Material trekking pole juga berpengaruh terhadap kenyamanan dan daya tahannya. Bahan carbon fiber menawarkan bobot yang lebih ringan sehingga cocok untuk uphill dan bagi pelari yang ingin bergerak seefisien mungkin, tapi biasanya memiliki harga yang cenderung lebih mahal.

Sebaliknya, aluminium memiliki bobot sedikit lebih berat, tapi lebih tangguh dan ramah di kantong. Karena itu, aluminium dinilai sebagai pilihan yang baik bagi pemula yang baru mulai menggunakan trekking pole untuk trail run.

3. Perhatikan Jenis Grip

Grip merupakan bagian yang paling sering bersentuhan dengan tangan sehingga harus nyaman. Jenis cork grip mampu menyerap kelembapan dengan baik dan semakin nyaman digunakan seiring waktu.

Foam grip memiliki bobot ringan, empuk, serta mampu menyerap keringat sehingga menjadi pilihan yang paling umum pada trekking pole untuk trail running.

Sementara itu, rubber grip lebih tahan lama dan cocok digunakan saat cuaca dingin, meski kurang nyaman jika tangan banyak berkeringat saat berlari.

4. Jangan Abaikan Desain Wrist Strap

Selain grip, desain wrist strap juga berperan penting dalam meningkatkan efisiensi saat menggunakan trekking pole. Wrist strap yang baik membantu memindahkan tenaga dari lengan ke trekking pole sehingga tangan tidak perlu menggenggam terlalu kuat.

Beberapa produk bahkan menggunakan sistem khusus yang membuat pelepasan dan pemasangan pole menjadi lebih cepat. Apa pun jenisnya, pastikan wrist strap terasa nyaman di pergelangan tangan dan mudah dilepas ketika menghadapi medan yang lebih berat.

5. Sesuaikan Panjang Trekking Pole

Ukuran trekking pole yang tepat akan membuat penggunaan lebih efisien dan mengurangi risiko pegal pada bahu maupun lengan. Rumus sederhananya adalah sebagai berikut:

Panjang trekking pole = tinggi badan (cm) x 0,68

Cara mendapatkan trekking pole yang sesuai adalah memperhatikan posisi lengan. Saat ujung tongkat menyentuh tanah datar, posisi siku sebaiknya membentuk sudut sekitar 90 derajat.

Untuk tanjakan yang curam, pole dapat dibuat sedikit lebih pendek, sedangkan saat turunan dapat menggunakan pole yang sedikit lebih panjang agar stabilitas tetap terjaga.

6. Sesuaikan dengan Medan Trail yang Sering Dilewati

Pelari juga sebaiknya menyesuaikan trekking pole dengan karakter lintasan. Untuk jalur pegunungan, pole yang ringan dan kokoh akan membantu menjaga keseimbangan.

Bagi peserta ultra marathon atau lari jarak jauh, model folding menjadi pilihan yang praktis karena dapat disimpan ketika tidak digunakan.

Sementara itu, jika trail run di luar negeri dalam lintasan bersalju, penggunaan basket yang sesuai akan membantu mencegah pole tenggelam ke dalam salju.

7. Pilih Sesuai Anggaran

Perlu diingat bahwa biaya lari lintas gunung tak hanya soal trekking pole, tapi juga biaya pendaftaran lomba hingga perlengkapan lain seperti sepatu. Jadi, pastikan untuk memilih segala perlengkapan sesuai dengan budget yang tersedia.

Harga trekking pole sendiri bisa sangat beragam, mulai dari Rp100 ribuan hingga jutaan. Untuk pemula, bisa mencoba membeli trekking pole dengan harga yang lebih murah sekitar Rp100.000–Rp200.000 untuk melatih ritme penggunaan.

Untuk trekking pole kelas menengah biasanya dibanderol harga sekitar Rp300.000–600.000. Jika ingin mendapatkan kualitas premium yang lebih baik, pilih trekking pole di harga Rp600.000 ke atas.

Beberapa merek yang direkomendasikan antara lain Black Diamond atau Leki yang harganya berkisar antara Rp1.000.000–Rp4.000.000 per pasang.

Demikian penjelasan seputar fungsi trekking pole, lengkap dengan cara penggunaan dan tips memilihnya. Jadi, tongkat yang satu ini bukan untuk gaya-gayaan atau khusus bagi mereka yang bertubuh lemah. Trekking pole bisa sangat membantu performa saat trail run agar kondisi fisik pelari tidak mudah tumbang.

Baca juga artikel terkait OLAHRAGA atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Edusains
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani