tirto.id - Haruki Murakami dalam bukunya “What I Talk About When I Talk About Running” (2007) mengatakan bahwa rasa sakit adalah kenyataan yang tak terhindarkan dari kegiatan lari maraton. Oleh karenanya, kemampuan seseorang untuk bertahan lebih lama atau tidak dalam maraton sangat tergantung pada pelari itu sendiri.
Hal yang memantik rasa penasaran Murakami untuk memulai lari maraton pertamanya adalah sebuah pertanyaan sederhana: apa yang para pelari pikirkan saat mereka berlari sejauh 42,1 kilometer? Ia pun akhirnya berkesimpulan bahwa seseorang perlu terus menerus mengulang sebuah mantra di dalam kepalanya untuk bertahan dalam lari maraton.
“Lari maraton bukanlah olahraga untuk semua orang, sama seperti menjadi seorang novelis bukanlah pekerjaan untuk semua orang,” kata Murakami dalam bukunya itu.
Terlepas dari rasa sakit dan risiko yang dihadapi, nyatanya tetap banyak orang yang berniat melakukan lari maraton. Penelitian Hammer & Podlog (2016) menunjukkan bahwa selain menjadi bukti prestasi luar biasa dalam hal stamina dan tekad, banyak orang memandang menyelesaikan maraton sebagai wujud semangat manusia, menjadikannya sebagai ajang populer bagi mereka yang ingin merasakan tantangan dan kemenangan pribadi.
Di Indonesia, ajang lomba lari maraton juga semakin diminati dari waktu ke waktu. Dalam wawancara dengan Tirto pada 2024 lalu, penggiat lari sekaligus penulis buku bertajuk “Enggak Lari, Enggak Keren” (2024), Agus Hermawan alias Abah Ush, mengatakan, meningkatnya minat masyarakat Indonesia terhadap olahraga lari ditunjukkan salah satunya dengan perubahan di lanskap usia para pelari.
Dulu, kata dia, para pelari yang mampu mengikuti acara balap (race) atau maraton hanyalah mereka yang tergolong mapan. Pasalnya, orang-orang belum rela mengeluarkan uang cukup besar untuk ikut perlombaan atau kegiatan olahraga lari. Namun, kini pelari yang mengikuti ajang balap lari sudah sangat bervariasi.
“Sekarang itu sudah merata, semua sudah suka lari,” tutur Ush kepada Tirto.
Tingginya minat terhadap ajang lomba lari di Indonesia ditunjukkan salah satunya melalui banyaknya jumlah pelari yang ikut serta dalam ajang BTN Jakarta International Marathon (BTN Jakim) 2026 yang digelar pada 13–14 Juni 2026 lalu. Dalam ajang itu, ada lebih dari 45 ribu pelari yang ikut serta, termasuk 1.012 peserta internasional dari 52 negara.
Dari total peserta yang terdaftar, kategori Half Marathon menjadi yang paling diminati dengan 16.400 peserta, disusul 10K sebanyak 15.000 peserta, Marathon sebanyak 8.600 peserta, dan 5K sebanyak 5.500 peserta.
Namun, penyelenggaraan Jakim pada tahun ini diwarnai sejumlah insiden. Salah satunya adalah insiden meninggalnya seorang peserta lomba lari kategori Half Marathon bernama Agus Putranadi (AP). Korban dilaporkan mengembuskan napas terakhirnya di RS Siloam Kebon Jeruk, Jakarta, pada Minggu (14/6/2036) pukul 16.48 WIB.
Sebelum dilarikan ke rumah sakit, korban sempat terjatuh hingga tak sadar diri. Teman korban, Johan Rio Pamungkas, menjelaskan di akun Threads miliknya bahwa korban dikabarkan kolaps di kilometer 14. Setelah itu, korban dibawa ambulans ke Rumah Sakit Siloam Kebun Jeruk untuk mendapatkan pertolongan.
Akan tetapi, kabar duka justru tersiar setelah itu. Korban dinyatakan meninggal dunia.
“Hari ini, saya shock, dapat kabar meninggalnya [AP]. Selamat jalan, saya bersaksi kamu orang baik. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un,” tulis Johan Rio.
Insiden meninggalnya korban saat pelaksanaan Jakim 2026 kemarin menunjukkan bahwa persiapan yang matang menjadi sangat krusial dalam setiap ajang lomba lari maraton atau half marathon. Sebab, pada akhirnya yang terpenting bukanlah hanya medali yang terkalungi, melainkan juga pulang dengan selamat ke pelukan mereka yang dicintai.
Penjelasan Penyelenggara BTN Jakim 2026
Medical Director BTN Jakim 2026, dr. Andhika Raspati, menjelaskan, AP mengalami kolaps saat berada di dekat tenda medis sentral, yang lokasinya tak seberapa jauh dari garis finis. Setelah mengalami kolaps, ia pun langsung ditangani oleh tim medis dengan perlengkapan setara mini intensive care unit (ICU).
Setelah ditangani, tim medis menduga penyebab kolapsnya AP adalah karena sengatan panas (heatstroke). Oleh karenanya, langkah pertama yang dilakukan adalah mendinginkan badan AP dengan menggunakan air es.
“Nah, begitu [suhunya] sudah turun, kesadarannya enggak naik. Nah ini yang kemudian membuat kami langsung, kebetulan waktu itu yang memutuskan dokter spesialis anestesi yang di sana, ya udah, kita berangkatkan langsung ke rumah sakit,” terang Andhika saat dihubungi Tirto pada Rabu (17/6/2026).
Sesampainya di rumah sakit, kondisi kesehatan AP tidak kunjung membaik. Ia pun harus menjalani Resusitasi Jantung Paru (RJP) sampai kurang lebih delapan kali. Namun nahas, pada Minggu pukul 16.48 WIB, nyawanya tak lagi tertolong.
Andhika membantah kabar yang beredar di media sosial bahwa Jakim 2026 mengalami kekurangan tenaga medis yang berjaga saat pelaksanaan lomba. Bahkan, pada saat pelaksanaan Jakim tahun ini, Andhika mengaku ada lebih banyak tenaga medis yang berjaga jika dibandingkan dengan tahun lalu.
Menurutnya, telah terdapat peningkatan jumlah tenaga medis sebesar 35 persen dengan total 257 personel yang disebar di 10 tenda medis, 21 ambulans, serta 40 titik mobile dan roaming medic di sepanjang jalur lomba. Padahal, jumlah pelari harian dalam ajang Jakim itu justru mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun lalu.
“Tahun lalu kan kita 33.000 pelari numpek dalam satu hari kan. Begitu tahun ini, satu harinya itu cuma 25.000-an [pelari] lah kurang lebih. Makanya kenapa sebenarnya kalau dari jumlah [tenaga medis], harusnya lebih safe dari tahun lalu karena di saat angkanya pelarinya menurun, kita malah menaikkan sumber daya [tenaga medis],” ucapnya.
Sementara itu, Race Director Indonesia Muda Road Runner (IMRR), Satrio Guardian, menyebut bahwa selaku penyelenggara, timnya telah mengumumkan kondisi temperatur terkini sesaat sebelum balap lari dimulai. Hal itu ditujukan agar para peserta menyadari persiapan yang perlu mereka lakukan.
Untuk menopang keperluan hidrasi para peserta, penyelenggara disebutnya juga telah menyiapkan stasiun air atau water station setiap dua kilometer. Penyediaan water station itu bahkan sudah melebihi standar dari World Athletics, yakni setiap lima kilometer.
“Meskipun demikian, kami tetap akan melakukan evaluasi menyeluruh seperti [peningkatan tenaga] medis, pos guyur, water station, dan lain-lain,” katanya kepada Tirto, Rabu (17/6/2026).
Ia menegaskan bahwa aspek keselamatan para peserta Jakim menjadi prioritas utama penyelenggara. Selama penyelenggaraan, berbagai langkah mitigasi dan prosedur keselamatan juga disebutnya telah diterapkan, termasuk menghentikan kategori maraton saat kondisi di lapangan berpotensi meningkatkan risiko bagi peserta.
“Sebagaimana setiap penyelenggaraan event, kami akan melakukan peninjauan dan pembelajaran bersama seluruh pihak terkait sebagai bagian dari komitmen untuk terus menghadirkan penyelenggaraan yang terbaik di masa mendatang,” tutupnya.

Penyelenggara Maraton Harus Perhatikan Kondisi Cuaca Ekstrem di Lapangan
Pelatih lari, Andriyanto, mengatakan bahwa pihak penyelenggara perlu mempertimbangkan kondisi sekitar, sesaat sebelum ajang perlombaan lari dimulai. Salah satu tantangan yang seringkali dihadapi oleh ajang perlombaan lari di Indonesia menurutnya adalah cuaca panas ekstrem yang rentan menimbulkan heatstroke pada tubuh pelari.
Pada saat pelaksanaan Jakim 2026 lalu, temperatur pada saat menjelang dimulainya lomba disebutnya adalah 28 derajat celsius, dan terasa seperti 32 derajat celsius. Padahal, ia menyebut temperatur yang ideal bagi seorang pelari untuk menjalani lomba maraton atau half marathon berkisar di antara tujuh sampai 16 derajat celcius.
Untuk ajang lomba lari di Indonesia, Andriyanto mengatakan, temperatur terbaik bagi seorang pelari maraton untuk mencetak catatan terbaik pribadi (personal best)-nya berkisar di antara 20 sampai 22 derajat celsius.
Apabila terjadi peningkatan temperatur pada saat menjelang perlombaan lari dimulai, Andriyanto berharap pihak penyelenggara ke depannya dapat mengeluarkan informasi yang dapat diketahui oleh seluruh peserta.
“Panitia lomba kalau memang sudah melihat ada situasi yang menuju berbahaya dalam tanda petik, ya, itu harus memberikan peringatan. Sehari sebelumnya atau beberapa hari sebelumnya, melalui email kepada para peserta. Melalui saluran-saluran komunikasi, bisa media sosial, bisa email, bisa WhatsApp, yang disampaikan kepada utamanya adalah para peserta,” tutur Andriyanto saat dihubungi Tirto, Rabu (17/6/2026).
Ia mencontohkan, pada saat pelaksanaan Berlin Marathon pada tahun lalu, para peserta mendapatkan notifikasi di email pada dua hari sebelum pelaksanaan lomba, bahwa cuaca panas akan terjadi pada saat hari H lomba.
Dari notifikasi tersebut, pihak penyelenggara memperingatkan para peserta untuk bisa menyesuaikan diri dengan mengurangi kecepatan saat berlari, mempersiapkan hidrasi yang cukup, serta menahan ego diri.
Selain itu, mekanisme lain yang menurutnya bisa dicontoh oleh pihak penyelenggara perlombaan lari di Indonesia adalah seperti yang dilakukan oleh penyelenggara Los Angeles (LA) Marathon 2026 lalu.
Akibat cuaca panas, peserta LA Marathon 2026 memiliki pilihan untuk hanya berlari sejauh 18 mil (28,97 kilometer) dan tetap menerima medali finis.
Penyelenggara memperkirakan cuaca cerah dan hangat akan terjadi di sepanjang rute dari Dodger Stadium ke Century City, dengan suhu mulai sekitar 50-an derajat Fahrenheit (sekitar 10-15 derajat Celsius) pada pukul 7:00 pagi dan naik hingga pertengahan hingga akhir 70-an derajat Fahrenheit (sekitar 21-24 derajat Celsius) pada siang hari.
Sebagai solusi, Yayasan McCourt, pihak yang menyelenggarakan lomba tersebut, mengatakan para pelari akan memiliki pilihan tambahan pada hari lomba, yakni pelari maraton yang "mengalami hari yang sulit" dapat beristirahat di mil ke-18, menuju garis finis lebih awal, dan tetap menerima medali.
“Di Amerika, 24 derajat celcius, peserta diperbolehkan stop dan ambil medali. Jadi, race selesai. Boleh, kalau mau ngelanjutin. Tapi, peserta itu boleh stop dan ambil medali. Temperaturnya menuju 24 derajat celcius ya. Di Indonesia, 28 derajat baru start. Kebayang enggak?” ucapnya.

Podium Jakarta International Marathon 2026 di Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (14/06/2026). (ANTARA/FAJAR SATRIYO) 
Podium Jakarta International Marathon 2026 di Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (14/06/2026). (ANTARA/FAJAR SATRIYO)
Pelari Harus Konsisten Berlatih & Memiliki Kesadaran Diri
Ketika telah membulatkan niat untuk mengikuti ajang lomba lari maraton atau half marathon, maka yang perlu dipersiapkan oleh para pelari bukanlah hanya uang pendaftaran, melainkan juga komitmen untuk berlatih secara konsisten.
Andriyanto menjelaskan, seorang pelari rekreasional idealnya meluangkan waktu minimal lima bulan untuk bisa menjalani lari maraton. Sedangkan untuk half marathon, waktu yang diperlukan untuk melatih diri adalah minimal empat bulan.
Dalam kurun waktu tersebut, seorang pelari minimal meluangkan tiga sampai empat hari dalam satu pekan untuk berlatih. Selain fisik, aspek mental juga perlu dilatih secara terus menerus oleh para pelari.
Menjelang hari pelaksanaan lomba, seorang pelari juga harus memerhatikan waktu istirahatnya. Andriyanto mengimbau para pelari untuk tidur dengan cukup dan tidak lagi berlatih pada satu hari menjelang lomba.
Saat hari pelaksanaan lomba maraton atau half marathon, seorang pelari juga perlu memerhatikan tanda-tanda yang dikeluarkan oleh tubuhnya. Salah satu tanda utama yang bisa dirasakan oleh para pelari adalah apakah mereka masih memiliki kesadaran diri yang baik.
“Biasanya gejala awalnya itu kesadarannya udah mulai [hilang], udah mulai muncul halusinasi, halu. Jadi apakah kesadaran kita masih tetap normal? Itu yang pertama [harus diperhatikan],” kata Andriyanto.
Selain itu, pelari juga harus memiliki kesadaran apabila mereka mulai merasakan nyeri di dada sebelah kiri saat berlari. Sebab, nyeri pada dada sebelah kiri menurutnya bisa menjadi indikasi timbulnya masalah pada bagian jantung.
Terakhir, pelari bisa mulai meningkatkan kewaspadaan apabila mereka merasakan gangguan pada pernapasan. Gangguan pernapasan itu biasanya ditandai dengan napas yang semakin pendek dan berat. Apabila sejumlah tanda-tanda itu telah dirasakan, maka pelari disarankan untuk segera berhenti dan mencari pertolongan.
“Jadi kalau sampai terjadi tiga hal itu, stop, jangan maksa. DNF (did not finish) aja, enggak apa-apa gitu. Para dokter juga semua ngomong gitu kok. Umumnya gitu ya, DNF nggak apa-apa. DNF itu enggak hina. Kalau memang enggak mampu, ya sudah DNF,” pungkasnya.
Penulis: Naufal Majid
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id






























