tirto.id - Satu pekan telah berlalu sejak konflik saling serang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dimulai. Sejak awal, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan bahwa operasi militer terhadap Iran hanya akan berlangsung selama empat hingga lima minggu. Dia menekankan bahwa konflik tersebut tidak akan berkembang menjadi “perang tanpa akhir” seperti yang terjadi dalam perang di Afghanistan maupun Irak yang berlangsung bertahun-tahun.
Pernyataan mengenai durasi perang yang singkat menjadi penting bagi Washington. Survei Reuters/Ipsos menunjukkan hanya sekitar 25 persen warga Amerika yang mendukung serangan terhadap Iran. Di sisi lain, aksi protes antiperang juga mulai terjadi di Washington. Kekhawatiran terhadap situasi politik domestik serta potensi membengkaknya biaya perang apabila konflik berlangsung lama turut memperbesar tekanan terhadap pemerintahan Trump.
Analisis dari lembaga pemikir yang berbasis di Washington, Center for Strategic and International Studies (CSIS), menyoroti besarnya biaya yang harus ditanggung AS. Dalam 100 jam pertama, perang AS dan Israel melawan Iran diperkirakan telah menelan biaya sekitar 3,7 miliar dolar AS atau hampir 900 juta dolar AS per hari. Sebagian besar biaya tersebut dipicu oleh pengeluaran besar untuk amunisi, sebagaimana diungkap dalam penelitian terbaru.
Peneliti CSIS, Mark Cancian dan Chris Park, menjelaskan bahwa hanya sebagian kecil dari total perkiraan biaya 3,7 miliar dolar AS dalam 100 jam pertama—sekitar 891,4 juta dolar AS per hari—yang sebenarnya telah dianggarkan sebelumnya. Sementara itu, sebagian besar biaya, sekitar 3,5 miliar dolar AS, belum tercantum dalam anggaran yang ada.
Kekhawatiran domestik terkait biaya hidup, inflasi, serta dampak kenaikan harga bahan bakar akibat konflik juga diperkirakan akan semakin mengurangi dukungan masyarakat AS terhadap perang. Selain itu, konflik ini turut memecah basis pendukung “America First” Trump. Pasalnya, dalam kampanye presidennya ia berjanji tidak akan melibatkan AS dalam “perang asing”.
Berdasarkan analisis CSIS, AS diperkirakan telah menggunakan lebih dari 2.000 amunisi dari berbagai jenis dalam 100 jam pertama perang. Untuk mengganti stok amunisi tersebut dengan jumlah yang sama, diperkirakan dibutuhkan sekitar 3,1 miliar dolar AS dengan tambahan biaya sekitar 758,1 juta dolar AS setiap hari.
Jurnalis Al Jazeera, Rosiland Jordan, menyebut besarnya biaya perang ini kemungkinan akan mengejutkan anggota Kongres maupun masyarakat umum. Menurutnya, Pentagon dilaporkan telah menyiapkan permintaan tambahan anggaran sekitar 50 miliar dolar AS untuk mengganti rudal Tomahawk, Patriot, dan interseptor THAAD yang telah digunakan selama minggu pertama perang, serta memperbaiki atau mengganti peralatan militer lain yang rusak maupun aus.
“Tingkat penggunaan militer sangat tinggi,” ujar Jordan.
Dia juga menambahkan bahwa Kongres sebelumnya telah khawatir mengenai defisit anggaran dan bunga utang federal. Sehingga, permintaan tambahan dana sebesar 50 miliar dolar AS berpotensi menimbulkan keraguan sebagian anggota legislatif.
Lantas, berapa lama perang AS vs Iran akan berlangsung?
Durasi Perang Ditentukan oleh Tujuan
Dosen Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan (UPH), Edwin Martua Bangun Tambunan, menjelaskan bahwa durasi perang sangat ditentukan oleh berbagai faktor, salah satunya tujuan perang itu sendiri. Dia menuturkan bahwa jika perang yang terjadi merupakan perang total, maka tujuannya adalah menaklukkan dan menundukkan negara lawan.
Mencermati serangan yang berlangsung saat ini, apabila tujuannya adalah penaklukan dan penguasaan atas Iran, fase serangan yang terjadi saat ini baru merupakan tahap awal. Fase utama kemungkinan masih akan menyusul. Hal inilah yang, menurut Edwin, dapat dimaknai dari pernyataan Trump bahwa perang akan memasuki fase baru.
Namun, apabila perang yang dilakukan merupakan perang terbatas—yakni hanya bertujuan menghancurkan kemampuan militer lawan tanpa menaklukkan atau menguasainya, durasinya bisa jauh lebih singkat.
“Dalam konteks perang saat ini, apabila tujuan Amerika Serikat dan Israel adalah menghancurkan kemampuan nuklir Iran, maka perang akan segera berhenti ketika telah terkonfirmasi bahwa kekuatan nuklir Iran berhasil dinetralisasi,” ujarnya saat dihubungi Tirto, Senin (9/3/2026).
Masalahnya, tujuan perang AS saat ini tampak berubah-ubah, antara menghancurkan kekuatan nuklir Iran dan mendorong pergantian rezim di Teheran. Jika tujuan perang berkembang menuju pergantian rezim atau penguasaan wilayah Iran, maka konflik hampir pasti akan berlangsung sangat lama.
“Dalam perang asimetris melawan Afghanistan saja, Amerika Serikat bersama sekutunya tidak pernah sepenuhnya dapat mengklaim kemenangan dan penguasaan penuh atas Afghanistan,” ujarnya.
Pandangan serupa disampaikan analis dari The Washington Institute, Michael Singh. Dia menilai meskipun AS dan Israel saat ini tampak unggul dari sisi militer—misalnya dengan melemahnya kekuatan angkatan laut Iran dan kemampuan rudalnya, kemenangan yang lebih luas hanya dapat dicapai jika tujuan serangan tetap terbatas dan perang dapat diselesaikan dengan cepat.
Menurutnya, satu minggu setelah perang dimulai, AS menetapkan empat tujuan utama: menghancurkan angkatan laut Iran, menghancurkan kemampuan rudal Iran, mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, serta mencegah Iran mendukung kelompok proksi, seperti Hezbollah di Lebanon dan gerakan Houthi di Yaman.
Akan tetapi, tujuan perang tampak berkembang dalam beberapa waktu terakhir, mulai dari menghancurkan program rudal balistik Iran, melindungi publik Amerika dari ancaman langsung Iran, hingga kemungkinan mendorong pergantian rezim di Teheran.
Di sisi lain, Singh menilai Iran relatif berhasil menghambat pengiriman komersial melalui Selat Hormuz. Hal ini bukan dilakukan melalui serangan langsung, melainkan melalui ancaman yang menciptakan efek pencegah bagi pelayaran internasional.
Singh menilai AS saat ini mengalami dilema. Secara militer, AS dan Israel mungkin berada di posisi unggul, tetapi jika perang berhenti sekarang, mereka berpotensi dianggap gagal secara strategis. Perang dapat dinilai gagal apabila pelayaran internasional tidak kembali normal, Iran masih mampu mengancam dengan rudal dan drone, atau Iran kembali mendekati kemampuan pengembangan senjata nuklir.
“Sebagian pihak berpendapat perang dianggap gagal jika perubahan rezim tidak tercapai. Namun, tujuan maksimalis seperti itu sebelumnya justru menyebabkan konflik panjang dan mahal di Irak dan Afghanistan,” ujarnya.
AS Ingin Perang Cepat Tuntas, Iran Bertahan dengan Strategi Mengulur Konflik
Christian Guntur Lebang, Analis Utama Divisi Politik Keamanan Laboratorium Indonesia 2045, menjelaskan bahwa untuk memahami kemungkinan durasi perang antara AS dan Israel melawan Iran dapat digunakan pendekatan analisis center of gravity. Konsep ini membantu mengidentifikasi titik kekuatan utama yang menjadi sasaran dalam sebuah perang sekaligus titik paling rentan yang dapat diserang oleh lawan.
Menurut Guntur, center of gravity AS dan Israel relatif lebih jelas dan terukur. Ada beberapa sasaran utama yang secara terbuka disebutkan, yaitu kemampuan nuklir Iran, kepemimpinan politik negara tersebut, kapasitas rudal balistik, serta wacana perubahan rezim (regime change).
“Empat hal ini relatif jelas untuk diukur hasilnya, meskipun kita masih bisa berdebat mengenai bagaimana akhirnya,” ujarnya kepada Tirto, Rabu (4/3/2026).
Dalam situasi ini, Guntur menilai AS cenderung menginginkan perang yang cepat selesai. Sebaliknya, Iran kemungkinan menyadari bahwa dari segi kapabilitas militer konvensional (hard power) mereka tidak seimbang dengan AS dan Israel. Karena itu, Iran diperkirakan tidak akan memilih konfrontasi militer langsung secara terbuka.
Sebagai gantinya, strategi yang lebih mungkin dilakukan adalah mengganggu stabilitas aliansi AS di kawasan Asia Barat.
“Misalnya dengan menargetkan Israel sekaligus dengan mengganggu negara-negara Teluk atau negara-negara di Jazirah Arab,” jelasnya.
Jika Iran juga menyerang negara-negara Teluk—yang menjadi lokasi pangkalan militer AS dan NATO, konflik berpotensi meluas sekaligus berlangsung lebih lama. Strategi ini sejalan dengan pasase Henry Kissinger yang sering dikutip dalam situasi konflik asimetris: dalam konflik yang tidak seimbang, pihak yang lebih lemah dapat dianggap menang selama ia tidak mengalami kekalahan.
Dengan logika tersebut, selama Iran masih mampu mempertahankan apa yang mereka anggap sebagai kepentingan nasional—misalnya narasi perlawanan terhadap Zionisme atau imperialisme AS, bagi mereka perang belum tentu berarti kekalahan.
Sebaliknya, definisi kemenangan bagi AS bisa jauh lebih terbatas dan konkret. Misalnya ketika mereka berhasil memastikan kemampuan nuklir Iran benar-benar dihancurkan atau ketika kapasitas rudal Iran berhasil dilumpuhkan. Dalam perspektif Washington, capaian tersebut sudah dapat dianggap sebagai keberhasilan strategis.
Karena itu, menurut Guntur, dinamika konflik perlu dilihat dari center of gravity masing-masing pihak. Pertanyaannya adalah apakah titik-titik kunci tersebut benar-benar berhasil dilumpuhkan atau justru karena tujuan dan cara berperangnya tidak sepenuhnya selaras, konflik justru berpotensi berlangsung lama.
Dalam situasi seperti itu, masing-masing pihak bahkan bisa merasa tetap “menang” berdasarkan perspektifnya sendiri.
“Secara umum, Amerika dan Israel hampir pasti berharap perang ini berakhir secepat mungkin. Sebaliknya, Iran kemungkinan akan berusaha memperlama konflik dan terus menggerus kemampuan pertahanan Amerika serta sekutunya di kawasan Timur Tengah atau Asia Barat,” ujarnya.
Selain faktor strategi, ada pula pertimbangan militer yang tidak kalah penting. Saat ini, AS berusaha menghindari penggunaan pasukan darat (ground force) dan lebih mengandalkan serangan udara serta misil. Namun, kemampuan tersebut tetap memiliki batas, baik secara logistik maupun finansial.
Dalam praktiknya, militer AS juga harus memperhitungkan biaya perang. Sistem pertahanan udara seperti interceptor memiliki harga yang sangat mahal jika dibandingkan dengan drone yang digunakan Iran. Satu misil Patriot, misalnya, dapat bernilai jutaan dolar, sementara drone Iran dapat diproduksi dengan biaya jauh lebih rendah.
Karena itu, pada titik tertentu akan muncul perhitungan biaya strategis dalam konflik ini. AS tentu tidak ingin terus menguras stok misilnya hanya untuk satu konflik. Terlebih, mereka juga harus mempertimbangkan potensi konflik lain di masa depan, seperti kemungkinan ketegangan di Taiwan.
“Pada akhirnya, militer Amerika akan berhitung. Mereka tentu tidak ingin terus mengurangi stok misil hanya untuk konflik ini,” kata Guntur.
Konflik Berpotensi Membesar, Berkepanjangan, dan Berdampak Global
Pakar geopolitik Prof. Jiang Xueqin yang juga dikenal melalui kanal YouTube Predictive History menilai eskalasi terbaru antara AS dan Iran berpotensi membuat konflik menjadi panjang sekaligus melelahkan secara ekonomi. Dia memprediksi perang tidak hanya akan terbatas pada dua negara tersebut, tetapi berisiko meluas ke kawasan Asia Barat.
Menurutnya, Iran kemungkinan tidak hanya menargetkan AS atau Israel, tetapi juga negara-negara Teluk yang bekerja sama dengan militer AS, seperti Bahrain dan Qatar, serta pusat ekonomi penting seperti Dubai. Perluasan target ini berpotensi memperbesar skala konflik dan meningkatkan risiko eskalasi kawasan.
Salah satu titik paling strategis dalam konflik ini adalah Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi rute bagi sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia. Jika Iran menutup jalur tersebut, pasokan energi global dapat terganggu secara signifikan. Dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara Barat, tetapi juga negara-negara Asia yang sangat bergantung pada impor minyak dari kawasan Teluk.
Dalam aspek militer, AS dan Israel diperkirakan mengandalkan teknologi militer canggih serta serangan presisi untuk menghancurkan pusat komando dan infrastruktur militer Iran. Sebaliknya, Iran kemungkinan akan menggunakan strategi perang asimetris, antara lain melalui penggunaan drone murah, serangan terhadap infrastruktur penting, serta operasi militer yang tersebar dan sulit dilacak.
“Perbedaan biaya antara senjata murah Iran dan sistem pertahanan mahal milik AS dapat membuat konflik menjadi panjang dan melelahkan secara ekonomi,” ujar Jiang Xueqin, dikutip Tirto dari kanal YouTube-nya, Senin (3/9/2026).
Dari perspektif geopolitik, Jiang juga menyoroti pentingnya faktor geografis dalam konflik ini. Wilayah Iran yang luas dan bergunung-gunung memungkinkan mereka menyembunyikan persenjataan serta basis militer dengan lebih mudah. Sebaliknya, negara-negara Teluk memiliki wilayah yang relatif datar dengan infrastruktur vital yang lebih rentan terhadap serangan. Kondisi ini membuat kawasan tersebut sangat sensitif terhadap potensi eskalasi konflik.
Pada akhirnya, Jiang menggambarkan dinamika konflik ini melalui perspektif teori permainan (game theory), khususnya model game of chicken. Dalam situasi ini, dua pihak terus meningkatkan tekanan dan risiko konfrontasi, tetapi hasil akhirnya bergantung pada siapa yang lebih dulu mundur.
Jika tidak ada pihak yang bersedia menurunkan eskalasi, konflik berpotensi berkembang menjadi perang yang lebih besar dan bahkan melibatkan kekuatan dunia lain, seperti Rusia dan Cina.
“Secara keseluruhan, meskipun Amerika Serikat memiliki keunggulan militer, Iran tetap memiliki strategi dan posisi geografis yang dapat membuat konflik menjadi panjang, kompleks, dan berdampak global,” ujarnya.
Iran Andalkan Strategi Asimetris untuk Bertahan
Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Khairul Fahmi, menilai bahwa Iran sangat menyadari bahwa mereka akan kalah dalam perhitungan kekuatan konvensional (force-on-force) jika meladeni AS dan Israel secara terbuka. Karena itu, Teheran mengandalkan strategi asimetris yang secara otomatis mengubah konflik dari “sprint” menjadi “maraton” perang yang melelahkan atau atrisi.
“Melalui jaringan proksinya, Iran mampu menyebarkan titik pertempuran ke berbagai front, memaksa Amerika Serikat dan Israel memecah konsentrasi serta menguras logistik pertahanan udara mereka yang mahal untuk menghadapi drone dan rudal murah milik Iran,” ujarnya saat dihubungi Tirto, Senin (9/3/2026).
Selain itu, perang ini juga mengandung dimensi kognitif dan psikologis. Strategi Iran tidak hanya soal meluncurkan proyektil atau menggerakkan proksi, tetapi juga melibatkan manipulasi informasi, propaganda, dan operasi psikologis (psychological warfare).
“Tujuannya adalah mempengaruhi opini publik global, membelah koalisi lawan, dan memicu tekanan politik domestik yang hebat di Israel maupun Amerika Serikat sehingga lawan kelelahan secara fisik maupun mental,” ujarnya.
Lalu, mungkinkah perang akan berakhir secepat mungkin?
Meski demikian, pengamat menilai kemungkinan perang berakhir relatif cepat dengan kemenangan terukur bagi AS dianggap masih terbuka. Hal ini sangat bergantung pada keputusan Presiden Donald Trump serta seberapa lama kepemimpinan Iran mampu bertahan menghadapi serangan dari AS dan Israel.
Charles Myers dari Signum Global Advisors menilai konflik ini pada akhirnya hanya memiliki satu kemungkinan hasil, yaitu kekalahan Iran.
“Ini bukan perang jangka panjang, bahkan bukan perang jangka menengah. Hanya ada satu hasil di sini, yaitu Iran akan kalah. Iran menghadapi dua militer paling kuat dan paling canggih di dunia dan pada akhirnya akan kalah. Pertanyaannya adalah seperti apa bentuk kekalahan itu dan berapa lama prosesnya akan berlangsung,” kata Myers kepada CNBC, dikutip Tirto, Senin (9/3/2026).
Myers memperkirakan fase kinetik atau fase pertempuran langsung dalam perang tersebut kemungkinan akan berakhir dalam tiga hingga empat hari ke depan.
“Setelah itu, kita akan mulai mendengar Presiden Amerika Serikat berbicara mengenai jalan keluar atau deklarasi kemenangan. Dari situ, proses menuju penyelesaian atau kesepakatan kemungkinan akan mulai terlihat. Ini tidak akan menjadi kampanye militer yang berkepanjangan,” ujarnya.
Menanggapi prediksi perang akan berakhir cepat dalam beberapa minggu, Edwin dari UPH menilai anggapan itu sangat tidak realistis. Menurutnya, dari sisi AS, tujuan perang—baik untuk menghancurkan kemampuan nuklir Iran maupun untuk mendorong pergantian rezim—tidak akan mudah dicapai dalam waktu singkat.
Edwin menjelaskan bahwa satu-satunya skenario yang berpotensi mempercepat kemenangan AS dan Israel adalah jika loyalitas Korps Garda Revolusi Iran terhadap pemerintah mulai melemah. Kondisi tersebut juga harus diikuti dengan munculnya perlawanan luas dari kelompok-kelompok domestik yang menentang rezim yang saat ini berkuasa di Teheran.
“Satu-satunya yang bisa mempercepat AS dan Israel segera meraih kemenangan adalah apabila loyalitas pengawal revolusi Iran terhadap pemerintah berhenti dan diikuti dengan maraknya perlawanan oleh kekuatan yang menentang rezim yang berkuasa saat ini,” ujarnya.
Senada, Fahmi dari ISESS menilai secara strategis dan politis sangat tidak realistis memprediksi bahwa konflik ini bisa benar-benar “selesai” dalam beberapa minggu.
“Jika yang dimaksud selesai adalah berhentinya fase saling serang udara berskala besar secara konvensional, hal itu memang mungkin terjadi dalam hitungan minggu. Namun, itu bukan berarti perang usai,” ujarnya.
Menurut Fahmi, yang akan terjadi adalah konflik akan kembali turun ke bawah ambang batas perang konvensional. Dinamika di Asia Barat kemudian akan bertransisi ke zona abu-abu berupa perang bayangan (shadow war). Saling sabotase, serangan siber, operasi intelijen, dan pertempuran intensitas rendah melalui proksi kemungkinan besar akan terus berlangsung.
“Bagi Iran, konfrontasi ini dipandang sebagai masalah eksistensial sehingga resistensi ideologis dan militernya di bawah tanah tidak akan mudah padam hanya karena fasilitas militernya dihancurkan. Dengan kata lain, konflik tidak benar-benar selesai; ia hanya berubah bentuk ke fase yang lebih panjang dan sulit diprediksi,” ujarnya.
Penulis: Alfitra Akbar
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id





























