Menuju konten utama

Mojtaba Khamenei Pimpin Iran, Trump: Saya Tidak Senang

Trump mengatakan ia tidak senang atas terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin baru di Iran menggantikan Ali Khamenei.

Mojtaba Khamenei Pimpin Iran, Trump: Saya Tidak Senang
Presiden AS Donald Trump memberikan pidato pada pengarahan pemulihan pasca Badai Helene di hanggar Bandara Regional Asheville di Fletcher, North Carolina, pada 24 Januari 2025. Trump mengatakan ia mungkin akan "menyingkirkan FEMA," jika dianggap perlu. Badan Penanggulangan Bencana Federal Badan Penanggulangan Bencana (FEMA) bertugas mengoordinasikan respons terhadap bencana. (Foto oleh Mandel NGAN / AFP)

tirto.id - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberi reaksi keras atas terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai Supreme Leader baru Iran. Trump menyebut dirinya tidak menyukai keputusan tersebut.

Seperti yang telah diprediksi banyak orang, Mojtaba Khamenei, putra kedua Ayatollah Ali Khamenei ditunjuk untuk menggantikan ayahnya sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Ali Khamenei tewas dalam serangan udara yang dilancarkan militer AS dan Israel pada 28 Februari 2026.

Mojtaba Khamenei terpilih dan diangkat menjadi Supreme Leader Iran pada Minggu, 8 Maret kemarin oleh Assembly of Experts.

Trump Bereaksi Keras Atas Terpilihnya Mojtaba Khamenei

Kepada pembawa acara Fox News, Brian Kilmeade, Presiden AS telah mengatakan jika ia tidak senang ketika mengetahui Dewan Pakar Iran mengangkat Mojtaba Khamenei sebagai Supreme Leader Iran yang baru.

"Saya tidak senang," ucap Trump pada Brian.

Sebelum Mojtaba terpilih, Presiden Trump dalam wawancara eksklusif dengan Axios mengatakan jika dirinya ingin terlibat langsung dalam menentukan pemimpin tertinggi Iran berikutnya.

Trump menyatakan bahwa ia merasa perlu ikut menentukan siapa yang akan menggantikan Khamenei, sama seperti yang menurutnya pernah ia lakukan dalam perubahan kepemimpinan di Venezuela.

Ia secara terbuka menolak kemungkinan bahwa Mojtaba Khamenei, putra Ali Khamenei, akan menjadi pemimpin baru Iran.

Menurut Trump, Mojtaba adalah kandidat yang tidak dapat diterima dan ia bahkan menyebutnya sebagai sosok yang lemah untuk memimpin negara tersebut.

"Mereka hanya membuang-buang waktu. Putra Khamenei itu orang yang tidak berpengaruh. Saya harus terlibat dalam penunjukan itu, seperti halnya dengan Delcy [Rodriguez] di Venezuela," kata Trump.

Trump juga mengatakan bahwa Amerika Serikat menginginkan pemimpin Iran yang dapat membawa “harmoni dan perdamaian” bagi negara itu.

"Putra Khamenei tidak dapat diterima oleh saya. Kami menginginkan seseorang yang akan membawa harmoni dan perdamaian ke Iran," tegasnya.

Trump juga menyampaikan kekhawatiran bahwa jika Mojtaba yang menjadi Supreme Leader baru Iran, maka diperkirakan ia tetap melanjutkan kebijakan keras yang selama ini dijalankan oleh Ali Khamenei, maka konflik antara Amerika Serikat dan Iran bisa kembali terjadi dalam beberapa tahun ke depan.

Ia memperingatkan bahwa tanpa perubahan arah kepemimpinan, AS mungkin akan kembali berperang dengan Iran dalam waktu sekitar lima tahun. Karena itu, menurutnya, penting bagi Amerika Serikat untuk memiliki pengaruh terhadap siapa yang akan memimpin Iran ke depan.

Pernyataan ini dianggap sangat kontroversial karena secara tidak langsung menunjukkan keinginan AS untuk ikut campur dalam urusan politik dalam negeri negara lain, terutama dalam menentukan pemimpin tertinggi sebuah negara yang selama ini menjadi lawan geopolitiknya.

Menanggapi keinginan Trump untuk ikut campur dalam pemilihan Supreme Leader Iran yang baru, Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi secara tegas menolaknya.

Menurutnya, urusan tersebut sepenuhnya merupakan urusan dalam negeri Iran dan tidak boleh ada campur tangan dari negara lain.

“Kami tidak mengizinkan siapa pun untuk ikut campur dalam urusan domestik kami. Ini terserah rakyat Iran,” tegas Araghchi dikutip Politico.

Pada kesempatan yang lain, Trump juga berbicara mengenai kemungkinan berakhirnya perang dengan Iran. Ia mengatakan bahwa keputusan untuk menghentikan perang tidak akan dibuat oleh Amerika Serikat saja, tetapi akan menjadi keputusan bersama antara dirinya dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.

Di sisi lain, Menlu Araghchi menyatakan bahwa Iran memiliki pasukan yang siap dan mampu bertempur jika AS memutuskan untuk mengirimkan tentara darat ke wilayah Iran.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra