tirto.id - Penyataan 'makan cokelat dapat menyebabkan jerawat' sudah lama ada dan masih diyakini oleh banyak orang, terutama kalangan remaja yang sedang mengalami pubertas.
Keyakinan ini muncul karena jerawat sering dihubungkan dengan makanan manis atau berlemak. Hal ini juga diperkuat dengan cerita pengalaman dari sebagian orang yang mengaku berjerawat setelah mengonsumsi makanan manis seperti cokelat. Namun, pandangan ini tidak sepenuhnya benar.
Bukan rahasia lagi bahwa makanan tinggi gula dan lemak memang meningkatkan risiko jerawat. Keduanya diketahui dapat memicu lonjakan gula darah dan insulin yang kemudian merangsang produksi minyak berlebih di kulit serta peradangan.
Produk cokelat komersial juga kemungkinan berperan memperparah jerawat. Namun, penting untuk diingat bahwa sebagian besar cokelat di pasaran biasanya mengandung tambahan gula, susu, atau bahan-bahan lain yang dapat memicu masalah kulit seperti jerawat.
Lalu, bagaimana dengan cokelat murni maupun dark chocolate yang umumnya tidak mengandung tambahan gula dan bahan lainnya? Di sini kita akan membahas lebih jauh tentang cokelat, mulai dari mitos yang beredar, kandungan cokelat, hingga hasil riset ilmiah yang mengaitkan cokelat dan jerawat.
Apa Kata Penelitian tentang Cokelat dan Jerawat?

Cokelat sering kali dijadikan sebagai kambing hitam dalam masalah jerawat, terutama bagi individu yang memperhatikan kesehatan serta kecantikan kulit mereka.
Anggapan bahwa cokelat adalah penyebab utama jerawat telah beredar selama bertahun-tahun. Namun, bagaimana kata penelitian terkait hal ini?
Penelitian yang Mendukung Klaim Cokelat Penyebab Jerawat
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa cokelat memang bisa memicu jerawat, salah satunya tertuang dalam jurnal bertajuk Chocolate Consumption Modulates Cytokine Production in Healthy Individuals.Studi tersebut menemukan bahwa cokelat berpotensi meningkatkan keparahan dan frekuensi jerawat. Hal ini terjadi karena cokelat dapat memicu sistem kekebalan tubuh bereaksi lebih agresif terhadap dua jenis bakteri yang menyebabkan jerawat.
Pandangan tentang cokelat sebagai penyebab jerawat turut didukung oleh jurnal Double-blind, Placebo-controlled Study Assessing the Effect of Chocolate Consumption in Subjects with a History of Acne Vulgaris.
Studi tahun 2014 tersebut melibatkan 14 pria yang rentan terhadap jerawat dan diberi kapsul berisi cokelat murni tanpa gula, gelatin, atau kombinasi keduanya. Hasilnya menunjukkan bahwa semakin banyak cokelat yang dikonsumsi, semakin meningkat pula gejala jerawat.
Sementara itu, jurnal tahun 2024 yang berjudul The Relationship between Chocolate Consumption and the Severity of Acne Lesions-A Crossover Study ikut memberikan kesimpulan yang kurang lebih sama.
Studi tersebut menunjukkan bahwa konsumsi harian 50 gram cokelat dengan kandungan kakao 85%, bahkan dengan diet anti-inflamasi, dapat memperburuk lesi jerawat. Namun, masih belum jelas komponen cokelat mana yang dapat menyebabkan jerawat bertambah parah.
Masih ada sejumlah penelitian lain yang mendukung persepsi bahwa cokelat memang menyebabkan atau memperparah kondisi jerawat. Di sisi lain, ada pula beberapa penelitian yang justru meragukan adanya hubungan antara cokelat dan jerawat.
Penelitian yang Membantah Klaim Cokelat Penyebab Jerawat
Beberapa penelitian menunjukkan bukti bahwa cokelat bukanlah penyebab utama jerawat. Salah satunya adalah studi awal yang dipublikasikan dalam jurnal Effect of Chocolate on Acne Vulgaris.Penelitian tersebut melibatkan 65 orang dengan kondisi berjerawat dan dibagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama diberi cokelat batangan yang mengandung cokelat 10 kali lipat dibanding cokelat biasa, sedangkan kelompok kedua diberi makanan serupa tanpa kandungan cokelat (makanan placebo).Hasilnya, tidak ada perbedaan terkait jumlah lesi jerawat maupun produksi sebum di antara kedua kelompok. Studi ini pun menyimpulkan bahwa cokelat tidak terbukti memengaruhi masalah kulit seperti jerawat.
Klaim serupa juga diungkap dalam jurnal tahun 2012 dengan judul High Glycemic Load Diet, Milk and Ice Cream Consumption are Related to Acne Vulgaris in Malaysian Young Adults: A Case Control Study.
Studi ini meneliti efek dari beberapa jenis makanan terhadap jerawat, termasuk cokelat. Hasilnya, penelitian ini tidak menemukan hubungan antara cokelat dengan jerawat. Konsumsi cokelat susu batangan juga diketahui tidak memperburuk kondisi jerawat.
Studi yang sama juga melaporkan bahwa jumlah lesi jerawat serta komposisi dan produksi sebum tidak berubah setelah partisipan mengonsumsi cokelat batangan yang mengandung sepuluh kali lebih banyak kakao daripada biasanya.
Kenapa Cokelat Dituding sebagai Penyebab Jerawat?
Tak sedikit orang yang mengaku mengalami jerawat atau kondisi jerawatnya semakin parah setelah mengonsumsi produk cokelat. Fenomena ini sebenarnya perlu diteliti lebih jauh karena kebanyakan produk cokelat yang beredar di pasaran sudah dicampur dengan bahan-bahan lain seperti gula dan susu.Cokelat seperti ini cenderung memiliki risiko yang lebih jelas memicu kondisi kulit berminyak dan jerawat. Kandungan gula dalam cokelat dapat menyebabkan lonjakan gula darah yang meningkatkan sekresi insulin yang pada akhirnya dapat meningkatkan produksi sebum di kulit.
Peningkatan sebum dan perubahan hormon terkait insulin telah lama dikaitkan dengan pembentukan jerawat. Selain itu, produk susu seperti yang terdapat pada milk chocolate juga turut berperan memicu jerawat.
Dilansir dari Healthline, susu mengandung komponen seperti protein whey dan kasein. Ketika kita minum susu, protein ini merangsang pembentukan hormon mirip insulin atau yang biasa dikenal sebagai insulin‑like growth factor‑1 (IGF‑1), dan hormon inilah yang bisa memicu breakout.
Jadi, berdasarkan beberapa studi yang ada, hubungan langsung antara cokelat dan kemunculan jerawat masih belum terbukti secara jelas. Namun, produk cokelat yang diberi tambahan bahan lain seperti susu dan gula memiliki potensi untuk membentuk maupun memperparah kondisi jerawat.
Jerawat merupakan kondisi multifaktorial sehingga makanan hanya menjadi salah satu dari sekian banyak faktor yang memengaruhi kondisi kulit. Selain makanan, faktor lain seperti genetika, hormon, dan gaya hidup juga memainkan peran penting dalam menentukan risiko seseorang mengalami jerawat.
Kandungan dalam Cokelat yang Bisa Memicu Jerawat
Ketika kita mengonsumsi produk cokelat dan mengalami jerawat, bukan berarti cokelat itu sendiri yang langsung menyebabkan jerawat. Faktor utama yang berperan adalah gula berlebih dan lemak yang terkandung dalam produk cokelat tersebut.
Terutama pada cokelat susu, kandungan gula dan lemak jenuh dalam produk jenis ini biasanya cukup tinggi sehingga konsumsi berlebihan bisa berdampak pada kesehatan kulit.
Gula yang tinggi dapat meningkatkan kadar insulin dalam darah, kemudian merangsang produksi sebum dan memicu peradangan pada kulit. Selain itu, lemak jenuh dalam cokelat juga dapat memperburuk kondisi peradangan secara keseluruhan.
Kombinasi gula dan lemak ini membuat cokelat tertentu lebih berpotensi memicu jerawat dibandingkan cokelat murni atau produk cokelat dengan kandungan gula rendah.
Selain gula dan lemak, kandungan susu dan protein whey/kasein dalam cokelat juga dapat berperan terhadap munculnya jerawat. Beberapa orang memiliki sensitivitas terhadap susu atau yang dikenal sebagai lactose intolerance.
Bagi mereka yang memiliki kondisi ini, mengonsumsi susu atau produk olahannya bisa memicu reaksi sensitivitas atau alergi. Pada sebagian orang, reaksi ini tidak hanya menimbulkan gangguan pencernaan, tapi juga dapat memperburuk jerawat karena peradangan yang dipicu oleh tubuh saat bereaksi terhadap laktosa.
Di sisi lain, protein dalam susu juga dapat meningkatkan sekresi hormon tertentu (seperti IGF‑1) yang berkontribusi pada munculnya jerawat.
Faktor lain yang penting adalah indeks glikemik dan kalori dalam cokelat. Makanan dengan indeks glikemik tinggi, termasuk beberapa jenis cokelat, dapat menyebabkan lonjakan gula darah mendadak.
Kondisi ini memicu respons hormonal yang meningkatkan produksi minyak dan peradangan, sehingga memperbesar kemungkinan timbulnya jerawat.
Jenis Cokelat yang Lebih Aman untuk Kulit

Tidak semua cokelat berdampak sama terhadap kulit. Beberapa jenis cokelat justru lebih aman dikonsumsi karena kandungan gula, susu, dan lemaknya lebih rendah. Dengan memilih cokelat yang tepat, risiko jerawat akibat konsumsi cokelat dapat diminimalkan.
Salah satu jenis cokelat yang bisa dipilih adalah cokelat dengan kadar kakao tinggi, biasanya di atas 70%. Cokelat dengan kadar kakao tinggi umumnya menggunakan lebih sedikit gula sehingga memiliki indeks glikemik rendah. Hal ini juga membantu mencegah lonjakan gula darah yang dapat memicu produksi minyak berlebih dan peradangan di kulit.
Selain itu, pilih cokelat dengan kadar susu yang rendah. Kandungan susu yang lebih sedikit akan mengurangi risiko bagi orang yang mengalami intoleransi laktosa, sekaligus menekan kadar lemak yang dapat memperburuk jerawat. Cokelat jenis ini biasanya termasuk dark chocolate yang rasanya lebih pahit, tapi lebih aman bagi kulit.
Langkah praktis untuk memilih cokelat yang tepat adalah dengan memeriksa label dan daftar bahan. Pastikan kadar kakao tercantum jelas di atas 70%, perhatikan juga kandungan gula atau susunya dan pastikan jumlahnya tidak terlalu tinggi.
Terakhir, tetap perhatikan jumlah konsumsi harian. Meski cokelat tinggi kakao lebih aman, konsumsi berlebihan tetap dapat menambah kalori dan gula sehingga penting untuk membatasinya agar kulit tetap sehat dan risiko jerawat tetap rendah.
Faktor Lain Penyebab Jerawat yang Sering Disalahkan ke Cokelat

Banyak orang langsung menyalahkan cokelat ketika mengalami jerawat, padahal kondisi kulit dipengaruhi oleh berbagai faktor lain. Berikut beberapa faktor penting yang bisa memperburuk jerawat:
1. Kurang Tidur
Kurang tidur meningkatkan kadar kortisol, hormon stres yang merangsang produksi minyak di kulit. Akibatnya, pori-pori lebih mudah tersumbat, memicu peradangan, dan memperbesar kemungkinan timbulnya jerawat.2. Stres Psikologis
Tekanan psikologis memicu respons hormonal yang meningkatkan aktivitas kelenjar minyak. Selain itu, stres dapat membuat orang lebih sering menyentuh wajah yang akhirnya memperburuk kondisi jerawat.3. Kebersihan Wajah Kurang Terjaga
Penumpukan minyak dan sel kulit mati akibat teknik pembersihan yang salah menciptakan lingkungan ideal bagi bakteri penyebab jerawat. Membersihkan wajah secara berlebihan atau menggunakan produk yang salah juga bisa menyebabkan iritasi maupun jerawat.4. Perubahan Hormon
Jerawat juga bisa disebabkan oleh hormon. Hormon yang tidak stabil selama pubertas, siklus menstruasi, kehamilan, atau kondisi endokrin tertentu dapat meningkatkan produksi sebum dan mengubah struktur kulit sehingga memicu jerawat.5. Faktor Genetik dan Gaya Gidup
Meski tidak ada "gen jerawat", masalah kulit yang satu ini rupanya juga bisa disebabkan oleh faktor genetik. Dikutip dari Healthline, penelitian menemukan bahwa mereka yang memiliki orang tua atau kakak/adik dengan jerawat, lebih mungkin juga mengalami masalah kulit yang sama.Risiko berjerawat akan lebih tinggi jika kedua orang tua pernah mengalami jerawat yang parah. Selain faktor genetik, gaya hidup seperti pola makan tinggi gula dan kurang tidur juga dapat memperburuk jerawat.
6. Skincare yang Salah
Produk perawatan yang tidak sesuai dapat menyumbat pori, menyebabkan iritasi, atau memicu jerawat. Oleh karena itu, penting untuk memilih formula yang tepat (misalnya non-comedogenic) dan mencoba produk baru pada area kecil kulit terlebih dahulu sebelum digunakan secara luas.Mitos atau Fakta, Cokelat Menyebabkan Jerawat?

Banyak orang beranggapan bahwa mengonsumsi cokelat dapat memicu timbulnya jerawat, tetapi penelitian menunjukkan bahwa penyebab jerawat jauh lebih kompleks dari sekadar makan cokelat.
Dalam bidang kedokteran, kemunculan jerawat bisa disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk faktor hormon, produksi minyak berlebih, kebersihan kulit, pola makan tidak sehat, hingga tingkat stres dan gaya hidup.
Jadi, meskipun cokelat dikenal memiliki kandungan gula dan lemak, makanan yang satu ini tidak bisa disebut sebagai penyebab langsung timbulnya jerawat.
Dikutip dari laman Cleveland Clinic, ahli dermatologi Jennifer Lucas, MD, menekankan bahwa meskipun makanan tinggi gula bisa meningkatkan risiko jerawat, penyebab masalah kulit yang satu ini sebenarnya lebih luas lagi.
"Kita tahu bahwa mengonsumsi makanan yang dapat meningkatkan kadar glukosa atau gula darah dapat membuat Anda lebih rentan terhadap jerawat. Ini termasuk makanan manis seperti permen dan minuman manis, serta pasta dan nasi putih," kata Dr. Lucas.
"Saat mencoba menentukan apa yang menyebabkan jerawat, biasanya ada beberapa faktor selain diet (pola makan), seperti usia, hormon, stres, serta produk yang Anda gunakan pada kulit, (produk) yang tebal dan menyumbat pori-pori," tambahnya.
Kesimpulannya, anggapan yang memandang cokelat sebagai satu-satunya penyebab jerawat adalah sebuah mitos. Menjaga pola makan yang sehat, mengelola stres, dan merawat kulit dengan baik jauh lebih krusial dalam mencegah jerawat dibandingkan hanya dengan menghindari cokelat.
Rekomendasi Produk untuk Mencegah Jerawat

Mencegah jerawat tidak hanya bergantung pada pola makan atau gaya hidup, tapi juga pada pemilihan produk perawatan kulit yang tepat. Produk yang sesuai dapat membantu membersihkan pori, mengontrol produksi minyak, dan mengurangi peradangan sebelum jerawat muncul.
Berikut beberapa rekomendasi produk yang cocok untuk mencegah jerawat:
1. Somethinc Low pH Gentle Jelly Cleanser
Pembersih wajah bertekstur jelly ini tergolong cleanser yang lembut dan diformulasikan untuk menyeimbangkan pH kulit tanpa membuatnya kering atau merusak lapisan pelindung alami.Produk ini mengandung bahan aktif seperti Japanese Mugwort, tea tree, centella asiatica, calendula, dan peppermint, yang secara klinis terbukti membersihkan debu, kotoran, dan minyak berlebih sekaligus menenangkan kulit, mengurangi kemerahan, dan menjaga kelembaban serta elastisitas kulit.
Kandungan tea tree di dalamnya mampu melawan bakteri penyebab jerawat dan menjadikan kulit lebih halus. Produk ini bisa didapatkan di kisaran harga Rp40.000 - Rp50.000 (40 ml).
2. Wardah Acnederm Pore Refining Toner
Produk ini merupakan toner multifungsi yang dirancang untuk merawat kulit berjerawat sekaligus memperbaiki kondisi pori-pori. Toner ini membantu menenangkan kulit, menghambat pertumbuhan bakteri penyebab jerawat, serta melembapkan sehingga kulit tetap nyaman dan lembut.Selain itu, produk ini juga membantu meringkas pori, membuat kulit lebih siap menyerap manfaat krim pelembap atau perawatan lain yang digunakan setelahnya. Wardah Acnederm Pore Refining Toner dibanderol dengan harga Rp30.000 - Rp40.000 (100 ml).
3. Glad2Glow Centella Salicylic Acid Power Acne Serum
Produk Glad2Glow ini adalah serum ringan yang dirancang khusus untuk merawat kulit berjerawat dan kemerahan. Dengan kandungan centella asiatica, serum ini menenangkan kulit yang iritasi, sementara salicylic acid membantu merawat kemerahan dan membersihkan pori-pori.Ditambah niacinamide, serum ini juga berperan menyamarkan bekas jerawat dan mencerahkan kulit secara merata. Teksturnya yang ringan mudah menyerap, memberikan kelembapan yang cukup, dan membuat kulit terasa nyaman. Produk ini bisa dibeli di harga sekitar Rp30.000 - Rp40.000 (17 ml).
4. ERHA Acneact Acne Spot Gel
Produk in merupakan gel totol jerawat yang dirancang untuk melawan bakteri penyebab jerawat dan mempercepat pengeringan jerawat dalam 24 jam. Produk ini mengandung BHA dan sulfur yang membantu membersihkan pori, mengelupas sel kulit mati, dan mempercepat proses penyembuhan jerawat.Spot treatment yang satu ini juga mengandung 4% niacinamide yang efektif menyamarkan noda hitam bekas jerawat. Dengan formula tersebut, produk ini memberikan perawatan cepat untuk jerawat aktif sekaligus membantu mencerahkan kulit di area yang terkena. ERHA Acneact Acne Spot Gel dibanderol dengan harga Rp60.000 - Rp70.000 (10 gram).
5. Emina Sun Battle Spf 50 Pa++++ Cica Acne Fighter Sunscreen
Sunscreen ini memberikan perlindungan maksimal terhadap sinar UVA & UVB sekaligus merawat kulit berjerawat. Dengan tekstur airy dan ultra-lightweight, sunscreen ini mudah dibaurkan, cepat meresap, dan tidak meninggalkan whitecast.Formulanya mengandung Cica Complex untuk menenangkan kemerahan sekaligus meredakan bekas jerawat, sementara kandungan salicylic acid membantu melawan bakteri penyebab jerawat. Produk ini bebas alkohol dan pewangi, bisa didapatkan di harga sekitar Rp28.000 - Rp35.000 (20 ml).
Demikian penjelasan terkait anggapan bahwa cokelat menyebabkan jerawat, serta rekomendasi produk yang cocok untuk kulit berjerawat. Penting diingat bahwa jerawat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk hormon, genetika, gaya hidup, dan perawatan kulit sehari-hari.
Jadi, kurang tepat jika hanya menyalahkan satu jenis makanan saja seperti cokelat. Dengan memilih produk skincare yang tepat serta menjaga pola hidup sehat, kulit akan tetap terawat dan risiko jerawat juga dapat diminimalkan.
Temukan berbagai info menarik, tips bermanfaat, hingga rekomendasi produk untuk perawatan kulit berjerawat melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:
Penulis: M Rifqi Rafly Ramadhan
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id

































