Menuju konten utama

Benarkah Diet Tanpa Nasi Lebih Baik untuk Tubuh? Ini Faktanya

Diet tanpa nasi dianggap cepat menurukan berat badan, tapi apakah lebih baik bagi kesehatan? Cek faktanya di sini, lengkap dengan penjelasan para ahli gizi.

Benarkah Diet Tanpa Nasi Lebih Baik untuk Tubuh? Ini Faktanya
Ilustrasi Diet. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nasi merupakan sumber karbohidrat sekaligus menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia. Namun, sebagian orang mulai menerapkan diet tanpa nasi, baik untuk alasan kesehatan maupun untuk menurunkan berat badan.

Diet pada dasarnya adalah pola makan yang diatur sedemikian rupa untuk mencapai tujuan tertentu, seperti menjaga kesehatan, mengontrol berat badan, atau membantu kondisi medis tertentu.

Tujuan diet tidak selalu tentang menurunkan berat badan, tapi juga bisa untuk menyeimbangkan asupan gizi, menjaga kadar gula darah, kolesterol, hingga meningkatkan energi dan kualitas hidup.

Dalam praktiknya, diet bisa dilakukan dengan berbagai cara, tergantung kebutuhan tubuh, gaya hidup, serta kondisi kesehatan masing-masing individu.

Salah satu pola yang cukup sering dilakukan adalah diet tanpa nasi, yaitu mengurangi atau menghilangkan nasi sebagai sumber karbohidrat utama. Diet ini dipercaya lebih sehat dan membuat tubuh lebih cepat mencapai berat badan ideal, tapi benarkah demikian?

Klaim Viral Diet Tanpa Nasi di Media Sosial

Rice Cooker

Ilustrasi Nasi. foto/IStockphoto

Diet tanpa nasi selalu ramai diperbincangkan di media sosial seperti TikTok dan Instagram. Diet ini muncul karena nasi kerap dianggap sebagai penyebab kenaikan berat badan dan sering dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, salah satunya risiko diabetes.

Tak sedikit pengguna media sosial yang membagikan pengalaman mereka saat menjalani diet tanpa nasi. Salah satu klaim yang mungkin tampak menggiurkan adalah bahwa berhenti konsumsi nasi bisa menurunkan berat badan secara cepat.

Penurunan angka timbangan ini kemudian diasosiasikan langsung dengan nasi sebagai penyebab utama kenaikan berat badan, tanpa membahas faktor lain seperti total kalori, jenis lauk, atau perubahan pola makan dan gaya hidup secara keseluruhan.

Pada akhirnya, banyak orang–terutama kalangan perempuan muda–tertarik dengan pola diet ini karena konsepnya sederhana, mudah diikuti, dan dianggap memberikan hasil cepat. Diet tanpa nasi menarik karena kesannya sederhana dan praktis.

Kita tidak perlu menghitung kalori atau mengikuti aturan yang rumit, cukup menghindari satu jenis makanan yang sangat familiar, yaitu nasi.

Bagi banyak orang awam, terutama yang baru mulai diet, pendekatan ini terasa lebih mudah dijalani dibandingkan mengatur porsi secara seimbang atau mempelajari konsep gizi yang lebih kompleks.

Diet tanpa nasi ini semakin populer dan terlihat meyakinkan berkat adanya konten-konten visual seperti foto before-after yang dramatis, seperti dari tubuh yang gemuk menjadi langsing dalam waktu singkat.

Ditambah dengan caption berisi testimoni personal, konten ini terlihat meyakinkan dan mudah dipercaya meski sering kali minim penjelasan ilmiah.

Di sisi lain, tekanan sosial untuk tampil langsing, dipadukan dengan budaya media sosial yang mengutamakan hasil instan membuat diet tanpa nasi cepat menyebar.

Pada akhirnya, pola diet ini pun terlihat sebagai solusi paling ideal untuk menurunkan berat badan dan jarang dipertanyakan lebih jauh tentang validitasnya dari segi ilmiah.

Apa Kata Riset dan Ahli Gizi tentang Diet Tanpa Nasi

Ilustrasi Timbangan Badan

Ilustrasi Diet. FOTO/iStockphoto

Tren meninggalkan nasi sering kali dianggap sebagai jalan pintas tercepat menuju berat badan ideal. Namun, sebelum benar-benar menyingkirkan nasi dalam menu harian, penting untuk memahami bagaimana tubuh kita merespons hilangnya sumber karbohidrat utama ini dari perspektif sains.

Peran Karbohidrat dalam Tubuh

Karbohidrat adalah salah satu makronutrien penting dalam pola makan manusia, terutama sebagai sumber energi utama bagi tubuh. Ketika kita mengonsumsi makanan yang kaya karbohidrat (seperti nasi) tubuh akan memecahnya menjadi glukosa.

Glukosa ini kemudian diserap ke dalam sel untuk menghasilkan energi guna mendukung aktivitas fisik dan fungsi otak. Jadi, karbohidrat memiliki peran penting bagi kesehatan, dan asupan karbohidrat yang cukup membantu menjaga fungsi tubuh secara optimal untuk mendukung aktivitas fisik sehari-hari.

Meski demikian, tidak semua karbohidrat diciptakan sama. Ahli gizi menekankan pentingnya karbohidrat kompleks untuk kesehatan, misalnya karbohidrat dari nasi merah, oatmeal, gandum utuh (whole wheat), hingga biji-bijian.

Karbohidrat kompleks ini dianggap lebih sehat ketimbang makanan-makanan yang mengandung karbohidrat sederhana (seperti gula, susu, buah) maupun karbohidrat olahan (seperti roti, mie, dan sereal).

Diet Rendah Karbohidrat (Low-Carb Diet)

Diet tanpa nasi termasuk diet rendah karbohidrat atau low-carb diet. Diet seperti ini juga telah dipelajari dalam berbagai penelitian untuk melihat efeknya pada berat badan hingga kontrol gula darah.

Banyak studi yang sepakat bahwa diet rendah karbohidrat memiliki sejumlah manfaat. Tak hanya untuk mengurangi berat badan, tapi juga disarankan untuk mencegah berbagai penyakit seperti diabetes.

Dikutip dari laman Mayo Clinic, diet rendah karbohidrat diklaim cukup efektif untuk menurunkan berat badan dalam jangka pendek. Namun, untuk jangka waktu 12-24 bulan, sebagian besar studi menemukan bahwa manfaat diet rendah karbo ini tidak terlalu besar.

Di sisi lain, perlu diketahui juga bahwa efektivitas diet rendah karbohidrat bervariasi antar individu, dan pendekatan ini tidak selalu cocok untuk semua orang, terutama jika dilakukan tanpa bimbingan profesional atau sampai melampaui batas asupan minimal karbohidrat yang dibutuhkan tubuh.

Diet tanpa nasi tanpa memperhatikan asupan karbohidrat maupun kalori justru tidak menyehatkan bagi tubuh. Hal ini diungkap dalam jurnal bertajuk Pengaruh Modifikasi Diet Rendah Karbohidrat pada Penderita Obesitas terhadap Berat Badan oleh Ayu Elvana dkk.

Jurnal tersebut menjelaskan bahwa apabila diet rendah karbohidrat dilakukan dalam jangka waktu lama, hal ini bisa menyebabkan efek samping berupa masalah kesehatan, mulai dari ketosis, gagal ginjal, osteoporosis, hingga risiko kanker.

Diet Tanpa Nasi, Apakah Aman?

Menurut ahli gizi Ati Nirwanawati, diet tanpa nasi boleh saja dilakukan asalkan tetap memperhatikan kebutuhan kalori tubuh. Perlu diketahui juga bahwa kebutuhan kalori setiap orang berbeda-beda.

Hal senada juga disampaikan oleh spesialis gizi klinik, dr. Metta Satyani, Sp.GK. Ia menjelaskan bahwa diet yang baik adalah diet yang bisa mencukupi kebutuhan gizi harian, termasuk mencukupi asupan karbohidrat.

“Sebagai pedoman, seharusnya karbohidrat mencapai 40-60% dari kebutuhan kalori harian dan sebaiknya dicukupkan dari sumber karbohidrat kompleks, salah satunya adalah nasi,” katanya.

Lebih lanjut, dr. Metta menegaskan bahwa diet tanpa nasi tetap boleh dilakukan selama kebutuhan karbohidratnya terpenuhi.

“Namun, kembali lagi bahwa sumber karbohidrat bukan hanya nasi sehingga jika menerapkan diet tanpa nasi, namun tetap mencukupkan kebutuhan karbohidrat dari sumber-sumber karbohidrat yang lain, maka diet tanpa nasi sifatnya aman-aman saja.”

Dari sini dapat disimpulkan bahwa diet rendah karbohidrat seperti diet tanpa nasi tetap boleh dilakukan dan bisa efektif selama asupan karbohidrat tetap dijaga. Diet ini menjadi tidak efektif, bahkan bisa membahayakan kesehatan, jika asupan gizi tubuh tidak terpenuhi dengan baik.

Peran Karbohidrat bagi Tubuh Perempuan

Ilustrasi Menstruasi

Ilustrasi Menstruasi. FOTO/iStockphoto

Bagi perempuan, karbohidrat bukan sekadar kalori atau sumber energi, tapi karbohidrat juga memainkan peran penting dalam fungsi hormonal hingga siklus menstruasi.

Mengonsumsi karbohidrat yang cukup berarti memastikan tubuh mendapatkan energi dan stamina yang dibutuhkan untuk beraktivitas. Hal ini juga akan berpengaruh pada fokus dan suasana hati yang lebih baik sepanjang hari.

Asupan karbohidrat yang cukup juga berkontribusi pada keseimbangan hormon yang memengaruhi banyak proses dalam tubuh, termasuk siklus menstruasi.

Hal ini dibuktikan dalam jurnal berjudul Hubungan Asupan Zat Gizi Makro Dengan Siklus Menstruasi pada Remaja Putri SMK Negeri 2 Tuban karya Ayuk Candra dkk.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa asupan karbohidrat yang baik berkaitan dengan fungsi hormon reproduksi yang sehat dan siklus menstruasi yang normal pada perempuan muda.

Sebaliknya, diet yang sangat rendah karbohidrat atau penghapusan total karbohidrat seperti diet tanpa nasi yang ekstrem dapat membawa risiko bagi kesehatan perempuan.

Sejumlah riset menunjukkan bahwa diet rendah karbohidrat yang sangat ketat, terutama jika juga rendah kalori, dapat mengganggu keseimbangan hormon yang mengatur siklus menstruasi dan produksi hormon reproduksi seperti estrogendan progesteron.

Dikutip dari Healthline, kondisi seperti amenore (tidak mengalami haid selama 3 bulan atau lebih) bisa terjadi pada beberapa perempuan yang menjalani diet sangat rendah karbohidrat dalam jangka panjang.

Selain itu, tubuh yang kekurangan karbohidrat juga cenderung mengalami penurunan energi, mood swing, dan kesulitan fokus karena otak kekurangan glukosa sebagai bahan bakar utamanya.

Di sisi lain, patut dipahami bahwa kebutuhan karbohidrat perempuan bisa berbeda satu sama lain, salah satunya dapat dipengaruhi oleh tingkat aktivitas fisik.

Perempuan yang aktif, misalnya yang rutin berolahraga, cenderung membutuhkan lebih banyak karbohidrat dibanding perempuan yang memiliki gaya hidup lebih sedentary (banyak duduk atau kurang aktif/bergerak).

Jadi, diet tanpa nasi, terutama tanpa pengganti makanan/sumber karbohidrat, kemungkinan besar tidak akan cocok bagi perempuan yang aktif.

Asupan karbohidrat harus seimbang dan disesuaikan dengan kebutuhan energi harian dan tujuan kesehatan individu, karena terlalu sedikit maupun terlalu banyak karbohidrat sama-sama dapat berdampak pada kesehatan jangka panjang.

Diet Tanpa Nasi vs Diet Seimbang, Mana yang Lebih Aman?

Ilustrasi diet herbal

Ilustrasi Diet. FOTO/iStockphoto

Ketika membahas pilihan pola makan untuk menurunkan berat badan atau menjaga kesehatan, satu pertanyaan yang sering muncul adalah apakah diet tanpa nasi benar-benar lebih baik dibanding diet yang seimbang.

Diet tanpa nasi berarti menghilangkan nasi dari menu makan harian. Namun, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, diet tanpa nasi tidak akan menjadi masalah apabila asupan gizi, termasuk karbohidrat, tetap terpenuhi dengan baik.

Sayangnya, kebanyakan orang tidak hanya menghindari nasi, tapi juga menghindari makanan berkarbohidrat lain tanpa mempertimbangkan kebutuhan gizinya. Diet seperti inilah yang memiliki risiko tinggi terhadap kesehatan.

Sementara itu, diet seimbang menekankan pada pemenuhan semua kelompok nutrisi, baik itu karbohidrat, protein, lemak, vitamin, maupun mineral, dalam proporsi yang sesuai dengan kebutuhan tubuh setiap hari.

Ahli gizi dari Rumah Sakit Hasan Sadikin menjelaskan bahwa diet seimbang menyediakan 60–70% energi dari karbohidrat, 10–15 % dari protein, dan 20–25 % dari lemak, semuanya mendukung kebugaran tubuh secara menyeluruh selama jangka panjang.

Ada juga pendekatan diet seimbang yang nasinya tidak dihilangkan secara total, tapi porsinya dikurangi atau diganti dengan sumber karbohidrat kompleks yang lebih bernutrisi seperti nasi merah, quinoa, ubi jalar, jagung, atau kentang.

Karbohidrat kompleks ini dicerna lebih lambat, memberikan energi yang stabil, serta cenderung lebih tinggi serat dan mikronutriennya jika dibandingkan nasi putih biasa.

Jadi, mana yang lebih sehat? Diet tanpa nasi bisa menyehatkan selama kita bisa tetap mencukupi kebutuhan karbohidrat tubuh, yaitu dengan cara mengganti nasi dengan sumber karbo lain.

Sementara itu, diet atau pola makan seimbang cenderung lebih aman dan berkelanjutan (sustainable) bagi kebanyakan orang.

Jadi, mengurangi nasi bisa menjadi strategi sementara untuk mencapai defisit kalori, tapi diet yang seimbang lebih mendukung kesehatan jangka panjang dan lebih aman jika disesuaikan dengan gaya hidup dan kebutuhan nutrisi individu.

Siapa yang Perlu Hati-Hati Menerapkan Diet Tanpa Nasi

Ilustrasi The Sirtfood Diet

Ilustrasi Diet Tanpa Nasi. foto/istockphoto

Diet tanpa nasi, atau pola makan yang sangat rendah karbohidrat, memang tengah populer di kalangan orang yang ingin menurunkan berat badan.

Namun, patut diingat bahwa diet ini tidak cocok untuk semua orang, terutama perempuan dengan kondisi tertentu yang justru bisa mengalami efek negatif jika asupan karbohidratnya terlalu rendah atau dihilangkan sepenuhnya.

Berikut adalah kelompok orang yang sebaiknya berhati-hati, bahkan wajib berkonsultasi dengan ahli sebelum menjalani diet ekstrem semacam ini:

Perempuan dengan Riwayat Gangguan Makan

Perempuan yang memiliki riwayat gangguan makan seperti anoreksia, bulimia, atau orthorexia nervosa perlu sangat berhati-hati dengan diet tanpa nasi atau pembatasan karbohidrat ekstrem.

Diet yang terlalu ketat bisa memicu kembali pola makan yang tidak sehat, obsesif terhadap kontrol makanan, dan memperburuk kondisi psikologis.

Pembatasan karbohidrat juga dapat memengaruhi hormon yang mengatur suasana hati dan stres jika tubuh kekurangan energi, yang selanjutnya bisa memperparah gangguan makan.

Ibu Hamil dan Menyusui

Perempuan yang sedang hamil atau menyusui memiliki kebutuhan energi dan nutrisi yang lebih tinggi dari biasanya untuk mendukung pertumbuhan bayi dan produksi ASI.

Karbohidrat merupakan sumber kalori penting selama kehamilan, membantu pertumbuhan janin dan mencegah bayi lahir dengan berat rendah jika asupannya mencukupi.

Asupan karbohidrat yang terlalu rendah bisa menyebabkan energi tidak mencukupi, kekurangan mikronutrien, atau bahkan berkurangnya produksi ASI. Kementerian Kesehatan pun tetap menganjurkan karbohidrat sebagai bagian penting dari pola makan sehat.

Perempuan dengan Aktivitas Fisik Tinggi

Perempuan yang rutin berolahraga atau memiliki aktivitas fisik berat setiap harinya pasti membutuhkan lebih banyak karbohidrat sebagai sumber energi. Pengurangan drastis karbohidrat seperti diet tanpa nasi dapat membuat tubuh cepat lemas dan menurunkan performa.

Alih-alih menghilangkan nasi atau sumber karbo, perempuan dengan aktivitas fisik tinggi lebih disarankan untuk menjalankan diet seimbang dan menyesuaikan asupan karbohidratnya berdasarkan tingkat aktivitas, bukan sekadar menghapusnya dari menu.

Sebagai catatan, sebelum mencoba diet tanpa nasi atau pola makan rendah karbohidrat yang ekstrem, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi.

Mereka bisa membantu menilai kebutuhan nutrisi pribadi berdasarkan kesehatan, gaya hidup, dan tujuan kesehatan, sehingga risiko efek samping atau kekurangan nutrisi bisa diminimalkan.

Rekomendasi Produk Pendukung Diet Seimbang

Kreasi Sarapan Oatmeal

Ilustrasi Oatmeal untuk Diet. (FOTO/iStockphoto)

Jika tertarik menjalani diet, baik untuk menurunkan berat badan maupun meningkatkan kesehatan secara keseluruhan, terdapat beberapa produk yang layak dipertimbangkan untuk mendukung proses diet seimbang, berikut beberapa di antaranya:

1. Tropicana Slim Beras Merah Organik

Produk beras merah ini bisa dijadikan pengganti nasi putih yang lebih sehat. Produk dari Tropicana Slim ini ditanam secara organik dan diproses dengan standar higienis tanpa bahan sintetis sehingga kualitas nutrisinya tetap terjaga.

Sebagai karbohidrat kompleks, beras merah kaya akan vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh, membantu rasa kenyang bertahan lebih lama, mendukung kesehatan pencernaan, serta cocok untuk program diet.

Selain itu, nilai indeks glikemiknya yang lebih rendah membuat beras merah lebih ramah bagi pengendalian gula darah, termasuk bagi penderita diabetes atau mereka yang ingin menjaga kadar gula tetap stabil. Produk ini bisa dibeli di harga sekitar Rp45.000–Rp50.000 (1 kg).

2. Greenara Natural Rolled Oat Australia

Produk ini menjadi pilihan sarapan sehat yang praktis untuk gaya hidup lebih baik. Terbuat dari 100% gandum utuh asal Australia dan diproses secara minimal, rolled oats ini mempertahankan nutrisi alaminya tanpa tambahan pengawet, pewarna, perasa, maupun pemanis buatan.

Kandungan serat beta glucan yang tinggi, ditambah karbohidrat kompleks, protein nabati, vitamin B, magnesium, dan zat besi, menjadikannya makanan yang mengenyangkan, membantu menjaga kesehatan jantung, serta mendukung kontrol gula darah dan kolesterol.

Oats ini aman dikonsumsi seluruh keluarga, bersertifikat halal, dan fleksibel untuk diolah menjadi berbagai menu, mulai dari oatmeal hangat, overnight oats, granola, smoothie bowl, hingga aneka baking. Produk ini bisa dibeli di harga sekitar Rp35.000–Rp40.000 (1 kg).

3. Greenara Quinoa Putih

Greenara White Quinoa merupakan pilihan pangan bernutrisi tinggi yang dapat digunakan sebagai alternatif nasi atau pasta. Quinoa sendiri dikenal sebagai superfood karena kandungan gizinya yang lengkap.

Kombinasi makronutrisi yang seimbang membuat quinoa bermanfaat untuk membantu mengelola berat badan, melancarkan pencernaan, menjaga kestabilan gula darah, hingga menurunkan risiko penyakit kardiovaskular.

Selain bernutrisi, quinoa juga mudah dicerna, bebas gluten, dan praktis dimasak layaknya nasi. Produk ini bisa didapatkan dengan harga sekitar Rp110.000 (1 kg).

4. Fitbar Multigrain Cheese Delight

Fitbar Multigrain Cheese Delight merupakan camilan praktis yang dirancang untuk mendukung gaya hidup aktif dengan rasa yang tetap nikmat.

Terbuat dari kombinasi multigrain seperti oat Australia, corn flakes, dan rice crispy, snack ini menawarkan tekstur renyah dengan sentuhan rasa keju dan cokelat yang menggoda. Kandungan serat dari bahan gandum membantu melengkapi kebutuhan serat harian.

Sementara itu, formulanya dibuat dengan kalori yang relatif ringan, sekitar 90 kalori per bar, serta lebih rendah lemak dan gula dibandingkan camilan manis pada umumnya. Snack ini bisa dibeli di harga sekitar Rp27.000–Rp30.000 (5 x 20 gram).

5. SOYJOY Snack Bar Kedelai Almond Chocolate

SOYJOY merupakan snack bar berbahan dasar kedelai yang hadir sebagai pilihan camilan bernutrisi dengan keunikan utama pada penggunaan kedelai utuh sebagai sumber gizi.

Tersedia dalam berbagai varian rasa, termasuk almond chocolate, SOYJOY memadukan kebaikan kedelai dengan buah-buahan serta kacang berkualitas.

Kandungan serat dan protein dari kedelai menjadikannya camilan yang mengenyangkan dan mendukung kebutuhan energi harian. SOYJOY bisa dibeli di harga sekitar Rp10.000–Rp11.000 (30 gram).

Demikian penjelasan terkait diet tanpa nasi, termasuk beberapa rekomendasi produk pendukung diet seimbang.

Sebelum menjalani diet, pastikan untuk selalu berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi demi mendapatkan hasil optimal sekaligus agar kesehatan tubuh tetap terjaga dalam jangka panjang.

Temukan informasi menarik lainnya seputar diet dan kesehatan tubuh melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:

Kumpulan Artikel tentang Diet

Baca juga artikel terkait DIET atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - GWS
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani