tirto.id - Ada mitos atau miskonsepsi yang selama ini diyakini oleh sebagian masyarakat Indonesia mengenai diabetes melitus atau kencing manis. Banyak yang membedakan penyakit metabolik ini menjadi dua jenis, yakni "diabetes basah" dan "diabetes kering". Apa benar begitu atau salah kaprah?
Penggolongan jenis tersebut didasarkan terkait kondisi luka yang terjadi pada tubuh penderita diabetes. Istilah “diabetes kering” merujuk pada jenis kondisi ketika belum ditemukan luka terbuka yang parah pada penderita diabetes.
Adapun “diabetes basah” dimaknai ketika terdapat luka yang sulit sembuh, berair, bahkan sampai membusuk.
Yang menjadi pertanyaan, apakah benar penyebutan istilah "diabetes kering" dan "diabetes basah" tersebut? Kita akan ulas dari sisi sains dan medis dalam artikel ini.
Mitos Diabetes Kering dan Basah, Begini Fakta Medisnya
Sebenarnya, “diabetes kering” dan “diabetes basah” hanya merupakan istilah yang jamak digunakan masyarakat Indonesia. Secara medis, klasifikasi penyakit diabetes bukanlah demikian.
"Diabetes basah" biasanya digunakan untuk menyebut kondisi penderita kencing manis yang memiliki luka borok atau bernanah dan sulit sembuh akibat infeksi bakteri.
Sementara "diabetes kering" menjadi istilah umum untuk kondisi tanpa luka terbuka atau luka kecil yang cepat mengering dan menghitam (nekrosis).
Sebagian orang awam meyakini, penderita "diabetes kering" tidak bisa berubah menjadi "diabetes basah". Faktanya, semua pasien diabetes berisiko mengalami luka yang sulit sembuh atau susah kering jika gula darah tidak terkontrol dengan baik.
Pasien diabetes memang rentan mengalami luka infeksi lantaran menurunnya kekebalan tubuh dan gula darah yang sering tidak terkontrol. Jika berlarut-larut, kondisi ini bisa menyebabkan terjadinya neuropati perifer atau kerusakan sistem saraf tepi.
Kerusakan sistem saraf tepi berpotensi memicu gejala seperti kesemutan dan mati rasa (kebas), terutama pada tangan dan kaki, terkadang disertai nyeri seperti terbakar, atau mengalami kelemahan otot.
Melansir laman Harvard Health Publishing, lantaran kebas atau mati rasa, penderita diabates terkadang tidak merasakan apa pun saat terjadi iritasi atau luka pada kaki, semisal ketika tidak sengaja menginjak kerikil tajam, terkena pecahan kaca, maupun penyebab lainnya.
Luka yang tidak terasa itu kemudian membentuk borok yang terjadi karena matinya jaringan tubuh akibat kekurangan suplai darah atau terinfeksi bakteri. Jaringan tubuh yang mati itu membuat kulit atau luka berubah warna menjadi hitam atau terlihat bengkak, mengelupas, bahkan melepuh.

Sirkulasi darah yang buruk bisa menyebabkan penyembuhan luka menjadi lambat. Jika tidak segera ditangani, luka kecil bisa membesar dan terinfeksi. Kondisi ini sangat berbahaya jika tidak segera ditangani. Penderita diabetes bisa terkena risiko amputasi hingga kematian.
Kadar gula dalam darah yang sering tidak terkontrol juga bisa menyebabkan rusaknya pembuluh darah di seluruh tubuh. Akibatnya, aliran darah pun terputus. Kulit seseorang yang mengalami kondisi ini biasanya akan terlihat kering, keriput, serta mengalami perubahan warna, baik menjadi hitam, cokelat, maupun ungu.
Jenis Diabetes Melitus: Tipe 1 dan Tipe 2
Istilah "diabetes kering" dan "diabetes basah" adalah miskonsepsi. Dalam medis, ada 2 jenis diabetes melitus yang paling umum, yakni diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2, meskipun ada beberapa jenis lainnya yang lebih khusus seperti diabetes gestasional pada ibu hamil atau diabetes tipe lain yang terbilang langka.
Lantas, apa bedanya diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2? Apakah maksudnya sama dengan "diabetes kering" dan "diabetes basah"? Ternyata bukan.
Apa Itu Diabetes Tipe 1?
Diabetes tipe 1 adalah kondisi di mana tubuh sudah tidak bisa memproduksi hormon insulin sama sekali. Ini disebabkan oleh penyakit autoimun yang membuat sistem kekebalan tubuh justru merusak sel-sel penghasil insulin di pankreas.Tanpa insulin, zat gula (glukosa) dari makanan yang masuk ke pembuluh darah tidak bisa disalurkan ke dalam sel-sel tubuh untuk diubah menjadi energi. Akibatnya, gula menumpuk di dalam aliran darah dan memicu masalah kesehatan yang serius.
Diabetes tipe 1 biasanya terjadi sejak usia anak-anak, remaja, atau dewasa muda, dan membutuhkan terapi pengganti insulin seumur hidup karena kerusakan yang dialami pankreas sudah bersifat permanen.

Samar A. Antar dan kawan-kawan dalam riset bertajuk “Diabetes Mellitus: Classification, Mediators, and Complications; A Gate to Identify Potential Targets for the Development of New Effective Treatments” (2023) menyebutkan, diabetes tipe 1 bisa dideteksi sebelum kondisi abnormal ini terjadi, setidaknya 2 tahun sebelum diagnosis.
Pada fase awal setelah diagnosis, penurunan proses pelepasan (sekresi) hormon insulin oleh pankreas mengalami peningkatan. Kemudian, dalam beberapa tahun pertama setelah diagnosis, penurunan sekresi insulin semakin terlihat dengan tahun pertama lebih tinggi daripada tahun kedua.
Setelahnya, penurunan sekresi insulin bisa berlanjut terjadi selama bertahun-tahun. Pada akhirnya, pankreas hanya bisa menghasilkan sedikit insulin atau bahkan tidak ada produksi insulin sama sekali.

Apa Itu Diabetes Tipe 2?
Dibandingkan dengan diabetes tipe 1, diabetes tipe 2 lebih banyak terjadi. Orang normal atau tanpa punya penyakit autoimun berpotensi mengalami diabetes tipe 2 akibat gaya hidup tidak sehat yang berlangsung selama bertahun-tahun.Diabetes tipe 2 terjadi ketika sel-sel tubuh menjadi kurang responsif terhadap upaya insulin untuk mendorong zat gula dari makanan/minuman ke dalam sel-sel tubuh. Kondisi ini disebut resistensi insulin yang mengakibatkan glukosa mulai menumpuk di dalam darah.
Pankreas sebagai organ penghasil insulin mulanya mendeteksi adanya peningkatan kadar gula dalam darah sehingga memproduksi insulin lebih untuk mencoba memasukkan glukosa ke dalam sel. Awalnya ini berhasil, tapi seiring waktu, resistensi insulin semakin memburuk.
Resistensi insulin bisa memburuk disebabkan karena gaya hidup sehat, termasuk pola makan dan jarang bergerak (olahraga), yang berlangsung lama. Prankeas yang selama bertahun-tahun dipaksa memproduksi insulin terlalu banyak lama-lama kelelahan, dan pada akhirnya mengalami kerusakan.
Diabetes tipe 2 jauh lebih umum ditemui daripada tipe 1. Biasanya, tipe ini hampir selalu dimulai pada usia dewasa pertengahan atau akhir. Namun, belakangan ini semakin banyak anak-anak dan remaja yang juga terkena diabetes tipe 2 karena asupan makanan/minuman instan atau kemasan yang berlebihan.
Metode Pengobatan Diabetes Tipe 1 dan Tipe 2
Pengobatan diabetes untuk tiap tipe diabetes berbeda-beda karena penyebab dan kondisinya pun berbeda. Pada pasien diabetes tipe 1, pengobatan dilakukan dengan terapi pengganti insulin seumur hidup.
Penyebab utama diabetes tipe 1 adalah kurangnya atau tidak adanya produksi insulin dari pankreas. Menurut artikel Diabetes di laman National Library of Medicine, pemberian pengganti insulin dilakukan melalui suntikan harian, atau dengan pompa insulin, merupakan pengobatan utama.

Sementara itu, pada pasien diabetes tipe 2, pengobatannya dapat dilakukan melalui diet dan olahraga, yang berpotensi efektif jika masih terjadi pada tahap awal.
Diet sehat untuk penderita diabetes tipe 2 adalah diet rendah kalori total, bebas lemak trans, dan seimbang secara nutrisi, dengan banyak biji-bijian utuh, buah-buahan tertentu dan sayuran, serta lemak tak jenuh tunggal.
Artinya, penderita diabetes tipe 2 semestinya mengurangi atau membatasi makanan/minuman yang bisa memicu lonjakan gula darah, seperti karbohidrat sederhana dan gula, termasuk makanan atau minuman instan dalam kemasan.

Orang dengan diabetes tipe 2 juga disarankan untuk memperbanyak gerak, terutama 1 atau 2 jam setelah makan. Olahraga ringan kardio seperti jalan kaki, joging, lari pelan, bersepeda, atau berenang sebaiknya rutin dilakukan setidaknya 30 menit setiap hari.
Selain itu, penderita diabetes tipe 2 sebaiknya juga melakukan latihan beban untuk memperkuat otot. Angkat mini barbel (dumbbell) secara rutin menjadi salah satu opsi yang relatif ringan untuk dilakukan.
Mengapa orang dengan diabetes tipe 2 harus banyak gerak dan melatih otot? Dengan bergerak atau olahraga, zat gula yang berasal dari makanan/minuman akan langsung disalurkan menjadi energi dan tidak menumpuk di dalam darah.
Adapun melatih otot dengan latihan beban penting untuk penderita diabetes karena otot bertindak sebagai penyimpan utama zat gula dan membantu tubuh merespons insulin secara jauh lebih efektif.

Di samping itu, sebagian besar penderita diabetes tipe 2 juga membutuhkan terapi obat untuk mengontrol kadar gula darah.
Adapun obat-obatan yang dikonsumsi penderita diabetes tipe 2 meliputi obat oral dan injeksi pengganti insulin, tergantung sejauh mana kondisi yang dialami. Obat-obatan tersebut bekerja dengan berbagai cara, termasuk dalam perannya sebagai berikut:
- Mengurangi resistensi insulin.
- Meningkatkan jumlah insulin yang diproduksi dan dilepaskan oleh pankreas.
- Memberikan insulin tambahan.
- Menyebabkan lonjakan pelepasan insulin setiap kali makan.
- Menunda penyerapan gula dari usus.
- Memperlambat pencernaan.
- Mengurangi nafsu makan untuk makan dalam porsi besar.
- Menurunkan konversi lemak menjadi glukosa.
Kombinasi metode tersebut penting dilakukan agar kadar gula darah selalu terkendali dan tidak menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan di kemudian hari, terutama memicu kondisi-kondisi lain yang bisa menyebabkan komplikasi.
Penulis: Umu Hana Amini
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id

































