tirto.id - Isu bahwa memakai emas bisa menyebabkan kanker sempat membuat banyak orang waswas. Gara-gara isu tersebut, tak sedikit orang yang mulai meninggalkan perhiasan dari logam mulia ini. Namun, benarkan emas memicu kanker?
Sebagian dari kita mungkin pernah menonton video yang memperlihatkan potongan jaringan kanker yang tampak “hidup”. Jaringan kanker tersebut terlihat menjauh ketika diberi bawang putih dan bergerak mendekat pada perhiasan emas.
Video yang pernah viral beberapa tahun lalu itu dijadikan dasar narasi bahwa emas bisa memicu kanker. Video ini pun sudah dinyatakan sebagai hoax oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Sel apa pun yang keluar dari tubuh manusia, termasuk jaringan kanker, tidak mungkin “hidup” dan bergerak-gerak cepat seperti di dalam video.
Meski sudah dinyatakan hoax, pertanyaan tentang benarkah emas memicu kanker masih sering muncul di masyarakat. Lantas, bagaimana faktanya dari kacamata sains?
Benarkah Emas Memicu Kanker?

Saat menggunakan perhiasan logam mulia, tak sedikit yang takut bahwa kandungan emas bisa larut dan menembus kulit, kemudian masuk ke dalam tubuh dan memicu penyakit seperti kanker. Ini adalah anggapan yang keliru dan isu tentang emas yang bisa memicu kanker hanyalah mitos.
Hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa memakai perhiasan emas dapat memicu kanker. Melalui kanal YouTube Doctor Indra’s Note, dr. Indra Permana MD menjelaskan bahwa kanker terjadi ketika ada perubahan atau mutasi genetik pada sel tubuh.
Mutasi ini menyebabkan sel membelah secara tidak terkendali. Proses ini dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang kompleks, tapi tidak ada yang berkaitan dengan emas.
“Tidak ada mekanisme ilmiah yang diketahui yang menunjukkan bahwa cincin emas di jari atau kalung emas di leher dapat merangsang proses-proses (perkembangan sel kanker) tersebut,” kata dr. Indra Permana MD dalam videonya yang bertajuk Pasien Kanker Jangan Pakai Perhiasan Emas.
Penjelasan dari dr. Indra Permana ini pun sudah bisa menjawab pertanyaan benarkah emas memicu kanker, dan jawabannya adalah tidak benar.
Partikel Emas Tidak Mudah Masuk ke Dalam Tubuh

Pernyataan dr. indra permana MD tentang emas juga diperkuat oleh pendapat Guru Besar FMIPA UI, Prof. Dr. rer. nat. Agustino Zulys, M.Sc. Beliau menjelaskan adanya mitos larangan memakai emas di masyarakat, bahkan dikait-kaitkan dengan nilai agama (laki-laki muslim dilarang memakai emas).
Anggapan yang beredar adalah bahwa partikel emas bisa masuk ke dalam pembuluh darah melalui kulit sehingga menjadi racun yang menyebabkan penyakit.
Ada pula narasi yang menyebutkan bahwa hal ini aman bagi wanita berkat adanya menstruasi, tapi berbahaya bagi laki-laki yang tidak haid. Terkait hal ini, Prof. Zulys membantahnya dan menegaskan bahwa emas adalah logam yang tak mudah larut, bahkan oleh asam kuat sekalipun.
“Emas merupakan material yang sangat stabil. Dia tidak mudah larut dengan asam sulfat, asam nitrat, asam klorida, walaupun dia adalah asam yang kuat,” kata Prof. Zulys melalui akun TikTok pribadinya (@prof.zulys).
“Apalagi keringat kita adalah asam lemah, asam laktat, tidak mungkin emas bisa larut,” lanjutnya. “Kalau seandainya emas larut, dia (emas) tidak akan berharga nilainya.”
Penelitian tentang Emas dan Risiko Kesehatan

Beberapa studi ilmiah diketahui pernah mengaitkan emas dengan risiko kesehatan. Salah satunya jurnal bertajuk GOLD: Human Exposure and Update on Toxic Risks yang dipublikasikan pada tahun 2018.
Jurnal ini mengevaluasi seluruh bukti ilmiah mengenai bagaimana manusia terpapar emas, potensi efek kesehatannya, serta risiko toksisitas dari berbagai bentuk paparan emas.
Paparan emas yang dimaksud tidak hanya dari perhiasan, tapi juga alat kedokteran gigi dan implan medis. Berdasarkan bukti yang dirangkum, risiko kesehatan akibat paparan emas sehari-hari tergolong rendah, termasuk dari penggunaan perhiasan.
Jurnal ini juga menegaskan bahwa risiko kesehatan yang lebih besar justru ditemukan pada lingkungan kerja pertambangan/pengolahan bijih emas. Risiko kesehatannya pun lebih disebabkan oleh paparan bahan berbahaya lain seperti merkuri dan arsenik yang terbukti karsinogenik.
Studi ini juga menyebutkan bahwa reaksi negatif yang paling sering terjadi ketika memakai perhiasan emas adalah alergi kontak. Masalah klinis yang lebih serius juga bisa terjadi akibat adanya logam campuran di dalamnya (seperti nikel, kromium, atau tembaga pada emas putih).
Manfaat Emas di Bidang Medis

Mitos tentang benarkah emas memicu kanker sudah terbantahkan. Fakta menariknya adalah emas justru memiliki potensi untuk mendukung pengobatan di bidang medis. Tentunya bukan dalam bentuk perhiasan, tapi berupa nanopartikel emas (gold nanoparticles/GNPs).
Menurut dr. Indra Permana, emas pernah digunakan dalam pengobatan penyakit tertentu, bahkan punya potensi untuk menjadi penghantar obat anti kanker.
“Beberapa senyawa emas pernah digunakan dalam pengobatan penyakit autoimun tertentu seperti rheumatoid arthritis. Dalam bidang penelitian kanker modern, nanopartikel emas sedang diteliti sebagai media penghantar obat dan teknologi diagnostik karena sifat fisiknya yang unik,” katanya.
Hal yang sama juga diungkap dalam jurnal bertajuk Metals and Breast Cancer: Risk Factors or Healing Agents? yang mengeksplorasi pengaruh beberapa senyawa logam (termasuk emas) dalam kesehatan manusia, khususnya kanker payudara.
Peneliti menjelaskan bahwa nanopartikel emas berpotensi menjadi penghantar obat anti kanker. Nanopartikel emas bisa masuk ke dalam sel kanker payudara dan meningkatkan sensitivitas sel kanker terhadap obat kemoterapi bleomycin sehingga efektivitas pengobatan menjadi lebih baik.
Jurnal ini juga memuat manfaat lain dari emas, mulai dari perannya dalam terapi fototermal untuk mengobati kanker hingga potensi nanopartikel emas untuk meningkatkan akurasi diagnosis kanker.
Dengan kata lain, emas tidak memicu kanker, melainkan punya potensi besar untuk menyembuhkan kanker walau sampai saat ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Apa Saja yang Memicu Kanker?

Kanker terjadi ketika sel normal mengalami perubahan secara bertahap hingga berkembang menjadi sel tumor ganas. Proses ini dipengaruhi oleh interaksi antara faktor genetik dan berbagai faktor dari luar tubuh, mulai dari gaya hidup dan pola makan tak sehat, paparan sinar UV, hingga infeksi virus.
Menurut World Health Organization (WHO), faktor eksternal yang dapat memicu kanker meliputi:
- Karsinogen fisik: Radiasi ultraviolet (UV) dan radiasi pengion
- Karsinogen kimia: Asbes, zat dalam asap rokok, alkohol, aflatoksin pada makanan, serta arsenik dalam air minum.
- Karsinogen biologis: Infeksi virus, bakteri, atau parasit tertentu.
Selain itu, kemampuan tubuh untuk memperbaiki kerusakan DNA dan mempertahankan fungsi normal sel cenderung menurun seiring proses penuaan. Kedua faktor ini pada akhirnya membuat peluang terbentuknya sel kanker menjadi lebih besar.
Demikian penjelasan terkait mitos benarkah emas memicu kanker serta fakta-fakta ilmiahnya. Berdasarkan bukti yang ada hingga saat ini, tidak ada penelitian yang membuktikan bahwa memakai perhiasan emas bisa meningkatkan risiko kanker.
Risiko kanker justru meningkat karena faktor lain seperti pola makan dengan gizi yang tak seimbang, gaya hidup tidak sehat, paparan sinar UV, hingga infeksi virus dan bakteri.
Jadi, masyarakat tidak perlu khawatir lagi saat memakai perhiasan emas. Jangan lupa juga untuk selalu menjaga kesehatan dengan makan makanan bergizi, olahraga, dan menghindari berbagai pemicu kanker lainnya.
Tertarik dengan info menarik lain seputar dunia kesehatan? Temukan berbagai tips, rekomendasi produk pilihan, hingga berita terkini melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id
































