Menuju konten utama

Benarkah Mencabut Bulu Ketiak Bisa Menyebabkan Kanker?

Mencabut bulu ketiak bisa menyebabkan kanker? Simak faktanya di sini, termasuk apa saja risiko mencabut bulu ketiak, dan bagaimana cara mencukur yang aman.

Benarkah Mencabut Bulu Ketiak Bisa Menyebabkan Kanker?
Ilustrasi ketiak dan risiko kanker. FOTO/Istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Mencabut bulu ketiak sering dilakukan dengan berbagai alasan, mulai dari menjaga kebersihan, meningkatkan rasa percaya diri, hingga alasan estetika. Namun, ada anggapan bahwa mencabut bulu ketiak bisa membahayakan kesehatan dan menyebabkan kanker. Benarkah demikian?

Ada beberapa alasan mengapa anggapan ini muncul dan dipercaya secara luas oleh masyarakat. Salah satunya adalah bahwa mencabut atau mencukur bulu ketiak dapat membuka pori-pori dan melukai kulit.

Hal ini diyakini mempermudah masuknya bakteri, kotoran, maupun zat kimia (misalnya dari deodoran atau antiperspiran) ke dalam tubuh. Selain itu, letak letak ketiak juga sangat dekat dengan payudara dan kelenjar getah bening (limfa).

Hal ini membuat banyak orang mengira bahwa mencabut bulu ketiak dapat merusak kelenjar getah bening sehingga memicu pertumbuhan sel kanker. Namun, apakah anggapan ini benar atau hanya mitos belaka?

Benarkah Mencabut Bulu Ketiak Bisa Menyebabkan Kanker?

Ilustrasi Kesadaran Kanker Payudara

Ilustrasi Kanker Payudara. FOTO/iStockphoto

Mengutip dari American Cancer Society (ACS), tidak ada bukti ilmiah atau penelitian epidemiologi yang kuat yang menghubungkan antara kanker dengan kebiasaan membersihkan bulu ketiak, termasuk mencabut atau mencukurnya.

Perawatan ketiak seperti mencukur, menggunakan antiperspiran, dan memakai deodoran tidak berkaitan dengan peningkatan risiko kanker payudara.

Bahkan, ada sebuah studi kasus-kontrol berskala besar yang melibatkan sekitar 800 perempuan penderita kanker payudara. Studi ini juga tidak menemukan hubungan antara risiko kanker dengan penggunaan deodoran, antiperspiran, maupun kebiasaan mencukur ketiak.

Jadi, anggapan tentang mencabut bulu ketiak bisa menyebabkan kanker hanyalah sebuah mitos yang tidak ada dasar ilmiahnya.

Risiko Mencabut Bulu Ketiak

Tren menumbuhkan bulu ketiak

Ilustrasi bulu ketiak. Getty Images/iStockphoto

Mencabut bulu ketiak memang tidak terbukti menyebabkan kanker, tapi bukan berarti tanpa risiko. Risiko tersebut umumnya berkaitan dengan kesehatan kulit dan folikel rambut, berikut beberapa di antaranya:

1. Iritasi dan Kemerahan pada Kulit

Mencabut bulu dapat menimbulkan trauma ringan pada kulit. Akibatnya, area ketiak bisa mengalami kemerahan, rasa perih, atau sensasi panas selama beberapa saat. Risiko iritasi akan lebih tinggi pada pemilik kulit sensitif atau jika proses pencabutan dilakukan secara kasar.

2. Folikulitis (Radang Folikel Rambut)

Situs American Academy of Dermatology (AAD) menyebutkan bahwa salah satu risiko yang paling umum dari mencabut bulu ketiak adalah folikulitis, yaitu peradangan pada folikel rambut.

Kondisi ini terjadi ketika folikel mengalami iritasi atau terinfeksi bakteri setelah bulu dicabut. Gejalanya berupa benjolan kecil berwarna merah atau putih yang menyerupai jerawat, terkadang disertai rasa nyeri atau gatal.

Menjaga kebersihan alat dan kulit sebelum serta sesudah mencabut bulu dapat membantu menurunkan risiko folikulitis.

3. Rambut Tumbuh ke Dalam (Ingrown Hair)

Mencabut bulu ketiak juga berpotensi menyebabkan rambut baru tumbuh ke arah dalam kulit (ingrown hair) dan menimbulkan benjolan kecil. Kondisi ini sebenarnya tidak membahayakan kesehatan sebagaimana kanker, tapi bisa menimbulkan rasa gatal, nyeri, atau tidak nyaman.

Menurut Mayo Clinic, ingrown hair juga dapat menimbulkan komplikasi, seperti infeksi bakteri (akibat kebiasaan menggaruk area yang terkena). Selain itu, kondisi ini juga bisa menyebabkan peradangan yang meninggalkan hiperpigmentasi (post-inflammatory hyperpigmentation).

4. Infeksi Kulit

Kulit yang mengalami luka mikro setelah proses pencabutan menjadi lebih rentan dimasuki bakteri. Jika alat yang digunakan tidak steril atau tangan dalam keadaan kotor, risiko infeksi kulit dapat meningkat.

Infeksi biasanya ditandai dengan kemerahan yang semakin luas, bengkak, nyeri, hingga keluarnya nanah. Oleh karena itu, pastikan pinset atau alat pencabut selalu dibersihkan sebelum digunakan.

5. Hiperpigmentasi atau Kulit Ketiak Menggelap

Dikutip dari jurnal Histological Evaluation of Hyperpigmentation on Female Filipino Axillary Skin, mencabut bulu ketiak dapat menjadi salah satu faktor yang memicu kulit ketiak tampak lebih gelap.

Hal ini terjadi karena proses mencabut bulu menyebabkan trauma pada kulit sehingga memicu respons alami tubuh berupa peradangan ringan di sekitar folikel rambut. Akibatnya, pigmen melanin di kulit meningkat.

Penelitian pun menyimpulkan bahwa kulit ketiak yang menggelap setelah sering mencabut bulu merupakan hiperpigmentasi pascaperadangan (post-inflammatory hyperpigmentation/PIH) akibat iritasi ringan yang terjadi secara berulang.

Cara Aman Mencukur Bulu Ketiak

Ilustrasi Waxing

Ilustrasi Mencukur Bulu Ketiak. foto/IStockphoto

Mencukur merupakan salah satu cara paling praktis untuk menghilangkan bulu ketiak, tapi harus dilakukan dengan cara yang tepat untuk meminimalkan risiko iritasi. Mengutip dari laman Healthline, berikut beberapa tips yang dapat dilakukan agar proses mencukur lebih nyaman dan aman:

1. Bersihkan dan Eksfoliasi Kulit Terlebih Dahulu

Sebelum mencukur, bersihkan area ketiak menggunakan sabun, lalu lakukan eksfoliasi ringan dengan loofah atau body scrub. Langkah ini membantu mengangkat sel kulit mati, sisa deodoran, minyak, dan kotoran yang dapat menyumbat pisau cukur.

Selain itu, kulit yang bersih dapat membantu mengurangi risiko infeksi atau masuknya bakteri ke dalam luka kecil yang mungkin muncul saat bercukur.

2. Basahi Kulit Sebelum Mencukur

Pastikan kulit dan bulu ketiak dalam keadaan basah sebelum mulai mencukur. Air dapat membantu melembapkan sekaligus melembutkan rambut dan kulit sehingga pisau cukur lebih mudah meluncur.

3. Tarik Kulit dan Cukur dengan Gerakan Pendek

Angkat lengan, lalu tarik kulit ketiak hingga permukaannya lebih rata. Selanjutnya, cukur menggunakan gerakan pendek dari berbagai arah, seperti ke atas, ke bawah, dan ke samping agar seluruh rambut terangkat dengan lebih merata.

Hindari menggosok pisau cukur berulang kali di area yang sama karena dapat memicu iritasi maupun luka kecil.

4. Bilas Pisau Cukur di Setiap Sapuan

Setelah beberapa kali menggeser pisau cukur, bilas bilahnya dengan air mengalir untuk menghilangkan rambut dan sisa krim cukur yang menempel. Jangan membersihkan bilah menggunakan jari karena berisiko terluka. Pisau yang bersih akan menghasilkan cukuran yang lebih rapi.

5. Gunakan Pelembap Setelah Selesai Mencukur

Setelah selesai, keringkan area ketiak dengan handuk bersih secara perlahan, lalu oleskan pelembap yang menenangkan kulit, seperti gel lidah buaya. Pelembap membantu mengurangi kemerahan sekaligus menjaga kelembapan kulit ketiak.

6. Jangan Langsung Menggunakan Deodoran

Sebaiknya hindari menggunakan deodoran tepat setelah bercukur. Kulit yang baru dicukur cenderung lebih sensitif sehingga kandungan alkohol atau bahan aktif dalam deodoran dapat menimbulkan rasa perih dan iritasi. Tunggu beberapa saat hingga kulit kembali tenang sebelum menggunakan deodoran.

Itulah penjelasan terkait mitos yang mengatakan bahwa mencabut bulu ketiak menyebabkan kanker. Meski tidak ada bukti ilmiah yang mengaitkan keduanya, mencabut maupun mencukur bulu ketiak tetap harus dilakukan dengan tepat untuk meminimalkan berbagai risiko seperti iritasi dan peradangan.

Tertarik dengan info menarik lain seputar dunia kesehatan? Temukan berbagai tips, rekomendasi produk pilihan, hingga berita terkini melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:

Kumpulan Artikel Kesehatan

Baca juga artikel terkait KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - GWS
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani