Menuju konten utama

Penyebab Banjir Faktor Manusia & Pengaruhnya Terhadap Kehidupan

Pelajari tentang penyebab banjir faktor manusia, mulai dari aktivitas pemicu banjir, dampaknya bagi lingkungan dan kehidupan, hingga langkah pencegahannya.

Penyebab Banjir Faktor Manusia & Pengaruhnya Terhadap Kehidupan
Ilustrasi Banjir. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Penyebab banjir faktor manusia menjadi salah satu pemicu bencana hidrometeorologi di Indonesia. Hal ini penting untuk diketahui oleh masyarakat luas agar pencegahan bencana banjir bisa dilakukan lebih cepat dan dengan cara yang tepat.

Indonesia termasuk negara yang kerap dilanda banjir, bahkan bencana ini datang hampir setiap tahun, baik itu banjir karena luapan air sungai, banjir rob, hingga banjir bandang yang destruktif dan berbahaya.

Dampak banjir sendiri bisa sangat signifikan dan memengaruhi lingkungan maupun kehidupan manusia secara keseluruhan. Bencana ini sering menyebabkan kerusakan rumah, infrastruktur, dan bahkan menelan korban jiwa, serta memaksa banyak orang mengungsi sementara.

Di sisi lain, masih banyak orang yang beranggapan bahwa penyebab utama banjir adalah curah hujan yang tinggi. Meski tidak sepenuhnya salah, masyarakat wajib menyadari bahwa aktivitas manusia sehari-hari juga bisa secara signifikan meningkatkan risiko banjir.

Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk mengenali penyebab bencana banjir, terutama yang disebabkan faktor manusia, sehingga bencana ini bisa dicegah dan tidak terulang di masa mendatang.

Penyebab Banjir Faktor Manusia

Dampak banjir bandang di Sibolangit

Ilustrasi Banjir. ANTARA FOTO/Yudi Manar/agr

Banjir adalah kondisi ketika air, biasanya air hujan atau air luapan sungai, menggenangi daratan, menutupi area permukiman, jalan, atau lahan lain. Fenomena ini dapat datang secara tiba-tiba atau bertahap, dan menjadi salah satu bencana alam yang paling sering terjadi.

Banjir umumnya terjadi ketika jalan/jalur air, baik di tanah, sungai, maupun drainase, terhambat sehingga tidak mampu menampung atau mengalirkannya akibat volume air yang terlalu besar.

Banjir dapat disebabkan oleh faktor alam dan faktor manusia. Faktor alam bisa berupa hujan lebat atau curah hujan tinggi yang terjadi dalam jangka waktu cukup lama. Faktor alam lainnya meliputi topografi atau kejadian pasang air laut yang memang berada di luar kendali manusia.

Namun, pada sebagian kasus banjir, terutama di daerah perkotaan, faktor alam seringkali hanya menjadi pemicu, sementara kerusakan yang ditimbulkan diperparah oleh intervensi manusia.

Penyebab banjir faktor manusia umumnya berkaitan dengan perusakan lingkungan. Aktivitas seperti penebangan hutan, mengubah fungsi lahan, hingga membuang sampah sembarangan dapat menghambat aliran air, merusak keseimbangan lingkungan, dan menyulitkan resapan air hujan ke tanah.

Jadi, meskipun hujan lebat menjadi pemicu bencana banjir yang paling umum, aktivitas manusia yang merusak lingkungan bisa meningkatkan risiko terjadinya banjir dan memperparah dampaknya.

5 Penyebab Banjir oleh Manusia yang Paling Umum

Header Mozaik Banjir dan Longsor di Sumatra

Ilustrasi Banjir. tirto.id/Fuad

Banjir yang disebabkan oleh manusia umumnya terjadi karena adanya perusakan lingkungan, termasuk sistem hidrologi alami yang telah terbentuk, baik di kawasan hulu maupun di wilayah permukiman. Berikut 5 penyebab banjir yang paling umum dan sering dijumpai:

1. Penebangan Hutan secara Liar (Deforestasi)

Penebangan hutan liar dapat mengurangi jumlah pohon yang seharusnya membantu menyerap dan menahan air hujan. Ketika hutan gundul, tanah kehilangan kemampuannya untuk menyerap air hujan sehingga volume air yang langsung menuju sungai atau drainase meningkat secara drastis.

Efeknya, ketika terjadi hujan, lebih banyak air langsung menjadi limpasan permukaan (surface runoff), daripada terserap di tanah. Hal inilah yang kemudian meningkatkan kemungkinan luapan air dan terjadi banjir.

Di negara dengan curah hujan tinggi seperti Indonesia, deforestasi berdampak besar terhadap meningkatnya frekuensi dan intensitas banjir. Hal ini juga dapat membuat kawasan yang sebelumnya relatif aman justru menjadi lebih rentan terhadap bencana ini.

2. Pembuangan Sampah Sembarangan

Salah satu penyebab banjir oleh manusia adalah praktik membuang sampah sembarangan. Tak bisa dipungkiri bahwa masih banyak orang yang menyepelekan sampah dan membuangnya ke selokan atau sungai. Padahal, sampah-sampah tersebut bisa menyumbat aliran air.

Saluran air yang tersumbat membuat air hujan atau limpasan tidak bisa mengalir dengan lancar, sehingga menumpuk dan menyebabkan genangan. Sampah plastik, daun, lumpur, atau material lain yang terbawa hujan bisa mempersempit saluran, bahkan menutupnya secara total.

Kebiasaan pembuangan sampah sembarangan biasanya terjadi di pemukiman padat atau kawasan urban. Ketika sistem pengelolaan sampah dan drainase sangat buruk, maka risiko banjir otomatis akan meningkat.

3. Alih Fungsi Lahan dan Minimnya Daerah Resapan Air

Lahan hijau seperti hutan, kebun, atau tanah terbuka sudah banyak diubah menjadi beton, aspal, jalan, perumahan, atau gedung. Alih fungsi lahan ini membuat kemampuan tanah untuk menyerap air secara alami jadi sangat berkurang.

Permukaan beton atau aspal bersifat kedap air sehingga air hujan lebih banyak mengalir di atasnya daripada meresap ke dalam tanah. Pengurangan daerah resapan air ini turut mempercepat aliran limpasan.

Akibatnya, debit air di sungai atau drainase saat hujan semakin besar, air akan cepat terkumpul, dan berpotensi meluap. Risiko banjir juga akan meningkat ketika perubahan fungsi lahan dilakukan tanpa perencanaan tata ruang yang baik.

4. Sistem Drainase Buruk

Penyebab banjir faktor manusia berikut adalah sistem drainase yang buruk, misalnya saluran air yang terlalu kecil, tersumbat, atau tidak terpelihara dengan baik. Hal ini sering menjadi penyebab utama banjir, terutama di kawasan perkotaan.

Ketika hujan deras terjadi dan drainase tidak mampu mengalirkan air dengan cepat ke sungai atau laut, maka air akan menggenang, lalu meluap ke jalan dan memicu banjir.

Apalagi jika saluran air ini dipadati oleh sampah atau sedimen, kapasitas alirannya makin menurun. Sistem drainase yang buruk ditambah dengan pengelolaan sampah yang tidak benar bisa menjadi kombinasi berbahaya yang menimbulkan bencana.

5. Penambangan Pasir Liar

Penambangan pasir liar biasanya dilakukan secara berlebihan sehingga dapat memperparah risiko banjir. Ketika pasir diambil terus-menerus dari sungai, dasar sungai menjadi semakin dalam dan dinding sungai melemah.

Kerusakan struktural pada sungai ini membuat tebing sungai rentan terhadap erosi dan longsor. Material tanah dan sedimen yang terbawa longsoran dan erosi kemudian menumpuk di bagian sungai yang lain (hilir).

Penumpukan sedimen ini menyebabkan pendangkalan sungai. Sungai yang dangkal memiliki kapasitas tampung yang sangat rendah sehingga kenaikan volume air sedikit saja saat hujan lebat akan langsung memicu luapan air yang besar ke permukiman sekitar.

Daftar Lengkap 10 Penyebab Banjir yang Perlu Diwaspadai

ilustrasi hujan dan perubahan iklim

Ilustrasi Banjir. FOTO/iStockphoto

Selain 5 penyebab banjir yang sudah disebutkan sebelumnya, masih banyak penyebab banjir lain yang perlu diwaspadai. Banjir bisa muncul dari berbagai kombinasi sebab, mulai dari faktor alam hingga akibat ulah manusia. Berikut 10 penyebab banjir yang juga umum terjadi:

1. Curah Hujan Ekstrem

Cuaca ekstrem seperti curah hujan tinggi termasuk faktor alamiah yang sering memicu banjir. Kondisi ini terjadi ketika intensitas hujan sangat tinggi dan terjadi dalam waktu singkat maupun berkepanjangan sehingga air yang turun melebihi kapasitas penyerapan tanah maupun drainase.

Volume air yang jatuh ke daratan meningkat secara signifikan sehingga membuat debit air sungai dan permukaan langsung melonjak. Volume air yang masif ini akan meluber keluar dari sungai atau drainase yang sudah tidak mampu menampungnya.

2. Air Laut Pasang (Banjir Rob)

Banjir rob disebabkan oleh fenomena air laut pasang tinggi yang terjadi di wilayah pesisir atau dataran rendah dekat muara sungai. Kenaikan permukaan air laut ini membuat daratan tergenang meskipun tanpa adanya curah hujan tinggi.

Pasang air laut yang tinggi juga memiliki efek domino yang fatal bagi sungai. Air pasang dapat menghambat atau bahkan menghentikan aliran air sungai menuju laut, menyebabkan air sungai "mundur" dan meluap ke daratan di sekitarnya.

3. Pembangunan di Bantaran Sungai

Ketika manusia membangun rumah, permukiman, maupun infrastruktur lain di tepi sungai tanpa memperhatikan tata ruang yang tepat, hal ini akan mengurangi ruang alami sungai untuk menampung air saat debit air meninggi tinggi.

Ruang sungai yang sempit membuat sungai cepat meluap ketika hujan deras. Pembangunan padat di bantaran sungai seringkali disertai pengurangan vegetasi, hilangnya daerah resapan, serta meningkatnya permukaan kedap air yang semuanya memperburuk risiko banjir.

4. Pendangkalan Sungai

Sedimentasi atau endapan akibat erosi, penebangan, atau aktivitas manusia lain bisa membuat dasar sungai menjadi lebih dangkal. Akibatnya, kapasitas tampung air menurun sehingga sungai lebih mudah meluap saat terjadi hujan deras.

Pendangkalan mengurangi efektivitas sungai sebagai saluran air, alirannya akan melambat, debit air cepat membesar, dan risiko banjir otomatis akan meningkat.

5. Topografi dan Lokasi Dataran Rendah

Mengutip dari laman World Resources Institute (WRI) Indonesia, banjir juga bisa disebabkan faktor topografi. Kemiringan lereng yang terlalu curam bisa menyebabkan banjir bandang. Semakin curam suatu lereng, maka aliran air juga semakin cepat dan membuat daya rusak tinggi.

Sementara itu, daerah dataran rendah atau cekungan alami juga lebih rentan terhadap banjir karena air cenderung mengalir ke tempat terendah. Jika di kawasan tersebut banyak bangunan dan sedikit daerah resapan, air hujan dan limpasan akan menggenang dengan lebih mudah.

Namun, perlu diingat bahwa faktor topografi itu sendiri bukan penyebab aktif, tapi bila dikombinasikan dengan penyebab banjir faktor manusia, termasuk alih fungsi lahan dan penggundulan hutan, maka potensi banjir dapat meningkat signifikan.

6. Kerusakan atau Jebolnya Bendungan/Tanggul

Bendungan merupakan infrastruktur yang dibangun untuk menampung dan mengendalikan aliran air agar dapat dimanfaatkan secara aman. Namun, bendungan atau tanggul ini juga bisa rusak dan jebol sehingga menyebabkan banjir.

Kerusakan bendungan dapat terjadi karena pemeliharaan yang buruk atau tekanan air ekstrem. Akibatnya, terjadi luapan air berjumlah besar secara tiba-tiba yang dapat menyebar dan menggenangi area pemukiman sekitarnya.

7. Banjir Kiriman

Banjir kiriman adalah istilah yang merujuk pada bencana banjir di suatu wilayah akibat luapan air dari daerah lain yang berada di hulu (daerah/dataran lebih tinggi).

Artinya, meskipun wilayah tersebut tidak mengalami hujan lebat, air dari kawasan hulu yang curah hujannya tinggi akan mengalir ke hilir melalui sungai, menyebabkan volume air meningkat secara drastis, dan sungai di kawasan hilir (bawah) meluap.

Kondisi ini biasanya terjadi di daerah yang dilalui aliran sungai besar dan diperparah jika kapasitas sungai tidak mampu menampung debit air. Karena datangnya dari luar wilayah, banjir kiriman sering terjadi mendadak sehingga masyarakat di area terdampak sulit melakukan persiapan.

8. Penurunan Permukaan Tanah (Land Subsidence)

Penurunan permukaan tanah (land subsidence) adalah faktor geologis yang diperparah oleh aktivitas manusia, terutama di kota pesisir. Eksploitasi air tanah berlebihan menyebabkan pori-pori tanah kosong dan ambles.

Proses amblesan ini membuat ketinggian daratan semakin rendah, bahkan bisa berada di bawah permukaan air laut atau sungai terdekat. Wilayah yang ambles menjadi sangat rentan terhadap genangan maupun banjir rob karena air sulit dialirkan keluar.

9. Saluran Air Tersumbat secara Alami

Kadang kala penyebab banjir bukan hanya tindakan manusia, tapi fenomena alam seperti sedimentasi, tumbangnya pohon di sungai, akar pohon yang menghalangi aliran drainase, atau endapan lumpur yang dapat menyumbat selokan.

Ketika saluran air tersumbat, kapasitas aliran air dapat menurun drastis. Akibatnya, air mudah meluap ke pemukiman dan menyebabkan banjir.

10. Pemanasan Global dan Perubahan Iklim

Perubahan iklim global meningkatkan intensitas dan frekuensi hujan ekstrem di banyak tempat, termasuk wilayah tropis seperti Indonesia. Hujan berlebihan dalam waktu singkat atau durasi lama membuat volume air meningkat, sering melebihi kapasitas drainase dan sungai.

Selain itu, perubahan iklim juga berdampak pada naiknya muka air laut yang juga akan meningkatkan risiko banjir rob di kawasan pesisir.

3 Penyebab Banjir Paling Sering Terjadi di Permukiman

ilustrasi hujan dan perubahan iklim

Ilustrasi Banjir. FOTO/iStockphoto

Di area permukiman, terutama di perkotaan atau permukiman padat penduduk, ada beberapa penyebab banjir yang lebih sering terjadi daripada yang lain. Ironisnya, penyebab banjir ini lebih banyak disebabkan oleh ulah manusia, berikut 3 penyebab banjir di permukiman:

1. Masalah Sampah

Masalah sampah adalah penyebab banjir paling sering terjadi di permukiman padat karena berkaitan dengan perilaku warga sehari-hari. Masih banyak warga yang secara sadar membuang sampah langsung ke sungai atau saluran drainase terbuka seperti selokan.

Tindakan ini menyebabkan penyumbatan total pada saluran air kecil dan gorong-gorong. Akibatnya, saat hujan turun, air tidak bisa mengalir dan tertahan di permukaan, menyebabkan genangan parah di jalan-jalan permukiman.

2. Buruknya Saluran Air

Banyak permukiman memiliki sistem drainase yang tidak memadai, baik itu saluran yang kecil, dangkal, tidak terpelihara, atau bahkan tidak ada sama sekali. Kondisi ini membuat air hujan tidak bisa dialirkan dengan cepat ke sungai.

Ketika hujan deras turun atau air limpasan datang dari kawasan lain, saluran air yang buruk menyebabkan air meluap dan menggenang di permukiman tersebut.

Dalam banyak kasus, saluran air juga tersumbat oleh sampah, sedimen, atau kurangnya perawatan sehingga meskipun hujan yang turun tidak terlalu lebat, risiko banjir tetap cukup tinggi.

3. Pembangunan Terlalu Padat

Pembangunan yang terlalu padat tanpa memperhatikan aspek tata ruang dan lingkungan adalah ciri khas permukiman rawan banjir. Kawasan hijau yang seharusnya berfungsi sebagai area resapan diubah menjadi perumahan, bahkan hingga merambah bantaran sungai.

Kepadatan bangunan ini menciptakan area dengan permukaan kedap air yang masif, seperti lantai beton dan jalan beraspal, sehingga air hujan tidak dapat diserap dan berisiko menyebabkan banjir.

Dampak Banjir Terhadap Lingkungan dan Sosial Ekonomi

Banjir di Jakarta

Ilustrasi Banjir. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/tom.

Ketika banjir terjadi, dampaknya tidak hanya bersifat fisik dan sementara, tapi bisa sangat luas, menyentuh sektor lingkungan, ekonomi, kesehatan, hingga kehidupan sosial masyarakat. Berikut beberapa dampak atau pengaruh banjir terhadap kehidupan masyarakat dan lingkungan sekitar:

1. Kerusakan Lingkungan

Banjir yang membawa lumpur dan sampah merusak ekosistem air tawar, mencemari sungai, danau, dan sumber air tanah. Pencemaran ini disebabkan oleh bercampurnya air banjir dengan limbah rumah tangga, limbah industri, dan kotoran lainnya.

Air banjir yang bergerak deras juga menyebabkan erosi tanah yang signifikan, terutama di sepanjang tebing sungai dan area pertanian. Kerusakan ini dapat menurunkan kualitas tanah serta mengubah bentang alam yang membutuhkan waktu lama untuk pulih.

2. Kerugian Ekonomi

Banjir menyebabkan kerugian ekonomi yang masif karena merusak infrastruktur vital seperti jalan, jembatan, hingga jaringan listrik. Di sektor pertanian, banjir sering mengakibatkan gagal panen total yang bisa mengancam ketersediaan pasokan pangan.

Terganggunya aktivitas industri dan bisnis karena akses terhambat atau fasilitas rusak juga menurunkan produktivitas. Secara keseluruhan, sektor ekonomi jadi terganggu dengan kerugiaan yang sangat besar.

3. Ancaman Kesehatan

Banjir meningkatkan ancaman kesehatan masyarakat karena air bersih terkontaminasi oleh limbah dan kotoran. Kondisi ini menyebabkan adanya lonjakan kasus penyakit tertentu, contohnya diare.

Tempat yang lembab dan genangan air pascabanjir juga menjadi tempat berkembang biak yang ideal bagi penyebab penyakit, mulai dari bakteri, nyamuk penyebab demam berdarah, hingga hewan lain seperti tikus.

4. Gangguan Aktivitas Masyarakat

Banjir dapat melumpuhkan aktivitas masyarakat secara keseluruhan, mulai dari terhentinya kegiatan sekolah dan perkantoran hingga penutupan pasar dan fasilitas umum. Akses transportasi juga jadi terhambat dan mengisolasi daerah yang terdampak.

Kerusakan rumah tinggal juga akan memaksa banyak orang mengungsi di posko darurat yang seringkali padat, tapi memiliki fasilitas dan sanitasi minim. Kondisi pengungsian yang tidak nyaman ini menambah beban sosial dan psikologis bagi para korban.

Pengaruh Banjir Terhadap Kehidupan Masyarakat

BANJIR BEKASI

Ilustrasi Warga Terdampak Banjir.ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/rwa.

Banjir tidak hanya merusak fisik lingkungan dan properti, tapi juga dapat mengubah kehidupan masyarakat sehari-hari, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Berikut beberapa pengaruh banjir terhadap kehidupan masyarakat:

Dampak pada Pelajar dan Pekerja

Banjir mengganggu pendidikan karena sekolah dan kampus terendam atau digunakan sebagai lokasi pengungsian. Pelajar pun terpaksa kehilangan jam belajar, terkadang jadwal ujian terpaksa ditunda.

Bagi para pekerja, banjir menyebabkan mereka tidak bisa mencapai tempat kerja karena akses jalan yang terputus. Hal ini mengakibatkan penurunan produktivitas dan, bagi pekerja harian, kehilangan pendapatan yang sangat penting bagi kehidupan keluarga.

Akses Transportasi

Banjir merusak akses transportasi dengan merendam jalan raya, merusak jembatan, dan mengganggu jaringan transportasi umum. Kerusakan ini menyebabkan terhambatnya pengiriman bantuan logistik dan evakuasi korban.

Terputusnya akses transportasi ini mengisolasi komunitas dan menyulitkan warga untuk mengakses layanan penting seperti rumah sakit atau pasar. Sementara itu, pemulihan jaringan transportasi membutuhkan waktu lama dan biaya yang tak sedikit.

Kualitas Air dan Sanitasi

Banjir mencemari kualitas air bersih karena sumur dan sumber air tanah terkontaminasi oleh air permukaan yang bercampur limbah dan kotoran. Masyarakat kehilangan akses terhadap air layak minum dan sanitasi yang memadai.

Kerusakan sistem sanitasi, seperti jamban dan septic tank yang terendam, meningkatkan risiko penularan penyakit menular. Kurangnya air bersih dan sanitasi yang layak di lokasi pengungsian juga mempercepat penyebaran penyakit.

Kehilangan Tempat Tinggal

Salah satu dampak paling traumatis adalah kehilangan tempat tinggal karena rumah rusak berat akibat arus banjir. Padahal, rumah beserta isinya bisa jadi merupakan harta benda paling berharga yang dimiliki oleh sebuah keluarga.

Kehilangan rumah dan harta benda menyebabkan masyarakat harus bergantung pada bantuan, menimbulkan kesulitan ekonomi jangka panjang, dan memaksa mereka memulai hidup dari nol di tempat pengungsian.

Kesehatan Mental dan Sosial

Banjir dapat menimbulkan gangguan psikologis seperti trauma dan stres berat bagi masyarakat yang terdampak. Kondisi kehilangan rumah, harta benda, atau menyaksikan peristiwa yang merusak dapat memicu gangguan mental seperti depresi dan kecemasan.

Di tingkat sosial, bencana banjir sering memunculkan rasa ketidakpastian, frustrasi, dan konflik dalam komunitas. Namun, di sisi lain, kondisi ini juga dapat memperkuat solidaritas dan gotong royong antarwarga dalam upaya pemulihan.

Cara Mencegah Banjir yang Dapat Dilakukan Masyarakat

Ilustrasi Banjir

Ilustrasi Banjir. FOTO/iStockphoto

Pencegahan banjir bukan hanya tanggung jawab pemerintah, masyarakat juga bisa berperan aktif melalui langkah-langkah sederhana. Bahkan, kesadaran masyarakat bisa menjadi kunci untuk mencegah bencana banjir di masa mendatang. Berikut cara mencegah banjir yang bisa dilakukan:

  • Tidak Membuang Sampah Sembarangan
Tidak membuang sampah sembarangan ke sungai, selokan, atau parit adalah salah satu langkah pencegahan banjir yang paling penting. Sampah yang dibuang pada tempatnya akan mencegah sumbatan pada saluran air dan memastikan air mengalir dengan lancar.

  • Membuat Lubang Biopori
Membuat lubang biopori adalah teknik konservasi air yang efektif di tingkat rumah tangga. Lubang ini berfungsi sebagai media peresapan air, membantu meningkatkan daya serap tanah terhadap air hujan, mengurangi volume limpasan permukaan, dan mencegah genangan air di pekarangan dan jalan.

  • Membuat Sumur Resapan
Membuat sumur resapan di pekarangan rumah adalah cara lain untuk menangani air hujan. Sumur ini menampung air dan membiarkannya meresap perlahan ke dalam lapisan tanah. Penggunaan sumur resapan secara masif di kawasan permukiman akan mengurangi beban air yang harus dialirkan ke sistem drainase dan sungai.

  • Penghijauan
Penghijauan dengan menanam pohon di lingkungan sekitar merupakan upaya pencegahan yang efektif dan berkelanjutan. Pohon berfungsi sebagai penyerap air alami dan penahan tanah. Akar pohon memiliki daya ikat yang kuat terhadap tanah yang dapat mencegah erosi dan tanah longsor.

  • Mengurangi Penggunaan Beton di Halaman Rumah
Penggunaan material kedap air menghalangi air hujan meresap ke dalam tanah. Sebaliknya, masyarakat didorong untuk menyediakan lahan berumput, tanah terbuka, atau menggunakan paving block yang berpori demi memperbanyak area resapan air di kawasan permukiman

  • Penerapan Rainwater Harvesting
Penerapan rainwater harvesting (pemanenan air hujan) berarti menampung air hujan untuk digunakan kebutuhan sehari-hari, seperti mencuci dan menyiram tanaman. Praktik ini dapat mengurangi penggunaan air tanah sehingga secara tak langsung mencegah penurunan permukaan tanah.

  • Pembersihan Lingkungan secara Rutin
Pembersihan lingkungan secara rutin melalui kegiatan gotong royong harus menjadi agenda wajib bagi masyarakat. Fokus utama adalah membersihkan saluran air, selokan, dan got dari sampah dan lumpur. Pemeliharaan saluran air secara berkala memastikan bahwa saluran tersebut berfungsi dengan maksimal, terutama saat musim hujan.

  • Mitigasi Bencana dengan Aparat Setempat
Masyarakat perlu aktif berkoordinasi dengan RT/RW dan aparat setempat untuk melakukan mitigasi bencana. Koordinasi ini mencakup penyusunan rencana kontingensi dan penentuan jalur evakuasi. Membentuk tim siaga bencana di tingkat rukun warga dapat membantu pemantauan debit air sungai dan penyampaian peringatan dini yang cepat.

  • Penataan Tata Ruang Rumah
Warga di daerah rawan banjir dapat melakukan penataan tata ruang rumah sebagai upaya mitigasi mandiri. Hal ini dapat dilakukan dengan meninggikan lantai rumah, membangun lantai dua, hingga penyimpanan barang-barang berharga dan dokumen penting di tempat yang tinggi atau tahan air.

  • Edukasi dan Sosialisasi Pencegahan Banjir
Seluruh upaya pencegahan di atas tidak akan berarti jika dilakukan segelintir orang. Upaya pencegahan harus dilakukan secara bersama-sama. Oleh karena itu, edukasi dan sosialisasi pencegahan banjir sebaiknya dilakukan secara rutin oleh tokoh masyarakat atau aparat setempat.

Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran warga tentang pentingnya resapan air tanah dan menjaga kebersihan lingkungan. Peningkatan pengetahuan tentang upaya pencegahan, seperti cara membuat biopori, akan mendorong partisipasi aktif dari masyarakat.

Demikian penjelasan tentang penyebab banjir faktor manusia beserta dampak dan cara pencegahannya. Upaya mengurangi risiko banjir tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur, tapi juga pada perubahan perilaku dan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan.

Dengan kerja sama antara pemerintah dan warga, ancaman banjir bisa ditekan sehingga kehidupan masyarakat menjadi lebih aman di masa mendatang.

Tertarik dengan berita seputar bencana banjir? Ikuti update terbaru terkait banjir melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:

Kumpulan Artikel tentang Banjir

Baca juga artikel terkait BANJIR atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Edusains
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani