tirto.id - Banjir yang terjadi di sebagian besar Provinsi Aceh telah menyebabkan 173 orang meninggal dunia, menurut data hingga Senin (1/12) pukul 20.00 WIB dari Pemprov Aceh.
Juru Bicara Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh, Murthalamuddin, menyebutkan korban luka ringan akibat bencana longsor dan banjir berjumlah 1.435 orang, luka berat 403 orang, meninggal dunia 173 orang, dan 204 orang masih hilang.
Laporan Posko Terpadu juga menyebutkan ada 18 kabupaten/kota, 226 kecamatan, dan 3.310 gampong yang terdampak bencana ini.
"Pengungsian tersebar di 828 titik dengan 97.305 KK atau 443.001 jiwa," kata Murthalamuddin, Senin (1/12) malam, dikutip laman Pemprov Aceh.
Bencana yang melanda sejumlah wilayah di provinsi tersebut berdampak luas pada permukiman hingga fasilitas umum. Pemerintah Aceh melalui Posko Terpadu terus memperbarui data secara real-time dengan koordinasi lintas instansi.
Masyarakat dapat mengakses data lengkap melalui kanal resmi posko untuk mendapatkan perkembangan terbaru terkait penanganan bencana di Aceh. Data dapat diakses melalui portal ini.
Banjir di Aceh Mulai Surut Tapi Akses Masih Terputus
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Barat mencatat sebanyak 30.884 jiwa atau 9.477 Kepala Keluarga (KK) tersebar di 121 desa, di 10 kecamatan, di kabupaten itu kena banjir bandang yang terjadi sejak Rabu (26/11) pekan lalu.
“Saat ini lokasi terdampak banjir masih dipenuhi lumpur,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Aceh Barat Teuku Ronal Nehdiansyah di Meulaboh, Senin (1/12), dikutip Antaranews.
Ronal mengatakan di sebagian wilayah Aceh Barat saat ini air telah berangsur surut. Namun akses jalan ke sejumlah desa masih terputus.
“Beberapa lokasi jalan masih tertutupi lumpur dan material kayu, sehingga masih sulit untuk dilalui,” kata Ronal.
Kondisi Aceh Barat Memprihatinkan
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Barat menyebut sebanyak 40 Kepala Keluarga (KK) di kawasan pedalaman pada Komunitas Adat Terpencil (KAT) Sikundo, Kecamatan Pante Ceureumen, hingga saat ini masih terisolasi.
“Kondisi masyarakat Komunitas Adat Terpencil Sikundo saat ini sangat memprihatinkan, mereka tidak bisa keluar dari desa karena akses jalan rusak parah dan telah berubah menjadi aliran sungai,” kata Bupati Aceh Barat Tarmizi, dikutip Antaranews, Senin (1/12).
Fakta yang ia temukan di lokasi bencana, masyarakat di kawasan tersebut hampir sepekan telah terisolasi dan terkurung setelah akses badan jalan sepanjang lima kilometer hancur akibat terjangan banjir bandang.
“Badan jalan yang ada sudah menjadi sungai dan jembatan penghubung juga terputus, masyarakat di sana benar-benar terisolir dari dunia luar,” kata Tarmizi.
Apabila ingin keluar dari desa, lanjut dia, hanya kepala desa dan dua masyarakat saja yang berani keluar menyusuri aliran sungai menggunakan ban bekas sejauh lima kilometer.
Selain berbahaya dan mengancam keselamatan jiwa, kata dia, kondisi tersebut membuat masyarakat semakin khawatir karena semua akses ke kawasan KAT Sikundo saat ini benar-benar putus total.
Selain itu seratusan jiwa masyarakat di kawasan pedalaman dan terpencil tersebut saat ini juga kekurangan pasokan bahan makanan dan obat-obatan, karena tidak lagi memiliki stok makanan yang memadai.
“Stok bantuan yang kami antar pada Minggu kemarin hanya cukup beberapa hari saja, kami khawatir masyarakat kelaparan di sana,” kata Tarmizi.
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id
































