Menuju konten utama

Telusur Sebab Bencana Sumatra, Cuaca atau Kerusakan Ekologis?

Puluhan ribu warga terdampak dan puluhan lainnya telah dilaporkan meninggal dunia.

Telusur Sebab Bencana Sumatra, Cuaca atau Kerusakan Ekologis?
Warga menyaksikan jembatan lintas jalur nasional putus akibat diterjang banjir bandang di Desa Manyang Cut, Kecamatan Mereudu, Kabupaten Pidie, Aceh, Kamis (27/11/2025). Badan Penanggulangan Bencana Aceh menetapkan 10 dari 23 kabupaten/kota di Aceh itu darurat bencana banjir dan mencatat sebanyak 14.235 KK atau 46.893 jiwa terdampak banjir sementara 1.497 jiwa di antaranya mengungsi, sejumlah rumah dan infratsruktur rusak berat dan ringan akibat banjir sejak 18 hingga 27 November 2027. ANTARA FOTO/Ampelsa/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sumatra tengah dirundung duka. Dalam beberapa hari terakhir, puluhan kabupaten dan kota di Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh dilanda banjir dan tanah longsor yang dikaitkan dengan cuaca ekstrem. Puluhan ribu warga terdampak dan puluhan lainnya telah dilaporkan meninggal dunia.

Sumatra Utara

Banjir terus meluas di berbagai wilayah Sumatra Utara. Hingga Kamis (27/11/2025) malam, tercatat 48 orang meninggal dunia akibat bencana yang melanda provinsi ini.

Berdasarkan data Polda Sumatera Utara per Kamis (27/11/2025) siang, sebanyak 81 orang mengalami luka-luka, sementara 88 warga masih dalam pencarian. Secara keseluruhan, jumlah korban mencapai 212 orang, dengan sekitar 1.168 warga terpaksa mengungsi.

Polda Sumatra Utara mencatat 221 kejadian bencana di seluruh provinsi. Kejadian tersebut meliputi tanah longsor, banjir, puting beliung, hingga pohon tumbang. Kabupaten Tapanuli Utara dan Tapanuli Tengah menjadi wilayah dengan jumlah bencana terbanyak dengan masing-masing 54 dan 44 kejadian.

Di Mandailing Natal, tercatat 12 kejadian bencana tanpa korban jiwa, namun sekitar 400 warga harus mengungsi. Sementara itu, di Kota Padang Sidempuan satu orang meninggal dunia dan 120 warga mengungsi. Kabupaten Pakpak Bharat mengalami 24 kejadian yang menyebabkan dua korban meninggal.

Di Kabupaten Tapanuli Selatan, bencana ini berdampak pada 90 warga. Sebanyak 73 orang mengalami luka-luka, 17 orang meninggal dunia, dan 500 orang terpaksa mengungsi.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa kasus banjir di Sumatra Utara meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2019, tercatat 22 kasus banjir; angka ini melonjak menjadi 78 kasus pada 2020. Puncaknya terjadi pada 2024, ketika 121 kasus banjir dilaporkan menjadikan Sumatra Utara provinsi dengan kejadian banjir terbanyak di Indonesia.

Di tengah situasi ini, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) melaporkan adanya gangguan komunikasi di Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga akibat banjir. Gangguan tersebut menyebabkan 495 site telekomunikasi tidak berfungsi, atau sekitar 1,42 persen dari total 34.660 site yang ada di Sumatra Utara.

Sumatra Barat

Di Sumatra Barat, sebanyak 13 kabupaten/kota terdampak bencana hidrometeorologi berupa banjir dan tanah longsor. Pemerintah Provinsi Sumatra Barat telah menetapkan status Tanggap Darurat Bencana Alam menyusul cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Seturut pemberitaan Antara, hingga Kamis malam (27/11/2025), tercatat 17 korban meninggal dunia. Mereka tersebar di tiga wilayah: satu korban di Kabupaten Pasaman Barat, sebelas korban di Kabupaten Agam, dan lima korban di Kota Padang.

Kabupaten Agam dan Pasaman Barat menjadi dua wilayah yang mengalami dampak paling parah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pasaman Barat mencatat satu korban meninggal serta 2.715 unit rumah terdampak banjir, dengan total 2.322 jiwa yang mengalami dampaknya.

Aceh

Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) melaporkan bahwa hingga Kamis (27/11/2025), sebanyak 16 kabupaten/kota di Aceh terdampak bencana hidrometeorologi berupa banjir dan tanah longsor.

BPBA mencatat, dalam periode 18 November 2025 pukul 07.00 WIB hingga 26 November 2025 pukul 12.00 WIB, bencana ini telah berdampak pada 14.235 kepala keluarga atau 46.893 jiwa. Ada 455 kepala keluarga atau 1.497 jiwa terpaksa mengungsi.

Situasi ini turut berdampak pada layanan telekomunikasi. Senada dengan Sumatra Utara, Komdigi juga melaporkan gangguan jaringan pada Rabu (26/11/2025), dengan 799 site telekomunikasi mati akibat banjir yang mengguyur wilayah Aceh.

Selain itu, banjir bandang yang menerjang kawasan Aruen–Bireuen setelah hujan dengan intensitas sangat tinggi menyebabkan robohnya tower transmisi 150 kV. Insiden ini berdampak pada pasokan listrik di sejumlah wilayah Aceh, memperburuk kondisi darurat yang sedang berlangsung.

Lalu, apa penyebab banjir bandang dan longsor di sejumlah daerah Sumatra ini?

Penjelasan BMKG: Cuaca Ekstrem Pengaruh Siklon Tropis

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa Indonesia saat ini tengah dilanda cuaca ekstrem akibat kombinasi fenomena atmosfer skala global dan regional.

Salah satu faktor utama adalah keberadaan dua sistem cuaca signifikan yang terpantau oleh Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta, yaitu Siklon Tropis KOTO yang berkembang di Laut Sulu dan Bibit Siklon 95B yang muncul di Selat Malaka. Kedua sistem ini diklaim memicu peningkatan curah hujan dan angin kencang khususnya di wilayah Sumatra bagian utara pada 25 November 2025.

Bibit Siklon 95B memicu pembentukan awan konvektif yang meluas dari Aceh hingga Sumatra Utara, sehingga menyebabkan intensitas hujan ekstrem dalam beberapa hari terakhir. Sementara itu, Siklon Tropis KOTO memperkuat hujan lebat di wilayah Indonesia bagian barat melalui mekanisme belokan angin dan penarikan massa udara basah menuju pusat siklon (inflow), yang mendorong pertumbuhan awan hujan secara masif.

Bibit Siklon 95B diperkirakan menyebabkan hujan sedang hingga lebat di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Riau, serta angin kencang di Aceh dan Sumatra Utara. Selain itu, sistem cuaca ini turut meningkatkan tinggi gelombang menjadi 1,25-2,5 meter di Selat Malaka bagian utara dan perairan Riau, serta 2,5-4,0 meter di Selat Malaka bagian tengah, perairan timur Sumatra Utara, dan Samudra Hindia bagian barat Aceh hingga Nias.

Di sisi lain, Siklon Tropis KOTO berpotensi menimbulkan hujan sedang hingga lebat di Kalimantan Barat dan Kepulauan Riau. BMKG mencatat, hujan lebat dengan intensitas 50–100 mm per hari telah terjadi di berbagai wilayah sejak pertengahan November 2025. Bahkan, beberapa daerah seperti Kota Langsa mencatat curah hujan hingga 311 mm, sementara Kabupaten Bireuen mencapai 295,8 mm.

Pada 26 November 2025, BMKG memantau bahwa Bibit Siklon 95B yang sebelumnya berada di kawasan Selat Malaka, tepatnya di bagian timur Aceh, telah berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar pada pukul 07.00 WIB.

Berdasarkan pengamatan terakhir, siklon tersebut bergerak ke arah barat menuju daratan Aceh dengan kecepatan sekitar 10 km/jam. Pergerakan ini berpotensi menimbulkan dampak signifikan berupa hujan sangat lebat hingga ekstrem yang dapat disertai angin kencang di wilayah sekitarnya.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan kondisi ini meningkatkan suplai air di perairan hangat Selat Malaka yang memicu pertumbuhan awan konvektif di bagian utara Sumatra.

Longsor di Malalak Timur Agam

Warga melintas jalan pasca longsor di Toboh Tangah, Nagari Malalak Timur, Agam, Sumatera Barat, Kamis (27/11/2025). Longsor yang terjadi karena tingginya intensitas hujan di daerah perbukan pada Rabu (26/11/2025) tersebut mengakibatkan puluhan rumah rusak dan sedikitnya tujuh korban meninggal dunia, belasan lainnya hilang, dan akses menuju lokasi putus total. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/YU

Per Rabu (26/11/2025), Siklon Tropis Senyar berpusat di sekitar 5.0° LU dan 98.0° BT dengan tekanan udara minimum di pusat mencapai sekitar 998 hPa dan kecepatan angin maksimum di sekitar sistem mencapai 43 knot (80 km/jam).

“Dalam 24 jam ke depan, Siklon Tropis Senyar bergerak ke arah barat hingga barat daya dan masih di daratan Aceh dengan kecepatan pergerakan 4 knot (7 km/jam), sedangkan dalam 48 jam kedepan Siklon Tropis Senyar diperkirakan akan menurun intensitasnya menjadi Depresi Tropis,” kata Faisal dalam konferensi pers di Gedung Command Center MHEWS, BMKG, Jakarta (26/11/2025).

Lalu per Kamis (27/11/2025), BMKG menyatakan Siklon Tropis Senyar terpantau telah punah. Hal ini disampaikan Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto, usai rapat koordinasi di gedung Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) di Jakarta Timur, Kamis.

“Syukur alhamdulillah hari ini dia [Siklon Tropis Senyar] sudah punah tadi siang. Artinya, dia sudah tidak menjadi ancaman,” kata Guswanto.

Kendati demikian, cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi sebagai dampak lanjutan. Oleh karena itu, potensi dampak bencana hidrometeorologi tetap harus diwaspadai terjadi di wilayah Aceh, Sumatra Utara (Sumut), Kepulauan Riau, Riau, Sumatra Barat (Sumbar), dan sekitarnya pada 2-3 hari ke depan.

Guswanto menjelaskan bahwa Siklon Tropis Senyar memicu hujan dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem di wilayah Aceh dan Sumatra Utara, serta hujan sedang hingga lebat di sebagian wilayah Sumatra Barat dan Riau.

Sebagai informasi, Siklon tropis merupakan badai berkecepatan tinggi yang dimulai dari permukaan laut tropis. Sementara itu, Senyar merupakan siklon yang dapat terjadi di Semenanjung Malaysia, Thailand Selatan, dan Sumatera, Indonesia.

Siklon Tropis Senyar tercipta akibat tekanan atmosfer rendah di Samudera Hindia. Kondisi itu kemudian berkembang menjadi Depresi Tropis untuk kemudian berkembang menjadi Siklon Tropis Senyar.

Penjelasan WALHI: Kerusakan Ekologis Jadi Pemicu Utama

Manajer Pencegahan dan Penanganan Bencana, Eksekutif Nasional WALHI, Melva Harahap, menilai rangkaian bencana yang melanda tiga provinsi di Sumatra tidak dapat dilepaskan dari menurunnya daya dukung dan daya tampung lingkungan pada kawasan-kawasan penyangga.

Dia menjelaskan bahwa meskipun benar ada faktor intensitas hujan meningkat akibat krisis iklim akan tetapi kerusakan ekologis di buffer zone atau zona penyangga di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh lebih menjadi pemicu utama bencana besar yang terjadi saat ini.

Buffer zone atau zona penyangga, adalah area yang berfungsi untuk memisahkan atau melindungi suatu kawasan dari area lain agar meminimalisir dampak bahaya. Zona ini biasanya berupa ruang terbuka hijau yang bisa berupa lahan alami seperti hutan atau rawa, atau sengaja dibuat seperti sunga

Melva mencontohkan kondisi di Sumatera Utara, di mana sejumlah kabupaten dan kota mengalami bencana cukup parah. Jika dicermati lebih dekat, banyak wilayah tersebut telah mengalami perubahan besar akibat alih fungsi lahan dalam beberapa tahun terakhir.

Salah satu contohnya adalah pengalihan fungsi Hutan Batang Toru, yang selama ini berperan penting sebagai kawasan penyangga sekaligus ruang hidup masyarakat Tapanuli. Menurut Melva, fungsi ekologis hutan ini perlahan hilang akibat berbagai aktivitas perusahaan yang mengantongi izin di kawasan tersebut.

Ekosistem Harangan Tapanuli atau Hutan Batang Toru merupakan salah satu bentang hutan tropis esensial terakhir di Sumatera Utara. Secara administratif, sebagian besar berada di Tapanuli Utara (66,7 persen), diikuti Tapanuli Selatan (22,6 persen) dan Tapanuli Tengah (10,7 persen). Sebagai bagian dari Bukit Barisan, hutan ini berperan sebagai sumber air utama, mencegah banjir dan erosi, serta menjadi pusat Daerah Aliran Sungai (DAS) yang mengalir ke wilayah hilir.

Berdasarkan catatan WALHI, wilayah yang terdampak paling parah dalam bencana kali ini adalah kawasan yang berada di Ekosistem Harangan Tapanuli, termasuk Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Kota Sibolga.

“Itu yang pertama, jadi tutupan hutannya itu sudah hilang. Satu sisi memang iya bahwa intensitas hujan meningkat. Pola-pola masuk di bulan November dan Desember memang mengalami peningkatan, dan itu dipengaruhi oleh krisis iklim ataupun situasi iklim saat ini,” ujar Melva saat dihubungi Tirto, Kamis (27/11/2025).

“Kami lihat juga kemudian apa yang terjadi di daerah yang terdampak banjir tersebut, bahwa alih fungsi lahannya juga masih [terjadi]. Sehingga, daerah itu tidak punya kemampuan untuk memastikan hujan yang turun itu ditampung dengan baik,” sambungnya.

Melva juga menjelaskan bahwa pola hujan sebenarnya dapat diprediksi melalui data BMKG. Peningkatan intensitas hujan yang terjadi saat ini berhubungan erat dengan krisis iklim yang mengubah pola angin serta memperpanjang durasi hujan. Meski demikian, menurutnya, kerusakan ekosistem penyangga adalah faktor yang membuat dampaknya jauh lebih parah

“Batang Toru, misalnya, sejak awal berfungsi sebagai hutan penyangga hidrologis. Lima hingga sepuluh tahun lalu, banjir memang pernah terjadi, tetapi belum pernah menimbulkan kerusakan sebesar sekarang. Kini, dari Aceh hingga Sumatra Barat, tercatat 33 kabupaten/kota terdampak banjir,” ujarnya.

Dia menyoroti pula tingginya banjir dan material yang terbawa oleh arus, sebagaimana terlihat dalam berbagai unggahan media sosial. Hal ini, menurutnya, menandakan bahwa daerah hulu dan hilir sudah tidak terjaga lagi.

Melva menambahkan bahwa WALHI Sumatera Utara sebenarnya telah melakukan kajian sebelumnya. Mereka telah memprediksi bahwa jika kawasan penyangga tidak dilindungi, dampaknya akan menjalar hingga ke Mandailing Natal.

“Dan prediksi itu hari ini terbukti: begitu intensitas hujan meningkat, buffer zone hilang, daerah-daerah penyangganya nggak ada, dan kita nggak pernah menyiapkan masyarakat ataupun pemerintah menghadapi bencana sebesar ini,” ujarnya.

Melva menegaskan bahwa kondisi alam memang ikut memperberat situasi. Dia menyatakan tidak ada masalah apabila BNPB dan BMKG mengategorikan kejadian ini sebagai bencana alam akibat curah hujan tinggi. Namun, WALHI melihat bahwa ada akumulasi krisis ekologi.

Dia menyinggung ketinggian banjir kali ini bukan lagi sebatas mata kaki atau sepinggang orang dewasa. Banjir telah merusak rumah, memutus akses jalan, dan menghilangkan berbagai hak warga. Hak untuk hidup aman, beraktivitas secara ekonomi, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, pergi ke tempat kerja, sekolah, atau rumah sakit, semuanya terganggu dan bahkan terhenti.

“Inilah yang oleh WALHI disebut sebagai bencana ekologis. Ada akumulasi krisis ekologis yang muncul akibat regulasi yang tidak berpihak pada kelestarian lingkungan serta kegagalan sistem dalam mengelola alam. Akibatnya, bukan hanya ekosistem yang runtuh, tetapi juga kehidupan masyarakat yang bergantung padanya,” ujar Melva.

Penjelasan BRIN: Faktor Cuaca Ekstrem Dominan

Profesor Klimatologi dan Perubahan Iklim dari Pusat Riset dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menjelaskan faktor cuaca ekstrem menjadi faktor dominan di di balik musibah banjir dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatra.

“Kalau dari lihat aja dari hujannya, tanggal 23 itu hujan di wilayah daerah situ 160. Terus tanggal 24-nya 226. Kalau dijumlah itu hampir 400 mm turun dalam waktu 2 hari. Ya jelas, kalau dari hujan kan ekstrem,” ujar Erma saat dihubungi Tirto, Kamis (27/11/2025).

Erma menambahkan bahwa analisis banjir biasanya menggunakan pendekatan 50-50, yaitu 50 persen dipengaruhi oleh hujan atau cuaca ekstrem dan 50 persen oleh kondisi lingkungan di permukaan. Namun, kejadian kali ini menunjukkan cuaca ekstrem menjadi faktor yang jauh lebih dominan. Hujan hampir 400 mm dalam dua hari merupakan fenomena yang sangat langka.

“Intensitas hujannya yang hampir 400 mm dalam dua hari itu sudah kategori sangat ekstrem. Jadi, bukan menyumbang 50 persen lagi, tapi sudah dominan. Bisa dikatakan proporsinya, faktor utama cuacanya itu bisa 80 persen,” ujarnya lagi.

Erma menambahkan bahwa hujan ekstrem sebenarnya tidak hanya berlangsung dalam dua hari itu saja. Beberapa hari sebelumnya, hujan persisten telah terpantau di wilayah tersebut, meski puncak intensitas tertingginya terjadi pada 23 dan 24 November. Kondisi inilah yang kemudian memicu terjadinya flash flood atau banjir bandang.

Menurut Erma, banjir bandang selalu membutuhkan pemicu ekstrem karena peristiwanya ditandai oleh lonjakan mendadak dengan onset yang sangat singkat, sehingga menimbulkan dampak yang sangat parah.

Dia menambahkan bahwa gangguan cuaca yang terjadi saat ini sangat dominan dan mencakup wilayah yang luas, terutama di sepanjang kawasan Tapanuli Tengah. Namun ia menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan hanya terjadi di wilayah itu. Berdasarkan data 26 November, intensitas hujan di sejumlah daerah di Aceh masih sangat tinggi.

“Terpantau intensitasnya dari 181 sampai 300 milimeter hampir di seluruh Aceh setinggi itu. Dan juga di titik Tapanuli Tengah di Sumatera Utara, Minangkabau, di beberapa stasiun, ada 4 stasiun kategori hujan ekstrem juga, dari 129 sampai 133. Di atas 100 itu sudah ekstrem,” ujarnya.

Erma menjelaskan bahwa keberadaan siklon yang terjadi sebelumnya turut memberikan kontribusi besar. Akumulasi hujan per 26 November-tepat ketika siklon tropis mendarat–menyebabkan hujan merata di banyak wilayah. Dari pantauan delapan stasiun, lima stasiun di Aceh mencatat curah hujan rata-rata 200 hingga 300 mm, sementara di bagian lain Sumatra Utara, termasuk Tapanuli Tengah, curah hujan tetap berada di atas 100 mm.

“Berarti memang 80 persen penyebabnya adalah faktor anomali cuaca, bukan cuma anomali biasa tetapi berkaitan erat dengan badai yang sangat besar, sirkulasi siklon itu besar,” ujarnya.

Baca juga artikel terkait BANJIR HARI INI atau tulisan lainnya dari Alfitra Akbar

tirto.id - News Plus
Reporter: Alfitra Akbar
Penulis: Alfitra Akbar
Editor: Fadrik Aziz Firdausi