Menuju konten utama

Benarkah Tambang Jadi Penyebab Banjir Sumut? Ini Kata Walhi

Simak apa saja faktor penyebab banjir di Sumatera Utara dalam bebeapa hari terakhir menurut Walhi dan BMKG. Ini penjelasannya.

Benarkah Tambang Jadi Penyebab Banjir Sumut? Ini Kata Walhi
Banjir di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Rabu (26/11/2025). foto/Humas BNPB
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Bencana hidrometeorologi seperti banjir hingga tanah longsor menerjang sejumlah daerah pulau Sumatera dalam beberapa hari terakhir, termasuk Sumatera Utara. Banjir dan tanah longsor ini diakibatkan salah satunya oleh guyuran hujan. Namun Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) setempat menyebut bahwa bencana ini juga diakibatkan oleh aktivitas manusia.

Bencana banjir dan tanah longsor terus meluas di pulau Sumatera. Di Provinsi Sumatera Utara, bencana alam ini setidaknya berdampak ke 13 kabupaten/kota berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) setempat pada Kamis (27/11/2025). Hingga Rabu (26/11/2025) malam, 34 korban meninggal dunia akibat bencana ini.

Sedangkan di Sumatera Barat, hingga Rabu, banjir dan tanah longsor berdampak ke 13 kabupaten/kota, menurut laporan pemerintah provinsi setempat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) provinsi setempat melaporkan, 9 orang menjadi korban jiwa bencana ini hingga Kamis siang.

Berikutnya di Aceh, 20 dari 23 kabupaten/kota provinsi setempat terendam banjir, berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) pada Kamis. Bencana hidrometeorologi ini juga telah menelan korban jiwa sebanyak 13 orang.

Penjelasan Walhi soal Banjir di Sumatera Utara Terdampak oleh Tambang

Walhi Sumatera Utara mengeluarkan rilis pada Rabu (26/11/2025) perihal bencana banjir terutama Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Mandailing Natal, dan Kota Sibolga.

Walhi Sumatera Utara dalam rilisnya itu menyebut, banjir di Sumatera Utara dalam beberapa hari terakhir tidak hanya diakibatkan guyuran hujan semata. Di samping itu, kerusakan alam menjadi faktor lain penyebab banjir.

“Saat banjir tiba terlihat banyak kayu-kayu terbawa air dan jika melihat dari teknologi misalnya citra satelit, dapat dilihat kondisi hutan yang gundul di sekitar lokasi bencana. Hal ini menunjukan bahwa campur tangan manusia turut menyumbang terjadinya bencana,” tulis Walhi Sumatera Utara dalam rilisnya.

“Dalam kondisi inilah bencana tidak hanya dikaitkan dengan keadaan alam secara murni, akan tetapi menjelma menjadi bencana ekologis,” lanjut Walhi Sumatera Utara.

Lebih lanjut, kerusakan ini, sebut Walhi Sumatera Utara, juga diakibatkan oleh kebijakan pemerintah terhadap aktivitas perusahaan-perusahaan tambang di ekosistem batang toru (harangan Tapanuli).

“Laju deforestasi di wilayah ini sulit dibendung karena perusahaan-perusahaan yang beraktivitas di ekosistem batang toru (harangan tapanuli) melakukan penebangan pohon dengan berlindung dibalik izin yang dikeluarkan pemerintah,” tulis mereka.

Dengan berbagai variabel faktor tersebut, setiap tahunnya sejumlah wilayah di Sumatera Utara, sebut Walhi, memiliki risiko bencana yang tinggi. Manajer Advokasi dan Kampanye Walhi Sumatera Utara, Jaka Kelana Damanik, menerangkan bahwa hal itu sejalan dengan dokumen kajian risiko bencana nasional provinsi Sumatera Utara tahun 2022-2026.

“Potensi bencana banjir bandang dan tanah longsor dapat terjadi di kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara. Hanya Kabupaten Samosir yang masuk kedalam kategori kelas risiko rendah untuk bencana tersebut sedangkan sebagian besar memiliki Kelas Risiko Tinggi,” tulis Walhi Sumatera Utara.

Terlepas dari hal itu, beberapa wilayah di Sumatera terdampak siklon tropis yang mengakibatkan cuaca ekstrem seperti hujan yang terus melanda hampir setiap harinya. Salah satu pemicu cuaca ekstrem ini ialah Siklon Tropis Senyar yang merupakan evolusi Bibit Siklon Tropis 95B

Siklon tersebut berkembang sejak 21 November 2025 di perairan timur Aceh, tepatnya di Selat Malaka. "Dampaknya dalam satu minggu terakhir wilayah Sumatera Utara dilanda hujan setiap hari," kata Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I Hendro Nugroho. Rabu (26/11/2025), dikutip dari ANTARA.

Dampak dari Siklon Tropis Senyar ini ialah memberikan dampak peningkatan intensitas dan memicu potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat hingga ekstrem, gelombang tinggi serta angin kencang di wilayah Sumatera Utara.

Hal itu kemudian ditambah dengan dengan kondisi kelembaban udara yang terpantau sangat tinggi. Alhasil kondisi udara cukup basah, semakin mendukung potensi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat di beberapa wilayah Sumatera Utara.

Wilayah yang berpotensi terjadi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat itu, di antaranya Kabupaten Langkat, Medan, Binjai, Deli Serdang, Karo, Dairi, Pakpak Bharat, Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, Tapanuli Selatan, Kota Padang Sidempuan, Tapanuli Utara, Mandailing Natal, Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Simalungun, Samosir, Serdang Bedagai, Kota Tebing Tinggi, Humbang Hasundutan, Nias, Nias Selatan, Nias Utara, Nias Barat, Kota Gunungsitoli, dan Toba.

Namun BMKG menyebut, Siklon Tropis Senyar ini diprakirakan akan terus menurun intensitasnya hingga Jumat (27/11/2025). Pada Rabu (25/11/2025), siklon tersebut berpusat di sekitar 5.0° LU dan 98.0° BT dengan tekanan udara minimum di pusat mencapai sekitar 998 hPa dan kecepatan angin maksimum di sekitar sistem mencapai 43 knot (80 km/jam).

“Dalam 24 jam ke depan, Siklon Tropis Senyar bergerak ke arah barat hingga barat daya dan masih di daratan Aceh dengan kecepatan pergerakan 4 knot (7 km/jam), sedangkan dalam 48 jam kedepan Siklon Tropis Senyar diperkirakan akan menurun intensitasnya menjadi Depresi Tropis,” kata Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dikutip dari laman BMKG pada Rabu.

Hanya, cuaca ekstrem tetap berpotensi terjadi sebagai dampak lanjutan. Oleh karenanya, potensi dampak bencana hidrometeorologi masih harus diwaspadai terjadi di wilayah Aceh, Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Riau, Sumatera Barat, dan sekitarnya pada 2-3 hari ke depan, terhitung sejak Rabu kemarin.

“Fenomena seperti Siklon Tropis Senyar tergolong tidak umum di wilayah perairan Selat Malaka, apalagi jika sampai melintasi daratan. BMKG menekankan pentingnya kesiapsiagaan dan kewaspadaan masyarakat terhadap potensi dampak cuaca yang dapat muncul selama sistem ini bergerak di sekitar wilayah tersebut.” kata Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani.

Baca juga artikel terkait SUPPLEMENT CONTENT atau tulisan lainnya dari Dicky Setyawan

tirto.id - Aktual dan Tren
Penulis: Dicky Setyawan
Editor: Iswara N Raditya