Menuju konten utama

Ibu Ini Bahagia Lihat Anak Pakai Seragam Baru di Sekolah Rakyat

Seorang ibu mengaku bahagia menyaksikan sang anak yang menjadi murid Sekolah Rakyat di Sukoharjo akhirnya mengenakan seragam baru untuk pertama kali.

Ibu Ini Bahagia Lihat Anak Pakai Seragam Baru di Sekolah Rakyat
Orang tua siswa Sekolah Rakyat Titin Lestari saat berdialog dengan Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dalam Open House dan MPLS di Sekolah Rakyat Sukoharjo, Jawa Tengah, Sabtu (1/8/2026). FOTO/ dok.Kemensos
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Bagi sebagian orang tua, membeli seragam sekolah baru untuk anak mungkin sesuatu yang biasa. Namun, Titin Lestari menganggap momen ini benar-benar istimewa.

Karena kondisi ekonomi serba terbatas, Titin tidak pernah mampu membelikan seragam baru untuk putrinya, Lia Maharani. Anaknya bahkan selalu memakai seragam bekas pemberian tetangga sejak duduk di bangku SD hingga SMP.

Nasib baik akhirnya menghampiri keluarga asal Kelurahan Combongan, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah tersebut. Mulai tahun ajaran 2026/2027, Lia resmi masuk Sekolah Rakyat Sukoharjo.

Program pendidikan gratis yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto itu memberikan berbagai fasilitas cuma-cuma untuk anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, termasuk seragam sekolah lengkap.

Saat melihat sang putri mengenakan seragam baru di Sekolah Rakyat, Titin tampak bungah. Ia mengaku bahagia mengetahui Lia akhirnya memakai seragam sekolah baru untuk pertama kali.

"[Waktu anak saya] SD itu, saya dikasih sama tetangga saya. Saat [anak saya] SMP, saya sakit, enggak bisa membelikan seragam sekolah. Terus dikasih sama tetangga saya. Ada tiga orang yang saya minta itu. Ada yang kekecilan, ada yang kebesaran," kata Titin kepada Menteri Sosial, Saifullah Yusuf (Gus Ipul).

Titin berdialog dengan Gus Ipul dalam acara Open House dan MPLS di Sekolah Rakyat Sukoharjo, Jawa Tengah, pada Sabtu (1/8/2026).

Acara ini turut dihadiri oleh Wamensos Agus Jabo, Plt. Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo, Sekjen Kemensos Robben Rico, Dirjen Rehabilitasi Sosial Kemensos Supomo, Kadinsos Provinsi Jawa Tengah Imam Maskur, jajaran Forkopimda Sukoharjo, sejumlah pejabat terkait lainnya, dan para orang tua murid bersama anak-anak mereka.

Di depan Gus Ipul dan hadirin, Titin menceritakan hidup keluarganya yang pas-pasan. Ia mencari nafkah dengan berjualan kerupuk bawang buatannya. Pendapatan bersihnya hanya sekitar Rp46.000 per hari. Adapun sang suami, Misju, yang menjadi buruh tani serabutan, penghasilannya tak menentu.

"Saya senang, bangga, anak saya bisa mendapatkan seragam baru, Pak, dari sini [Sekolah Rakyat]. Untuk anakku, semangat ya, nduk. Jangan pernah menyerah, masa depan ada di depan mata, lihatlah orang tuamu," kata Titin sembari memeluk Lia.

Pengakuan Titin membuat Gus Ipul dan para hadirin terharu, bahkan ada sebagian yang menitikkan air mata. Sekolah Rakyat memberikan kesempatan, harapan, dan kebahagiaan bagi banyak orang tua seperti Titin.

Gus Ipul berharap Sekolah Rakyat menjadi alat ungkit sosial yang membantu banyak anak Indonesia memperoleh pendidikan berkualitas secara gratis. "Ini adalah persembahan Bapak Presiden Prabowo, kepada keluarga-keluarga yang secara sosial ekonomi berada di paling bawah," ujarnya.

Masih dalam acara yang sama, Gus Ipul menjelaskan bahwa murid-murid Sekolah Rakyat berasal dari keluarga yang berada pada Desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).

Namun, Sekolah Rakyat tidak membuka pendaftaran secara terbuka. Para murid direkrut melalui sistem penjangkauan berdasarkan data yang dikelola oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tersebut. Setiap anak yang memenuhi kriteria bisa masuk ke Sekolah Rakyat.

"Keluarga bapak-ibu sekalian dijangkau berbasis data, dilihat kondisi objektifnya, kalau memang memenuhi syarat langsung bisa diterima di Sekolah Rakyat, setelah ditetapkan oleh Kepala Daerah, Bupati, Wali Kota, atau Gubernur," jelasnya.

Gus Ipul menambahkan, Sekolah Rakyat juga tidak memberlakukan tes akademik kepada calon murid. Peserta didik baru dipetakan minat dan bakatnya melalui DNA talent mapping agar pembelajaran yang nantinya diberikan sesuai kebutuhan.

"Maka itu kalau ada anaknya sekarang yang mau masuk menjadi siswa Sekolah Rakyat tidak bisa membaca, jangan khawatir. Sudah banyak contohnya siswa-siswa Sekolah Rakyat yang sebelumnya kelas 1 SMA tidak bisa membaca, tapi sekarang sudah berprestasi," tegas Gus Ipul.

Di akhir sesi dialog, Titin dan Lia menunjukkan kemampuannya dalam bernyanyi. Mereka berduet melantunkan nada merdu disambut tepuk tangan dari para undangan yang hadir.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis