Menuju konten utama

Sejarah Banjir Bandang di Sumatera & Apakah 2025 yang Terbesar?

Sumatera kembali dilanda banjir bandang dengan dampak yang sangat luas. Ketahui sejarah banjir bandang Sumatera sejak era Kolonial beserta penyebabnya.

Sejarah Banjir Bandang di Sumatera & Apakah 2025 yang Terbesar?
Ilustrasi Banjir. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Bencana banjir bandang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Banjir ini disebabkan oleh curah hujan ekstrem yang terjadi selama beberapa hari terakhir.

Hingga Rabu (26/11/2025), sedikitnya ada 13 kabupaten/kota di Sumbar yang dilaporkan terdampak, termasuk Padang, Padang Pariaman, Agam, hingga Pasaman Barat. Sementara itu, ada 11 kabupaten/kota di Sumut yang terkena banjir, termasuk Mandailing Natal dan Sibolga.

Peringatan cuaca dari BMKG yang semula berlaku sampai 27 November akhirnya diperpanjang hingga 29 November. Hal ini karena adanya perkembangan dinamika atmosfer dan potensi bibit siklon tropis yang meningkatkan intensitas hujan di wilayah tersebut.

Dampak banjir di berbagai wilayah Sumatera kian meluas setiap harinya. Di Kota Padang misalnya, lebih dari 27 ribu warga terdampak, dengan sembilan kecamatan mengalami genangan, terutama Kecamatan Koto Tangah yang mencatat jumlah korban terdampak terbesar.

Sejumlah fasilitas publik dan rumah penduduk ikut mengalami kerusakan, sementara Agam dan Pasaman Barat menghadapi kombinasi banjir, angin kencang, dan tanah longsor yang menyebabkan korban jiwa dan kerusakan lahan pertanian.

Kerusakan akibat banjir bandang tahun ini memang cukup besar, tapi bencana ini bukan yang pertama kali dialami Sumatera. Sebelumnya, tercatat beberapa kali banjir bandang pernah terjadi di sejumlah wilayah di pulau paling barat Indonesia tersebut.

Sejarah Banjir Bandang di Sumatera

Ilustrasi Banjir

Ilustrasi Banjir. FOTO/iStockphoto

Sejarah banjir di Sumatera mencatat bahwa bencana ini bukanlah fenomena baru. Sejak masa kolonial, wilayah tersebut beberapa kali mengalami bencana banjir yang dampaknya tidak main-main. Banjir ini bahkan sudah pernah terjadi sejak masa kolonial di sekitar abad 19.

Catatan Awal Banjir Bandang di Era Kolonial

Beberapa peristiwa banjir pernah terjadi di Sumatera sebelum Indonesia merdeka. Salah satu yang terbesar pernah terjadi di Lembah Anai dan merusak sejumlah bangunan, termasuk infrastruktur yang dibangun Belanda kala itu. Berikut beberapa peristiwa banjir bandang di Sumatera di masa kolonial:

1. Banjir Besar Tanah Datar (Fort van Der Capellen) Tahun 1875

Dikutip dari laman Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir besar pernah terjadi di daerah Tanah Datar yang pada masa kolonial dikenal sebagai Fort van Der Capellen. Bencana ini sempat diberitakan oleh surat kabar Bataviaasch Handelsblad pada 29 April 1875.

Bencana ini menyebabkan korban jiwa dan beberapa orang dilaporkan meninggal dunia karena terseret arus banjir. Selain korban jiwa, banjir juga menimbulkan kerugian besar pada sektor ekonomi kolonial dengan menggenangi gudang-gudang pengumpulan kopi, menyebabkan lebih dari 50 pikul kopi hanyut terbawa air bah.

2. Banjir Bandang Lembah Anai Tahun 1892

Pada Desember 1892, Lembah Anai dihantam oleh banjir bandang yang disebut galodo, dipicu oleh curah hujan ekstrem dan juga dikaitkan dengan aktivitas Gunung Marapi kala itu.

Bencana ini menyebabkan kerusakan parah, tidak hanya pada tanah longsor dan bebatuan besar, tapi juga menghancurkan jalur kereta api, dinding penahan, jembatan, rumah-rumah, dan jalan pos kolonial.

Akibatnya, jalur komunikasi terputus selama berbulan-bulan, dan biaya perbaikan untuk infrastruktur kereta api saja diperkirakan mencapai lebih dari setengah juta gulden pada masa itu.

3. Banjir Bandang Lembah Anai Tahun 1904

Tepat pada awal Januari 1904, sebelum rehabilitasi dari bencana sebelumnya rampung, Lembah Anai kembali diterjang banjir besar akibat curah hujan yang tinggi. Insiden ini meluluhlantakkan infrastruktur kereta api.

Jalur kereta api lumpuh, jembatan ambruk karena dihantam banjir, dan transportasi ikut macet total. Kejadian ini sempat diberitakan di beberapa surat kabar seperti Het Vaderland pada 6 Februari 1904.

Tak hanya itu, bencana ini juga memutuskan komunikasi telegraf dengan daerah pedalaman dan Pantai Timur Sumatera, dengan perkiraan kerugian kembali sama dengan tahun 1892, yakni 500.000 gulden.

4. Banjir Bandang Berulang di Padang Panjang dan Lembah Anai (1904–1906)

Menurut BNPB, selama periode tiga tahun ini, wilayah Padang Panjang, Lembah Anai, dan Kayu Tanam secara berulang-ulang dilanda banjir bandang (termasuk peristiwa di Lembah Anai tahun 1904 yang disebutkan sebelumnya).

Dalam tiga tahun tersebut, banjir besar tercatat pernah terjadi sebanyak enam kali di lokasi yang sama. Padahal, di masa itu Belanda sedang membangun banyak infrastruktur. Kerugian yang dialami akibat banjir pun sangat tinggi, dan biaya perbaikannya turut membengkak.

Lembah Anai

Jembatan kereta pengangkut batubara di Batubadukung, Lembah Anai; 1900. FOTO/Wikicommon

Banjir Bandang Besar Pasca Kemerdekaan

Periode pasca-kemerdekaan Indonesia ditandai dengan peningkatan pembangunan dan populasi, yang sayangnya juga bertepatan dengan makin sering dan dahsyatnya insiden banjir bandang.

Pembangunan yang kurang memperhatikan mitigasi bencana, ditambah dengan pertumbuhan penduduk, membuat dampak bencana menjadi jauh lebih fatal. Berikut beberapa peristiwa banjir bandang yang pernah terjadi:

1. Banjir Bandang 1978 dan 1979

Pada tahun 1978, Sumatera Barat diketahui pernah mengalami banjir bandang yang cukup parah, tepatnya di Solok Selatan. Selain itu, di tahun berikutnya juga pernah terjadi banjir di sekitar Gunung Marapi sehingga kerap disebut Galodo Marapi.

Di tahun 1979 tersebut, banjir bandang diketahui pernah melanda Kabupaten Tanah Datar, tepatnya di Desa Pasie Laweh, Kecamatan Sungai Tarab, yang memang lokasinya berada di lereng Gunung Marapi.

2. Banjir Bandang Bahorok, Sumatera Utara (2003)

Banjir bandang di tahun 2003 ini menjadi salah satu bencana paling mematikan. Banjir bandang ini meluluhlantakkan pemukiman dan kawasan pariwisata yang ada di Langkat. Tragisnya, banjir bandang ini menelan lebih dari 100 korban jiwa.

Penyebab utamanya diyakini karena kerusakan hutan akibat pembalakan liar (illegal logging) besar-besaran di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.

3. Banjir Bandang Aceh (2006)

Banjir bandang pernah melanda wilayah Aceh, tepatnya di Kabupaten Aceh Selatan, pada 30 Agustus 2006. Setidaknya ada tiga kecamatan yang terdampak, yaitu Kecamatan Meukek, Labuhan Haji Timur, dan Kluet Tengah.

Bencana banjir ini menghancurkan pemukiman warga, merusak ribuan rumah serta infrastruktur lain yang ada di sana. Bencana ini tidak menelan korban jiwa, tapi sekitar 5.000 penduduk harus mengungsi akibat bencana ini.

Ilustrasi Banjir Bandang

Ilustrasi Banjir Bandang. ANTARA FOTO/Yudi Manar/agr

Banjir Bandang Sumatera 2017–2022

Sekitar 1 dekade terakhir, beberapa wilayah di Sumatera masih cukup sering dilanda banjir. Penyebabnya pun beragam, mulai dari faktor topografi, faktor cuaca ekstrem, hingga faktor manusia seperti penebangan hutan. Berikut beberapa peristiwa banjir bandang yang pernah tercatat di Sumatera:

1. Banjir Bandang Sumatera Utara (2017)

Pada tahun 2017, banjir bandang melanda Kota Padang Sidempuan, Sumatera Utara. Banjir ini diakibatkan luapan deras dari Sungai Batang Ayumi setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur kawasan Tapanuli Bagian Selatan.

Bencana ini, yang dikenal sebagai salah satu yang terbesar pada tahun tersebut dan menelan lima korban jiwa. Air bah yang membawa lumpur dan material kayu menghancurkan puluhan rumah warga, serta merusak sejumlah kendaraan bermotor.

2. Banjir Bandang Sumatera Utara dan Sumatera Barat (2018)

Di tahun 2018, banjir bandang dan longsor besar pernah terjadi di sejumlah wilayah di Sumatera Utara dan Sumatera Barat, mencakup Mandailing Natal dan Sibolga (Sumut), serta Tanah Datar dan Pasaman Barat (Sumbar).

Banjir ini dipicu oleh hujan deras berkepanjangan dan menelan banyak korban jiwa. Selain itu, bencana ini juga menyebabkan kerusakan masif karena banjir membawa material berat seperti batu dan kayu gelondongan, merusak banyak rumah warga serta berbagai fasilitas umum.

3. Banjir Besar Provinsi Bengkulu (2019)

Banjir dan longsor pernah melanda sembilan kabupaten dan kota di Provinsi Bengkulu pada 27 April 2019. Banjir ini terjadi disebabkan oleh kombinasi faktor alam (curah hujan yang sangat ekstrem) dan faktor tindakan manusia.

Kerusakan hutan di hulu sungai, penyempitan daerah aliran sungai (DAS), dan pembangunan yang mengganggu daerah resapan air (termasuk proyek tambang dan perumahan) disebut Gubernur Bengkulu dan BNPB sebagai penyebab yang memperparah kondisi.

Bencana ini menimbulkan kerugian besar dan ditaksir mencapai Rp144 miliar. Banjir ini juga menelan puluhan korban jiwa dan belasan ribu orang mengungsi.

4. Banjir Bandang Lima Puluh Kota, Sumatera Barat (2020)

Bencana banjir pernah terjadi di Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, pada 3 September 2020. Bencana ini disebabkan oleh hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut sejak dini hari.

Air dikabarkan meluap sekitar pukul 03.00 WIB dan menggenangi Nagari Simpang Sugiran. Beruntung, berkat penanganan cepat dan kesigapan warga serta pihak terkait, peristiwa ini tidak menimbulkan korban jiwa maupun korban luka.

Apa Penyebab Utama Banjir Bandang di Sumatera?

DAMPAK BANJIR BANDANG DAN LONGSOR DI MAMUJU

Ilustrasi Banjir Bandang. ANTARA FOTO/Akbar Tado/tom.

Banjir bandang di Sumatera bukanlah fenomena yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan dapat disebabkan oleh beberapa faktor.Untuk memahami permasalahan ini secara utuh, penyebabnya dapat dibagi ke dalam dua kelompok utama, yaitu faktor alam dan faktor manusia.

Faktor Alam: Curah Hujan & Topografi

Sumatera memiliki kondisi geografis yang cukup rentan terhadap banjir bandang. Dua elemen alam utama yang berperan adalah cuaca atau intensitas hujan serta bentuk permukaan bumi.

Sumatera berada di wilayah tropis yang kondisi cuacanya dipengaruhi oleh iklim global. Hal ini menyebabkan peningkatan intensitas hujan yang sering terjadi secara tiba-tiba dan ekstrem.

Fenomena alam seperti La Nina membawa massa udara basah dalam jumlah besar, menyebabkan curah hujan jauh di atas normal dalam waktu singkat.

Di sisi lain, kondisi geografis Sumatera juga berperan besar dalam memperburuk dampak hujan ekstrem. Pulau ini memiliki daerah pegunungan, membentuk topografi curam yang membuat air mengalir sangat cepat dari hulu ke hilir.

Ketika hujan deras turun di daerah perbukitan, air yang seharusnya meresap ke dalam tanah justru mengalir deras ke daerah rendah, meluncur melalui lereng terjal dengan kecepatan tinggi, membawa batu, lumpur, dan potongan kayu yang meningkatkan daya rusak aliran tersebut.

Faktor Manusia: Deforestasi & Tata Ruang

Aktivitas manusia menjadi faktor terbesar yang mengubah hujan ekstrem dari sekadar fenomena alam menjadi bencana banjir bandang yang mematikan.

Kerusakan ekosistem di daerah hulu dan pembangunan tanpa mempertimbangkan risiko bencana telah menyebabkan sistem alam kehilangan kemampuan alaminya menahan air.

Pembukaan hutan atau deforestasi secara masif telah banyak dilakukan di wilayah Sumatera, baik untuk perkebunan, tambang, maupun penebangan batang pohon. Hal ini menjadi penyebab utama meningkatnya kerawanan banjir bandang di wilayah tersebut.

Ketika hutan menipis, akar-akar pohon yang berfungsi menyerap dan menahan air tidak lagi bekerja. Air hujan pun langsung mengalir di permukaan dengan volume dan kecepatan tinggi. Kondisi ini mempercepat erosi, membawa lumpur dan material kayu yang kemudian menjadi banjir bandang.

Selain kerusakan hutan, rusaknya tata ruang di sepanjang aliran sungai juga memperparah potensi banjir bandang. Rusaknya tata ruang ini mencakup:

  • Penyempitan dan pendangkalan Daerah Aliran Sungai (DAS)
Pembangunan pemukiman atau bangunan lain menyebabkan penyempitan lebar sungai. Sungai yang menyempit otomatis akan memiliki kapasitas tampungnya mengecil. Hal inilah yang membuat air mudah meluap.

  • Pendangkalan
Sedimen dan lumpur yang terbawa dari hulu (yang sudah gundul akibat aktivitas manusia) akhirnya mengendap di hilir dan mempercepat pendangkalan sungai. Saat hujan deras, sungai tidak mampu menampung volume air tambahan dan menyebabkan air meluap dan merendam daerah sekitarnya.

Secara keseluruhan, hujan dan cuaca ekstrem mungkin menjadi pemicu banjir, tapi campur tangan manusia yang merusak lingkungan dapat menentukan seberapa besar dampak yang ditimbulkan.

Banjir Bandang 2025 di Sumatera

Jalan Nasional Pasaman Barat

Arus lalu lintas di jalan nasional tepatnya di Nagari Aia Gadang Kecamatan Pasaman Kabupaten Pasaman Barat hingga Selasa (25/11) pagi masih terputus karena genangan air masih menutupi badan jalan akibat luapan air Sungai Batang Pasaman sejak Senin (23/11/2025) malam. ANTARA/Altas Maulana. (Arus lalu lintas terputus akibat banjir)

Sumatera diketahui mengalami bencana banjir beberapa kali di tahun 2025. Salah satu yang terparah terjadi pada bulan November ketika banjir bandang dan longsor melanda beberapa wilayah, terutama di Sumatera Utara dan Sumatera Barat.

Bencana ini dipicu oleh curah hujan ekstrem yang terjadi sejak Senin, 24 November 2025. Beberapa lokasi yang terdampak cukup parah oleh banjir bandang antara lain Sibolga serta wilayah di kawasan Tapanuli Raya (termasuk Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Utara).

Selain itu, banjir juga menerjang wilayah lain seperti Mandailing Natal, Padang, Padang Pariaman, Pasaman Barat, dan juga Agam.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Minangkabau sebelumnya telah berupaya mengantisipasi dengan mengeluarkan peringatan melalui rilis No.3.B/ME.02.04/939.KPDG/XI/2025.

Rilis tersebut memuat informasi tentang potensi bencana hidrometeorologi di Sumatera Barat untuk periode 21–27 November. Namun, cuaca ekstrem terus berkembang dan menghasilkan perubahan signifikan.

Pada akhirnya, BMKG Minangkabau, melalui rilis No. e.B/ME.02.04/042/KPDG/XI/2025, memperpanjang peringatan potensi bencana sehingga masyarakat diminta tetap waspada.

Dalam rilis terbarunya, BMKG menjelaskan pengaruh Bibit Siklon Tropis 95B dan dinamika atmosfer yang berpotensi meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi di wilayah Sumatera Barat pada 26–29 November 2025.

Puluhan ribu warga dilaporkan terdampak oleh bencana ini, sementara sampai saat ini belum ada data final terkait jumlah korban jiwa. Namun, hingga Kamis (27/11), banjir bandang di Sumatera Utara telah menelan setidaknya 34 korban jiwa, sementara puluhan lainnya luka-luka.

Sementara di Sumatera Barat, jumlah korban juga masih terus bertambah. Di Kabupaten Agam, dilaporkan ada 2 korban jiwa, sementara di Padang tercatat ada 4 warga Lubuk Minturun yang juga tewas terseret banjir.

Banjir rendam permukiman di Padang

Petugas SAR gabungan mengevakuasi warga yang terdampak banjir di Parak Jambu, Dadok Tunggul Hitam, Padang, Sumatera Barat, Selasa (25/11/2025). Intensitas curah hujan tinggi membuat sejumlah sungai besar di kota itu meluap dan merendam ratusan rumah. ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/sgd

Bencana ini sendiri langsung mendapat respon cepat dari BNPB. Dikutip dari laman resminya, BNPB telah mengerahkan tim untuk melakukan koordinasi penanganan darurat di wilayah terdampak.

Tim ini juga bekerja bersama BPBD, TNI-Polri, dan pemerintah daerah untuk menyusun strategi penanganan awal sekaligus melakukan pendataan menyeluruh terhadap korban dan kerusakan.

Selain itu, BNPB turut membawa bantuan logistik berupa kebutuhan dasar bagi masyarakat yang terdampak bencana secara langsung. Distribusi bantuan dilakukan bersamaan dengan penyusunan rencana tindakan lanjutan guna memastikan masyarakat terdampak mendapatkan pertolongan cepat.

Salah satu prioritas dalam penanganan darurat adalah membuka jalur darat yang putus akibat bencana, terutama akses yang menghubungkan Sibolga, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan. Hal ini bertujuan agar evakuasi dan pengiriman bantuan bisa berlangsung lebih mudah dan cepat.

Selanjutnya, BNPB membuka kemungkinan untuk melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai upaya tambahan. OMC bertujuan untuk memindahkan turunnya hujan ke tempat lain sehingga dapat mengurangi intensitas curah hujan di wilayah terdampak.

Apakah Banjir Bandang 2025 yang Terbesar dalam Sejarah?

Ilustrasi banjir bandang

Ilustrasi banjir bandang. ANTARA FOTO/Andri Saputra/tom.

Bencana banjir bandang yang melanda Sumatera pada November 2025 telah menimbulkan kerusakan dan kerugian besar, bahkan menimbulkan banyak korban jiwa. Namun, apakah banjir tahun ini adalah bencana yang terbesar dalam sejarah?

Banjir bandang Sumatera kali ini telah menelan puluhan korban jiwa dan luka-luka, sementara ribuan orang dilaporkan mengungsi. Mengingat bencana ini masih terus berlangsung, jumlah pasti terkait korban banjir bandang belum bisa dipastikan karena diperkirakan akan terus bertambah.

Namun, dari sini dapat disimpulkan bahwa banjir bandang yang terjadi pada akhir 2025 ini termasuk salah satu yang terparah. Meski demikian, jika dilihat dari jumlah korban jiwa, banjir bandang tahun ini tidak separah banjir bandang Bahorok yang terjadi pada 2003 yang saat itu menelan korban jiwa lebih dari 100.

Di sisi lain, banjir bandang 2025 ini diketahui melandang banyak wilayah. Setidaknya ada 13 kabupaten/kota di Sumbar dan 11 Kabupaten/Kota di Sumut yang terdampak oleh bencana ini. Jika dibandingkan dengan banjir bandang di tahun-tahun sebelumnya, bencana di tahun 2025 ini termasuk salah satu banjir bandang dengan area terdampak yang paling luas.

Di sisi lain, banjir bandang 2025 ini menyebabkan kerugian yang sangat besar. Dikutip dari Antaranews, banjir bandang yang terjadi di Kabupaten Pesisir Selatan ditaksir mencapai Rp108 miliar.

Mengingat bencana ini terjadi di banyak kabupaten/kota, tentunya kerugian yang dialami akibat banjir bandang ini kemungkinan mencapai ratusan miliar. Menjadikan bencana ini sebagai salah satu peristiwa banjir bandang terparah dalam sejarah bencana di Sumatera.

Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa meskipun banjir bandang Bahorok di tahun 2003 masih menjadi bencana paling mematikan dalam hal korban jiwa, banjir bandang yang terjadi pada November 2025 ini adalah salah satu yang terbesar dan paling kompleks dalam sejarah modern Sumatera.

Bencana ini pun tak hanya menyisakan duka, tapi juga menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan dan kepedulian terhadap lingkungan. Setiap pihak, mulai dari pemerintah hingga masyarakat luas, memiliki peran untuk memastikan tragedi serupa tidak terjadi atau dapat diminimalkan di masa mendatang.

Ikuti terus update berita maupun informasi lain terkait bencana banjir di kumpulan artikel Tirto berikut ini:

Kumpulan Artikel tentang Banjir

Baca juga artikel terkait BANJIR BANDANG atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Edusains
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani