tirto.id - Tertarik membeli tumbler tembaga? Botol minum atau tumbler yang terbuat dari tembaga kerap diklaim lebih sehat karena memiliki sifat antimikroba, tapi bagaimana fakta ilmiahnya? Benarkah tumbler tembaga menyehatkan dan lebih layak untuk dibeli dibandingkan tumbler biasa?
Tumbler telah menjadi tren dalam beberapa tahun terakhir dan berfungsi sebagai wadah minum yang praktis. Tumbler pun hadir dalam berbagai material, termasuk stainless steel, kaca, hingga tembaga yang diklaim lebih sehat.
Tren tumbler tembaga mungkin baru populer belakangan ini, tapi wadah minuman dari tembaga sebenarnya telah dikenal sejak lama, salah satunya dalam Ayurveda, sistem pengobatan holistik asal India dengan akar sejarah yang sangat kuno.
Dalam Ayurveda, air yang disimpan dalam wadah atau bejana tembaga dipercaya memiliki manfaat kesehatan. Logam tembaga akan larut ke dalam air dan membuat air tersebut lebih sehat dari air biasa.
Secara ilmiah, keyakinan ini memiliki dasar sebab tembaga memang dikenal memiliki sifat antimikroba alami. Namun, tentu ada hal-hal yang perlu diperhatikan ketika menyimpan air dalam wadah tembaga karena cara yang tidak tepat justru bisa merugikan kesehatan.
Apa yang Terjadi Saat Air Disimpan di Wadah Tembaga?

Tembaga merupakan mineral yang bisa ditemukan pada bebatuan dan tanah, sedangkan mineral ini dapat larut dalam air yang melewatinya. Jadi, air permukaan sebenarnya sudah mengandung tembaga secara alami, tapi dalam kadar yang sangat rendah atau biasanya kurang dari 0,01 mg/L.
Ketika air disimpan dalam wadah tembaga, maka proses pelarutan yang sama juga akan terjadi. Tembaga akan aktif berinteraksi dengan air melalui proses yang dikenal sebagai pelindian (leaching).
Dalam kondisi ini, tembaga melepaskan ion ke dalam air dan menciptakan larutan yang kaya akan ion tembaga. Agar semakin optimal, air kerap disimpan dalam durasi yang cukup lama, misalnya semalaman, tujuannya agar konsentrasi ion tembaga lebih banyak dan lebih menyehatkan.
Oligodynamic Effect
Dasar ilmiah tentang manfaat air tembaga ini adalah adanya oligodynamic effect, yaitu kemampuan logam seperti tembaga untuk membunuh atau menghambat mikroorganisme walau dalam konsentrasi yang sangat rendah.Banyak jurnal ilmiah yang mendukung hal ini, misalnya studi bertajuk A Study on the Use of Copper Ions for Bacterial Inactivation in Water. Hasil studi ini mendukung klaim bahwa penyimpanan air di wadah tembaga untuk mengurangi bakteri patogen seperti E. coli.
Menurut studi ini, ion tembaga tidak membunuh bakteri secara langsung, tapi bekerja dengan cara mengganggu metabolisme bakteri. Ion tembaga juga akan menghancurkan dinding pelindung bakteri sebelum akhirnya mereka kehilangan kemampuan untuk berkembang biak.
Penelitian lain berjudul Storing Drinking-water in Copper Pots Kills Contaminating Diarrhoeagenic Bacteria juga memberikan kesimpulan yang sama.
Studi tersebut membuktikan bahwa ketika air yang terkontaminasi bakteri penyebab diare (seperti Vibrio cholerae O1, Shigella flexneri 2a, dan Salmonella enterica) disimpan dalam wadah tembaga selama 16 jam pada suhu kamar, bakteri tersebut akhirnya menghilang dan tidak terdeteksi.
Bukti-bukti ilmiah inilah yang dijadikan dasar kuat akan manfaat kesehatan dari wadah minum tembaga, termasuk tumbler copper yang banyak dijual di pasaran.
Apakah Airnya Jadi “Lebih Sehat”?

Secara ilmiah, tembaga memang mampu membunuh mikroorganisme merugikan, tapi apakah airnya jadi lebih sehat? Jawabannya tentu tak sesederhana “ya” atau “tidak”.
Penting untuk dipahami bahwa lebih higienis bukan berarti ada peningkatan nilai gizi atau lebih sehat secara keseluruhan. Pasalnya, air minum yang sehat tidak hanya bebas dari mikroorganisme, tapi juga harus memiliki komposisi mineral seimbang yang benar-benar aman bagi tubuh.
Guna memahami hal ini, kita perlu tahu seberapa besar peran tembaga dan dosis amannya bagi tubuh. Dikutip dari situs Healthline, tembaga merupakan mineral yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah sangat kecil, tapi tetap memiliki peran penting dalam berbagai fungsi tubuh.
Mineral ini terlibat dalam produksi energi, pembentukan jaringan ikat, serta mendukung sistem saraf dan komunikasi kimia di otak. Namun, asupan yang berlebihan justru bisa merugikan kesehatan.
Terpapar dosis tembaga yang tinggi dalam jangka waktu lama akan menyebabkan keracunan yang ditandai dengan mual, muntah, sakit perut, dan diare, bahkan dapat menyebabkan kerusakan hati dan penyakit ginjal.
Sebagai acuan, kebutuhan harian tembaga adalah sekitar 0,9 mg. WHO pun menetapkan batas maksimum tembaga dalam air minum sekitar 2 mg per liter.
Dalam konteks tumbler tembaga, jurnal Storing Drinking-water in Copper Pots Kills Contaminating Diarrhoeagenic Bacteria menyebutkan bahwa kadar tembaga yang terdeteksi dalam air yang disimpan di wadah tembaga selama 16 jam adalah 177±16 ppb (part per billion).
Jika dikonversi ke dalam miligram, maka kadar tembaganya sekitar 0,177 mg/L, masih cukup jauh di bawah standar atau batas aman yang ditetapkan oleh WHO.
Meski demikian, Healthline mencatat bahwa pendukung tren ini tetap menyarankan agar konsumsi air yang mengandung tembaga tidak boleh lebih dari 3 cangkir atau sekitar 710 ml per hari.
Kesimpulannya, air yang disimpan dalam wadah tembaga memang bisa lebih higienis, tapi tidak selalu lebih sehat. Ada potensi bahaya yang harus diwaspadai jika kadar tembaga dalam air sudah berlebihan atau mengonsumsi air tembaga dalam jumlah banyak setiap harinya.
Selain itu, kebersihan wadah dan air, jumlah mikroorganisme yang sudah ada, serta kandungan mineral secara keseluruhan juga turut memengaruhi nilai “kesehatan” suatu air.
Kapan Botol Tembaga Bisa Bermanfaat, Kapan Tidak?

Botol atau tumbler tembaga bisa memberikan manfaat tersendiri. Jika digunakan dengan benar, wadah ini dapat membantu meningkatkan higienitas air karena sifat antimikroba alami yang dimiliki oleh tembaga. Namun, manfaat tersebut tidak selalu berlaku dalam semua situasi.
Sebagai contoh, jika air yang disimpan sangat kotor atau tercemar dengan banyak bakteri berbahaya, maka manfaat botol tembaga tidak akan terasa signifikan.
Begitu pun sebaliknya, air yang sudah sangat bersih atau higienis (misalnya air yang sudah dimasak atau air kemasan), kemungkinan tidak mendapatkan banyak efek tambahan dari wadah tembaga yang digunakan.
Tak hanya itu, sejumlah penelitian yang menguji efek oligodynamic dari tembaga biasanya dilakukan dalam durasi cukup lama, bahkan bisa sampai 16 jam.
Jadi, jika menyimpan air dalam tumbler tembaga dalam waktu singkat (misalnya, tumbler diisi air saat pagi dan diminum menjelang siang), maka manfaat kesehatannya mungkin tidak akan begitu terasa.
Dengan demikian, botol tembaga bisa berguna ketika digunakan untuk penyimpanan jangka panjang (misalnya semalaman) agar efeknya benar-benar bekerja, dan airnya sendiri bukanlah air yang terlalu kotor/tercemar.
Cara Menggunakan Botol Tembaga dengan Aman
![]()
Agar manfaatnya tetap optimal dan tidak menimbulkan risiko kesehatan, penggunaan botol tembaga perlu memperhatikan beberapa hal penting, mulai dari durasi penyimpanan air, kebersihan, hingga kondisi air yang disimpan di dalamnya.
1. Durasi Penyimpanan
Simpan air dalam botol tembaga selama berjam-jam atau semalaman untuk mendapatkan efek antimikroba yang diinginkan. Namun, hindari menyimpan air terlalu lama agar kadar tembaga di dalam air tidak berlebihan dan tidak membahayakan kesehatan.2. Kebersihan dan Perawatan
Tumbler tembaga perlu dibersihkan secara rutin untuk mencegah penumpukan kotoran. Gunakan bahan alami seperti campuran air dan sedikit asam ringan (misalnya potongan lemon/jeruk nipis) untuk membersihkan, lalu bilas sampai bersih. Hindari sabun keras atau bahan abrasif yang bisa merusak permukaan logam.3. Kondisi Fisik Botol
Pastikan botol selalu dalam kondisi baik, tidak mengelupas, dan tidak rusak. Permukaan yang sudah teroksidasi, mengelupas, atau rusak sebaiknya jangan digunakan karena bisa memengaruhi kualitas air.4. Suhu Air
Air yang disimpan dalam botol tembaga sebaiknya air dengan suhu ruang. Air panas atau hangat dapat mempercepat proses pelarutan tembaga. Akibatnya, kadar tembaga dalam air akan meningkat lebih cepat dari yang diharapkan dan airnya bisa berbahaya jika dikonsumsi berlebihan.5. Keasaman Air
Gunakan hanya untuk air putih atau air dengan pH netral (air minum biasa) dan hindari menyimpan air yang bersifat asam (misalnya jus jeruk). Seperti halnya air panas, air yang terlalu asam juga dikhawatirkan dapat mempercepat pelarutan tembaga.Jadi, Perlu Beli atau Tidak?

Dengan manfaatnya yang didukung oleh sains, apakah botol atau tumbler tembaga memang perlu dibeli untuk mendukung kesehatan? Jawaban singkatnya adalah tidak wajib, tapi tetap boleh dibeli jika paham manfaat dan cara pakainya.
Botol tembaga sendiri bukanlah kebutuhan utama karena air minum yang bersih dan aman tetap bisa didapat tanpa harus menggunakan wadah khusus ini.
Jika tujuannya adalah kesehatan, manfaat tambahan dari tembaga sebenarnya relatif kecil dibanding faktor utama seperti kualitas air, pola makan, dan gaya hidup secara keseluruhan.
Apabila dikaitkan dengan kebutuhan mineral tembaga bagi tubuh, tembaga sendiri sebenarnya banyak ditemukan dalam makanan sehari-hari seperti makanan laut, kacang-kacangan, biji-bijian, kentang, produk gandum utuh, cokelat hitam, hingga jeroan.
Menurut Healthline, kasus defisiensi tembaga tergolong jarang terjadi karena asupan dari pola makan umumnya sudah mencukupi, bahkan bisa melebihi kebutuhan harian. Jadi, membeli botol tembaga cukup dipandang sebagai pilihan, bukan kebutuhan kesehatan yang mendesak.
Tertarik dengan info menarik lain seputar air minum? Temukan berbagai tips, rekomendasi produk, hingga berita terkini melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id


































