Menuju konten utama

Perbedaan Saham, Obligasi, dan Reksadana yang Perlu Dipahami

Pahami perbedaan saham, obligasi, dan reksadana, mulai dari imbal hasil hingga tingkat risiko. Rencanakan keuangan sekarang dan pilih investasi terbaikmu.

Perbedaan Saham, Obligasi, dan Reksadana yang Perlu Dipahami
Ilustrasi Investasi. FOTO/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Saham obligasi reksadana, ketiganya merupakan instrumen investasi yang umum digunakan untuk pengembangan dana. Lalu, apa perbedaan saham dan obligasi, serta reksadana? Di antara ketiganya, mana yang sebaiknya dipilih?

Investasi sangat penting dilakukan agar uang yang dimiliki tidak hanya disimpan, tapi juga bisa berkembang dan terhindar dari dampak inflasi. Dengan investasi, kita bisa mempersiapkan dana untuk berbagai kebutuhan di masa depan, mulai dari pendidikan, membeli rumah, hingga dana pensiun.

Jenis investasi pun bermacam-macam sehingga bisa dipilih sesuai kebutuhan dan kemampuan finansial masing-masing. Beberapa yang cukup populer adalah saham, obligasi, dan reksadana.

Meski sama-sama investasi, ketiganya memiliki karakteristik berbeda, mulai dari potensi keuntungan, risiko, hingga cara pengelolaannya. Bagi yang ingin berinvestasi, mari pahami perbedaan saham dan obligasi, serta reksadana demi stabilitas keuangan di masa depan.

Perbedaan Saham, Obligasi, dan Reksadana

Saham, obligasi, dan reksadana merupakan beberapa instrumen investasi yang dapat dipilih untuk menjaga sekaligus mengembangkan kekayaan di tengah inflasi.

Dengan mengalokasikan dana ke instrumen investasi ini, kita tidak hanya menyimpan atau mengamankan nilai uangnya, tapi juga membiarkan uang tersebut bekerja agar bisa mencukupi kebutuhan kita di masa tua nanti.

Lalu, apa saja bedanya saham dan obligasi, serta reksadana? Berikut beberapa perbedaan ketiganya dari berbagai aspek:

1. Kepemilikan vs Pinjaman

Investasi
Ilustrasi investasi. Getty Images/iStockphoto

Saham

Saham adalah bukti kepemilikan seseorang atas sebuah perusahaan. Jadi, ketika seseorang membeli saham, ia menjadi bagian pemilik perusahaan sesuai porsi saham yang ia beli.

Secara sederhana, perusahaan akan menerbitkan saham untuk mendapatkan modal tambahan guna mengembangkan bisnisnya. Saham ini dapat dibeli oleh pihak lain yang nantinya akan menjadi investor atau pemegang saham di perusahaan tersebut.

Sebagai imbalannya, para pemegang saham memiliki hak atas keuntungan perusahaan, bahkan hak suara dalam pengambilan keputusan perusahaan. Namun, sebagai pemilik, investor juga akan ikut menanggung risiko jika perusahaan mengalami kerugian.

Obligasi

Obligasi sendiri merupakan surat utang yang diterbitkan oleh perusahaan atau pemerintah (sebagai peminjam) kepada investor (sebagai pemberi pinjaman). Artinya, ketika investor membeli obligasi, ia sebenarnya sedang meminjamkan uang kepada pihak penerbit obligasi.

Sebagai imbalannya, penerbit wajib membayar bunga atau kupon secara berkala kepada investor. Penerbit obligasi juga harus mengembalikan pokok pinjaman saat sudah jatuh tempo sesuai tenor yang disepakati.

Jadi, perbedaan saham dan obligasi dapat dilihat secara jelas dari segi kepemilikan. Jika saham adalah bukti kepemilikan perusahaan, maka obligasi berkaitan dengan utang. Investor obligasi tidak punya hak kepemilikan perusahaan dan hanya berstatus sebagai kreditur atau pemberi pinjaman.

Reksadana

Reksadana merupakan jenis investasi berupa wadah penghimpunan dana dari masyarakat yang kemudian ditempatkan ke dalam berbagai instrumen seperti saham dan obligasi.

Sederhananya, dana dari banyak investor akan dikumpulkan dalam satu wadah lalu dikelola oleh manajer investasi profesional. Jadi, reksadana termasuk instrumen investasi kolektif sehingga kepemilikan investor bersifat tidak langsung.

Reksadana cocok bagi pemula yang belum punya banyak pengalaman dalam hal investasi. Investor cukup menyetor dana, lalu manajer investasi akan mengelola dananya sesuai tujuan investasi reksadana tersebut.

2. Imbal Hasil

Ilustrasi Investasi
Ilustrasi Investasi. FOTO/iStockphoto

Saham

Imbal hasil saham berasal dari dua sumber utama, yaitu capital gain (keuntungan dari selisih harga beli dan harga jual saham) serta dividen (pembagian laba perusahaan kepada pemegang saham). Besarnya imbal hasil tidak tetap karena sangat bergantung pada kinerja perusahaan dan kondisi pasar.

Obligasi

Imbal hasil juga menjadi salah satu perbedaan saham dan obligasi. Jika saham bergantung pada bisnis dan laba perusahaan, imbal hasil obligasi berasal dari kupon atau bunga yang dibayarkan secara berkala oleh penerbit obligasi kepada investor.

Besaran bunga biasanya sudah ditentukan sejak awal sehingga bersifat tetap dan imbal hasilnya dapat diprediksi. Selain kupon, investor juga bisa memperoleh keuntungan jika obligasi dijual di pasar sekunder dengan harga lebih tinggi dari harga beli.

Reksadana

Imbal hasil reksadana tidak bersifat tetap dan dipengaruhi kinerja portofolio investasi yang dikelola oleh manajer investasi. Portofolio ini dapat terdiri dari saham, obligasi, atau instrumen pasar uang sehingga hasilnya mengikuti naik turunnya nilai aset tersebut.

Dengan kata lain, imbal hasil reksadana sangat bergantung pada jenis reksadana itu sendiri serta pengelolaan portofolio.

3. Tingkat Risiko

Header Prudential Unitlink
Ilustrasi risiko investasi. (FOTO/iStockphoto)

Saham

Saham termasuk jenis investasi yang memiliki tingkat risiko tinggi, bahkan lebih tinggi dibandingkan obligasi dan reksadana. Hal ini disebabkan fluktuasi harga yang bisa dipengaruhi oleh kinerja perusahaan, kondisi ekonomi dan pasar, hingga faktor global.

Saham sering disebut sebagai investasi dengan karakter high risk high return. Artinya, saham memang memiliki potensi keuntungan yang tinggi, tapi hal ini juga sejalan dengan risiko kerugian yang cukup besar.

Obligasi

Obligasi memiliki tingkat risiko yang lebih rendah dibandingkan saham dan kerap dianggap sebagai instrumen investasi yang lebih stabil. Meski demikian, bukan berarti obligasi tidak memiliki risiko.

Risiko utama obligasi adalah risiko gagal bayar, yaitu kondisi ketika penerbit obligasi tidak mampu membayar kupon kepada investor atau tidak bisa mengembalikan pokok pinjaman sesuai jadwal jatuh tempo.

Nilai obligasi juga dapat menurun saat suku bunga naik sehingga harga jualnya di pasar sekunder ikut tertekan. Selain itu, tidak semua obligasi mudah dijual kembali karena tingkat likuiditas tiap produk berbeda.

Reksadana

Risiko reksadana sangat bergantung pada jenis aset yang dikelola di dalamnya. Jadi, setiap jenis reksadana memiliki profil risiko yang berbeda sehingga investor sudah harus menyesuaikan pilihan dengan tujuan investasi dan mempertimbangkan risikonya sejak awal.

Secara umum, nilai investasi reksadana dapat naik-turun mengikuti kondisi pasar sehingga ada kemungkinan investor mengalami kerugian ketika harga aset di dalam portofolio menurun. Selain itu, terdapat risiko likuiditas apabila pencairan dana membutuhkan waktu lebih lama saat kondisi pasar tidak stabil.

Reksadana juga dipengaruhi kemampuan manajer investasi dalam mengelola dana sehingga hasil investasi pun bisa saja tidak sesuai harapan.

4. Jangka Waktu

Ilustrasi menabung
Ilustrasi Investasi. FOTO/Dok. Bank bjb

Saham

Salah satu perbedaan saham dan obligasi adalah dari segi jangka waktu. Saham tidak memiliki jangka waktu atau jatuh tempo. Artinya, investor dapat menyimpan saham selama yang diinginkan. Kepemilikan saham akan tetap berlaku selama investor belum menjualnya di pasar modal.

Saham memang dapat diperdagangkan di pasar sekunder sehingga likuiditasnya tinggi dan tidak terikat oleh waktu layaknya obligasi maupun reksadana. Investor pun bebas menentukan kapan hendak membeli atau menjual saham sesuai strategi investasi yang direncanakannya.

Obligasi

Obligasi memiliki jangka waktu atau tenor yang jelas. Umumnya, obligasi memiliki tenor mulai dari 1 tahun hingga 10 tahun, bahkan bisa lebih, tergantung pada kebijakan masing-masing penerbit obligasi.

Selama jangka waktu tersebut, investor akan menerima pembayaran kupon secara berkala hingga jatuh tempo tiba. Saat sudah jatuh tempo, penerbit obligasi pun wajib mengembalikan pokok utang/pinjaman kepada investornya.

Reksadana

Reksadana juga memiliki jangka waktu, tapi lebih fleksibel dibandingkan obligasi. Investor biasanya dapat mencairkan investasi kapan saja selama mengikuti ketentuan waktu proses pencairan sesuai dengan jenis reksadananya.

Reksadana termasuk instrumen investasi dengan likuiditas tinggi, terutama pada jenis reksadana pasar uang dan pendapatan tetap. Meski demikian, tingkat fleksibilitas pencairan tetap bergantung pada kebijakan produk dan manajer investasi yang mengelolanya.

5. Modal Awal

Header BNC 3
Ilustrasi Modal Investasi. foto/istockphoto

Saham

Modal awal untuk investasi saham sebenarnya bersifat fleksibel, tapi tetap bergantung pada harga saham yang dibeli di pasar. Pembelian saham dilakukan dalam satuan lot, sedangkan 1 lot berisi 100 lembar saham.

Contoh, jika harga saham sebesar Rp1.000 per lembar, maka 1 lot membutuhkan modal sekitar Rp100.000. Sementara itu, jumlah dana yang dibutuhkan akan berbeda-beda tergantung harga saham masing-masing perusahaan.

Saham sendiri dapat diakses oleh masyarakat luas melalui pasar modal, tapi biasanya membutuhkan dana awal yang cukup besar, terutama untuk saham-saham perusahaan dengan harga tinggi. Oleh karena itu, investor perlu menyesuaikan modal dengan kemampuan finansialnya.

Obligasi

Modal awal investasi obligasi biasanya lebih besar dibanding saham maupun reksadana dan memiliki nominal pembelian minimum. Sebagai contoh, situs Kementerian Keuangan menyebutkan bahwa Obligasi Negara Ritel (ORI) memiliki minimal pembelian Rp1 juta.

Sementara itu, obligasi yang diterbitkan korporasi (perusahaan atau bank) umumnya memiliki minimal pembelian yang lebih tinggi. Sebagai contoh, BRI pernah menerbitkan Obligasi Berkelanjutan III Tahap I pada tahun 2019, dan investor dapat membeli obligasi dengan minimal pemesanan Rp50 juta.

Reksadana

Dibandingkan saham dan obligasi, reksadana termasuk instrumen investasi dengan modal awal yang sangat terjangkau. Investor dapat mulai berinvestasi dengan dana yang relatif kecil, bahkan mulai dari puluhan ribu rupiah, tergantung kebijakan masing-masing platform atau manajer investasi.

Reksadana bisa memiliki modal awal rendah karena merupakan jenis investasi kolektif. Dana dari banyak investor nantinya akan dihimpun dan dikelola bersama. Hal ini pula yang membuat reksadana menjadi lebih mudah diakses oleh masyarakat, termasuk investor pemula dengan modal terbatas.

Mana yang Harus Dipilih antara Saham, Obligasi dan Reksadana?

Investasi

Ilustrasi Investasi. Getty Images/iStockphoto

Setelah mengetahui perbedaan saham, obligasi, dan reksadana, kira-kira mana instrumen investasi yang paling baik dan harus dipilih? Jawabannya, tidak ada satu instrumen investasi yang “paling baik” untuk semua orang.

Pilihan antara saham, obligasi, dan reksadana sangat bergantung pada tujuan keuangan serta tingkat toleransi risiko masing-masing individu. Setiap jenis investasi memiliki karakter yang berbeda. Jadi, yang paling penting adalah menyesuaikannya dengan kebutuhan, bukan sekadar mengejar keuntungan.

Berikut gambaran ringkas masing-masing instrumen investasi:

1. Saham

  • Cocok untuk investor dengan profil risiko tinggi.
  • Memiliki potensi keuntungan yang besar dalam jangka panjang.
  • Nilai investasi bisa naik turun dengan cepat mengikuti kondisi pasar.
  • Sesuai bagi investor yang siap menghadapi fluktuasi harga.
  • Umumnya cocok untuk tujuan investasi jangka panjang.
2. Obligasi

  • Cocok untuk investor yang menginginkan pendapatan lebih stabil.
  • Risiko cenderung lebih rendah dibanding saham.
  • Memberikan kupon atau bunga secara berkala.
  • Sering digunakan untuk menjaga kestabilan portofolio investasi.
  • Sesuai untuk tujuan keuangan jangka menengah hingga panjang.
3. Reksadana

  • Cocok untuk semua investor, termasuk pemula.
  • Dana dikelola oleh manajer investasi profesional.
  • Memiliki diversifikasi aset sehingga risiko lebih tersebar.
  • Tersedia untuk berbagai profil risiko, dari konservatif hingga agresif.
  • Modal awal yang relatif rendah.
Setiap instrumen memiliki karakteristik, potensi keuntungan, serta risiko yang berbeda sehingga sangat penting untuk mempelajarinya sebelum mulai berinvestasi. Dengan memahami perbedaan saham dan obligasi, serta reksadana sebagai instrumen investasi, kita bisa lebih bijak dalam menentukan pilihan.

Jadi, jika bertanya jenis investasi mana yang harus dipilih? Jawabannya kembali kepada diri kita masing-masing. Intinya, pahami apa yang ingin kita capai dan seberapa besar "benturan" kerugian yang sanggup kita tanggung.

Butuh informasi lain terkait investasi dan seputar keuangan? Cek selengkapnya di tautan berikut ini:

Kumpulan Artikel Keuangan

Baca juga artikel terkait INVESTASI atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Edusains
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani