tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.090 pada perdagangan hari ini, Kamis (9/4/2026). Rupiah turun sebesar 78 poin atau 0,41 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.012.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, berujar melemahnya nilai rupiah disebabkan dua faktor, yakni faktor internal dan faktor eksternal.
Faktor internal melemahnya rupiah, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 4,7 persen atau turun dari perkiraan sebelumnya 4,8 persen. Meski direvisi turun, angka tersebut dinilai masih lebih tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) yang hanya 4,2 persen.
"Prospek ekonomi kawasan dipengaruhi tiga faktor eksternal utama, yakni konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga energi, pembatasan perdagangan di Amerika Serikat serta ketidakpastian kebijakan global, dan perkembangan pesat teknologi kecerdasan buatan [AI]," sebut Ibrahim dalam keterangannya, Kamis.
Ibrahim berujar OECD sebelumnya memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026. Pertumbuhan diperkirakan berada di level 4,8 persen dari sebelumnya 5 persen. Revisi ini muncul di tengah tekanan global yang meningkat, terutama akibat lonjakan harga energi dan ketegangan geopolitik.
Kata Ibrahim, pesimisme Bank Dunia dan OECD berbanding terbalik dengan Pemerintah yang optimis memproyeksikan ekonomi 2026 tumbuh kuat di kisaran 5,4 persen–5,7 persen, didorong oleh konsumsi domestik, investasi, dan program biodiesel B50, dengan optimisme mencapai 6 persen melalui transformasi struktural.
Fokusnya, kata Ibrahim, kedaulatan pangan/energi, kebijakan fiskal pruden, dan percepatan investasi untuk menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian global
Di satu sisi, faktor eksternal melemahnya rupiah, yakni gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut dan ketegangan geopolitik yang kembali meningkat di Timur Tengah mengaburkan prospek pasokan.
"Pergerakan kapal yang terbatas dan terkontrol ketat telah dilanjutkan, tetapi gangguan pengiriman tetap ada, dengan Iran mempertahankan kendali signifikan atas transit dan akses," sebut Ibrahim.
Ia menilai sentimen pasar semakin terganggu oleh meningkatnya serangan Israel di Lebanon yang berisiko merusak gencatan senjata yang rapuh. Laporan menunjukkan, jalur kapal tanker melalui selat dihentikan setelah serangan tersebut, meskipun pejabat AS memberi sinyal tanda-tanda awal pembukaan kembali sebagian.
Di satu sisi, Iran mengatakan pembicaraan damai dengan AS akan tidak masuk akal setelah serangan terbaru dengan alasan bahwa serangan tersebut melanggar ketentuan gencatan senjata yang baru diumumkan.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran. Hal ini memicu harapan akan dibukanya kembali Selat Hormuz dan mengurangi hambatan pasokan.
"Namun, para analis memperingatkan bahwa gangguan struktural pada rantai pasokan dan infrastruktur di seluruh wilayah tersebut dapat memakan waktu berbulan-bulan untuk diperbaiki," tutur Ibrahim.
Ia menambahkan, Fed masih memperkirakan akan menurunkan suku bunga 2026, bahkan di tengah tingkat ketidakpastian yang tinggi dari perang Iran dan tarif.
"Para pembuat kebijakan menyatakan bahwa mereka perlu tetap gesit saat mereka mempertimbangkan dampak perang terhadap inflasi, yang terus berada di atas target Fed, dan perekrutan tenaga kerja, yang sebagian besar stagnan selama setahun terakhir," ucapnya.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id







































