Menuju konten utama

Rupiah Lampaui Asumsi APBN, Wamenkeu: Sudah Masuk Stress Test

Kondisi tersebut diklaim sudah diantisipasi pemerintah melalui skenario stress test, sehingga dampak terhadap fiskal tidak signifikan.

Rupiah Lampaui Asumsi APBN, Wamenkeu: Sudah Masuk Stress Test
Karyawan menata uang di BSI KC Semarang Ahmad Yani, Semarang, Jakarta, Kamis (27/2/2025).ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar Rupiah telah melampaui asumsi makro dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Per hari ini, Selasa (7/4/2026), Rupiah terdepresiasi 0,41 persen ke level Rp17.105 per dolar AS.

Kondisi ini jauh melampaui asumsi dasar APBN 2026 yang awalnya disepakati di rentang Rp16.500-Rp16.900 per dolar AS.

Merespons hal tersebut, Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, mengatakan bahwa kondisi tersebut sudah diantisipasi pemerintah melalui skenario stress test, sehingga dampak terhadap fiskal tidak signifikan.

“Itu sudah masuk dalam stress test kita,” ujar Wamenkeu Juda Agung di Menara Bank Mega, Jakarta, Selasa (7/4/2026).

Menurutnya, meskipun kurs rupiah bergerak di luar target asumsi APBN yang ditetapkan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah skenario ketahanan fiskal. Ia menyebutkan bahwa parameter fiskal utama seperti defisit dan pembiayaan tetap terjaga.

“No problem dari sisi fiskalnya, dampaknya enggak signifikan,” ucapnya.

Ia pun memastikan defisit APBN 2026 akan tetap terjaga di bawah 3 persen, meski harga minyak mentah dunia melambung dan bahan bakar minyak (BBM) subsidi tidak naik.

Lebih jauh, pemerintah pun terus melakukan sejumlah upaya agar roda perekonomian tetap berjalan, utamanya dengan menjaga daya beli masyarakat.

"Overall APBN kita masih bisa kita jaga di bawah 3 persen defisitnya, dengan pertumbuhan ekonomi khususnya daya beli masyarakat masih bisa terjaga," kata dia.

Juda menyebut lonjakan harga minyak dunia juga dapat memicu potensi windfall revenue alias pendapatan tak terduga bagi Indonesia, terutama dari sektor hulu migas dan batu bara.

“Ini bisa menjadi kompensasi di tengah pembengkakan subsidi BBM,” tuturnya.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama