Menuju konten utama

Rupiah Makin Tersungkur, Ditutup Melemah ke Rp17.035 per US$

Rupiah turun sebesar 55 poin atau 0,32 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp16.980.

Rupiah Makin Tersungkur, Ditutup Melemah ke Rp17.035 per US$
Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta, Senin (15/9/2025). Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Senin (15/9) di Jakarta melemah sebesar 33,50 poin atau 0,20 persen menjadi Rp16.408 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp16.375 per dolar AS. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/sgd
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.035 pada perdagangan hari ini, Senin (6/4/2026). Rupiah turun sebesar 55 poin atau 0,32 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp16.980.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, berujar pelemahan rupiah dipengaruhi sentimen pelebaran defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) pada kuartal pertama tahun ini.

Berdasarkan paparan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa di DPR RI hari ini, defisit anggaran telah mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

"Angka defisit ini lebih besar dibanding realisasi pada periode yang sama tahun lalu, yakni hanya Rp99,8 triliun atau 0,41 persen terhadap PDB. Pemerintah menargetkan batas atas defisit APBN 2026 mencapai 2,68 persen terhadap PDB," tuturnya dalam keterangan yang diterima, Senin.

Sementara itu, faktor eksternal pelemahan rupiah tak lepas dari meningkatnya ketegangan di Timur Tengah usai Presiden AS Donald Trump memberikan tenggat 48 jam bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Jika pada Selasa (7/4/2026), pukul 20.00 waktu bagian timur, kehendak tersebut tak dijawab, Trump mengancam akan melancarkan serangan ke fasilitas pembangkit listrik di Iran.

Sementara itu, Juru Bicara Presiden Iran Seyyed, Mohammad Mehdi Tabatabaei, mengatakan transit melalui selat tersebut hanya dapat dilanjutkan jika sebagian pendapatan dialokasikan untuk mengkompensasi Iran atas kerusakan terkait perang.

"Ancaman tersebut menghidupkan kembali kekhawatiran akan eskalasi lebih lanjut di Teluk, di mana pengiriman barang tetap sangat terbatas selama beberapa minggu," tutur Ibrahim.

"Meningkatnya kembali harga minyak mentah juga memperkuat kekhawatiran inflasi bagi pasar keuangan, dengan biaya energi yang lebih tinggi diperkirakan akan menekan sektor transportasi, manufaktur, dan konsumen secara global jika Selat tetap diblokir," lanjut dia.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana