tirto.id - Gubernur Bali, Wayan Koster, membantah informasi pariwisata Bali dalam kondisi sepi. Dia mengungkap hal tersebut dalam data perbandingan antara wisatawan domestik dan mancanegara pada 2025 dan 2026 ketika Rapat Paripurna di Gedung DPRD Provinsi Bali, Senin (06/04/2026).
Pada data lalu lintas wisatawan melalui Bandara Ngurah Rai, tampak wisatawan dalam kedua segmen meningkat dibandingkan tahun lalu. Wisatawan domestik pada periode Januari–Maret 2026 berada di angka 968.313 atau meningkat 4 persen (37.475 orang) dibandingkan tahun sebelumnya.
Rincinya, pada Januari terdapat 329.682 wisatawan domestik yang berkunjung ke Bali. Angka tersebut diikuti wisatawan di Februari sebanyak 283.978 dan Maret sebanyak 354.653 wisatawan.
Sementara itu, wisatawan mancanegara mengalami kenaikan 2,4 persen (39.385 orang) ke angka 1.645.169 wisatawan dengan rincian 588.900 wisatawan di Januari, 533.303 wisatawan di Februari, dan 522.966 wisatawan di Maret.
"Kalau lewat darat, yang domestiknya itu akan jauh lebih banyak karena tol Jawa itu sudah cukup banyak, jadi banyak yang bolak-balik menggunakan jalur darat. Kalau ada yang menyampaikan isu macam-macam di media sosial, ini datanya. Tidak membuktikan apa yang menjadi isu di media sosial," kata Koster ketika Rapat Paripurna di Gedung DPRD Provinsi Bali, Senin (06/04/2026).
Koster juga meyakinkan kunjungan wisatawan tidak terpengaruh oleh konflik Timur Tengah. Namun, dia tidak menampik terdapat sejumlah isu yang masih dimiliki Pulau Dewata yang dapat berdampak pada pariwisata, seperti kemacetan dan kemacetan.
"Banyak yang menganalisis nanti wisatawan Bali akan terpuruk, ternyata tidak. Konflik di sana, damai di Bali. Seperti kasus perang Rusia dan Ukraina, jadi di situ perang, di sini damai," ucapnya.
Ketua DPRD Provinsi Bali, Dewa Made Mahayadnya, membenarkan ucapan Koster. Menurutnya, Bali masih dianggap tempat yang aman, nyaman, dan terjangkau oleh wisatawan asing. Selain itu, wisatawan cenderung pergi ke Bali karena aktivitas budaya dan kulinernya.
"Tentu juga, akomodasi kita ini sangat lengkap. Dari menengah ke atas sampai menengah ke bawah juga tersedia di Bali," ungkap Dewa.
Dewa juga menanggapi imbauan perjalanan (travel warning) dari Kedutaan Besar (Kedubes) Korea Selatan yang mengimbau warganya untuk berhati-hati jika berkunjung ke Bali karena terjadi kejahatan serius yang menargetkan warga negara asing secara beruntun.
"Kalau melihat dari daftar negara yang mengirimkan wisatawan ke Indonesia, Korea Selatan itu peringkat 6, malah Cina lebih di atas. Tidak perlu khawatir. Tidak berpengaruh," imbuhnya.
Sebelumnya, Kedubes Korea Selatan mengeluarkan imbauan pada Rabu (01/04/2026) dengan judul "Peringatan Keamanan tentang Pencegahan Kejahatan Serius" di situs resminya. Secara spesifik, Korea Selatan menyorot kejahatan di wilayah Jimbaran, Seminyak, dan Canggu, serta meminta warga yang mengunjungi Bali untuk memerhatikan keselamatan pribadi mereka.
Kedubes Korea Selatan juga menyebut beberapa peristiwa kriminal yang melibatkan WNA di Bali, seperti kasus penculikan Ihor Komarov tanggal 15 Februari, penusukan WN Belanda tanggal 23 Maret, serta pelecehan seksual terhadap WN Cina oleh sopir ojek.
Berdasarkan data BPS Bali, untuk bulan Februari 2026, jumlah wisatawan asal Korea Selatan yang masuk ke Bali adalah 23.600 orang atau mencapai 4,79 persen dari total wisatawan yang berwisata di Bali.
Penulis: Sandra Gisela
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id

































