tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.105 pada perdagangan hari ini, Selasa (7/4/2026). Rupiah terdepresiasi sebesar 70 poin atau 0,41 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.035.
Berdasarkan data Bloomberg, pergerakan harian rupiah berada di rentang Rp17.046 hingga Rp17.119 per dolar AS, setelah start pada harga Rp17.048 per dolar AS. Jika ditarik sepanjang tahun berjalan (year-to-date), rupiah telah mencatatkan pelemahan hingga 2,55 persen.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, berujar pelemahan mata uang Garuda masih disebabkan meningkatnya ketidakpastian global. Hari ini, investor bersiap menghadapi potensi eskalasi di Timur Tengah menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Padahal, gangguan lalu lintas kapal tanker dalam beberapa pekan terakhir dinilai telah memperketat ekspektasi pasokan dan meningkatkan premi risiko di seluruh pasar minyak.
"Upaya diplomatik untuk meredakan konflik tampaknya goyah. Iran menolak proposal yang didukung AS yang menguraikan gencatan senjata 45 hari dan pembukaan kembali selat secara bertahap, bersamaan dengan negosiasi yang lebih luas tentang pencabutan sanksi dan rekonstruksi," ucapnya.
Sementara itu, Iran menolak proposal tersebut dan menyerukan penghentian permusuhan secara permanen, jaminan yang mengikat terhadap serangan di masa mendatang, pencabutan sanksi, dan kompensasi atas kerusakan.
Trump lantas menegaskan kembali bahwa tenggat waktu tersebut tidak dapat ditoleransi. Trump juga memperingatkan bahwa kegagalan untuk mematuhi tenggat waktu dapat memicu serangan AS terhadap infrastruktur Iran, termasuk pembangkit listrik dan jembatan.
"Konfrontasi ini telah mengganggu aliran energi global dan mendorong harga minyak lebih tinggi, memicu kekhawatiran inflasi dan mempersulit prospek kebijakan moneter. Investor juga menunggu data inflasi AS penting yang akan dirilis pada hari Jumat, yang diharapkan memberikan petunjuk tentang lintasan suku bunga Fed," urai Ibrahim.
Sementara dari dalam negeri, pelemahan rupiah dipengaruhi sentimen negatif atas desain subsidi berbasis komoditas, yang membuka celah konsumsi oleh kelompok mampu.
"Bahan bakar minyak [BBM] bersubsidi masih dapat diakses tanpa pembatasan yang jelas. Kondisi ini membuat distribusi subsidi tidak sepenuhnya dinikmati kelompok yang berhak dan berisiko menimbulkan ketimpangan di lapangan," tutur Ibrahim.
Menurut Ibrahim, fokus sasaran subsidi harus diperketat ketika harga minyak melonjak ke 113 dolar AS per barel. Di satu sisi, ruang fiskal pemerintah dinilai semakin terbatas untuk meredam gejolak tersebut.
"Daya beli masyarakat masih lemah sehingga kebijakan tersebut berpotensi menambah tekanan ekonomi. Sebagai alternatif, pemerintah didorong melakukan efisiensi belanja dan realokasi anggaran. Langkah ini lebih realistis untuk menjaga stabilitas fiskal di tengah lonjakan harga minyak global," urainya.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































