Menuju konten utama

Rupiah Makin Terperosok, Ditutup di Level Rp17.041 per US$

Rupiah terdepresiasi sebesar 39 poin atau 0,23 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.002.

Rupiah Makin Terperosok, Ditutup di Level Rp17.041 per US$
Petugas menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta, Senin (15/9/2025). Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Senin (15/9) di Jakarta melemah sebesar 33,50 poin atau 0,20 persen menjadi Rp16.408 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp16.375 per dolar AS. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/sgd
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.041 pada perdagangan hari ini, Selasa (31/3/2026). Rupiah terdepresiasi sebesar 39 poin atau 0,23 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.002.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, berujar bahwa faktor internal masih menjadi salah satu penyebab tekanan rupiah. Pasalnya, meski ekonom memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026 akan berada di kisaran 5,1 persen–5,2 persen, terdapat hambatan dari perlambatan pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi dan net ekspor.

"Penyebabnya memburuknya kondisi global pada Maret 2026 akibat perang di Timur Tengah yang menekan harga energi, pasar keuangan, dan nilai tukar," sebutnya dalam keterangan yang diterima, Selasa (31/3/2026).

Tak hanya itu, penutupan efektif Selat Hormuz oleh Iran juga turut menjadi penyebab. Jalur yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak global dan sejumlah besar kapal tanker gas alam cair tersebut telah mendorong harga minyak Brent berjangka naik 59 persen pada Maret 2026.

Menurut Ibrahim, kenaikan itu menjadi lonjakan harga bulanan tertinggi yang pernah ada. Sementara itu, WTI naik 58 persen bulan ini, yang merupakan level tertinggi sejak Mei 2020.

Bahkan, Kuwait Petroleum Corp mengaku kapal tanker minyak mentah mereka yang bermuatan penuh, Al Salmi, dihantam serangan yang diduga dilakukan Iran di Pelabuhan Dubai. Merespons fenomena itu, para pejabat setempat memperingatkan potensi tumpahan minyak di daerah tersebut.

Belum lagi, pasukan Houthi Yaman yang bersekutu dengan Iran menargetkan Israel dengan rudal. Hal ini menimbulkan kekhawatiran baru tentang kemungkinan gangguan terhadap Selat Bab el-Mandeb, titik sempit yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden serta menjadi rute utama bagi kapal yang bergerak antara Asia dan Eropa melalui Terusan Suez.

Sementara di Amerika Serikat, Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa AS akan menghancurkan pembangkit energi dan sumur minyak Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz.

"Hal ini menyusul penolakan Teheran terhadap proposal perdamaian AS sebagai 'tidak realistis' dan serangan rudal baru-baru ini terhadap Israel," tutur Ibrahim.

"Namun demikian, Gedung Putih mengatakan pada hari Senin bahwa pembicaraan dengan Iran terus berlanjut dan berjalan dengan baik, menambahkan bahwa apa yang dikatakan Teheran secara publik berbeda dengan apa yang mereka sampaikan kepada pejabat AS secara pribadi," lanjutnya.

Baca juga artikel terkait RUPIAH atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana