tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke level Rp17.002 pada perdagangan Senin (30/3/2026). Rupiah turun 22 poin atau 0,13 persen dari penutupan sebelumnya di Rp16.980.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Dari sisi domestik, rencana efisiensi anggaran dinilai perlu diimbangi kebijakan lain agar efektif menjaga defisit APBN. Tekanan fiskal saat ini bersifat struktural, berasal dari subsidi energi, kenaikan biaya bunga utang, serta kebutuhan belanja prioritas.
"Maka dari itu, kebijakan efisiensi anggaran tidak bisa berdiri tunggal untuk menjaga defisit tetap terkendali, sehingga diperlukan kombinasi kebijakan," ucapnya dalam keterangan yang diterima, Senin.
"Secara umum, ruang efisiensi anggaran pemerintah masih memadai, namun terbatas dan harus diterapkan secara selektif," lanjut dia.
Ia menambahkan, ruang efisiensi terutama berasal dari belanja non-prioritas di tengah struktur belanja yang semakin ketat. Pelaksanaannya pun harus tetap menjaga kualitas belanja, tidak sekadar penghematan.
Menurutnya, efektivitas efisiensi dapat dilihat dari peningkatan dampak program terhadap anggaran, perbaikan ICOR, pergeseran ke belanja produktif, serta stabilnya indikator makro seperti pertumbuhan di atas 5 persen dan inflasi terkendali.
"Selain itu, penyerapan anggaran yang lebih merata sepanjang tahun juga menjadi sinyal penting. Jika efisiensi hanya menghasilkan underspending tanpa peningkatan output, maka dampaknya justru kontraktif bagi ekonomi," sebutnya.
Ia menekankan, optimalisasi penerimaan, reprioritisasi belanja berbasis hasil, dan pengelolaan pembiayaan yang kredibel perlu berjalan seiring dengan efisiensi anggaran. "Tanpa itu, efisiensi hanya menjadi bantalan jangka pendek, sementara tekanan defisit berpotensi meningkat di paruh kedua tahun," tuturnya.
Dari eksternal, pasar masih mencermati potensi eskalasi konflik Iran setelah serangan kelompok Houthi ke Israel pada akhir pekan. Ketegangan ini berisiko membuka front baru di kawasan Laut Merah.
Selain itu, Iran disebut siap menghadapi kemungkinan invasi darat oleh AS, seiring laporan pengerahan pasukan ke Timur Tengah. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyebut negosiasi dengan Iran berjalan baik, meski tetap membuka peluang serangan lanjutan.
Trump juga memperpanjang tenggat serangan terhadap infrastruktur energi Iran hingga awal April 2026. Sementara itu, Iran masih menolak pembicaraan langsung sejak konflik memanas pada akhir Februari 2026.
"Dari segi data, Universitas Michigan mengungkapkan bahwa rumah tangga Amerika mulai pesimis tentang kondisi ekonomi. Sentimen Konsumen pada bulan Maret turun dari 55,5 menjadi 53,3, di bawah perkiraan 54," tutur Ibrahim.
"Ekspektasi inflasi untuk dua belas bulan ke depan melonjak dari 3,4 persen pada bulan Februari menjadi 3,8 persen, sementara untuk lima tahun tetap tidak berubah di 3,2 persen," lanjut dia.
Ia menambahkan, pasar kini mulai memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed, seiring tingginya harga energi. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar melihat tidak ada penurunan suku bunga tahun ini, dengan peluang sekitar 50 persen terjadi kenaikan pada akhir 2026—berubah dari sebelumnya yang memproyeksikan dua kali penurunan sebelum konflik AS-Iran.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id

































