Menuju konten utama

Gencatan Senjata AS-Iran, Rupiah Ditutup Terbang ke Rp17.012/US$

Rupiah naik sebesar 93 poin atau 0,54 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.105.

Gencatan Senjata AS-Iran, Rupiah Ditutup Terbang ke Rp17.012/US$
Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS di gerai penukaran mata uang asing Dolarindo, Melawai, Jakarta, Senin (15/9/2025). Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari Senin (15/9) di Jakarta melemah sebesar 33,50 poin atau 0,20 persen menjadi Rp16.408 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp16.375 per dolar AS. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/sgd
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup menguat ke level Rp17.012 pada perdagangan hari ini, Rabu (8/4/2026). Rupiah naik sebesar 93 poin atau 0,54 persen dari penutupan sebelumnya di level Rp17.105.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan, penguatan rupiah didukung sentimen positif pasar terhadap gencatan senjata antara Iran dan AS. Trump mengatakan ia akan menangguhkan aksi militer terhadap Iran selama dua minggu, menambahkan bahwa AS telah mencapai tujuan militer intinya.

"Pengumuman itu datang kurang dari dua jam sebelum batas waktu pukul 20.00 ET, yang telah dipantau ketat oleh investor sebagai pemicu potensial untuk eskalasi besar," sebut Ibrahim.

Menurutnya, gencatan senjata yang ditengahi oleh Pakistan setelah upaya diplomatik menit-menit terakhir bergantung pada jaminan Iran untuk membuka kembali Selat secara aman

Iran juga mengisyaratkan kesediaan bersyarat untuk mengurangi eskalasi, dengan mengatakan bahwa jalur aman melalui Selat akan dimungkinkan selama periode gencatan senjata, asalkan permusuhan dihentikan dan kapal-kapal berkoordinasi dengan otoritas Iran.

Selain itu, para pelaku pasar juga menantikan laporan indeks harga konsumen (CPI) AS pada Maret 2026 yang diharapkan memberikan indikasi jelas pertama tentang dampak lonjakan harga energi baru-baru ini.

"Para ekonom memperkirakan inflasi utama akan meningkat secara bulanan, sebagian besar didorong oleh biaya bahan bakar yang lebih tinggi, yang berpotensi mempersulit prospek kebijakan Federal Reserve," ucap Ibrahim.

Sementara dari faktor internal, menguatnya rupiah dipengaruhi respons positif pasar terhadap realisasi pendapatan negara hingga 31 Maret 2026 mencapai Rp574,9 triliun atau meningkat 10,5 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Realisasi tersebut setara dengan 18,2 persen dari target yang ditetapkan dalam anggaran lendapatan dan belanja negara (APBN) 2026 sebesar Rp3,15 kuadriliun.

"Secara total, penerimaan perpajakan mencapai Rp462,7 triliun, atau meningkat 14,3 yoy, yang terdiri dari penerimaan pajak sebesar Rp394,8 triliun serta kepabeanan dan cukai sejumlah Rp67,9 triliun," tuturnya.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana