Menuju konten utama

Apakah Menyontek Membatalkan Puasa? Ini Penjelasannya

Apakah menyontek membatalkan puasa? Artikel ini membahas terkait apakah menyontek membatalkan puasa dan hukum menyontek dalam Islam. Simak selengkapnya!

Apakah Menyontek Membatalkan Puasa? Ini Penjelasannya
5.348 siswa Sekolah Menengah Pertama dan sederajat di Kota Ambon mengikuti ujian sekolah yang dilaksanakan 11- 14 April 2023. ANTARA/ Penina F Mayaut.

tirto.id - Tidak sedikit yang bertanya tentang apakah menyontek membatalkan puasa. Artikel ini akan menjawab pertanyaan tersebut.

Berbagai amalan sunah dapat dilaksanakan selama bulan puasa Ramadan. Kemuliaan momentum Ramadan memang sudah seharusnya dimanfaatkan dengan baik untuk mendekatkan diri pada Allah Swt.

Namun, di sela-sela bulan Ramadan, seseorang masih saja memiliki niatan buruk. Salah satunya menyontek saat ujian atau mengerjakan tugas. Pembahasan tentang menyontek saat puasa juga dipertanyakan oleh banyak orang.

Penjelasan terkait menyontek di bulan puasa ini perlu diketahui bersama agar tak timbul keraguan. Lantas, apakah menyontek membatalkan puasa dan bagaimana hukum menyontek saat puasa?

Apakah Menyontek Membatalkan Puasa?

Ilustrasi ujian tulis SMA

Ilustrasi ujian tulis SMA. FOTO/iStockphoto

Pertanyaan tentang apakah menyontek membatalkan puasa menjadi salah satu hal mengganjal terkait puasa Ramadan. Apakah menyontek membatalkan puasa?

Menyontek merupakan salah satu perbuatan tercela yang dilarang dalam Islam. Selain itu, menyontek juga melanggar nilai-nilai kebaikan dalam masyarakat. Tindakan menyontek berkaitan dengan perbuatan berbohong, berbuat curang, dan mengelabui.

Jika yang ditanyakan apakah menyontek membatalkan puasa, maka jawabannya adalah tidak. Hal ini dikarenakan menyontek bukanlah termasuk salah satu amalan-amalan yang membatalkan puasa seseorang.

Namun, perlu dipahami bahwa menyontek merupakan salah satu perbuatan atau tindakan yang mengurangi nilai pahala puasa Ramadan. Seseorang yang menyontek sejatinya sedang melaksanakan tindakan tercela dan jauh dari nilai-nilai kebaikan Islam.

Puasa berarti menahan diri, tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari semua larangan Allah Swt. Jangan sampai puasa hanya difokuskan pada upaya untuk menahan diri dari makan dan minum.

Hakikat puasa Ramadan ialah untuk mendidik diri seorang muslim menjadi pribadi yang bertakwa. Takwa dimaknai dan ditujukan untuk mendekatkan diri pada Allah Swt. dan menjauhi semua larangan-Nya.

Melansir laman Muhammadiyah, takwa adalah kesadaran teologis bahwa setiap tindakan seorang muslim diawasi Allah Swt. Kesadaran yang dimiliki ini kemudian menghalangi diri setiap muslim untuk berbuat sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Jika seorang menyontek, maka ia seolah tidak merasa sedang diawasi Allah Swt. dalam setiap perbuatannya. Jadi tak ada satu pun hal dalam meyontek yang bersesuaian dengan nilai Islam.

Dikutip dari laman Suara Muhammadiyah, pengertian takwa mengandung pemahaman bahwa takwa harus diaplikasikan dalam dua hal, yaitu menepati aturan Allah Swt. dan menjauhkan diri dari larangan-Nya. Kedua hal ini tak bisa dipisahkan begitu saja dan harus terus dilaksanakan secara beriringan.

Setiap muslim harus semaksimalnya melaksanakan perintah Allah Swt. dan menjauhi larangan-Nya. Mencontek termasuk salah satu larangan Allah Swt. yang harus dihindari, baik saat puasa maupun tidak puasa. Lantas, bagaimana hukum menyontek saat puasa?

Jika seorang mencontek di tengah puasa, maka dipastikan ia telah membuat puasanya berkurang berkah dan pahala kebaikannya. Jangan sampai perbuatan-perbuatan demikian menurunkan kebaikan nilai dan pahala puasa Ramadan.

Padahal momentum puasa Ramadan dapat diisi dengan berbagai amalan baik berkaitan dengan Ramadan. Jangan sampai malah melakukan perbuatan dan amalan-amalan tercela yang tidak mengantarkan diri pada kemuliaan Ramadan.

Hukum Menyontek dalam Islam

Ilustrasi Mengerjakan PR

Ilustrasi mengerjakan PR. Getty Images/iStockphoto

Meski menyontek bukan termasuk hal yang membatalkan puasa, tetapi menyontek merupakan tindakan tercela. Banyak sekali nilai dalam Islam yang tidak sesuai dengan tindakan mencontek, seperti nilai kejujuran.

Hal ini sudah jelas menegaskan bahwa menyontek dalam Islam tidak dibenarkan. Dalam sebuah hadis, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Barang siapa yang menipu kami, maka ia tidak termasuk golongan kami.” (HR. Muslim no. 101, dari Abu Hurairah).

Kisah terkait dengan hadis di atas, yakni saat seorang pedagang mengelabui Rasulullah saw., tidak jujur dalam jual belinya. Dari Abu Hurairah, ia berkata:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَرَّ عَلَى صُبْرَةِ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلاً فَقَالَ « مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ ». قَالَ أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ أَفَلاَ جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَىْ يَرَاهُ النَّاسُ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّى

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangannya ke dalamnya, kemudian tangan beliau menyentuh sesuatu yang basah, maka pun beliau bertanya, “Apa ini wahai pemilik makanan?” Sang pemiliknya menjawab, “Makanan tersebut terkena air hujan wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Mengapa kamu tidak meletakkannya di bagian makanan agar manusia dapat melihatnya? Ketahuilah, barang siapa menipu maka dia bukan dari golongan kami.” (HR. Muslim no. 102)

Setiap orang yang melakukan tipu daya, berbohong, berbuat curang, mengelabui, dan hal-hal sejenisnya dinyatakan tidak termasuk golongan Rasulullah saw. Praktik tersebut di atas sesuai dengan menyontek yang sama-sama memiliki nilai berbohong, curang, dan mengelabui.

Tentunya hal ini tidak dapat dibenarkan dalam Islam. Tindakan menyontek dalam bentuk apa pun itu haram hukumnya dan sudah jelas harus dihindari oleh setiap muslim.

Terkait dengan menyontek saat puasa, apakah puasa menjadi batal? Puasa tidak menjadi batal dengan menyontek. Namun, penting dipahami bahwa menyontek merusak nilai pahala puasa sehingga harus ditinggalkan.

Apalagi hakikat puasa ialah untuk menjadi pribadi yang bertakwa. Jangan sampai ikhtiar menuju takwa terkotori dengan godaan-godaan untuk melaksanakan perbuatan tercela.

Setiap diri muslim perlu menyadari hakikat puasa dengan baik supaya tak terus-menerus melaksanakan perbuatan yang tidak Allah Swt. kehendaki. Selain itu, marilah terus menambah pengetahuan tentang puasa Ramadan serta amalan-amalan yang menyertainya.

Menambah pengetahuan tentang puasa Ramadan akan membantu setiap muslim terhindar dari keraguan berkaitan dengan puasa. Salah satunya ialah keraguan terkait apakah menyontek membatalkan puasa?

Baca juga artikel terkait RAMADHAN 2025 atau tulisan lainnya dari Nurul Azizah

tirto.id - Edusains
Kontributor: Nurul Azizah
Penulis: Nurul Azizah
Editor: Nurul Azizah & Yulaika Ramadhani