tirto.id - Tri Kerukunan Umat Beragama hadir sebagai pedoman penting untuk menjaga harmoni kehidupan sosial di Indonesia. Prinsip ini menekankan agar umat beragama aktif membangun relasi yang selaras. Dengan konsep tersebut, masyarakat dapat menciptakan suasana yang aman dan saling menghargai.
Tri Kerukunan mencakup tiga aspek utama yang saling berkaitan. Masyarakat menjalankan kerukunan internal antarumat seagama, kerukunan antarumat berbeda agama, dan kerukunan antara umat beragama dengan pemerintah. Ketiga aspek ini bekerja bersama untuk menjaga stabilitas sosial.
Konsep ini juga memiliki tujuan jelas bagi kehidupan berbangsa. Prinsip ini mendorong masyarakat memperkuat toleransi dan menghindari konflik. Berbagai contoh penerapannya dapat terlihat dari dialog lintas iman, kegiatan sosial bersama, hingga dukungan kebijakan pemerintah yang inklusif.
Apa yang Dimaksud dengan Tri Kerukunan Beragama?
Kerukunan umat beragama berasal dari konsep rukun yang berarti terdapat perdamaian di dalamnya. Dalam kehidupan sehari-hari, umat beragama dapat mencerminkan perilaku kerukunan agar kedamaian di lingkungan sosialnya terjaga.Tri kerukunan umat beragama di indonesia adalah senjata bagi bangsa ini karena kekayaan budaya, ras, tradisi, maupun agama memerlukan wadah yang proporsional. Kekayaan tersebut ternyata berpotensi menjadi masalah tersendiri jika masyarakat yang beraneka ragam ini bersatu dalam suatu lingkungan sosial.
Dalam perbedaan agama, misalnya, masalah terjadi ketika ada seseorang yang tidak menghargai agama lain yang dianut oleh orang di sekelilingnya. Sebagaimana yang akan dijelaskan tentang tri kerukunan umat beragama pada artikel ini. Oleh karena itu, kerukunan antar-umat beragama mesti dikedepankan demi menjaga perdamaian tersebut.
Berdasarkan catatan Daimah dalam “Peran Perempuan dalam Membangun Kerukunan Umat Beragama: Studi Komparatif Indonesia dan Malaysia” (Jurnal El-Tarbawi, hlm. 128), diungkapkan bahwa kerukunan umat beragama merupakan cara mempertemukan dan mengatur hubungan luar antara orang yang berlainan agama ketika berada di sebuah lingkungan sosial yang sama. Hal demikian adalah salah satu contoh tri kerukunan umat beragama.
Lantas, pertanyaan apa itu tri kerukunan umat beragama menjadi penting. Konsep kerukunan umat beragama berarti sebuah pemikiran tentang cara berbagai agama dapat hidup damai dalam satu lingkungan.
Lebih lengkapnya, landasan konsep kerukunan umat beragama ditulis dalam Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 dan 9 Tahun 2006, tepatnya pada pasal 1.
Secara garis besar, kerukunan didasarkan pada sikap toleransi, saling mengerti, saling hormat, dan menjunjung tinggi kesetaraan, serta mampu bekerja sama demi kehidupan masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia dengan patokan berupa UUD 1945 dan Pancasila.
Menurut catatan (Salindia 1), masyarakat Indonesia setidaknya punya beberapa agama, yakni Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, dan kepercayaan. Apapun agama yang dianut, toleransi umat beragama mesti dijadikan keutamaan demi mencapai kedamaian.
Adapun pencetus trilogi kerukunan umat beragama adalah Prof. Mukti Ali sewaktu beliau menjabat sebagai Menteri Agama RI pada tahun 1971 hingga 1978.
Dalam menjaga kerukunan tersebut, terdapat konsep “Tri Kerukunan Umat Beragama” yang akan dijelaskan pada subbab berikut ini.
Apa Saja Isi 3 Kerukunan Umat Beragama?
Berdasarkan catatan di situs resmi Kemenag Jateng, konsep Tri Kerukunan Umat Beragama terdiri dari 3 aspek, yakni kerukunan intern sesama umat beragama, kerukunan antara umat beragama, dan kerukunan antara umat beragama dengan pemerintah.
Sejalan dengan penyebutan konsep Tri Kerukunan Beragama, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik menyebut bahwa tujuan konsep tersebut adalah membuat masyarakat yang penuh perbedaan dapat menjalankan hidup bersama.
Berikut ini penjelasan tentang ketiga konsep tersebut.
1. Kerukunan Intern Sesama Umat Beragama
Dalam konsep pertama ini, kerukunan lebih difokuskan terhadap beberapa orang yang menganut agama serupa.Ketika menjalankan kehidupan, mungkin saja akan terjadi perbedaan pandangan atau pemikiran kendati orang-orang tersebut agamanya sama.
Masalah ini dapat diselesaikan secara halus dengan cara melakukan diskusi agar pemikiran yang dianggap salah dapat dibenarkan.
2. Kerukunan Antara Umat Beragama
Konsep kedua ini lebih menekankan pada beberapa agama ketika hidup dalam suatu lingkungan yang sama.Masing-masing dari mereka harus dapat menghormati serta toleransi terhadap agama lain yang ada di sekelilingnya.
Dengan begitu, perdamaian akan terjaga kendati agama mereka berbeda-beda.
3. Kerukunan Antara Umat Beragama dengan Pemerintah
Selain kerukunan antara satu agama dan dengan agama lain, ada juga konsep terakhir yang membicarakan kerukunan antara umat beragama dengan pemerintah.Sebagai pejabat yang ditugaskan di suatu negara, tentu orang-orang dari pemerintahan juga harus ikut andil dalam menjaga kerukunannya dengan umat beragama yang ada di negaranya.
Dengan begitu, kerukunan bukan hanya terjadi secara linear di dalam masyarakat. Namun, kerukunan umat beragama dan pemerintah juga harus dijaga demi menjaga perdamaian suatu negara.
Di sisi lain, kita dapat mengetahui yang bukan tri kerukunan umat beragama di indonesia adalah perpecahan dengan segala bentuknya.
Tujuan Tri Kerukunan Umat Beragama
Keragaman keyakinan sering memunculkan perbedaan cara pandang di masyarakat. Tanpa kerangka pengelolaan yang jelas, perbedaan tersebut dapat memicu konflik. Tri Kerukunan Umat Beragama hadir sebagai pedoman untuk memperkuat keharmonisan sosial. Adapun tujuan tri kerukunan umat beragama adalah sebagai berikut.
- Menumbuhkan kebersamaan di tengah perbedaan keyakinan.
- Mencegah konflik antarumat beragama.
- Menjamin kebebasan tiap umat dalam menjalankan agama.
- Memperkuat stabilitas nasional melalui kerukunan.
- Membangun kerja sama antara pemuka agama dan pemerintah.
Apakah Arti Penting tri Kerukunan Beragama dalam Mewujudkan Kerja Sama?
Kerja sama lintas agama semakin mudah terwujud ketika Tri Kerukunan menjadi pegangan bersama. Prinsip saling menghormati memberi ruang bagi dialog yang lebih terbuka antarumat beragama. Situasi ini membantu menjaga stabilitas sosial dan mencegah gesekan di masyarakat.
Tri Kerukunan juga menguatkan peran tokoh agama dan pemerintah dalam membangun sinergi. Melalui berbagai forum, mereka dapat menyepakati langkah bersama untuk menangani persoalan sosial. Kerja sama ini berdampak langsung pada terjaganya kedamaian dan kemajuan masyarakat setempat.
Bagaimana Contoh Menerapkan Tri Kerukunan beragama dalam kehidupan?
Tri Kerukunan Umat Beragama menjadi pedoman penting untuk menjaga hubungan harmonis di tengah keberagaman keyakinan. Prinsip ini mendorong masyarakat untuk bekerja sama dan saling menghormati dalam kehidupan sehari-hari. Adapun contoh bagaimana penerapan tri kerukunan beragama dalam mewujudkan kehidupan sehari hari dapat diketahui sebagai berikut.
- Mengikuti dialog lintas agama di tingkat desa atau kota untuk membahas persoalan sosial dan mencari solusi bersama.
- Berkolaborasi dalam kegiatan sosial, seperti gotong-royong, bakti sosial, atau penanganan bencana tanpa memandang perbedaan agama.
- Menghormati ibadah dan perayaan agama lain, termasuk menjaga ketertiban saat ibadah berlangsung dan memberi ucapan selamat pada hari besar keagamaan.
- Mendukung aturan pemerintah terkait kehidupan beragama, misalnya mengikuti prosedur pembangunan rumah ibadah atau kebijakan kerukunan.
- Mengikuti kampanye toleransi di media, seperti program kerukunan, diskusi publik, atau edukasi digital yang mempromosikan perdamaian.
Penulis: Yuda Prinada
Editor: Dhita Koesno
Penyelaras: Satrio Dwi Haryono
Masuk tirto.id




































