Menuju konten utama
Sejarah G30S dan PKI

Sejarah Masa Kejayaan dan Kejatuhan PKI Setelah G30S

Sejarah masa kejayaan PKI di Indonesia tidak terlepas dari kiprah sosok D.N. Aidit. Berikut ini penjelasan sejarah masa kejayaan, akhir, dan pembubaran PKI.

Sejarah Masa Kejayaan dan Kejatuhan PKI Setelah G30S
Presiden Sukarno (kanan) dan D.N. Aidit (kiri) dalam perayaan ulang tahun PKI di Stadion Olahraga Merdeka Jakarta, tangal 23 Mei 1965. Adapun sejarah masa kejayaan PKI tidak terlepas dari sosok D.N. Aidit. AP Photo
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sejarah masa kejayaan PKI alias Partai Komunis Indonesia tidak terlepas dari peran D.N. Aidit. Kejatuhan PKI setelah memperoleh klaim bersalah atas peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965, bahkan menyeret juga nama Aidit.

PKI sendiri telah melewati sejarah yang panjang sejak pertama kali sebagai perkumpulan Indische Sociaal Democratische Vereniging (ISDV) pada 1914. Kemudian, resmi berdiri dengan nama Perserikatan Komunis di Hindia (1920) dan berubah menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 1924.

Sebagai salah satu pentolan Partai Komunis Indonesia, Aidit pernah membawa partai berhaluan kiri ini berjaya di kancah perpolitikan nasional. Ia memiliki sebutan lengkap Dipa Nusantara Aidit, lahir di Tanjung Panda, Belitung, pada 30 Juli 1923 silam.

Gerak Politik D.N. Aidit dan PKI

Achmad Aidit lahir dari pasangan Abdullah bin Ismail dan Ayu Mailan. Keluarga Aidit yang berasal dari Sumatera Barat pada masa lalu termasuk sebagai kalangan terpandang di Belitung kala itu.

Adapun perjalanan waktu membawa Achmad Aidit dari Belitung ke Jakarta. Pada 1940, ia mendirikan perpustakaan “Antara” di Senen.

Mengutip "Seri Buku Tempo" bertajuk Aidit, Dua Wajah Dipa Nusantara (2010), Achmad mengganti nama menjadi Dipa Nusantara dan disetujui oleh ayahnya. Semasa di Jakarta, Aidit mulai mempelajari paham Marxisme yang saat itu belum termasuk ajaran terlarang di tanah air.

Relasi Aidit semakin luas karena perkenalannya dengan tokoh-tokoh terkemuka. Di antaranya termasuk Mohammad Yamin, lalu Sukarno dan Mohammad Hatta yang nantinya menjadi para pemimpin RI.

D.N. Aidit menapaki karier politik di asrama mahasiswa Menteng 31 yang identik sebagai markas aktivis pemuda “radikal” saat itu. Ia berproses bersama kaum muda revolusioner seperti Adam Malik, Chaerul Saleh, Sukarni, Wikana, Subadio Sastrotomo, dan lainnya.

Ada juga kabar mengenai Aidit yang turut terlibat dalam Peristiwa Rengasdengklok menjelang kemerdekaan Republik Indonesia, diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 silam. Setelah itu, Aidit juga sempat terlibat dalam perlawanan PKI di Madiun tahun 1948.

D.N. Aidit kemudian sempat menghilang. Ada yang menyebut ia berada di Vietnam bagian utara, sebelum muncul lagi menjelang Pemilu 1955.

Setelah pulang, Aidit dengan cepat mengambil-alih kendali PKI dari golongan pemimpin tua. Di antaranya seperti Alimin dan Tan Ling Djie.

Pada masa kejayaan PKI, partai ini meraup banyak suara di Pemilu 1955 dan masuk dalam jajaran 4 partai politik terbesar di Indonesia kala itu. PKI yang mengklaim punya anggota hingga 3,5 juta orang kala itu juga menjadi partai komunis ketiga terbesar di dunia setelah Uni Soviet dan Cina.

G30S 1965: Akhir Sejarah PKI

Masa kejayaan PKI juga tidak luput dari masa akhirnya. Keterangan mengenai ini muncul karena adanya peristiwa berdarah yang dikenal sebagai Gerakan 30 September (G30S) 1965.

Gerakan tersebut menyebabkan kematian beberapa perwira tinggi TNI-AD dan menyudutkan PKI sebagai salah satu unsur utama upaya kudeta. Para pemimpin PKI mulai diburu, termasuk D.N. Aidit.

Dalam Kronik 65: Catatan Hari per Hari G30S Sebelum Hingga Setelahnya 1963-1971 (2017) susunan Kuncoro Hadi dan kawan-kawan, mengungkapkan bahwa pada 2 Oktober 1965 dini hari, Aidit terbang dari Jakarta menuju Yogyakarta dengan pesawat Dakota T-443 setelah sebelumnya lolos dari sergapan tentara.

Sesaat usai mendarat di Yogyakarta, Aidit langsung menuju Semarang untuk menggelar rapat dengan beberapa pemimpin PKI lainnya. Rapat ini menghasilkan pernyataan bahwa G30S adalah masalah internal AD dan PKI tidak ada sangkut pautnya dengan gerakan ini.

Selama beberapa hari kemudian, Aidit berkeliling Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk mencegah perpecahan internal PKI, tetapi gagal.

“PKI pun terbelah dalam sayap radikal dan sayap moderat yang menjerumuskannya dalam kekacauan,” tulis Peter Kasenda dalam Kematian D.N. Aidit dan Kehancuran PKI (2016).

Kubu Aidit termasuk kelompok moderat yang ingin menyelamatkan PKI dari ancaman pemberangusan lantaran blunder terlanjur terjadi. Di sisi lain, ada kubu radikal yang dimotori oleh Utomo Ramelan dan kawan-kawan yang memilih terus melakukan perlawanan.

Para pemimpin PKI terus menjadi sasaran buruan, termasuk D.N. Aidit. Sampai akhirnya, dalam suatu operasi militer pada pertengahan November 1965, Aidit tertangkap di Surakarta.

Tanggal 22 November 1965, para petugas militer seharusnya membawa D.N. Aidit ke Semarang dan menempatkannya di markas Kodam Diponegoro. Hanya saja, raganya tidak pernah tiba.

Di Boyolali, pemimpin PKI ini dieksekusi mati tanpa pernah sempat diadili. Hingga kini, keterangan mengenai di mana lokasi kuburan maupun jasad D.N. Aidit belum terungkap.

Adapun pembubaran PKI termaktub di dalam Keputusan Presiden Nomor 1/3/1966 yang dikeluarkan Soeharto atas nama Soekarno. PKI bubar pada 12 Maret 1966 silam.

Perpecahan PKI & Eksekusi D.N. Aidit

Setelah rapat di Semarang, D.N. Aidit kemudian berkeliling Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ia berusaha untuk mencegah perpecahan internal PKI, tetapi malah berujung kegagalan.

“PKI pun terbelah dalam sayap radikal dan sayap moderat yang menjerumuskannya dalam kekacauan,” tulis Peter Kasenda dalam Kematian D.N. Aidit dan Kehancuran PKI (2016).

Kubu Aidit termasuk sebagai kelompok moderat yang ingin menyelamatkan PKI dari ancaman pemberangusan. Pasalnya, peristiwa G30S 1965 sudah terlanjur terjadi.

Di sisi lain, Utomo Ramelan beserta kawan-kawannya memotori gerakan radikal. Pada masa itu, Ramelan memilih untuk tetap melakukan perlawanan.

Para pemimpin PKI terus menjadi sasaran buruan, termasuk D.N. Aidit. Sampai akhirnya, dalam suatu operasi militer pada 22 November 1965, Aidit tertangkap di Surakarta.

Rencananya ia dibawa ke Semarang, ke markas Kodam Diponegoro. Akan tetapi, dalam perjalanan menuju Semarang ketika sampai di Boyolali pada 25 November 1965, tulis Benny G. Setiono lewat buku Tionghoa dalam Pusaran Politik (2008), D.N. Aidit ditembak mati tanpa sempat diadili atau setidaknya memberikan pembelaan diri.

Hingga kini, di mana tepatnya kuburan D.N. Aidit masih menjadi teka-teki. Kendati ada suatu tempat di Boyolali yang diyakini sebagai tempat pemimpin PKI itu dieksekusi, namun jasad D.N. Aidit belum pernah benar-benar ditemukan.

Demikian informasi mengenai sejarah masa kejayaan PKI beserta kejatuhannya usai G30S 1965? Pastikan juga untuk membaca artikel terkait G30S selengkapnya di sini.

Kumpulan Informasi G30S

Baca juga artikel terkait PKI atau tulisan lainnya dari Iswara N Raditya

tirto.id - Edusains
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Agung DH
Penyelaras: Ibnu Azis, Yulaika Ramadhani & Yuda Prinada