Menuju konten utama

Menelisik Riwayat dan Makna Empat Sifat Gereja Katolik

Empat sifat Gereja Katolik meliputi: Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik, masing-masing menjelaskan jati diri dan misi Gereja di dunia.

Menelisik Riwayat dan Makna Empat Sifat Gereja Katolik
Gereja Katedral, Jakarta. ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/bar
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Dalam diskursus teologi Kristiani, Gereja merupakan institusi ilahi yang memiliki karakter khusus. Identitas ini secara dogmatis dirumuskan dalam Syahadat Nicea-Konstantinopel sebagai empat tanda pengenal utama: Satu, Kudus, Katolik, dan Apostolik.

Keempat sifat Gereja Katolik ini jadi satu kesatuan, tidak bisa dipisah, menunjukkan jati diri serta misi Gereja di dunia. Memahami 4 sifat ini sangat krusial bagi umat beriman untuk menyadari bahwa Gereja adalah tubuh mistik Kristus yang hidup dan terus bergerak melintasi zaman.

Berdasar ajaran resmi, sifat-sifat Gereja Katolik tidak datang dari manusia, melainkan bersumber dari Kristus melalui bimbingan Roh Kudus.

Berikut uraian mengenai sifat Gereja Katolik yang dijelaskan secara detail di dalam Katekismus Gereja Katolik No. 811, tepatnya pada Bagian Pertama Pengakuan Iman, Bab Roh Kudus, Pasal "Aku Percaya akan Gereja yang Kudus dan Katolik."

Satu: Hakikat Gereja yang Satu sebagai Simbol Kesatuan Ilahi

Sifat "Satu" dalam Gereja Katolik merujuk pada kesatuan hakiki melampaui batas-batas lahiriah manusia. Gereja bersifat satu karena sumbernya adalah Allah Tritunggal yang Esa, di mana kesatuan antara Bapa, Putra, dan Roh Kudus jadi model utama bagi umat beriman.

Kesatuan ini termanifestasi dalam tiga ikatan utama yang tidak terputus: kesatuan iman, kesatuan peribadatan, dan kesatuan kepemimpinan. Seluruh umat Katolik di seantero bumi mengakui satu syahadat dan doktrin serupa tanpa ada pertentangan esensial dalam ajaran iman.

Kesatuan tersebut diwujudkan dalam perayaan sakramen-sakramen, terutama Ekaristi, menyatukan umat ke dalam satu persekutuan dengan Kristus. Selain itu, kesatuan lahiriah dijaga melalui bimbingan para uskup yang bersatu dengan Paus sebagai pengganti Petrus.

Kendati ada kemajemukan bahasa dan budaya, sifat Gereja Katolik yang satu ini tetap terjaga melalui bimbingan Roh Kudus.

Lapangan Santo Petrus

Lapangan Santo Petrus yang terkenal di Vatikan dan pemandangan kota Roma, Italia. foto/istockphoto

Kudus: Kekudusan Gereja sebagai Sarana Penyelamat Manusia

Sifat Gereja Katolik disebut "Kudus" bukan karena moral para anggotanya sempurna. Adapun sifat Kudus muncul karena hubungannya tak terpisahkan dengan Kristus.

Sebagaimana dijelaskan dalam dokumen Lumen Gentium Bab V, Kristus mengasihi Gereja sebagai mempelai-Nya dan menyerahkan diri-Nya untuk menguduskan Gereja tersebut.

Oleh karena itu, kekudusan Gereja bersifat objektif karena ia memiliki sarana-sarana lengkap pengudusan, yakni Firman Allah dan Sakramen-sakramen.

Gereja merupakan "harta karun" rahmat, bertujuan membimbing manusia berdosa menuju kesucian hidup. Kehadiran para kudus dalam sejarah Gereja jadi bukti kalau rahmat pengudusan tersebut bekerja secara efektif.

Maka, meski di dalamnya terdapat manusia-manusia lemah, sifat-sifat Gereja Katolik ini menjamin Gereja tetap kudus karena kepalanya adalah Kristus yang kudus, dan bertujuan membawa semua orang pada kemuliaan Allah.

Katolik: Universalitas Sifat Gereja

Secara harfiah, istilah "Katolik" berasal dari kata Yunani katholikos. Artinya "umum", "utuh", atau "universal". Sifat ketiga ini menekankan bahwa Gereja jadi sarana keselamatan dan diutus untuk seluruh umat manusia tanpa terkecuali.

Klaim tersebut didukung secara historis sejak zaman Santo Ignasius dari Antiokhia pada awal abad kedua.

Gereja disebut Katolik karena ia membawa seluruh kebenaran iman yang diwariskan oleh Kristus dan mampu merangkul segala budaya, suku, dan bangsa ke dalam satu pangkuan.

Sifat universal ini membuat Gereja tidak eksklusif bagi kelompok tertentu saja, alias terbuka bagi setiap jiwa yang mencari kebenaran.

Dalam praktiknya, sifat katolik ini menunjang Gereja untuk beradaptasi dengan tradisi lokal di berbagai belahan dunia tanpa kehilangan esensi ajaran, sehingga menciptakan sebuah komunitas global yang inklusif.

PERSIAPAN NATALGEREJA KATEDRAL

Gereja Katedral, Jakarta. ANTARA FOTO/Reno Esnir/hp.

Apostolik: Kesinambungan Sejarah dalam Sifat Gereja

Sifat terakhir dari 4 sifat Gereja Katolik yaitu "Apostolik", menjamin bahwa Gereja masa kini bersinambung dengan sejarah para Rasul. Sifat tersebut melibatkan tiga dimensi krusial: asal-usul, ajaran, dan struktur.

Gereja bersifat apostolik karena dibangun di atas fondasi para rasul sebagai saksi mata Kristus.

Secara struktur, sifat ini dibuktikan melalui "Suksesi Apostolik", yaitu garis keturunan kepemimpinan yang tak terputus. Ditegaskan dalam Kitab Hukum Kanonik Kanon 204, jabatan kepemimpinan ini berfungsi untuk menjaga kemurnian iman.

Berkat sifat apostolik, umat memiliki kepastian rohani bahwa iman yang mereka hayati saat ini bersambung langsung dengan otoritas dari Kristus kepada para rasul-Nya.

Baca juga artikel terkait GEREJA KATOLIK atau tulisan lainnya dari Rofi Ali Majid

tirto.id - Edusains
Kontributor: Rofi Ali Majid
Penulis: Rofi Ali Majid
Editor: Yantina Debora