Menuju konten utama

Kenapa Kita Sering Tergoda Beli Barang yang Direview Influencer?

Inilah alasan di balik mudahnya kita tergoda racun influencer dan beli barang yang di-review, mulai dari kedekatan emosional, FOMO, hingga keinginan meniru.

Kenapa Kita Sering Tergoda Beli Barang yang Direview Influencer?
Ilustrasi Beli Barang Review. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Racun influencer yang bertebaran di media sosial sering kali mendorong kita untuk ikut membeli suatu produk. Keputusan beli ini bukan semata-mata karena produknya terlihat menarik, tapi ternyata ada alasan psikologis di balik fenomena yang satu ini.

Seorang influencer kerap me-review suatu produk dan membagikan pengalaman saat menggunakannya. Di sisi lain, tak jarang pula review tersebut adalah hasil kerja sama sang influencer dengan brand-brand tertentu.

Baik review karena preferensi pribadi maupun endorsement, dua-duanya sering membuat audiens tertarik untuk mencoba produk yang diulas. Padahal, jika dibandingkan dengan iklan di TV yang terkonsep maksimal, konten review dari influencer biasanya tampak lebih sederhana, tapi malah lebih meyakinkan.

Terkadang, influencer cukup membuat video pendek tentang suatu produk, menambahkan ungkapan seperti “bagus”, “gong banget”, atau “wajib coba”, dan kita pun tersihir untuk ikut membelinya. Lalu, kenapa kita sebagai audiens mudah sekali terjebak racun influencer?

Kenapa Kita Mudah Tergoda Barang yang Di-Review oleh Influencer?

Di era digital saat ini, influencer marketing telah menjadi salah satu strategi pemasaran yang paling efektif di berbagai platform. Hanya dengan me-review sebuah produk, influencer bisa dengan mudah memengaruhi banyak orang untuk menggunakan produk yang sama.

Di bawah ini adalah beberapa alasan mengapa kita muda tergoda atau terpengaruh dengan racun influencer:

Kredibilitas Influencer

 hp untuk konten Kreator
Ilustrasi Review Produk. foto/istockphoto

Kredibilitas mengacu pada sejauh mana pengikut menganggap influencer itu dapat dipercaya, memiliki keahlian, dan objektif dalam memberikan rekomendasi produk. Influencer yang kredibel bukan sekadar populer, tapi dianggap memiliki pengetahuan atau pengalaman di kategori produk tertentu.

Sebagai contoh, sosok Tasya Farasya dianggap kredibel di bidang kecantikan, sementara David Brendi atau yang sering dipanggil David Gadgetin dianggap memiliki keahlian dalam hal teknologi.

Keahlian tersebut biasanya terlihat dari wawasan yang disampaikan, cara bicara atau menyampaikan informasi, maupun ketika menunjukkan kelihaian tertentu yang berkaitan dengan bidang yang dikuasai.

Tak hanya soal keahlian, review yang jujur ata berdasarkan pengalaman juga memengaruhi kredibilitas seorang influencer. Ketika influencer sudah dicap jujur atau kredibel, kita sebagai penonton/pengikut akan otomatis percaya dan akhirnya tergoda untuk mencoba produk yang sama.

Kedekatan Emosional dan Kepercayaan

Ilustrasi Influencer
Ilustrasi Influencer. FOTO/iStockphoto

Alasan di balik kenapa kita mudah terkena racun influencer adalah kedekatan emosional. Ketika seorang influencer secara konsisten berinteraksi dengan audiensnya, baik melalui video, komentar, atau live streaming, terbentuklah hubungan emosional yang terasa personal (parasocial relationship).

Ini adalah hubungan satu arah ketika pengikut merasa “kenal” atau “dekat” dengan sang influencer, meskipun sebenarnya tidak pernah saling bertemu dan berkenalan secara nyata.

Kedekatan emosional semacam ini meningkatkan kepercayaan terhadap influencer sebagai sosok yang bukan sekadar “pengiklan”, tapi seolah‑olah teman yang memberikan saran jujur.

Kedekatan emosional ini juga berhubungan dengan keaslian persepsi, yakni ketika influencer tampak “nyata”, jujur, dan tidak dibuat‑buat. Ini semakin memperkuat hubungan emosional dan kepercayaan sehingga rekomendasi produk terasa lebih tulus, bukan seperti iklan komersial biasa.

Fenomena seperti ini telah diteliti dalam banyak studi, salah satunya jurnal Trust in the Scroll: The Mediating Role of Parasocial Interaction in Influencer Marketing on Instagram Reels.

Penelitian ini membuktikan bahwa ada beberapa faktor yang memengaruhi minat beli pengikut, di antaranya adalah kedekatan emosional dan rasa percaya terhadap influencer yang diikutinya.

Jadi, hubungan parasosial ini berdampak pada bagaimana follower memproses rekomendasi produk, semakin kuat hubungan emosional, semakin besar kemungkinan pesan influencer diinternalisasi dan diikuti.

Efek Sosial, Bandwagon, dan FOMO

 Ilustrasi Wanita dan belanja konsumtif hutang
Ilustrasi Belanja. Foto/shuuterstock

Efek sosial dan bandwagon effect juga bisa menjadi faktor kenapa kita terpengaruh racun influencer. Efek sosial merupakan perubahan perilaku, sikap, atau keputusan seseorang karena dipengaruhi oleh orang lain di sekitarnya, salah satunya influencer.

Sementara bandwagon effect dapat diartikan sebagai fenomena ketika seseorang ikut melakukan atau membeli sesuatu hanya karena banyak orang lain melakukannya.

Dalam konteks influencer marketing, ketika banyak influencer atau pengguna media sosial memakai, membicarakan, atau merekomendasikan suatu produk, hal itu menciptakan persepsi bahwa produk tersebut populer, diterima luas, dan “layak dicoba”.

Dorongan untuk ikut memakai produk tersebut muncul karena kita cenderung menganggap pilihan mayoritas sebagai indikator kualitas atau relevansi. Selain itu, fenomena “ikut-ikutan” ini juga sering kali terjadi karena adanya FOMO (Fear of Missing Out).

Ketika banyak influencer secara bersamaan membicarakan atau mempromosikan produk yang sama, pengikut bisa merasa takut ketinggalan tren atau pengalaman sosial tertentu jika mereka tidak ikut serta.

FOMO memicu motivasi emosional untuk membeli atau mencoba produk, bukan karena merasa butuh atau relevan dengan produk tersebut, tapi karena takut “tidak ikut bagian” dalam sesuatu yang dianggap populer.

Mengejar Gaya Hidup atau Citra yang Diinginkan

Header Advertorial Tokopedia 11
Ilustrasi Belanja. FOTO/iStockphoto

Salah satu alasan kuat mengapa rekomendasi influencer bisa sangat efektif adalah karena banyak orang mengidamkan gaya hidup atau identitas tertentu yang dipersonifikasikan oleh sang influencer.

Influencer kerap membocorkan kehidupan personalnya, termasuk gaya hidup dan cara pandanganya terhadap sesuatu. Hal ini membentuk suatu citra yang kadang membuat audiens ingin menirunya.

Fenomena ini juga diungkap dalam jurnal bertajuk The Impact of Social Media Influencers on Consumer Purchasing Behavior. Studi ini menjelaskan bahwa aspirational identity adalah salah satu faktor yang memengaruhi seseorang untuk membeli sesuatu.

Penyebabnya adalah banyak pengikut memandang influencer sebagai representasi versi ideal dari diri mereka sendiri atau gaya hidup yang ingin mereka capai. Maka, produk yang berkaitan dengan influencer dianggap menjadi sarana untuk membangun identitas dan mengekspresikan diri.

Sebagai contoh, ada seorang influencer yang membagikan konten tentang gaya hidupnya yang mewah dan stylish, mulai dari outfit harian, tas branded, hingga liburan ke luar negeri.

Seorang follower kemudian terinspirasi untuk memiliki gaya hidup seperti itu. Maka, salah satu hal yang bisa ia lakukan adalah membeli produk yang dimiliki atau pernah di-review oleh sang influencer berdasarkan pengalaman pribadinya.

Sang follower mungkin tidak membutuhkan produk itu secara fungsi, tapi ia mulai membayangkan bahwa memiliki produk yang sama akan membuatnya lebih dekat dengan citra diri yang diinginkannya, yaitu stylish, fashionable, dan mewah seperti idolanya.

Jadi, keputusan si follower bukan hanya dipengaruhi oleh rekomendasi influencer, tapi juga didorong oleh aspirasi untuk meniru gaya hidup dan citra yang ditampilkannya.

Ada Bukti yang Cukup Nyata

Ilustrasi Host Live Streaming
Ilustrasi Review Produk. (FOTO/iStockphoto)

Faktor lain yang tak kalah penting yang membuat rekomendasi influencer begitu persuasif adalah kemampuan mereka untuk menunjukkan bukti nyata penggunaan produk.

Misalnya, influencer kecantikan sering kali membagikan before-after kulit mereka setelah memakai skincare tertentu, lengkap dengan cerita pengalaman pribadi, tekstur, dan cara pemakaian.

Bukti visual dan pengalaman nyata ini membuat pengikut merasa informasi yang diberikan lebih detail, tepercaya, dan konkret, berbeda dengan iklan biasa yang sering bersifat abstrak atau terlalu promosi.

Contoh lain dalam kategori gadget, influencer sering melakukan demonstrasi langsung suatu produk, seperti menguji kamera smartphone, mengetes performa laptop, atau menyalakan gawai tertentu untuk menunjukkan kualitasnya.

Pengikut pun seolah mendapatkan pengalaman nyata tanpa harus mencoba sendiri terlebih dahulu. Melalui review, mereka melihat secara langsung tentang kualitas, kinerja, atau kelebihan suatu produk sebelum memutuskan membeli.

Itu dia beberapa alasan kenapa kita sering terkena racun influencer dan terdorong untuk membeli produk yang di-review. Penting untuk diingat bahwa pengaruh ini tidak selamanya negatif.

Selama kita menyaring informasi dengan bijak, mengenali perbedaan antara konten promosi dan ulasan jujur, serta menyesuaikan keputusan beli dengan kebutuhan dan kemampuan, maka tidak ada yang salah bila kita membeli barang yang sama dengan sang influencer.

Butuh rekomendasi skincare, makeup, atau produk lainnya? Temukan berbagai barang pilihan untuk melengkapi kebutuhan harianmu di tautan berikut ini:

Kumpulan Artikel Produk Pilihan

Baca juga artikel terkait INFLUENCER atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Edusains
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani