tirto.id - Anggota DPR RI Komisi XII Fraksi PDIP, Yulian Gunhar, menyoroti melambatnya kinerja PT Pertamina (Persero) dibandingkan dengan kompetitor global setelah perubahan Undang-Undang nomor 8 tahun 1971 tentang Perusahaan Negara Minyak dan Gas Bumi Nasional.
Karena itu, ia merasa revisi Undang-Undang minyak dan gas (migas) menjadi sesuatu yang penting. Sebab, pemerintah memiliki program-program strategis yang baik dari sisi hulu maupun hilir.
Dengan adanya perubahan beleid tersebut, ia berharap performa Pertamina nantinya bisa lebih tinggi terutama di sisi hulu migas—bahkan mengalahkan perusahaan pelat merah milik Malaysia, Petronas.
"Dulu tahun 70 itu katanya Petronas belajar sama Pertamina. Petronas ya? Bukan Petromak, kan? Petronas sudah semakin terdepan, Pertamina lemot. Ini yang susah kita. Mudah-mudahan kalau Undang-Undang Migas ini kita kembalikan lagi, sesuai dengan peraturan (UU) nomor 8 tahun 1971, iya, bagus," kata Gunhar saat RDP bersama Komisi XII di komplek parlemen, Jakarta, Senin (17/11/2025).
Lebih jauh, Gunhar menyinggung tantangan transisi energi yang mulai terjadi secara global. Hal ini, menurut Gunhar, membuat 26 kilang dunia diproyeksikan akan ditutup pada 2030 karena peralihan masif ke kendaraan listrik.
Gunhar mempertanyakan bagaimana rencana Pertamina untuk menyeimbangkan kinerja mereka dalam produksi migas dan mendorong transisi energi.
"Di Cina contohnya, 50 persen transportasi sudah menggunakan listrik, SPBU-nya 60 persen sudah tutup. Sementara kita? Memang beda, kebutuhan kita kan 1,6 juta barel (minyak per hari). Nah kilang kita juga belum memenuhi. Ada nggak timeline-nya yang di kilang ini kapan bisa selesai? Sementara kita juga harus mengikuti tren yang berkembang sekarang, transisi energi itu," ujar Gunhar.
Selain itu, Gunhar pun meminta agar Pertamina mampu mengoptimalkan seluruh infrastruktur dan strategi pemasarannya, termasuk dalam hal jaringan gas. Ia berharap Komisi XII dapat membantu perusahaan migas pelat merah tersebut dalam mencapai program-program strategisnya di tahun depan.
"2026 seperti apa? Nanti akan jadi koreksi kami pada tahun 2026, terkait dengan pembahasan anggaran Pertamina. Kalau ada kendala, hambatan yang selama ini ingin dicapai Pertamina, keterbatasan pembiayaan, kami bisa support," jelasnya.
=====
Adendum
Redaksi mengubah judul artikel ini serta memberikan konteks yang lebih lengkap terkait pernyataan Anggota DPR RI Komisi XII Fraksi PDIP, Yulian Gunhar. Pada versi sebelumnya, artikel berjudul: "Bandingkan Kinerja Lifting dengan Petronas, DPR: Pertamina Lemot".
Kami memohon maaf atas kekeliruan tersebut dan berterima kasih atas perhatian dan koreksi dari pembaca.
Penulis: Natania Longdong
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id





































