tirto.id - Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi pendidikan yang berlandaskan keislaman dan sudah berdiri sejak tahun 1912. Organisasi ini tidak hanya berfokus pada pendidikkan, tetapi juga kesehatan, ekonomi, bahkan politik.
Kader-kader Muhammadiyah telah banyak membuktikan dirinya bahwa mereka mampu dan memiliki reputasi yang tinggi sehingga diakui secara nasional maupun internasional. Selain itu, kemampuan dan kapabilitas Muhammadiyah dalam mencetak kader-kader unggul juga diakui pemerintah sehingga banyak jabatan pemerintahan kini diisi oleh kader-kader Muhammadiyah.
Oleh karena itu, tidak mengherankan bila Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi yang cukup diperhitungkan di negeri ini karena telah menyumbangkan banyak nama dan jasa kepada negara di berbagai sektor terutama politik.
Kali ini, Tirto akan menampilkan profil singkat kader Muhammadiyah yang memiliki jabatan strategis dan berpengaruh di era Kabinet Prabowo-Gibran saat ini.

Profil Singkat Beberapa Kader Muhammadiyah di Kabinet Prabowo-Gibran
1. Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed

Abdul Mu’ti dapat dikatakan sangat aktif sebagai anggota Muhammadiyah. Tercatat, ia pernah menjabat sebagai Ketua Pimpinan Cabang IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) Semarang pada 1991-1992 dan Ketua Dewan Pimpinan Daerah IMM Jawa Tengah pada 1993-1994.
Ia dilantik menjadi Sekretaris PP Muhammadiyah pada saat Muktamar Muhammadiyah ke-47 tahun 2015. Jabatan tersebut awalnya untuk periode 2015 hingga 2020 lalu ditambah 2 tahun menjadi 2022. Pada Muktamar Muhammadiyah ke-48, ia kembali ditunjuk untuk melanjutkan jabatannya hingga tahun 2027.
Karier akademisnya dimulai sebagai dosen di IAIN Walisongo sejak tahun 1993. Latar belakang pendidikannya meliputi gelar Sarjana dari IAIN Walisongo tahun 1991, Master dari Flinders University tahun 1997, serta Doktor dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 2008.
Ia juga menjadi Advisor di The British Council London dan turut mengikuti Short Course on Governance and Shariah di University of Birmingham pada tahun 2005.
Di pemerintahan Prabowo-Gibran, ia dipercaya untuk menjadi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Kementerian ini dulunya bernama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Kemudian dipecah menjadi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi - Kementerian Kebudayaan.
2. Raja Juli Antoni

Raja Juli lahir di Pekanbaru, 13 Juli 1977. Ia berasal dari keluarga yang taat agama. Ayahnya, Raja Ramli Ibrahim merupakan salah satu tokoh masyarakat di Riau. Ayahnya juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Muhammadiyah Riau.
Dahulu, ia merupakan lulusan Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah. Ia mendapat gelar sarjana di bidang Ilmu Al-Quran dan Tafsir dari IAIN Syarif Hidayatullah (sekarang UIN Syarif Hidayatullah) Jakarta pada tahun 2001.
Karier akademik Raja Juli berlanjut ke jenjang master di Department of Peace Studies, Universitas Bradford, dengan raihan beasiswa Chevening Award pada 2004. Studi doktoralnya juga didapatkan dengan beasiswa dari Australian Development Scholarship (ADS) di School of Political Science and International Studies di Universitas Queensland pada tahun 2010.
Kariernya di Muhammadiyah sempat meningkat pada saat pemilihan calon Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2015–2020. Namun, karena alasan ingin berfokus pada jabatannya sebagai Sekjen PSI, Raja Juli mengundurkan diri dari pencalonan.
3. Prof. Fauzan, M. Pd.

Lahir di Kediri, 14 Agusutus 1961, ia mendapatkan gelar sarjana dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada tahun 1988. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya di Universitas Negeri Malang (UM) untuk mengambil magister di bidang Pendidikan dan lulus pada tahun 2005.
Tidak berhenti di situ, Prof. Fauzan juga meraih gelar doktor di bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Salah satu karier politiknya yang cukup tenar adalah pada saat ia menjadi Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran.
4. Dzulfikar Ahmad Tawalla

Lahir pada tanggal 28 April 1987 di Sungguminasa, Gowa, kini menduduki jabatan sebagai Wakil Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia. Ia tumbuh dan besar dari keluarga yang kental dan taat dengan agama Islam.
Ayahnya, KH Ahmad Tawalla, merupakan salah satu ulama Muhammadiyah di Sulawesi Selatan. Ia terpilih untuk menjadi Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah periode 2023-2027.
Pemilihan tersebut terjadi pada saat Muktamar ke-18 Pemuda Muhammadiyah tanggal 21-23 Februari 2023 di Balikpapan. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Ketua Umum Ikatan Pelajar Muhammadiyah Sulawesi Selatan periode 2008-2010.
Berlanjut pada tahun 2010, Dzulfikar Ahmad mendapat amanah untuk menjadi Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah dari 2010 hingga 2012. Di kursi Wamen Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Dzulfikar Ahmad Tawalla bertugas untuk membantu Abdul Kadir Karding yang menjabat sebagai Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia periode 2024 hingga 2029.
5. Brian Yuliarto

Ia juga menduduki peringkat ke-18 dalam Indonesia Top 10.000 Scientist kategori Subjek Engineering & Technology. Publikasi yang telah dilakukannya bukan main-main. Brian memiliki 326 publikasi jurnal ilmiah terindeks Scopus dan juga 410 publikasi jurnal ilmiah terindeks Google Scholar. Di ITB, ia juga memiliki jabatan strategis sebagai Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi ITB periode 2025 – 2030.
Brian Yuliarto juga merupakan salah satu kader Muhammadiyah yang aktif. Tercatat, ia adalah Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Cibeunying Kaler Bandung dan Ketua Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis (LKKS) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat.
Saat ini, Brian Yuliarto menduduki kursi yang dahulunya dimiliki oleh Soemantri Brodjonegoro, yaitu sebagai Menteri Pendidikan Tinggi Sains Teknologi (Mendiktisaintek)
6. Fajar Riza Ulhaq

Ia menempuh pendidikan sarjana di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Fakultas Agama Islam. Selama masa kuliah sarjananya, ia juga aktif sebagai salah satu santri di Pondok Muhammadiyah Hajjah Nuriyah Shabran.
Selanjutnya, Fajar Riza Ulhaq melanjutkan pendidikan magisternya di Center for Religious and Cross-Cultural Studies, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Selain itu, ia juga tercatat pernah menulis buku yang berjudul Membela Islam Membela Kemanusiaan.
Kini, ia ditunjuk oleh Presiden Prabowo Subianto untuk menduduki kursi Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah membantu Abdul Mu’ti yang menjabat sebagai Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah. Uniknya, baik menteri maupun wakilnya merupakan kader Muhammadiyah yang memiliki rekam jejak terpandang.
7. Muhadjir Effendy

Nama Muhadjir Effendy sudah tidak asing sejak era pemerintahan Presiden RI sebelumnya, Joko Widodo. Pria kelahiran Madiun, 29 Juli 1956 ini memiliki jabatan yang berbeda-beda semasa kepemimpinan Jokowi.
Mulanya, ia mendapat amanah untuk menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2016 hingga 2019. Selanjutnya, Muhadjir Effendy menjadi Plt Menteri Sosial 2 kali pada tahun 2020 dan 2024 serta Plt Menpora pada tahun 2023.
Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Menko PMK (Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan) periode tahun 2019-2024. Sekarang, di masa kepemimpinan Prabowo-Gibran, Muhadjir Effendy ditunjuk untuk menjadi Penasihat Khusus Presiden Bidang Urusan Haji.
Sebelum terjun ke dunia politik, Muhadjir Effendy adalah rektor Universitas Muhammadiyah Malang periode tahun 2000 hingga 2016.
8. Dr. Dahnil Anzar Simanjuntak, S.E., M.Si

Pendidikan sarjananya diperoleh dari Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan. Lalu melanjutkan pendidikan magister di Universitas Indonesia dan doktoral dari Universitas Diponegoro.
Karier akademisnya bermula saat ia menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Tangerang dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Namanya kembali muncul ke permukaan saat ia terpilih menjadi Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah periode 2014–2018. Saat ini, Dahnil dipilih oleh Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi Wakil Menteri Haji dan Umrah.
Peran Muhammadiyah dalam Politik dan Pemerintahan
Peran nyata yang sangat jelas terlihat adalah banyak kader-kader Muhammadiyah yang dipercaya menduduki jabatan penting di Kabinet Merah Putih atau Kabinet Prabowo-Gibran kali ini.
Kader-kader Muhammadiyah tersebut terbukti memiliki kualitas mumpuni sehingga mereka ditempatkan pada posisi krusial di kabinet. Ini tentu menunjukkan adanya pengakuan terhadap potensi dan integritas sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki Muhammadiyah.
Selain itu, meskipun Muhammadiyah secara institusi tidak berpolitik praktis dan tidak meminta jatah menteri, organisasi ini bersikap terbuka dan mempertimbangkan jika kader terbaik mereka diberikan amanah untuk membantu negara dalam kapasitas profesional. Dalam pemerintahan, Muhammadiyah tentu akan membawa semangat Islami yang berkemajuan serta nilai-nilai organisasi yang luhur.
Tidak hanya menyumbangkan kader-kader terbaik, Muhammadiyah yang berfokus pada dakwah amar ma'ruf nahi munkar atau mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, akan tetap menjaga jarak politik untuk dapat berperan sebagai kekuatan penyeimbang dan kontrol sosial yang sifatnya konstruktif bukan destruktif.
Terakhir, karena perhatian utama Muhammadiyah tetap pada pembangunan bangsa di bidang sosial, keagamaan, dan pendidikan, maka organisasi ini akan terus menyuarakan dan fokus pada upaya membangun Indonesia secara fisik dan mental, serta jiwa bangsa secara keseluruhan.

Selain itu, hal ini juga membuktikan bahwa keahlian dan reputasi para kader Muhammadiyah tersebut telah diakui bahkan jauh dari sebelum era kepemimpinan Prabowo-Gibran.
Ingin membaca artikel Tirto lainnya seputar Muhammadiyah? Jika iya, silakan cek tautan berikut: Link Kumpulan Artikel Muhammadiyah
Penulis: M Rifqi Rafly Ramadhan
Editor: Lucia Dianawuri
Masuk tirto.id






































