Menuju konten utama
Mozaik

Candi Bentar, Simbolisme Teologis dan Sekat Kekuasaan

Candi Bentar berakar pada era kerajaan, dari Majapahit sampai Cirebon. Ia bukan warisan kolonial, bukan pula bangunan asal-asalan.

Candi Bentar, Simbolisme Teologis dan Sekat Kekuasaan
Pilar gerbang Kompleks Gedung Sate berbentuk Candi Bentar. ANTARA/Ricky Prayoga.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pada November 2025, Pemerintah Provinsi Jawa Barat meluncurkan proyek revitalisasi gerbang Gedung Sate senilai 3,9 miliar rupiah. Wajah depan gedung diubah dengan menghadirkan Candi Bentar bergaya “Kacirebonan” yang diklaim sebagai identitas budaya Sunda-Cirebon.

Saat kritikan masuk, ahli dan pakar menyodorkan beberapa argumen tandingan. Dari sisi legalitas, pagar lama dianggap bukan bagian dari rancangan asli, melainkan tambahan dari era 1980-an. Oleh karena itu, pembongkarannya tidak melanggar aturan cagar budaya.

Secara kultural, desain tersebut dipilih untuk menonjolkan kepemimpinan estetika Sunda, sekaligus merepresentasikan warisan Mataram dan Majapahit. Pemda Jabar juga menyebutkan, gerbang baru tersebut lebih terbuka dan ramah disabilitas, serta dapat mengubah citra Gedung Sate dari kantor administratif tertutup menjadi ruang publik inklusif.

Perdebatan lainnya ialah terkait ketepatan anggaran yang dianggap kontras dengan kebutuhan pelestarian situs budaya Sunda lainnya. Proyek itu juga melahirkan tantangan, sejauh mana arsitektur dipakai sebagai simbol kekuasaan.

Gerbang dan Psikologi Ruang

Gedung Sate, yang dibangun antara 1920–1924 dengan nama Gouvernements Bedrijven, adalah karya Ir. Johan Gerber dan timnya. Gaya bangunan mengikuti prinsip Renaissance Italia yang menonjolkan simetri dan keteraturan fasad.

Jendelanya bergaya Moorish dengan lengkungan khas, sementara atap “tusuk sate” menyerupai Meru Bali atau pagoda Asia. Enam butir ornamen di puncak melambangkan biaya pembangunan sebanyak 6 juta Gulden.

Pada masa kolonial, lanskapnya dirancang terbuka tanpa pagar. Poros visual utara-selatan menghubungkan gedung dengan Gunung Tangkuban Perahu. Adapun pagar keliling yang sekarang berdiri dan dibangun pada 1980-an bukanlah warisan kolonial. Fakta inilah yang menjadi argumen penting pembangunan Candi Bentar dan statusnya sebagai cagar budaya.

Secara etimologis, Candi Bentar adalah gabungan dua kata. Candi, merujuk disertasi R. Soekmono berjudul Candi, Fungsi, dan Pengertiannya (2005:17), kemungkinan terkait pada Chandika, manifestasi Dewi Durga sebagai dewi kematian, yang menandai fungsi awal candi sebagai monumen penghormatan raja atau simbol alam surgawi. Sementara itu, bentar dalam bahasa Jawa dan Bali berarti pecah atau terbelah. Secara harfiah, Candi Bentar adalah candi yang terbelah dua.

Berbeda dari Paduraksa yang memiliki atap dan pintu, Candi Bentar berdiri sebagai dua bangunan simetris tanpa penghubung, membentuk lorong terbuka ke langit.

“Karena itulah Candi Bentar merupakan bangunan yang tidak beratap, dan tidak mempunyai daun pintu,” dikutip dari buku Sejarah Daerah Jawa Timur (1976:87) terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Candi bentar

Pura Penataran Agung Lempuyang - Candi bentar. (FOTO/commons.wikimedia/Chainwit)

Dalam tradisi arsitektur tradisional, sebagaimana dinukil dari Jurnal Widya Katambung: Filsafat Agama Hindu, Candi Bentar berfungsi sebagai gerbang menuju Nista Mandala, zona terluar yang menandai peralihan dari dunia tercela ke tahap awal kesucian, sebelum memasuki ruang lebih sakral. Ketiadaan atap mengandung pernyataan teologis tentang keterhubungan langsung dengan Akasa, langit sebagai simbol ayah, pada proses awal penyucian diri.

Bagus Oka Windhu dan kolega, dalam Bangunan Tradisional Bali Serta Fungsinya (1984:16), menilai bahwa simbolisme Candi Bentar berakar pada mitologi Hindu-Buddha yang menempatkan Gunung Mahameru atau Kailasa sebagai poros kosmik, tempat Dewa Siwa bertapa. Gapura terbelah ini dianggap sebagai kaki gunung, titik awal perjalanan menuju kesakralan.

Pembelahan itu menyimpan makna metafisika. Dua sisi yang identik melambangkan Rwa Bhineda, keseimbangan antara unsur berlawanan, jiwa dan materi, siang dan malam, baik dan buruk. Lorong di tengahnya adalah jalan yang harus ditempuh manusia untuk mencapai harmoni.

Secara mistis, sisi kiri dan kanan diasosiasikan dengan aksara suci, yakni ang dan ah, simbol ayah dan ibu serta langit dan bumi. Melewati gerbang berarti menyatukan keduanya, sebuah proses penciptaan kehidupan.

Bentuk terbelah juga menjadi ajakan untuk memusatkan pikiran. Sebelum memasuki ruang suci berikutnya, seseorang harus menyatukan kesadaran yang tercerai-berai oleh urusan duniawi, agar layak melangkah ke tingkat kesucian lebih tinggi.

Candi Bentar tidak bisa dilepaskan dalam makna psikologis dan filosofinya sebagai sebuah gerbang atau gapura. Berbeda dari konsep Barat yang menekankan fungsi masuk, gerbang di sini lebih menekankan proses keluar, sebuah kelahiran kembali.

Seturut J. Pamudji Suptandar di kolom harian Kompas terbitan 20 April 2003, dalam perspektif itu, gerbang adalah rahim. Melangkah keluar dari zona privat menuju ruang publik berarti transisi dari mikrokosmos ke makrokosmos. Lorong sempit dan tangga ganjil memaksa tubuh menunduk, melambat, dan mawas diri, menandai perubahan perilaku sebelum memasuki ruang lebih luas.

Secara psikologis, Candi Bentar menciptakan ambang batas yang memengaruhi suasana hati. Saat berada di antara dua belahan batu, seseorang merasakan ruang liminal. Ia tidak di luar, juga belum sepenuhnya di dalam. Rasa terapit itu lalu diikuti keterbukaan, menciptakan efek pelepasan, seolah tubuh dan pikiran dipersiapkan untuk memasuki ruang sakral.

Pamudji menambahkan, di balik fungsi fisiknya, gerbang juga menyimpan daya pelindung. Ornamen dan hiasan patung Dwarapala (gajah dengan belalai menyeringai) atau Kalamakara (hewan mitologi), seperti yang ditemukan di Makam Sendang Duwur, berperan sebagai penjaga kosmologis penolak bala.

Elemen-elemen itu seakan menegaskan bahwa setiap transisi dari dalam ke luar harus dilindungi dari pengaruh jahat. Dalam hal ini, gerbang menjadi benteng spiritual sekaligus simbol keteraturan.

Dari Majapahit hingga Kesultanan Islam

Ketika Majapahit melemah pada akhir abad ke-15, para bangsawan dari Jawa Timur bermigrasi ke Bali, membawa serta sistem kerajaan, kebudayaan, dan estetika arsitektur.

Di Bali, Candi Bentar berkembang menjadi komponen integral dari sistem tata ruang pura, dipandu oleh konsep Asta Kosala Kosali, sebuah lontar tradisional yang mengatur prinsip-prinsip desain arsitektur sakral.

Menurut Uka Tjandrasasmita, yang mengutip catatan Roelof Goris dalam buku Arkeologi Islam Nusantara (2009:243), Candi Bentar tertua di Bali ada di Pura Prasada. Itu diperkirakan semasa dengan kesenian antara Singasari dan Majapahit abad ke-13 hingga ke-15 Masehi.

Wringin Lawang Trowulan

Wringin Lawang, Trowulan jenis gerbang ini disebut 'Candi Bentar', sejenis struktur yang diperkirakan muncul pada masa Majapahit.

Di ibukota Majapahit di Trowulan, Mojokerto, terdapat Candi Wringin Lawang, situs gapura yang dibangun sekitar abad ke-14. Penelitian di Universitas Negeri Surabaya pada 2015 menemukan adanya tumpukan gerbang bata merah yang menjadi arketipe Candi Bentar di Nusantara. Fungsinya bukan hanya menyangkut hal religius, tetapi juga sekuler, yang memisahkan permukiman rakyat dari kompleks bangsawan atau area sakral.

Studi juga menemukan hal serupa di Candi Penataran, Blitar, yang menegaskan bahwa pada puncak kejayaan Majapahit, bentuk ini sudah menjadi standar arsitektur. Karakteristiknya ramping menjulang, bata merah ekspos, dan teknik kosod tanpa semen.

Ketika beralih ke era Islam, simbol lama tidak dimusnahkan. Wali sanga justru memanfaatkannya sebagai medium dakwah. Di makam Sunan Giri, Candi Bentar dipadukan dengan ragam hias flora, geometris, benda alam, serta ragam hias fauna berupa naga, singa, dan binatang berkaki empat yang distilasi atau digayakan menjadi bentuk kreasi baru.

Di Masjid Menara Kudus, Sunan Kudus mempertahankan menara bergaya Hindu dan gerbang Candi Bentar agar masyarakat Hindu tidak merasa asing saat memasuki masjid. Strategi ini menjadi simbol toleransi dan dakwah damai.

Seturut Laksmi K.Wardani dkk (2015), hal itu menunjukkan adanya usaha pendekatan psikologis terhadap para penganut Islam yang baru, dengan jalan masih menghidupkan unsur-unsur tradisi lama sejauh tidak bertentangan dengan ajaran Islam.

Penelitian juga menemukan adanya Candi Bentar di gerbang masjid dan makam Sendang Duwur, Lamongan. Bentuknya banyak dihiasi unsur fauna, misalnya motif sayap burung atau ornamen Naga.

Di halaman kedua dan ketiga sebelum masuk makam, terdapat Paduraksa dengan hiasan serupa yang didominasi hewan-hewan mitologis. Hal ini menunjukkan, bahkan pada abad ke-16, estetika Majapahit tetap dianggap sebagai standar keagungan sekaligus jembatan antara tradisi lama dan keyakinan baru.

Di Keraton Kasepuhan Cirebon, Jawa Barat, terdapat dua gapura ikonik bertipe Candi Bentar, yakni Gapura Adi dan Gapura Banteng. Ciri khas gaya Cirebon, merujuk penelitian bertajuk “Bentuk dan Rupa Gapura Keraton Kasepuhan Cirebon” (2023), tampak pada bata merah yang dipadu ornamen wadasan dan mega mendung.

Wadasan di kaki gapura melambangkan keteguhan iman, sementara awan di bagian atasnya menyiratkan kuasa di luar manusia. Berbeda dari gaya Jawa Timur yang ramping, gaya Cirebon lebih lebar dan biasanya dihiasi keramik asing, mencerminkan identitas kosmopolitan kota pelabuhan.

Candi Bentar tersebut mengapit area Siti Inggil, tempat sultan bertakhta dan pejabat di struktur kerajaan beraktivitas. Fungsinya untuk menegaskan batas otoritas tertinggi sekaligus memperlihatkan bahwa arsitektur menjadi simbol kekuasaan dan identitas budaya.

Dalam kasus Gedung Sate, Candi Bentar berupaya mengubah gedung dari sekadar kantor pemerintahan menjadi kraton modern, tempat kekuasaan tidak hanya bekerja, tetapi juga bersemayam dengan aura yang lebih dari sekadar birokrasi.

Namun, kritik lain muncul karena eksekusi desain dianggap tidak memenuhi pakem “terbelah sempurna” sebagaimana Candi Bentar klasik. Alih-alih menghadirkan lorong terbuka yang simetris, bentuknya lebih menyerupai adaptasi modern yang kehilangan esensi proporsi dan makna simbolis aslinya.

Jangan sampai perannya hanya simbol hibriditas yang lahir dari ambisi politik, dibela dengan argumen teknis, tetapi tetap dibayangi ironi ketimpangan sosial di sekelilingnya.

Baca juga artikel terkait SEJARAH CANDI atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin