Sejarah Masjid di Indonesia

Masjid Menara Kudus: Sejarah, Pendiri, & Ciri Khas Arsitektur

Oleh: Ilham Choirul Anwar - 15 Maret 2021
Dibaca Normal 2 menit
Masjid Menara Kudus adalah salah satu masjid yang berperan dalam sejarah perkembangan Islam di Jawa.
tirto.id - Masjid Menara Kudus adalah salah satu masjid yang berperan dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Masjid yang berada di Kudus, Jawa Tengah, ini memiliki arsitektur unik, yakni perpaduan Hindu-Jawa dengan Islam.

Masjid bersejarah yang juga disebut dengan Masjid Al Aqsha dan Masjid Al Manar ini sudah eksis ada sejak tahun 1549. Letaknya berlokasi di Kecamatan Kauman, Kota Kudus, Jawa Tengah. Pendiri Masjid Kudus adalah Sunan Kudus atau Syekh Ja'far Shodiq.

Disebut Masjid Menara Kudus karena masjid ini sepaket dengan menara unik yang menjadi ciri khasnya. Tri Maya Yulianingsih dalam buku Jelajah Wisata Nusantara (2010), menjelaskan bahwa Menara Kudus merupakan hasil akulturasi budaya Hindu-Jawa dengan Islam.

Sejarah & Pendiri Masjid Menara Kudus

Sama seperti masjidnya, Menara Kudus juga didirikan oleh Sunan Kudus sebagai simbol dalam candrasengkala "gapuro rusak ewahing jagad". Sunan Kudus sendiri adalah salah satu dari Walisongo atau para ulama yang mempelopori dakwah Islam di Jawa.

Sunan Kudus pernah menjadi senopati di Kesultanan Demak, kerajaan bercorak Islam pertama di Jawa yang sekaligus meruntuhkan Kerajaan Majapahit. Selain itu, Sunan Kudus juga dikenal sebagai ahli hukum Islam.


Seperti para Wali lainnya, Sunan Kudus juga punya strategi untuk menebarkan syiar Islam di Jawa dengan cara-cara yang bisa diterima oleh masyarakat lokal. Pembangunan Masjid Menara Kudus menjadi salah satu contohnya.

Sunan Kudus mendirikan Masjid Menara Kudus dengan arsitektur perpaduan antara budaya Hindu atau Jawa dengan Islam yang datang dari arab.

Mengutip laman Kabupaten Kudus, saat itu dilakukan akulturasi agar masyarakat tidak merasa asing dan terkejut dengan bangunan masjid. Hasilnya, penduduk tidak menolak kehadiran masjid sehingga dakwah Islam lebih mudah dilakukan.

Antara masjid dan Menara Kudus tidak dapat dipisahkan. Keduanya merupakan satu kesatuan yang berhubungan langsung dengan sejarah Kota Kudus dan masih difungsikan hingga saat ini.


Bangunan & Arsitektur Masjid Menara Kudus

Masjid Menara Kudus didirikan di tanah seluas sekitar 5.000 meter persegi. Masjid dikelilingi tembok pembatas yang memisahkannya dengan perkampungan setempat. Terdapat "Gapura Bentar" sebagai jalan utama di utara dan selatan masjid.

Gerbang utara menjadi jalan masuk untuk jamaah langsung ke masjid. Gerbang selatan menjadi jalan menuju kompleks pemakanan. Penamaan "Gapura Bentar" diambil dari istilah Hindu yang bermakna "gerbang".

Masuk ke halaman masjid akan disuguhi pemandangan menara. Menara Kudus dibuat dari bata merah dengan luas 100 meter pesegi dan tinggi 18 meter. Ukiran bermotif Hindu dapat ditemukan pada bagian bawah menara.


Menurut Andanti Puspita Sari Pradisa dalam "Perpaduan Budaya Islam dan Hindu dalam Masjid Menara Kudus" (2017) yang disampaikan pada Seminar Heritage Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI), bangunan Menara Kudud memiliki bagian kepala, badan, dan kaki.

Bagian kepala atau di bawah atap terdapat bedug yang digungakan sebagai penanda waktu salat dengan menghadap utara-selatan.

Sementara bagian badan memiliki ruang kecil atau relung yang dikosongkan. Jika dalam bangunan Pura, relung ini biasa diisi patung. Lalu, bagian kaki terdapat ornamen-ornamen motif Hindu.

Arah bangunan Masjid Menara Kudus seperti masjid-masjid lainnya di Indonesia yang mengarah ke arah Kakbah sebagai kiblat. Atap masjid turut mengadopsi arsitektur Hindu saat itu yang dibuat tumpang dengan jumlah ganjil.

Meski Masjid Menara Kudus dibangun dengan mengadaptasi gaya bangunan Hindu, namun tetap memiliki pedoman-pedoman ajaran Islam. Akulturasi ini membuat dakwah Islam lebih diterima masyarakat dengan cara yang elegan.


Baca juga artikel terkait SEJARAH MASJID NUSANTARA atau tulisan menarik lainnya Ilham Choirul Anwar
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Ilham Choirul Anwar
Penulis: Ilham Choirul Anwar
Editor: Iswara N Raditya
DarkLight