Sejarah Hari Raya Nyepi di Bali: Perayaan, Upacara, & Maknanya

Oleh: Rizka Alifa Rahmadhani - 13 Maret 2021
Dibaca Normal 2 menit
Hari Raya Nyepi diyakini sebagai awal Tahun Pembaruan, yaitu terjalinnya toleransi umat beragama yang rukun.
tirto.id - Hari raya Nyepi dianggap sebagai tahun baru umat Hindu menurut kalender Saka, yang berlaku sejak 78 Masehi. Di Bali, perayaan Nyepi punya sejarah yang berakar dari India, beserta rangkaian upacara dan maknanya.

Dalam buku Nyepi: kebangkitan, toleransi, dan kerukunan disebutkan, tahun baru umat Hindu ini diyakini sebagai awal Tahun Pembaruan, yaitu terjalinnya toleransi umat beragama yang rukun.

Keyakinan tersebut dilatarbelakangi oleh sejarah yang mengatakan, Hari Raya Nyepi ada karena pertikaian antarsuku bangsa.

India sebagai pelopor agama Hindu, pada abad awal Masehi digambarkan tengah mengalami konflik antarsuku bangsa. Pertikaian itu terjadi karena keinginan memperoleh kekuasaan sehingga India silih berganti dipimpin oleh raja-raja dari beragam suku, di antaranya Pahlawa, Yuwana, Malawa, dan Saka.

Perseteruan panjang antarsuku bangsa itu berakhir setelah Raja Kaniskha 1, pemimpin suku Saka yang masyhur, berhasil merukunkan suku-suku tersebut.

Oleh karena itu, sistem kerajaan di India memakai sistem kalender Suku Saka. Setelah sistem kalender Saka masuk ke dalam Kitab Nagarakertagama, tahun Saka resmi dipakai di Indonesia.


Rangkaian Upacara Nyepi

Hari Raya Nyepi harus melalui serangkaian acara, mulai dari upacara Melasti, pemujaan, Mecaru, Nyepi (Sipeng), hingga Ngembak Geni. Seluruh rangkaian Hari Raya Nyepi merupakan proses pensucian diri sekaligus peningkatan kualitas hidup.

Selama itu pula manusia meredakan hawa nafsu dengan bertapa, yoga, dan brata samadi.

1. Upacara Melasti

Pada upacara Melasti, manusia dibersihkan dari segala kotoran baik fisik maupun pikiran (bhuana alit dan amertha) demi kehidupan manusia yang sejahtera. Upacara Melasti menggunakan arca, pretima, dan barong yang merupakan simbol pemujaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, diarak menuju sumber air untuk meminta pembersihan dan tirta amertha (air suci kehidupan).

2. Pemujaan

Setelah upacara Melasti, umat Hindu menghaturkan bhakti di Balai Agung atau Pura Desa di setiap desa pakraman.

3. Tawur Agung (Mecaru)

Sehari sebelum Hari Raya Nyepi, tepatnya pada Tilem Sasih Kesanga, Pecaruan dilaksanakan. Tawur merupakan proses pengembalian sari-sari alam agar tercipta keseimbangan. Upacara Tawur ditujukan kepada Butha yang diyakini dapat memberkati kehidupan manusia menjadi harmonis.

Berikutnya ialah upacara pengerupukan. Setiap rumah dan pekarangan disebari Nasi Tawur, diobor-obori, disemburi Mesui, dan benda di sekitarnya dipukul sampai menimbulkan suara gaduh. Malam pengerupukan biasanya disertai pertunjukan budaya sebagai simbol bhutakala yang disebut Ogoh-ogoh.


4. Nyepi (Sipeng)

Nyepi dilakukan umat Hindu selama 24 jam, mulai terbitnya matahari sampai matahari terbit kembali besok. Umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian, antara lain:

(1) Amati Geni: tidak melakukan aktivitas yang harus menghidupkan api.

(2) Amati Lelanguan: menghindari aktivitas yang berhubungan dengan wacika. Wacika ialah perkataan benar, yang dalam interaksi dengan umat manusia dan Tuhan telah atau belum dilaksanakan.

(3) Amati Karya: tidak bekerja dan hendaknya melakukan evaluasi diri atas hasil pekerjaan tersebut.

(4) Amati Lelungan: tidak berpergian ke luar rumah dan diwajibkan untuk mengevaluasi diri.

5. Ngembak Geni

Tahap akhir dari Hari Raya Nyepi ialah Ngembak Geni. Nyepi dapat diakhiri dan umat Hindu diperbolehkan melakukan aktivitas, kembali kepada tanggung jawab masing-masing. Umumnya, umat hindu berkunjung ke sanak saudara dan kerabat untuk saling menyapa dan bermaaf-maafan.

Hari Raya Nyepi, bagi umat Hindu, dimaknai sebagai proses perenungan diri. Melalui serangkaian spiritual, umat Hindu melakukan pengendalian diri, memuja, dan mengharapkan kedamaian.

Tahun baru umat Hindu ini juga mengandung nilai-nilai kebersamaan yang mendorong kehidupan yang seimbang. Seluruh kegiatan Hari Raya Nyepi memberikan kecukupan bagi manusia dalam berbagai aspek, sosial, psikologis, dan sebagainya. Hal tersebut kian menjadi landasan untuk memperoleh kehidupan yang sejahtera.


Baca juga artikel terkait HARI RAYA NYEPI 2021 atau tulisan menarik lainnya Rizka Alifa Rahmadhani
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Rizka Alifa Rahmadhani
Penulis: Rizka Alifa Rahmadhani
Editor: Nur Hidayah Perwitasari
DarkLight