tirto.id - Gelang Bali dari batu semi mulia kerap dijadikan oleh-oleh saat berkunjung ke Pulau Dewata. Banyak orang yang mengklaim bahwa gelang ini memiliki khasiat tersendiri bagi pemakainya. Lalu, apa manfaat batu semi mulia pada gelang Bali?
Gelang Bali telah menjadi souvenir yang umum dibeli oleh para wisatawan, salah satunya adalah gelang Tridatu yang sebenarnya memiliki makna spiritual. Gelang Tridatu terbuat dari benang tiga warna, yaitu merah, putih, dan hitam.
Warna ini melambangkan keseimbangan antara tiga kekuatan utama dalam ajaran Agama Hindu, yaitu Dewa Brahma (pencipta), Dewa Wisnu (pemelihara), dan Dewa Siwa (pelebur), sekaligus pengingat akan keseimbangan hidup, mulai dari lahir, hidup, dan mati.
Seiring waktu, gelang Bali Tridatu mulai dikombinasikan dengan batu semi mulia. Ada pula gelang yang terbuat dari batu semi mulia dan dirancang memiliki tiga warna layaknya gelang Tridatu tradisional.
Tidak hanya soal estetika, batu semi mulia ini juga diklaim dapat membawa energi positif bagi penggunanya, bahkan bisa melindungi dan mendatangkan keberuntungan. Batu semi mulia pun kerap disebut memiliki efek penyembuhan.
Hal inilah yang membuat gelang Bali menjadi sangat populer dan dicari banyak orang. Namun, bagaimana kata sains tentang gelang seperti ini? Benarkan gelang Bali dari batu semi mulia benar-benar bermanfaat?
Apa yang Sains Katakan tentang Khasiat Batu Semi Mulia

Batu semi mulia termasuk jenis permata yang memiliki keindahan visual, baik dari warna maupun polanya, tapi dikategorikan berada di bawah batu mulia. Batu semi mulia memiliki keindahan tersendiri sehingga kerap dijadikan perhiasan yang sangat cantik.
Beberapa contoh batu semi mulia antara lain batu akik, turmalin, amethyst, batu bulan, dan masih banyak lagi. Batu-batu ini diyakini memiliki khasiat penyembuhan yang unik dan dapat meningkatkan kesejahteraan fisik, emosional, hinga spiritual.
Namun, tentunya batu semi mulia khasiat ilmiahnya perlu digali lebih dalam. Dalam perspektif sains, batu semi mulia memang memiliki sifat fisika dan kimia yang unik, tapi klaim manfaatnya masih perlu dilihat secara kritis.
Sebuah jurnal penelitian bertajuk A Quest for Why Gemstones are Used for Healing telah menyurvei 402 orang, dan lebih dari 90% di antaranya percaya bahwa batu semi mulia seperti amethyst, agate (akik), amber, dan kuarsa memiliki efek penyembuhan.
Menurut responden, batu-batu ini dapat memberikan ketenangan spiritual, relaksasi, rasa bahagia, optimisme, energi positif, bahkan diyakini memiliki perlindungan dari hal-hal buruk, termasuk evil eye (dalam Islam disebut penyakit ain).
Jurnal lain bertajuk A Review: Application of Tourmaline in Environmental Fields menguji bagaimana efektivitas turmalin dalam lingkungan, khususnya menghilangkan polutan.
Studi ini menyimpulkan bahwa turmalin yang termasuk batu semi mulia ini dapat menyerap dan membersihkan lingkungan dari logam berat, serta mampu mengurangi polutan organik persisten (POPs).
Namun, perlu dipahami bahwa manfaat turmalin ini ada dalam konteks remediasi lingkungan, bukan membuktikan khasiatnya terhadap manusia atau kesehatan.
Jadi, meski dipercaya memiliki efek penyembuhan, dapat disimpulkan bahwa sampai saat ini belum ada bukti ilmiah yang benar-benar menunjukkan bahwa batu semi mulia memiliki manfaat seperti yang diyakini oleh kebanyakan orang.
Penggunaan batu semi mulia untuk penyembuhan atau kesejahteraan hidup masih termasuk pseudosains, yaitu klaim atau kepercayaan yang tampak seperti ilmiah, tapi tidak didukung oleh metode penelitian yang valid, bisanya hanya mengandalkan testimoni dan sulit diverifikasi.
Efek Piezoelektrik dalam Gelang Bali

Batu semi mulia diketahui memiliki efek piezoelektrik, dan hal ini kadang dianggap sebagai “energi” yang bisa membawa energi positif bagi pemakainya.
Efek piezoelektrik sendiri merupakan fenomena ilmiah ketika kristal tertentu, seperti batu semi mulia, dapat menghasilkan muatan listrik kecil ketika mendapat tekanan mekanik akibat struktur kristalnya yang tidak simetris.
Sifat ini telah dibuktikan dalam berbagai penelitian. Misalnya jurnal berjudul Piezoelectric Effects in Quartz-Rich Rocks yang menunjukkan adanya efek piezoelektrik pada batu kuarsa.
Ada pula jurnal The Piezoelectric Catalysis Effect of Tourmalines in the Degradation of Organic Pollutants yang menguji kemampuan turmalin sebagai katalis piezoelektrik untuk menguraikan polutan organik di air.
Studi ini membuktikan bahwa turmalin yang tergolong batu semi mulia ini memiliki efek piezoelektrik. Efek ini dapat menguraikan polutan sehingga kemungkinan dapat dimanfaatkan dalam pengolahan air limbah.
Dalam penelitian tersebut, gelombang ultrasonik digunakan untuk memicu efek piezoelektrik dari turmalin. Setelah itu, muatan listrik dari turmalin akan memicu oksidasi air dan menghasilkan radikal hidroksil yang reaktif serta mampu menghancurkan polutan.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa batu semi mulia memiliki efek piezoelektrik yang memiliki manfaat nyata bagi lingkungan. Namun, dalam konteks penggunaan sehari-hari seperti gelang Bali atau aksesoris, manfaatnya tentu masih jadi pertanyaan besar.
Sekali lagi, belum ada bukti ilmiah bahwa efek piezoelektrik pada batu semi mulia dapat muncul hanya dengan cara digunakan sebagai gelang/aksesori. Kalaupun efek ini muncul, belum dapat dipastikan apakah efeknya bisa memberikan manfaat yang signifikan bagi pemakainya.
Placebo Effect dan Mengapa Manfaatnya Tetap Nyata Secara Psikologis

Placebo effect adalah fenomena ketika seseorang merasa ada perbaikan kondisi, baik secara fisik maupun mental/emosional, meskipun tidak menerima pengobatan maupun terapi yang memiliki efek medis aktif.
Dalam dunia sains dan kedokteran, placebo sering diterapkan dalam bentuk “pil kosong” yang sebenarnya tidak memiliki manfaat, tapi tetap bisa menghasilkan perubahan nyata karena adanya keyakinan dan ekspektasi pasien.
Dalam konteks gelang Bali yang menggunakan batu semi mulia, aksesori ini belum terbukti secara ilmiah dapat memberikan energi positif atau efek penyembuhan seperti yang diyakini oleh banyak orang.
Namun, jika mayoritas pemakainya merasakan adanya perbaikan, maka kemungkinan hal itu adalah placebo effect. Jadi, bukan karena adanya energi khusus, tapi manfaatnya lebih disebabkan karena efek psikologis yang kuat, termasuk adanya rasa tenang, peningkatan kepercayaan diri, hingga berkurangnya stres.
Dalam jurnal Crystal Therapy oleh Sneha R. Dubey yang diterbitkan dalam Asian Journal of Nursing Education and Research (AJNER), disebutkan bahwa metode penyembuhan dengan kristal seperti amethyst dan kuarsa termasuk dalam pseudosains, dan efek yang dirasakan dari penggunaan kristal tidak lebih dari efek plasebo.
Tradisi Bali dan Konsep Tri Kaya Parisudha sebagai Fondasi Filosofis

Terlepas dari manfaat batu semi mulia yang terus diperdebatkan, gelang Bali tetap memiliki nilai tersendiri. Dalam budaya Bali, penggunaan gelang seperti gelang Tridatu tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai spiritual dalam agama Hindu yang dianut oleh sebagian besar masyarakatnya.
Penggunaan gelang Bali dipercaya dapat menjaga keseimbangan diri yang berkaitan dengan Tri Kaya Parisudha, yaitu ajaran tentang tiga perilaku utama manusia yang harus dijaga kesuciannya, yaitu pikiran (manacika), perkataan (wacika), dan perbuatan (kayika).
Tri Kaya Parisudha menjadi pedoman etika dalam kehidupan sehari-hari agar tercipta keseimbangan dan harmoni, baik dengan diri sendiri maupun lingkungan sekitar.
Gelang Tridatu sendiri biasanya didapatkan oleh umat Hindu setelah melakukan ritual melukat atau pembersihan. Gelang ini pun berfungsi sebagai pengingat spiritual agar penggunanya mengingat Tuhan sekaligus selalu menjaga perilakunya sesuai ajaran Tri Kaya Parisudha.
Dengan kata lain, gelang Tridatu secara tidak langsung akan mengarahkan pemakainya ke arah hidup yang lebih baik dan positif. Inilah manfaat nyata dari gelang Tridatu bagi sang pengguna karena ia akan selalu mengingat Tuhannya, menjaga perilaku, dan selau menjalankan semua kebaikan.
Batu Semi Mulia sebagai Jangkar Mindfulness & Cara Ilmiah Menggunakannya

Gelang dengan batu semi mulia memang tidak terbukti secara ilmiah memiliki efek penyembuhan. Namun, bukan berarti kita tidak boleh memakainya, apalagi batu semi mulia memiliki keindahan visual yang memesona.
Batu semi mulia tetap bisa dimanfaatkan sebagai jangkar atau pengingat untuk melatih mindfulness. Tentu saja hal ini tidak berkaitan dengan “energi” batu, melainkan dari cara otak kita merespons apa yang ada di sekeliling kita.
Saat kita menggunakan gelang dengan batu semi mulia, sentuhan atau pandangan kita pada tekstur dan warna batu yang spesifik akan menjadi sinyal bagi otak untuk kembali ke momen saat ini dan memutus rantai pikiran yang sedang stres. Bagaimana caranya?
Terapkan teknik grounding 5-4-3-2-1. Teknik ini dapat membantu seseorang kembali fokus pada momen saat ini sekaligus mengalihkan perhatiannya dari pikiran atau perasaan yang bisa membuat panik dan cemas.
Grounding dilakukan dengan mengaktifkan semua indra tubuh. Melalui proses ini, perhatian dialihkan dari pikiran yang stres menuju momen nyata di saat ini sehingga membantu menciptakan jeda dan meredakan rasa cemas atau takut yang sedang muncul.
Secara teknis, grounding 5-4-3-2-1 dilakukan dengan menyebutkan 5 hal yang dilihat, 4 hal yang bisa disentuh, 3 hal yang bisa didengar, 2 hal yang bisa dicium, dan 1 hal yang bisa dirasakan. Gelang batu semi mulia bisa jadi salah satu benda yang kita libatkan dalam teknik grounding ini.
Saat merasa stres atau cemas, coba lihat dan sentuh gelang batu semi mulia yang sedang dipakai. Fokuslah pada semua sensasi yang dilihat dan dirasakan, bagaimana warnanya, polanya, hingga teksturnya. Lakukan semua sambil mengatur napas secara perlahan.
Agar penggunaan gelang ini semakin maksimal, pilihlah batu semi mulia berdasarkan preferensi visual atau yang dianggap paling menenangkan bagi diri kita pribadi. Dengan cara ini, batu semi mulia bisa menjadi alat untuk melatih mindfulness dan menjaga keseimbangan emosi dalam kehidupan sehari-hari.
Itulah penjelasan tentang crystal healing sains, khususnya pada gelang Bali yang menggunakan batu semi mulia. Secara ilmiah, manfaat yang dirasakan lebih banyak berkaitan dengan faktor psikologis seperti sugesti dan efek placebo, bukan karena energi atau kekuatan penyembuhan dari batu itu sendiri.
Meski demikian, nilai budaya dan spiritual, serta fungsinya sebagai alat bantu relaksasi tetap menjadikan gelang Bali sangat bermakna bagi banyak orang, tentunya selama digunakan secara bijak dan tidak untuk menggantikan pendekatan medis yang sudah terbukti secara ilmiah.
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id


































